
Wajah Desi pucat pasi. Bukankah dia sudah meminta baik baik pada Melisa?
" Lalu, maksud kamu apa, Dwi? " Desi tak mengindahkan pertanyaan suaminya.
" Mungkin kita bisa panggil Zein dan Siti dulu? Mereka yang akan menjalankan semua ini, bukan kita. " usul Darwin.
Dwita mengangguk. " Boleh, Mas."
" Gak usah! " Desi meletakkan tangannya di pangkuan sang suami. Mencegah Darwin beranjak.
" Tapi, Mas Darwin benar, Des. Ini urusan mereka juga. Mereka punya hak. " kata Dwita.
Desi menggeleng. "Dwita, Kamu pasti paham alasan kita menjodohkan anak kita untuk apa? Untuk yang terbaik pastinya. Ibarat, buat apa beli makan di luar kalau di rumah sudah ada makanan. "
Dwita membasahi bibirnya. Gelisah. Selama ini dia selalu merasa ucapan Desi benar terkait kebahagiaan putra putri mereka.
" Aku mencoba mengerti dari sudut pandang anakku, Des. Lagipula kalau memang Zein lebih suka masakan di luar, aku gak akan paksa dia buat makan di rumah yang sudah jelas gak dia suka. Aku gak bisa masakin makanan yang dia mau, makanya aku bebaskan dia cari makanan yang lebih enak di luar. " Dwita membalas perumpamaan Desi.
" Setiap anak memang punya hak. Tapi, Dwi, apa kamu juga memikirkan perasaan anak saya? Masalahnya, pertunangan mereka tinggal beberapa bulan lagi. " ujar Dwita.
Sesungguhnya Dwita merasa ciut dan kalah. Bagaimana dua lawan satu bisa memenangkan dia seorang diri??
" Mas, kalau ternyata Siti juga gak bahagia karena Zein gak cinta sama dia. Apa mas juga tega melempar Siti pada saya? " ucapan Dwita telak di hati Darwin.
" Jadi mau kamu apa, Dwi? " tanya Darwin setelah diam beberapa saat.
" Mohon maaf sebelumnya, tanpa bermaksud merendahkan kalian atau memutus tali silaturahmi diantara kita. Demi anakku, Aku mau membatalkan perjodohan ini mas Darwin, Desi, Maaf. " ujar Dwita.
Amarah membuat Desi kehilangan kata kata. Nafasnya tercekat karena emosi yang tertahan dan tidak bisa ia lampiaskan. Sesaat semua masih terlihat jelas, namun beberapa detik setelahnya semua pandangan mulai kabur dan tidak jelas lalu seketika hitam menyambut pandangannya.
Terdengar suara Dwita dan Darwin yang terus memanggil namanya.
" Des! Desi!! "
__ADS_1
" Des, Bangun Des!! "
Usai kepanikan yang datang karena ibunya pingsan, Siti meminta pada Sean untuk menangani pesta yang digelar di rumah. Sementara itu dia, Zein, Dwita serta sang Ayah ikut mengantar ibunya ke rumah sakit.
Berkali kali Siti menahan untuk tidak bertanya pada sang ayah yang juga terlihat panik. Dan inilah saatnya, Desi sedang ditangani Dokter di ruang UGD.
" Jadi, Mama kenapa, Pa? " tanya Siti.
Darwin melirik Dwita yang juga panik setengah mati karena untuk kali kedua dia melihat Desi pingsan di hadapannya.
" Mama kamu kaget karena tante Dwita mendadak ingin membatalkan perjodohan kamu dengan Zein. " jawab Darwin.
Setengah sisi hatinya bersorak gembira dan lega namun sisanya terasa sedih sebab ibunya harus berakhir di rumah sakit.
" Maksud omongan Om Darwin apa, Ma? " Zein yang mendengar ucapan Darwin segera melakukan klarifikasi pada ibunya.
Dwita mengangguk. " Mama tadi bilang sama mereka. Mama gak nyangka tante Desi langsung drop begini. "
Zein paham keadaannya. Dia merangkul ibunya yang khawatir dan sedih. Zein tak mau ibunya merasa bersalah namun untuk kali ini dia berharap agar Dwita tak mengalah.
Sesaat kemudian seorang Perawat keluar dari ruang UGD dan memberi tahu keadaan Desi. Darwin bergegas masuk untuk menemui istrinya.
Sebelum bertemu Desi, Darwin sempat bertanya keadaan istrinya pada Dokter yang menangani dan memeriksa Desi. Sang Dokter mengatakan bahwa Desi hanya mengalami syok, namun perlu di jaga kesehatannya supaya tidak mengalami hal serupa.
" Pa, " panggil Desi, ketika melihat kehadiran sang suami.
Darwin meraih tangan istrinya. " Sudah, tak usah dipikirkan lagi. "
Desi menggeleng. " Aku mau perjodohan itu tetap ada. Kita juga sudah janji sama Mas Wahyono dulu. "
" Iya, memang dulu Wahyono pernah berkata ingin menjodohkan anak kita tapi bukan dengan memaksa. " jawab Darwin.
" Aku mau yang terbaik buat Siti, Pa. Aku gak mau nantinya Siti gagal seperti pernikahan Sean. " ujar Desi, memohon.
__ADS_1
" Papa paham maumu. Tapi yang menjalani nanti Siti bukan kita, Ma. "
Air mata menggenang dimata istrinya. " Aku mohon, Pa. Biarin mereka menikah. Mereka itu cocok, serasi. Kalau Zein sudah punya pacar awal kenapa gak di kenalkan sama ibunya? Kenapa baru sekarang? Pa, aku gak minta apapun selain kebahagiaan anak kita. " kata Desi.
Darwin terenyuh. Jika urusan anak, Desi lah memang yang paling semangat. Dia adalah seorang ibu yang paling tidak bisa melihat anaknya menderita. Apapun akan ia lakukan bahkan jika harus membuatnya mengemis seperti sekarang.
" Kita bicarakan lagi sama Dwita dan Zein setelah kamu sembuh. Nanti biar saya yang bilang ke Dwita. " Darwin akhirnya kembali menuruti mau istrinya.
" Papa, harus pastikan Dwita setuju. Papa harus ingatkan dia kalau ini adalah pesan dari Mas Wahyono. " kata Desi, lagi.
Darwin mengangguk. Dia mengecup kening istrinya dan membiarkan Desi istirahat lebih lama agar kondisinya cepat pulih.
" Permisi, Ini resep obat yang Dokter berikan pada Ibu Desi dan untuk menebusnya silahkan menyelesaikannya di bagian administrasi terlebih dulu. Terima kasih. " tutur Seorang Perawat.
Darwin menerima map plastik yang berisi resep dan biaya rumah sakit. Dia ijin pada Desi untuk keluar terlebih dahulu.
Desi memastikan suaminya sudah benar benar keluar dari ruang rawat kemudian dia mengeluarkan ponsel dari dalam saku dress nya dan mencari sebuah nama yang membuatnya terbaring seperti sekarang.
Desi geram dan kesal. Padahal ia sungguh sungguh saat mengatakan akan menjadikan Melisa sebagai putrinya apabila wanita itu membantunya agar pertunangan yang ia rencanakan berhasil. Namun diam diam dengan lancang gadis itu merusak segalanya.
Tentu saja Desi tak tinggal diam. Baginya apapun yang menghalangi jalannya harus ia singkirkan dengan cara apapun juga.
" Halo, Melisa lagi dimana? "
"Halo, Tan .... Melisa lagi di rumah Tante. Ada apa ya, Tan? "
" Oh, gitu. Besok bisa main ke rumah gak? Tante kangen bangat sama kamu. "
Tawa renyah hadir di seberang sana. " Bisa aja kok, Tante. Tapi habis Melisa pulang kantor ya, Tan. Soalnya lagi banyak kerjaan. "
" Ya, Nak. yang penting kamu datang aja, tante sudah senang. "
" Iya, Tante. Melisa pasti datang kok. Tante, maaf, kayaknya teleponnya akan aku tutup, soalnya Om Irwan manggil aku soalnya. "
__ADS_1
" Oh, oke sayang. "
Desi menekan tombol merah di layar ponselnya kemudian menyimpan kembali di saku. Desi yakin membuat gadis itu tunduk tak akan sulit untuknya.