Semua Karena Kamu

Semua Karena Kamu
Episode 49


__ADS_3

Siti mengangkat kepalanya, ia memundurkan sedikit badannya kemudian mengecup bibir Glenn sebagai ucapan terima kasih. namun lain dirasakan Glenn.


Kemudian, hari hari berikutnya menjadi terasa berbeda. Sikapnya, tutur katanya, hingga intensitas pertemuan mereka menjadi lebih sering dari biasanya. Glenn akan datang ke rumah gadis itu setiap malam atau menjemputnya, kadang kadang mereka meluangkan waktu bersama di rumah ataupun di bioskop.


Semua dijalani tanpa status yang jelas. Tapi yang pasti kalimat permohonan dari Siti tak bisa dilupakan Glenn begitu saja. Hidup hanya berdua dengan ayahnya dari kecil cukup membuatnya kesepian dan sering merasa sendiri.


Dan maka dari itu, ketika Siti mengatakan untuk tidak meninggalkan dia sendirian secara otomatis otaknya menarik kembali masa masa kecil Glenn yang begitu sepi dan hampa. Dan Glenn tak suka kesepian di tengah keramaian.


" Bangsat! Harusnya memang gue gak usah percaya apalagi sampai kebawa perasaan. " Glenn memukul stir mobilnya dengan kesal.


Ia segera menuntaskan memorinya untuk berjalan lebih jauh kebelakang. Karena jika diteruskan, sakit hatinya akan semakin jadi dan berlanjut. Tentu dia tidak mau hal itu terjadi.


" Lo bego bangat! Ngapain lo ajak dia menikah? Tahu dari mana sih lo bakalan di terima sama dia? Goblok! " ujarnya pada diri sendiri.


Perjalanan hingga sampai ke rumah masih di penuhi rasa kesal dan marah hingga ia terlelap, barulah rasanya hilang.


****


Melisa mengecek ponselnya ketika benda itu bergetar berkali kali. Sederet pesan masuk saat ia menyalakan data seluler. Ada dari pamannya, grup kantor, grup dia, Siti dan Glenn serta pria lain yang dia cintai, Zein.


Dia memberi tahu pamannya bahwa kepulangannya dari jogja akan diundur dari waktu yang ditentukan karena jadwal penerbangannya yang delay karena cuaca yang buruk.


" Masih satu setengah jam lagi, mau ngapain coba di bandara selama itu. " gerutunya sambil melihat jam tangannya.


Melisa melihat sebuah kedai kopi ternama dan berencana untuk menghabiskan waktu di sana hingga jadwal penerbangannya tiba. Dia akan mengakses internet gratis dan menyelesaikan pekerjaannya, setidaknya itulah rencana Melisa.


Dia berjalan masuk ke kedai kopi itu dan ikut mengantri di kasir. Saat tiba gilirannya, Melisa menyebutkan pesanannya dan mengeluarkan dompet untuk membayar.


" Terima kasih. " kata Pelayan tersebut, sambil memberikan kertas struk pada Melisa.


" Sama sama. " balas Melisa.


Dia buru buru buka ponselnya saat berdering. Panggilan masuk dari sang paman membuatnya terburu memasukkan dompet ke tasnya yang terbuka setengah itu.


" Ya, Om? Iya, Meli baru take off sekitar jam tiga nanti. Iya. Pasti Meli kabari. Gak jemput juga gak apa apa, kok ..... "


Melisa masih sibuk berbicara ditelepon dengan sang paman sementara ada seorang pria yang tak sengaja menemukan sebuah benda kecil berwarna kuning muda tergeletak di lantai. Saat dibuka, Sebuah kartu pengenal terpampang di sana. Mata pria itu pun mengedar pandangan ke berbagai arah hingga menemukan Melisa yang sedang berteleponan.


Pria itu masih diam ditempat sampai ketika Melisa mengakhiri panggilannya, baru dia melangkah dan berhenti di samping Melisa dengan jarak 30 sentimeter.

__ADS_1


" Melisa Septian? " pria itu menyebut nama lengkap Melisa sambil memegang benda kecil tadi.


Melisa menoleh, terkejut. " Iya? "


" Ternyata benar kamu, Melisa yang aku kenal. " kata pria itu ketika mata mereka bertemu.


Tak butuh waktu lama untuk Melisa mengenali siapa pria dihadapannya. Guratan wajah dan suaranya masih sama seperti terakhir kali mereka bertemu. Hanya saja sedikit berbeda karena mata pria itu kini tak lagi dibingkai kacamata.


" Dompet kamu jatuh. " pria itu menyodorkan dompet milik Melisa yang ia temukan tadi.


" Oohh, iya. Terima kasih banyak. " kata Melisa, usai tersadar dari lamunan dan cepat cepat menerima dompetnya.


Mungkin jika bukan pria itu yang mengembalikan dompet Melisa, pasti dia sudah meninggalkan gadis tersebut karena merasa tidak ada kepentingan lain. Namun sayang, kenyataannya tidak begitu. Pria itu nampak enggan beranjak dari tempatnya berdiri.


" Kamu gak ingat aku? " tanya pria itu, hati hati.


Walau nyaris tercekat, Melisa tetap melafalkan nama yang dulu sempat ia puja dengan sepenuh hati. " Andi, bukan? "


Kedua sudut bibir Andi membentuk senyuman.


" Kirain kamu sudah lupa. Seminggu lalu aku ketemu, Glenn, gak nyangka dia sudah punya usaha sendiri. " kata Andi.


Merasa tak enak melihat Andi berdiri sementara ia duduk, Melisa pun mempersilahkan Andi untuk duduk di kursi kosong di depannya.


" Glenn gak cerita apa apa soal pertemuan dia sama kamu. Makanya aku juga gak tahu kalau kamu sudah pulang. "


" Iya. Sudah dari sebulan yang lalu aku pulang. " kata Andi.


" Iya. " Melisa tak tahu mau membahas apa. Sudah hampir empat tahun ia tidak bertatap wajah dengan Andi. Dia juga tak tahu bagaimana pria itu sekarang. Apakah perangainya masih sama atau tidak.


" Kamu apa kabar? " tanya Andi, lagi.


" Baik. Kamu? "


" Baik juga. Papamu sehat? "


" Papa sudah meninggal. " kata Melisa. Sekilas bayangan papanya teringat kembali.


" Maaf, Mel. Aku turut berduka ya. " kata Andi tak enak hati.

__ADS_1


" Gak apa apa. Wajar kok kamu gak tahu. " Melisa berusaha meyakinkan.


" Jadi kamu tinggal sendiri sekarang? "


" Gak sih. Aku tinggal sama Om Irwan, Untung aja masih ada beliau. " kata Melisa.


Andi tersenyum. " Syukurlah. Ngomong ngomong tanteku masih juga belum move on dari Om kamu. katanya pesona om Irwan itu sangat tak tergantikan sama siapapun. "


Melisa tak tahan untuk tidak ketawa. Sudah sering ia mendengar banyak wanita yang memuja ketampanan sang paman.


" Masih kah? "


Andi mengangguk. " Padahal tahun ini usianya sudah mau kepala empat. Tapi kalau disuruh ingat Om Irwan, bisa balik kayak anak SMP tanteku itu. "


" Om Irwan masih jomblo. Mungkin aja dia juga gak bisa melupakan tante kamu? " kata Melisa.


" Mereka serasi pada masanya. " ujar Andi.


" Aku kira kita akan jadi sepupu. "


" Tapi aku gak setuju sih sama hubungan mereka. " kata Andi, tiba tiba.


Dahi Melisa berkerut. " Kenapa? Mereka lucu bangat tahu. "


" Karena kalau kita sepupuan, aku sama kamu gak bisa menikah. "


" Ohh. " kikuk sekali begi Melisa mendengar ucapan Andi.


" Ya, pada saat itu kan kita masih pacaran jadi aku mikir begitu. Kalau sekarang beda lagi, Aku dukung seratus persen kalau mereka balikan. " ucap Andi, buru buru mengklarifikasi ucapannya.


Melisa tersenyum lega mendengarnya. " Ah ya, sama aku juga. "


" Kamu flight jam berapa? " tanya Andi.


" Jam 2:50. Harusnya sih setengah jam lalu tapi delay. " kata Melisa.


" Jangan jangan kita ada di flight yang sama?Maskapaimu Ceabers Air, bukan? "


Melisa pun mengangguk. " Kamu juga? "

__ADS_1


" Iya. Bisa kebetulan gitu. "


Keduanya menertawakan kebetulan tersebut. Tak lama kemudian, nama Melisa dipanggil untuk mengambil pesanannya dan beberapa saat kemudian Andi. Mereka mengobrol layaknya dua orang yang telah lama berpisah dan bertemu kembali tanpa mempedulikan fakta bahwa hubungan mereka dulu lebih dari sebatas pertemanan.


__ADS_2