
Topik ini lagi ....!!
Zein ingin mengumpat. Tapi tak mungkin ia lakukan.
" Aku juga mikirin ratusan kali tentang alasannya. " jawab Zein.
" Apa kamu karena kasihan sama aku? " kata Melisa, lagi.
" Mungkin. Aku kasihan sama kamu yang sudah terlanjur cinta sama aku dan aku juga kasihan sama diriku sendiri, kenapa harus terjebak dalam situasi sialan begini. " Zein menopang dagunya di ubun ubun Melisa.
" Apa sih kurangnya Siti? Dia bahkan lebih baik daripada aku. Sisi mana yang buat kamu gak tertarik sama dia, Ze? " tanya Melisa.
" Siti menarik, kok. Sayangnya, bukan pria yang seperti aku yang bisa kena pesona dia. Aku dan dia berbeda. Terlalu sulit untuk di paksa untuk menjadi sepasang kekasih. " jawab Zein.
" Bukannya sepasang kekasih juga akan selalu merasa berbeda dari awal pertemuan mereka? Waktu yang akan berjalan dan menemukan kesamaan kesamaan kalian." ujar Melisa.
" Beda, Mel. Kalau dari awal gak sreg, akan sulit buat dijalanin. Hubungan pertemuan aja musti cocok, apalagi percintaan." timpal Zein.
" Dulu juga aku sama kamu gak saling sreg. Kita salah paham sama pendapat masing masing tentang diri kamu dan aku. Tapi seiring berjalannya waktu, kita sadar kalau masalahnya cuma karena kita kurang saling mengenal. Yang artinya kamu belum mengenal Siti, Ze. Makanya bisa menyimpulkan kalau kamu gak cocok sama dia. " seloroh Melisa.
" Ini kita. Bukan aku dan Siti. Jelas beda, Melisa. Aku sama sekali gak paham maksud kamu, Mel. Labilnya kamu itu buat aku pusing. Kadang aku bingung, maumu itu apa. Aku perjuangin salah, Aku tinggalin apalagi. " Zein mulai frustasi.
Melisa mengangkat kepalanya dan mulai duduk dengan benar sambil menatap Zein.
" Aku cuma mau kamu menikah sama Siti atau setidaknya kenal dulu sama dia, baru kamu bisa nilai dia seperti apa. Siti itu pintar, friendly, humble, easy going walau kadang anaknya rada ketus tapi dia tulus kalau sudah sayang sama orang, Ze. " ucap Melisa. Dia pun berusaha untuk tidak teralihkan ucapan Zein.
" Berapa kali aku bilang sama kamu, Aku itu gak mau menikah sama Siti! Aku aja gak cinta sama dia, gimana mau meni--- "
" Kita juga dulu memulai gak pakai cinta. " sela Melisa.
Kedua terdiam dan saling menatap.
__ADS_1
" Kamu lupa awal yang buat kita ada di sini? Kamu pikir kita dulu serius? Aku bahkan menganggap kamu saat itu cuma hiburan buat bikin hidupku gak monoton seperti yang orang orang bilang. " lanjut wanita itu.
Zein pikir semua sudah selesai. Benar benar selesai hingga bisa fokus pada tujuan awalnya. Namun ternyata tidak.
" Hiburan? Hiburan yang sekarang buat kamu terlanjur tergila gila? Hiburan yang bisa buat kamu merasa bahagia tanpa beban? Hiburan yang bisa kamu nikmati kapan pun kamu mau bahkan tanpa imbalan sekali pun? Begitu?! " cecar Zein.
Suara debat keduanya teredam oleh guyuran hujan yang bukannya semakin reda malah semakin deras.
" Kalau aku tahu saat itu aku hanya sebatas hiburan buat kamu, Aku juga gak akan jalan sejauh ini, Melisa. Aku bakal nahan perasaanku untuk gak mengakui bahwa aku cinta sama kamu. Mungkin kamu mengira aku sama brengseknya sama pria pria yang suka tidur sama banyak wanita, tapi satu hal yang harus kamu tahu. Aku gak akan tidur sama wanita manapun, kalau dari awal aku gak punya feeling sama dia. " sontak Zein tersinggung dengan penuturan dan alasan Melisa itu.
" Ya .... Memang apa yang kamu harapkan dari wanita yang baru kamu temui beberapa kali dan langsung kamu ajak tidur? " balas Melisa.
" Gak ada. Seharusnya memang aku gak berharap apa apa. Tapi karena sudah terlanjur cinta, aku bisa apa lagi selain mempertahankan? Aku bisa berjuang mati matian asal kamu pun bersedia aku perjuangkan. " kata Zein. Intonasi suaranya berubah jadi pelan namun tegas.
" Lalu kamu merasa harus memperjuangkan aku atau tidak? "
" Harus. Karena aku tahu masih ada cinta di mata kamu. Berkali kali aku kesampingkan egoku demi kamu, Mel. Aku harap kamu gak buat aku kecewa. " kata Zein.
" Kalau ternyata aku buat kamu kecewa? "
" Yasudah. " ujarnya pasrah.
" Seenggaknya aku tahu rasanya memperjuangkan seseorang yang ternyata gak pantas diperlakukan begitu. " lanjut Zein.
Telak jawaban Zein bagi Melisa.
Berulang kali ia katakan bahwa memang dirinya tak pantas di perjuangkan oleh pria seperti Zein. Dia yang mudah bimbang tak pantas mendapatkan pria berpendirian kuat seperti Zein. Begitulah Melisa mendoktrin dirinya sendiri.
" Jangan mikirin aku terus, Ze. Pikirin juga diri kamu sendiri. Aku tahu kamu capek Dengan hubungan kita yang kayak gini. Aku cuma mempersilahkan kamu kalau mau mundur. Aku kasih tau dari awal, ini gak akan mudah, Ze. " suara Melisa melembut.
" Sesulit apapun itu kalau kita lakukan bersama pasti bisa. " kata Zein.
__ADS_1
" Kamu sayang sama aku? "
" Jelas! "
" Cinta sama aku? " tanya Melisa, lagi.
" Iya, Mel. Aku sayang, aku cinta sama kamu bahkan lebih dari yang kamu tau, puas? " geram Zein.
Melisa meraih tangan Zein dari pangkuan pria itu. Ia genggam seerat mungkin.
" Kalau gitu lakukan semuanya demi aku. Siti itu wanita yang pas buat kamu. Kalian itu cocok, serasi. Kamu akan paham kalau kamu buka hatimu buat dia. " ujar Melisa.
Zein menghela nafas. Lelah sekali.
" Yasudah aku menikah sama Siti. Tapi dengan satu syarat, kamu jadi selingkuhanku seumur hidup, mau? " pertanyaan konyol itu lolos dari mulut Zein begitu saja akibat kesal.
" Ze!! " tegur Melisa. " Aku serius. "
" Aku juga serius. " kata Zein, tak mau kalah.
Melisa berdecak pelan. " Gak masuk akal syarat kamu itu. "
" Sama. Gak masuk akal permintaan kamu itu. " balas Zein.
Keributan konyol yang gak pernah berakhir itu lagi lagi terjadi. Bagi Melisa, tekadnya sudah bulat untuk merelakan Zein, meskipun ia akan disangka bodoh dan tolol tetapi tak ada yang benar benar mengerti maksud dirinya. Toh, apa yang dikatakan Desi juga tak salah. Pria seperti Zein itu banyak dan dia bisa saja menemukan dimana pun.
Sementara bagi Zein, langkahnya tidak segaris lagi untuk mencapai garis finish. Namun seperti kebanyakan tantangan, rata rata langkah terakhir adalah yang paling sulit dan harus pintar pintar mengatur strategi agar tidak kalah. Mungkin itulah yang sedang dia pertimbangkan. Kadang kala ia merasa terbawa emosi yang membuat pikirannya teralihkan menyebabkan dirinya sulit dikendalikan.
" Syarat aku gak akan berubah. Ingat ya, Aku serius sama omonganku barusan. "
Selesai.
__ADS_1
Zein tak mau lagi memperpanjang percakapan tersebut dan Melisa mengalah.
Tak lama kemudian ponsel Melisa berbunyi. Sebuah panggilan dari pamannya yang meminta dirinya cepat pulang karena sudah cukup larut malam dan Melisa memberi tahu bahwa dia akan pulang telat karena menunggu hujan reda.