
Berat dalam maksud lain bagi Melisa. Berat sekali menuju kesana.
" Iya. Gue tau, Mel. Menikah gak segampang ngomong ngajak pacaran. Tapi beda kasusnya sama lo, Mel. Lo itu sudah dikasih pasangan nyaris sempurna seperti Zein yang sayang dan cinta mati sama lo. Gue yakin konsep pernikahan buat dia bukan sekedar hanya memuaskan nafsu dan hasratnya saja."
Jujur saja jika Melisa masih tak mengetahui masalah ini, Dia akan pernah mencurigai penuturan Siti. Melisa kaget karena bisa bisanya Siti bertindak seperti tidak tahu apa apa. Sebisa mungkin bahkan pada saat Zein terlibat dalam pembicaraan mereka. Dia mengerti sekali maksud Siti yang berusaha mempertahankan hubungan Zein dengan dirinya. Maka memang benar pilihan almarhum papa Zein, Siti adalah wanita yang baik dan penyayang walau Melisa tahu terkadang jiwa bar bar Siti bisa muncul.
Tiba tiba saja Melisa tertarik dengan pembahasan mereka yang melibatkan Zein dan pernikahan.
" Kalau menurut lo, Zein termasuk kriteria pasangan hidup lo, gak? " tanya Melisa, Dia membaringkan tubuhnya menghadap langit langit kamar di sebelah Siti.
Siti menoleh. Melisa tahu wanita itu cukup terkejut dengan pertanyaannya.
" Iyaa, Zein mapan, dewasa, ganteng dan baik. Tipikal kriteria pasangan hidup semua wanita, kan? "
Jawaban Siti awalnya ambigu bagi Melisa, tapi akhirnya ia paham. Siti juga mendambakan pria seperti pacarnya.
" Berarti wanita yang memiliki pasangan kayak Zein, sudah pasti bahagian dong? " Melisa berbicara seolah apa yang ia ucapkan begitu jauh sekali.
Siti menoleh. " Lo lagi ngomongin diri lo sendiri, ya? Mentang mentang Zein pacar lo. Dengar ya, Melisa Septian, Gue gak akan cemburu atau iri sama lo. " kata Siti berpura pura kesal.
Melisa terkekeh. " Lo memang gak akan iri karena Zein akan jadi milik lo. " gumam Melisa dalam hati.
" Ngeselin lo! " Siti menggelitik Melisa, Dia meletakkan jarinya di pinggang wanita itu membuat Melisa geli dan tertawa.
" Berhenti, Ti. Nanti gue ngompol. " ucap Melisa masih tertawa.
Mereka saling menggelitik sampai saling memohon ampun untuk berhenti. Baik Siti maupun Melisa mencoba melupakan beban di pundak mereka pada hari itu. Mereka ingin tertawa tanpa beban, walau setelah ini masalah demi masalah menunggu mereka kembali.
****
Melisa membelokkan mobilnya ke lapangan parkir sebuah ruko. Dia keluar dari mobil dan masuk ke sebuah kafe, miliknya Glenn. Disaat saat seperti ini lah dia tahu arti pertemanannya dengan playboy itu.
" Tumben datang sendiri? " kata Glenn ketika melihat Melisa masuk.
Melisa mengangguk. " Iya sendiri. "
" Lo mau minum apaan? "
" Milkshake yang strawberry ada gak? " tanya Melisa.
Glenn memperhatikan sahabatnya itu. Melisa terlihat lesu dan tak bersemangat. Dia bisa merasakan aura tak biasa dari kedatangan sahabatnya itu.
" Oke. Gue bikinin dulu. "
Namun Glenn tak ingin bertanya. Dia ingin membiarkan Melisa bercerita sendiri. Tentu saja Melisa masih terpengaruh obrolan dengan Desi tadi. Sebesar apapun usahanya untuk menghilangkan pikiran itu. Melisa tak tahu harus bercerita ke siapa lagi. Dia butuh saran, tapi tidak dengan bercerita kepada pamannya, pria itu pasti akan memintanya untuk memutuskan Zein. Dan pilihan terakhir jatuh kepada sahabat pria satu satunya itu, Glenn.
" Nih. " ujar Glenn sambil menyodorkan minuman pesanan Melisa.
" Thank you. " jawab Melisa pelan.
" Zein mana? Biasanya buntutin lo terus. " kata Glenn, dia duduk di kursi dan berhadapan dengan Melisa.
__ADS_1
" Dia lagi di Bandung. Ada acara dengan teman kantornya. " jawab Melisa.
Glenn mengangguk.
" Wanna say something? " kata Glenn ragu setelah diam cukup lama.
Melisa mengangkat kepalanya yang sedari tadi menunduk. Dia melepaskan sedotan dari bibirnya.
" Gue gak tau lo akan paham atau gak. " kata Melisa.
Glenn berdecak. " Kenapa sih, gak si Siti, gak lo selalu saja meremehkan gue sama masalah kalian. Kalau gue gak paham lo berdua, ngapain gue nyaris jadi teman kalian yang udah hampir menjalani 9 tahun? "
" Siti juga gak mau cerita tentang masalahnya dia ke lo? "
Glenn mengangguk. " She said i can't understand. "
Melisa paham sekarang bahwa sesungguhnya Siti juga berada di posisi yang sama dengan dirinya. Lalu bagaimana dengan Zein?
" Siti di jodohin sama Zein. " ucap Melisa.
Glenn mengerjap beberapa kali. " APA?? "
" Iya, gitu. Tante Desi baru bilang ke gue tadi. " lanjut Melisa.
Glenn jelas kaget. Jadi ini masalah yang disembuyiin Siti kemarin. Bukan. Dia bukan tak akan paham, tapi dia tak akan sanggup memberinya penyelesaian seperti biasa.
" Gimana bisa? "
" Yang pasti, perjodohan ini adalah pesan terakhir dari almarhum Papanya Zein. "
Dahi Glenn berkerut. " No sense? kalau itu permintaan kenapa gak dijalankan dari dulu? Bokapnya Zein sudah meninggal lama kan? kenapa baru sekarang?? "
" Gue juga gak tau. Zein juga gak ada ngomong apa apa. Malahan dia nyatain perasaannya waktu tau dia akan dijodohin dengan Siti. " Melisa mengaduk aduk minumannya, menghindari tatapan Glenn.
" Maunya Zein itu apa sih? Jelas jelas dia sudah dijodohkan dan malah nembak lo? " Glenn berkutat pada pikirannya sendiri.
" Gue sudah buat keputusan. " Melisa menyingkirkan gelasnya.
" Buat putusin Zein? " tebak Glenn.
Melisa mengangguk.
" Bagus! Sekalian kasih pelajaran tuh buat laki." balas Glenn.
" Tapi sebelumnya gue akan bantuin tante Desi buat bujukin Siti sama Zein supaya mereka mau tunangan. " kata Melisa.
" Ya, gak usahlah, Mel. Itu biarin jadi urusan mereka. " kata Glenn.
" Gue mau mereka bahagia. "
" Dan lo tersiksa. " tandas Glenn.
__ADS_1
Melisa diam. Bagi dirinya, bahagia adalah melihat yang dia cintai bahagia. Semudah itu.
" Berhenti jadi naif, Melisa. Pikirin kebahagiaan lo sendiri, baru mikirin orang lain. Orang yang lo pikirin aja belum tentu mikirin lo, Melisa. " ujar Glenn, gemes.
" Kalau lo cinta sama Zein, rebut dia. Lo pikir Siti juga mau sama Zein? Gue yakin, gak. Dia juga tersiksa. Bisa aja ini kemauan nyokapnya, bukan dia. " kata Glenn
" Gle--- "
" Gue gak pernah lihat lo sebahagia itu saat sama Zein, Mel. Gue memang kecewa sama sikap Zein, tapi asal lo bahagia gue akan bantu pertahanin hubungan kalian. " Glenn berusaha membuat Melisa sadar dari realita.
Melisa menggeleng. " Aku sudah janji sama tante Desi. Kalau lo mau bantu gue, tolong bantu satukan Zein dan Siti. Cuma itu yang bisa buat gue bahagia saat ini. " Melisa meraih tangan Glenn, memohon.
Glenn menghela nafas. Dia gemas sekali dengan sikap Melisa.
Melisa diam.
" Lo gak akan menyesal? "
" Gue sudah bilang, apapun itu yang bisa buat mereka bahagia, gue pasti akan bahagia juga."
" Dan seandainya mereka gak bahagia? Apa lo akan menyesal? " serangan pertanyaan dari Glenn membuat lidahnya kelu.
" Mereka cuma butuh waktu buat bahagia. Dan dengan adanya gue itu cuma jadi penghalang bagi mereka. Mereka menolak ya karena gue. Kalau gue gak ada mereka pasti akan menerima. " kata Melisa.
" Justru karena lo ada. Harusnya lo bisa mempertahankan, Melisa. Lo hadir duluan dan lo bukan penghalang. " kata Glenn tak habis pikir.
" Gue akan bujukin Zein pelan pelan. " kata Melisa.
" Melisa, You deserve happy. Stop push yourself. " Glenn berharap sahabatnya mengerti. Selama ini Melisa selalu mendahulukan orang lain dan pernah memikirkan dirinya.
" Bantu gue, Glenn. Gue cuma punya lo. " kata Melisa.
" Gue gak mau. "
Melisa ingin menangis mendengar penolakan dari sahabatnya.
" Sekali ini aja. " ujar Melisa.
" Gak. "
" Please .... " Melisa menggenggam tangan Glenn.
" No! "
" Lo pernah janji akan selalu ada disisi gue. " ucap Melisa. Sebentar lagi air matanya turun.
" Tapi gak dalam situasi begini. Ini sama sekali gak menguntungkan lo, Mel. Lo pikir kalau gue bantu, gue ikhlas? Gak. Gue gak mungkin ikhlas lihat lo sama Siti tersiksa. "
Glenn meninggalkan kursi bar dan kembali ke belakang meja barista untuk membantu pegawainya membuat pesanan. Diliriknya dengan ekor mata ke arah Melisa. Wanita itu mengalihkan pandangannya ke arah jendela. Glenn tau, wanita itu sedang menangis.
" Maafin gue, Mel. "
__ADS_1