
Zein menekan sandi apartemennya lalu masuk dan hidungnya langsung dimanjakan oleh aroma sang masakan ibunya. Cacing di perutnya segera protes, Zein ingat terakhir ia makan adalah semalam saat bersama Melisa.
" Hai, Ma. " Zein menghampiri ibunya yang tengah memasak.
" Makan dulu. " kata Dwita. Zein mengangguk dan duduk di meja makan.
Wanita paruh baya itu langsung menyiapkan menu masakannya di meja makan.
" Acara apa sih dadakan begitu? " tanya Dwita, ketika menaruh piring berisi udang balado.
" Biasalah acara anak muda. " jawab Zein, ngasal.
Dia menyendok nasi dari mangkok besar yang disediakan ibunya.
" Oh ya, sekalian mama mau tanya. Kamu nanti pas acara tunangan, mau pakai batik atau kemeja dan jas formal gitu? " tanya Dwita dengan wajah berbinar.
Zein menghela nafas, Dia memilih untuk tidak menjawab.
" Apa mau mama yang pilihkan? Kalau kata keluarga Siti sih, Mereka mau yang santai aja. Soalnya yang datang cuma keluarga. " kata Dwita sambil melihat ponselnya.
Wanita paruh baya itu membuka galeri dan menunjukkan beberapa desain kemeja serta batik pada Zein.
" Bagus yang mana? " tanya Dwita.
Zein menatap gambar itu sebentar lalu melanjutkan makan.
" Gak tau. " kata Zein tak acuh.
Dwita menutup ponselnya. Dia melipat tangan nya di meja dan memperhatikan anaknya.
" Ada apa sih, Nak? "
Suara lembut itu membuat Zein otomatis mengangkat kepalanya. Dia menatap ibunya. Orang tua satu satunya yang ia miliki.
__ADS_1
" Ma, saya mau ngomong sesuatu. " ucap Zein.
Dwita mengangguk. " Iya, ya. Nanti aja, kamu makan dulu. " Dia menyeka saus yang tertinggal di sudut bibirnya putranya.
Zein mengangguk. Secepatnya ia harus memberi tahu Dwita mengenai Melisa, mumpung suasana hati ibunya sedang baik. Zein mengerti selama ini dia sering bertentangan dengan kemauan ibunya dan sang ayah menjadi tempat terakhir untuk ia mewujudkan apa yang dirinya mau.
Semakin besar, Zein semakin sadar hubungannya dengan sang ibu tidak seperti ibu anak pada umumnya. Dirinya cenderung lebih dekat dengan ayahnya sehingga ketika pria hebat dalam hidupnya itu wafat, dia merasa sendiri. Selama ini pula dia tidak pernah menanyakan perasaan ibunya mengenai hal itu.
Mungkin ini saatnya dia mendekatkan diri kepada Dwita. Dia akan mengambil hati ibunya dan membahagiakan wanita itu dengan caranya sendiri.
Sepuluh menit berlalu, Zein sudah selesai makan dan Dwita sudah siap untuk mendengarkan.
" Kenapa? " Dwita membiarkan Zein bersandar di bahunya.
Zein menarik nafas. Dia akan memulai perkataannya.
" Saya punya pacar, namanya Melisa. Dia adalah mantan klien saya beberapa bulan yang lalu. Waktu itu saya menangani kasus korupsi di kantor ayahnya. Kemudian disela sela waktu kita ketemu, saya dan dia sering menghabiskan waktu bersama. "
Dwita masih mendengarkan. Dia membiarkan Zein untuk melanjutkan ceritanya. " Terus? "
" Terus sebelum kasus itu selesai, Ayahnya Melisa meninggal karena sakit. Saya ada di sana selama Melisa kehilangan pria yang paling dia cintai hingga kasus tersebut selesai dan kita ..... pisah. Selang tiga bulan saya dan Melisa ketemu lagi secara gak sengaja, karena saya yakin saya jatuh cinta sama dia, maka saya manfaatkan waktu tersebut untuk berhubungan lebih jauh dari sekedar klien dan pengacara. " kata Zein, nada suaranya melemah.
" Tapi waktu saya lagi nunggu waktu yang tepat untuk menyatakan perasaan saya ke dia, Mama datang dan bilang saya dijodohkan dengan Siti. Saya kaget dan saya putuskan untuk nembak dia secepatnya dan untungnya saya diterima. " sambung Zein.
Dwita mengusap kepala anaknya. Dia mungkin sedikit terharu karena Zein baru saja mencurahkan isi hatinya. Dulu, ketika suaminya masih hidup, nyaris apapun yang Zein rasakan hanya akan ia bagi kepada ayahnya.
" Jadi kamu sudah punya pacar ya? "
Zein mengangguk. " Iya, Ma. itu alasan saya gak bisa terima perjodohan dari mama dan papa. Bukan saya gak sayang atau gak menghargai. " ucapnya.
Dwita diam sejenak. Wasiat suaminya adalah pegangan dirinya saat ini. Dia sengaja menunda memberi tahu Zein karena menunggu usia Zein matang.
" Tapi gak ada salahnya kan menikah dengan pilihan papa? Papa gak mungkin menikahkan kamu dengan wanita yabg salah. Papa dan Mama sudah kenal dengan keluarga Siti dari lama, Ze. " kata Dwita.
__ADS_1
" Gak salah kalau saya masih sendiri. Kalau saya menikah akan ada hati yang terluka dan tersakiti yaitu Melisa. "
Zein menegakkan tubuhnya. Dia menatap ibunya dengan tatapan memohon.
" Melisa itu orang baik, Ma. Dia mungkin satu satunya wanita terbaik yang pernah saya miliki. Saya gak pernah punya tujuan ketika pacaran sama siapapun, tapi sama Melisa beda. Seolah hubungan saya dan dia bukan cuma hanya untuk senang senang semata. " tutur Zein.
" Siti juga anak yang baik, Ze. Mungkin karena kamu belum kenal jauh aja sama dia. Kalau kamu belum siap, Mama akan kasih waktu lagi buat pendekatan kalian. "
Zein menggeleng. " Dia baik. Tapi bukan yang terbaik buat saya. Papa pernah bilang, kalau saya harus jadi suami yang baik kelak. Gimana saya mau jadi suami yang baik kalau saya justru menikah dengan wanita yang gak saya cintai? "
Dwita tercenung. Zein sedang memohon padanya adalah sesuatu yang sangat jarang terjadi.
" Tapi papa menginginkan pernikahan itu. " Dwita menjadi serba salah.
" Papa pasti mengerti yang saya mau. " kata Zein.
Sedikit lagi mama akan luluh.
Zein merasakan jantungnya berdetak kencang menunggu jawaban Dwita.
" Mama mau ketemu dulu sama Melisa, bisa?"
" A-apa? Ketemu Melisa? bisa aja. Nanti saya kenalkan mama dengan Melisa. " kata Zein, tak bisa ia sembunyikan rasa senangnya.
" Ya sudah, Mama mau cuci piring dulu. "
Dwita ingin beranjak dari sofa namun di tahan Zein. Sang putra langsung memeluk ibunya dengan erat.
" Terima kasih, Ma. " bisik Zein.
Dwita tersenyum. Dia mendekap tubuh putranya. Di dalam hatinya seperti ada kembang api yang sedang meledak. Dia sangat senang mendengarkan anaknya yang mengatakan terima kasih sambil memeluknya.
Zein girang bukan main. Setidaknya dia merasa punya kesempatan untuk menggagalkan perjodohan laknat itu.
__ADS_1