
Zein berulang kali menghubungi kekasihnya tapi nihil. Melisa tidak mengangkat telepon serta membalas pesan yang ia kirim dari tadi siang.
Tidak seperti teman temannya yang sedang bercanda tawa sambil melempar gurau. Zein terdiam sambil memainkan ponselnya yang sepi sekali.
" Oke, oke! Atas permintaan atasan gue akan nyanyi satu lagu buat kalian semua. Tapi bentar, gue melihat sosok pria dewasa yang lagi ..... galau? " kata Bagas.
Semua orang yang ada di sana langsung melihat Zein. Dan pria yang kini jadi tontonan itu langsung jadi salah tingkah.
" Ada apaan? " katanya.
" Yaelaahh! " seruan itu membuat tawa kembali terdengar.
Zein tanpa harus bertanya, langsung mendelik kesal ke arah Bagas yang sedang memangku gitar.
" Mana, Gas. katanya lo mau nyanyi? " ujar Bobby.
Bagas menepuk dahinya. " Oh, iya. Ketularan melamun dari Zein gue. Oke, semua hadirin selamat menikmati. "
Bagas mulai memetik gitarnya perlahan. Dia memainkan musik akustik dengan sangat merdu. Zein mendengarkan bait demi bait yang dinyanyikan Bagas. Lirik lagu milik Figura Renata itu melekat di hati dan benaknya. Mengapa tepat sekali pada situasi dirinya dengan Melisa?
Zein memang punya niat untuk menikahi wanita yang dicintainya itu. Namun ia tak tau apakah itu hanya sebatas rencana atau kelak akan menjadi realita?
Semua masih abu abu.
Riuh tepuk tangan memecah lamunan Zein. Berkat Melisa yang tak memberinya kabar seharian, malah membuatnya berpikir macam macam.
" Gila, Bagas!! Bingung gue kok bisa dia jomblo ya, padahal sekeren itu suaranya. " kata Vira, salah satu staff di kantor mereka juga.
" Jomblo kayak gue memang harga jualnya tinggi. Jadi maklumlah makanya belum sold out. " ucap Bagas, membanggakan diri.
" Halah! Sok harga jual tinggi, jual murah aja gak laku. " timpal Bobby.
Semua tertawa. Lagi Lagi hanya Zein yang diam. Dia tidak menyimak apapun semenjak Melisa tak mengangkat teleponnya.
Baru diabaikan Melisa sehari aja udah membuatnya kalut begini. Bagaimana jika dia dan Melisa harus terpisah selamanya??
***
Malam itu,
Tidak.
Lebih tepatnya subuh. Zein pulang ke rumah Bagas dan bermalam di sana. Ketika pagi menjelang, dia baru pulang untuk mengganti pakaian kerja.
Pekerjaan sudah menunggunya di kantor dan dia tak sempat sarapan apapun.
" Langsung balik ke kantor? " tanya Dwita ketika Zein sedang sibuk menyimpulkan dasi.
Zein mengangguk. " Iya, Ma. "
__ADS_1
" Kamu gak capek? ijin aja sehari. " kata Dwita. Dia melihat gurat lelah di wajah putra semata wayangnya.
" Gak apa apa, Ma. Nanti pulang lebih awal aja. " ujar Zein, menangkap kekhawatiran Mamanya.
" Sarapan dulu ya. " Dwita membuka tudung saji.
" Gak sempat, Ma. Nanti saya beli di dekat kantor. Saya pergi dulu. " pamit Zein kemudian mengecup kening Mamanya.
Dwita mengangguk dan membiarkan putranya pergi. Dia membuka ponselnya dan mengirim pesan ke Desi bahwa pertemuannya malam ini di undur menjadi lusa karena tak tega melihat Zein kelelahan.
Sementara Zein telah mengendarai mobilnya. Sebenarnya dia juga tak ingin masuk, namun di rumah hanya berdua dengan Mamanya pasti terasa mengerikan apalagi dalam situasi seperti ini.
Jadi lebih baik ia lampiaskan seluruh emosinya pada pekerjaan saja. Tak peduli jika mungkin hanya dirinya seorang yang masuk kerja hari ini.
Zein mulai memasuki kawasan perkantoran yang juga banyak ruko ruko besar dimana tempat firma nya berada. Sebelum masuk ke kantor, dia menyempatkan diri untuk membeli kopi di kafe Glenn.
" Silahkan, Mau pesan apa? " tanya salah satu pegawainya.
" Expresso medium satu, take away, ya. " usai menyebutkan pesanannya, dia mengeluarkan dompet dan memberi uang lembaran berwarna biru.
" Ditunggu pesanannya. " kata pegawai itu sambil memberi struk pesanan.
Zein mengambil kursi paling dekat dengan meja kasir. Dia mengeluarkan ponsel dan mulai mengirim pesan ke Melisa.
" Morning? Jangan lupa sarapan dan janji kamu. "
Tidak lama kemudian pesan Zein itu dibalas oleh Melisa.
" Jadi kamu udah siap, aku nikahi? "
" Kamu harus yakini aku dulu. "
" Jadi semua ini belum cukup untuk buat kamu yakin? "
" Bukan gitu. Aku cuma mau memastikan kalau aku bakal menikah sama orang tepat. "
" Iya, aku paham. Orang itu adalah aku. Cuma aku. "
" Tepat dalam segala hal, Ze. Bukan hanya perasaan. Menikah itu bukan cuma biar aman tidur berdua doang kan? "
Tunggu. Zein membaca ulang semua pesan yang dikirim Melisa tadi. Entah perasaanya saja atau memang benar wanita itu mulai meragukan dirinya. Pembahasan ringan yang ia mulai juga ditanggapi cukup serius oleh Melisa.
" Ada apa? Hal apa yang bikin kamu ragu? "
" Belum tahu. Biasanya semakin lama kita pacarannya, semakin kita paham apa hal yang buat kita saling ragu. "
" Mel? Are you okey? Kamu beneran ragu samaku? "
" I'm okey, Ze. Kamu tahulah kalau menikah gak hanya menyatukan kita aja, tapi dua keluarga yang berbeda. "
__ADS_1
" Keluarga kita sama sama manusia kok. "
" Kamu paham maksudku. Aku gak mau hubungan kita dengan keluarga malah jadi buruk setelah menikah. "
" Kamu lagi ngomongin masalah restu, ya? "
" Itu yang paling penting kan? "
" Kita pasti dapat restu. Kita tinggal siapkan diri aja, Mel. "
" Kita aja belum tentu jodoh. "
Zein semakin tak mengerti perubahan sikap Melisa. Mengapa dia mendadak ragu padanya??
" Mel, Aku selalu percaya jodoh itu ditangan kita bukan di tangan Tuhan. Kita yang memilih dan Tuhan akan bantu sampai kita benar benar miliki, dengan syarat dua orang itu memang cocok dan saling mengusahakan. Jodoh itu gak kayak anak yang tiba tiba hadir tanpa bisa kita pilih. Aku gak tau apa yang terjadi sama kamu, tapi aku harap kamu baik baik saja. Aku kerja dulu, ya. Love you. "
Zein menutup ruang obrolan dengan Melisa yang terasa menguras otaknya. Percakapan itu singkat namun berat. Detik detik setelahnya, Zein tak merasakan ponselnya memberi notifikasi, yang berarti Melisa tak membalas pesannya atau mungkin saja belum dibaca wanita itu.
Dia tak siap dengan jawaban jawaban Melisa nantinya.
" Melisa bilang lo di Bandung? " suara bariton itu memecah lamunan Zein.
Glenn duduk berhadapan dengannya.
" Baru balik semalam. " kata Zein.
" Oh. Sudah ketemu Melisa? "
Zein mengangguk. " Semalam. "
Glenn mengangguk. Dia rasa Melisa masih tetap dalam pendiriannya tidak ingin memberi tahu pria itu tentang obrolan Melisa dengan Desi tempo hari.
" Glenn. " panggil Zein.
Glenn menaikkan sebelas alisnya. " Ya? "
" Apa Melisa pernah cerita masalahnya akhir akhir ini? " tanya Zein.
Glenn menggeleng. " Dia gak pernah bercerita apa apa akhir akhir ini. "
Zein mengangguk paham.
" Gak tau ke Siti. Dia pasti lebih nyaman curhat sama cewek. " sambung Glenn.
" Oke. "
Tepat dugaannya. Pria itu tidak tahu menahu sama seperti Siti.
Dia juga tak berniat membocorkannya karena itu bukan hak nya. Jadi biarkan Melisa melakukan apa yang gadis itu mau, Sementara dirinya sibuk memantau apa reaksi Zein kedepannya.
__ADS_1
Apakah pria itu akan tetap pasrah dengan perjodohannya?? Atau memiliki berontak demi menyelamatkan hubungannya dengan Melisa.