
" A-apa?? Nyokap lo sudah kasih restu? Itu tandanya Melisa sudah lo kenalin ke Tante Dwita? "
Zein mengangguk. " Iya. Seminggu yang lalu saya kenalin mereka. "
Demi apapun rasanya Siti ingin memekik kegirangan atas informasi yang di berikan Zein tadi. Akhirnya dia bisa menyudahi sandiwaranya pada Melisa.
" Gimana caranya, Ze? " tanya Siti, dengan binar ceria.
" Ya, saya kenalin aja langsung. Saya temui keduanya dan ternyata langsung cocok. " kata Zein.
Siti memukul kedua pahanya. " Tuh, kan! Memang wanita seperti Melisa itu sudah pasti langsung dapat restu dari calon mertua."
Zein terkekeh. " Harusnya memang saya kenalkan Melisa dengan mama lebih awal. "
" Memang! Lo sih kebanyakan nunda. " Siti mengangguk setuju.
Zein hanya tersenyum. Dia rasa ingin membagi kebahagiaanya ini dengan Melisa. Maka nanti malam ia akan menelpon wanita itu dan memberi tahu apa yang terjadi tadi.
" Jadi, Lo akan lamat Melisa kapan? " tanya Siti.
" Mungkin beberapa bulan dari sekarang. Saya mau Melisa dan Mama lebih dekat lagi. "
Siti berdecak. " Jangan kelamaan. Bulan depan aja terus langsung nikah. Gue ada rekomendasi WO, bagus bangat dan kerjanya cepat. "
" Saya juga maunya secepatnya. Lagipula ayah Melisa itu kan baru meninggal, jadi minimal saya tunggu setahun dulu. Tapi saya pasti akan menikahi dia. " kata Zein.
Siti dapat melihat keyakinan dari ucapan Zein barusan. " Iya, sih. Tapi minimal lo lamar dululah. "
Zein mengangguk. " Terima kasih sarannya, Ti. Saya gak akan mengecewakan dia. "
" Iya, gue percaya. Pokoknya lo harus membahagiakan Melisa dan ---- "
" Siti! Mama kamu pingsan! " ucapan Tante Vira sontak membuat Siti dan Zein terkejut.
Mereka segera meninggalkan halaman belakang dan menuju kerumunan yang sedang membantu Desi. Terlihat wajah wajah panik di sana termasuk Siti dan Zein.
" Kenapa Mama, Pa? " tanya Siti cemas.
__ADS_1
" Nanti papa jelaskan. "
Darwin di bantu putra sulungnya menggotong tubuh Desi dan segera di bawa ke rumah sakit. Siti menyusul dengan perasaan khawatir begitupun dengan Zein dan Dwita. Mereka bertanya tanya apa yang sedang terjadi dan penyebab ibunya mendadak pingsan padahal sebelumnya baik baik saja.
*******
Flashback
Setelah ibu ibu yang mendadak mengidolakan putranya pada pergi, Dwita merasa ini adalah waktu yang tepat untuk berbicara dengan Desi dan Darwin. Sebelum semua semakin jauh dan terencana yang pada akhirnya hanya akan menyakiti semua pihak.
" Des, Aku mau ngomong sama kamu dan Mas Darwin sebentar. " kata Dwita lembut.
" Mau ngomong apa, Dwi? " tanya Desi penasaran.
Dwita tersenyum tipis. " Ini masalah Zein dan Siti. Kita ngomongnya bertiga aja ya, biar lenih nyaman. "
Senyum Desi mengembang. Dia segera mengangguk. " Oh, soal itu. Yasudah, Aku panggil Mas Darwin dulu. Kamu tunggu di ruang kerja aja, di atas. "
Desi kemudian memanggil salah satu keponakannya untuk mengantarkan Dwita ke lantai atas. Dwita menuruti dan menunggu di sana dengan perasaan tak karuan.
Lantai atas bukanlah tempat acara berlangsung, jadi di sana sepi dan hanya terdengar suara suara samar dari lantai bawah. Dwita beberapa kali membasahi bibirnya karena gugup. Bukan hanya karena pembicaraan yang nantinya ia sampaikan begitu tiba tiba, tapi juga karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama dia akan bertemu sahabat dari mendiang suaminya.
Namun sesaat, Dwita tepis pikiran negatifnya. Dia menyakinkan diri bahwa yang dia lakukan hanyalah demi kebahagiaan putra semata wayangnya. Biar bagaimanapun naluri seorang ibu tak bisa terelakkan.
Dia menarik nafas dan menghembuskan perlahan untuk meredam rasa gugupnya. Tak lama kemudian suara dua orang yang sedang bercengkerama dan suara langkah kaki perlahan semakin mendekat.
Desi dan Darwin datang.
" Dwita, apa kabar? "
Si pemilik rumah sekaligus sang kepala rumah tangga menyambut ramah Dwita.
" Baik, Mas. Sudah lama sekali kita gak ketemu. " kata Dwita.
Mereka berjabat tangan singkat lalu oleh Desi dipersilahkan duduk kembali.
" Jadi, bagaimana proses hubungan Siti dan Zein? Saya belum ketemu anak kamu loh, Dwi. " kata Darwin.
__ADS_1
Aura ramah dan tenang yang dimiliki Darwin seolah membantu Dwita hanyut. Gugupnya perlahan hilang.
" Tadi dia ada di belakang sama Siti, Pa." alih alih Dwita yang menjawab, Desi yang lebih dulu menjawab.
Dwita tertawa kecil. " Sibuk ya, yang baru pulang dinas. "
" Memang. Pulang itu musti di bawelin dulu. " ucap Desi.
Dwita dan Darwin tertawa.
" Saya itu kerja biar bisa kasih kamu uang jajan terus. " ujar Darwin, bergurau.
" Pa!! " Desi memukul suaminya dengan bantal sofa. Kedua pipinya bersemu dan sontak membuat dua orang lainnya tertawa.
" Ya, ampun. Kalian ini harmonis sekali. Bikin aku kangen sama suami. " kata Dwita.
" Sudah, sudah. Jadi ada apa nih saya di bawa kemari sama dua wanita cantik? "Darwin mengingatkan Dwita tentang maksud dan tujuannya.
Desi mengangguk. " Iya, Dwi. Ada hal yang mau kamu bahas tentang anak kita? Soal apa? "
" Ini soal perjodohan anak kita. " Dwita menatap sepasang suami istri di hadapannya.
Darwin menatapnya balik dan mengekspresikan raut wajah tanda tanya.
" Kalau soal pertunangan aku sudah urus semua. Semoga aja nanti gak ada kendala pas hari H. " kata Desi.
Dwita menggeleng kecil. " Memang ada sangkut pautnya dengan pertunangan, tapi bukan itu poinnya, Des. Ada yang ingin aku sampaikan ke kalian berdua mengenai Zein. " kata Dwita.
" Apa itu? " tanya Darwin.
" Aku baru tahu ternyata Zein sudah punya pacar dan hubungannya sudah berjalan lama. Selama ini hubungan kami sebagai ibu dan anak itu jauh dari kata harmonis atau dekat. Bahkan setelah Ayahnya meninggal, Aku ragu Zein masih peduli dengan ibunya. Tapi justru itu, dari jarak yang sudah terbangun sejak lama yang tiba tiba aku hadir di depannya dan memaksa dia untuk menikah. " Dwita memberi jeda untuk menatap kedua lawan bicaranya.
Darwin menyimak dengan tenang sementara Desi terkejut bukan main. Ekspresi yang menunjukkan itu.
" Aku tahu sedari awal dia menolak, tapi aku gak pernah tanya apa alasannya dan Zein mungkin terlalu segan untuk memberi tahu. Tapi beberapa waktu belakangan ini, hubungan kami membaik. Mungkin karena sudah tinggal dalam satu atap lagi atau apapun itu aku bersyukur ternyata Zein sangat peduli dan sayang sama aku sebagai ibunya. Lalu beberapa waktu lalu juga, Zein mengenalkan aku sama pacarnya. Dia minta restu sama aku dan aku tidak punya alasan untuk menolak. Sebelumnya aku minta maaf sama Desi dan mas Darwin kalau ini terkesan frontal. " ujar Dwita. Wanita paruh baya itu memainkan jemarinya sembari menanti respon dari Darwin dan Desi.
Darwin berdehem. " Jadi Zein sudah punya pacar. " pria itu mengangguk paham dan mengelus dagunya, lalu dia berpaling pandangan pada Desi. " Kamu sudah tanya Siti apa dia sudah ada pacar atau belum? "
__ADS_1
Wajah Desi pucat pasi. Bukankah dia sudah meminta baik baik pada Melisa?