
Pesawat yang Melisa tumpangi sudah landing 20 menit yang lalu dan sekarang ia tengah menunggu bagasi bersama Andi. Pria itu ternyata duduk tak jauh dari kursi Melisa saat di pesawat. Benar benar sebuah kebetulan yang tak pernah di sangka Melisa bahwa setelah sekian lama tak bertukar kabar justru hubungan dirinya dengan Andi tak pernah berubah.
" Setau aku milkshake and mango float paling enak itu di Tarend's house kalau di Jabodetabek. " kata Andi sambil memperhatikan deretan koper yang berputar.
" Aku belum pernah kesana. Daerah mana itu? " kata Melisa.
" Banyak cabang kok. Cuma yang aku tahu adanya di kemang, serpong, karawaci, bintaro, senayan, soalnya sudah pernah kesana. Coba deh, enak bangat. Susunya kayak berasa asli berasa seperti di cimory. " ujar Andi, persuasif.
" Iya deh, nanti. Kirain setelah lama di New York, minuman favorit kamu bakal berubah. " kata Melisa.
" Gak ada yang bisa mengalahkan enaknya susu yang ditambah es krim. " kemudian Andi melangkah ketika melihat kopernya, lalu ia mengangkat benda itu cepat cepat.
" Sudah? "
Andi mengangguk. Mereka lanjut berjalan dan membahas topi milkshake. Dulu hal itulah yang membawa Andi terasa begitu spesial di mata Melisa. Bagi wanita itu, sangat jarang ia temukan pria menyukai minuman semanis milkshake.
Namun untuk sekarang, rasanya telah berbeda. Walau masih ada rasa sedikit yang tak terelakkan, Melisa menyakini bahwa hal itu ada sebab waktu yang ia habiskan dengan Andi dulu bisa dikatakan tak sebentar.
Tiga tahun.
Nyaris tiga tahun mereka menjalin hubungan. Bagi Andi, itu adalah waktu terpanjang ia berpacaran dengan Melisa. Hubungan tersebut adalah yang pertama. Bersyukur karena Andi adalah prianya, karena semasa mereka bersama tak pernah sekalipun pria itu menodai hubungan mereka.
Mereka menjaga hubungan tersebut dengan baik.
Terlalu baik sehingga saat disenggol sedikit, tak sulit untuk meruntuhkannya. Hubungan mereka jauh dari masalah besar dan ketika dihadapkan sebuah masalah yang musti diselesaikan dengan bijaksana, keduanya tak mampu dan memilih untuk mengakhiri.
" Kamu kabari aku aja pokoknya. " kata Melisa.
" Oke, bisa diatur. See you, Meli. " kata Andi sebelum pergi untuk memanggil taksi.
" See you. " Melisa melambai singkat. Dia melihat Andi sudah memasuki taksi yang dia panggil.
" Melisa! "
Melisa langsung menoleh dan mendapati namanya dipanggil.
" Hei. " sapanya saat menemukan Zein yang berdiri tak jauh darinya.
" Siapa? " mata Zein beralih ke pria yang baru saja mengucap pamit kepada Melisa.
" Teman lama. "
" Ngapain dia ngomong, see you? Memang kalian mau ketemu lagi? " kata Zein.
__ADS_1
" Kamu dengar? " Melisa cukup terkejut saat Zein mendengar percakapannya dengan Andi.
" Aku disini dari tadi. Jadi maksud dia apa ngomong begitu? " tanya Zein, penuh tuntut.
" Ya ampun, Ze. Cuma sebatas itu aja kamu permasalahkan? Jangan berlebihan deh. " ucap Melisa, tak suka.
" Bukan berlebihan. Tapi tatapan dia itu aneh bangat ke kamu. " kata Zein tak mau kalah.
'' Apa sih? Dia itu senior aku di kampus dulu. Glenn sama Siti juga kenal. " Melisa bersikeras.
" Masa? Terus tadi ngobrolin apa aja sama dia? " tanya Zein, penasaran.
" Ngobrol biasa aja. Tanya kabar, karir, teman teman, cerita dia tinggal di new york. " jawab Melisa.
Sedikit tersinggung karena tidak diceritakan, Zein kembali bertanya. "Terus?"
"Ya gitu. Ternyata dia sudah ketemu Glenn sebulan yang lalu. Terus tentang Om Irwan, kita juga mau ket--- sudah ah. Ayo pulang, kasihan Om Irwan sudah nunggu. " kata Melisa tanpa menyelesaikan kalimat sebelumnya.
Curiga Zein semakin jadi. " Tadi omongan kamu belum selesai. Kamu dan dia mau apa?"
" Gak ada apa apa, Ze. Sudah, ayo pulang. Aku capek bangat." Melisa menggenggam tangan Zein.
Zein mengalah. Gurat lelah di wajah wanita itu memang tak bisa bohong walau rasa penasarannya pun tak dapat ditampil begitu saja.
" Masalah kamu sama artis itu sudah selesai?" tanya Melisa, mengingat alasan tersebutlah yang membuat Zein balik lebih dulu dari jogja.
" Ohh, sudah. Aku sama Mas Mike yang tangani. Habis itu kita semua sepakat gak mau nerima artis lagi. " kata Zein.
Melisa terkekeh. " Sabar ya. Kantor kamu pasti diserbu wartawan. "
Zein mengangguk. " Aku, Bobby, Mas Mike dan semua staff lainnya sangat terganggu sama itu. Cuma Bagas yang santai. "
" Kenapa bisa begitu? "
" Tahu sendiri jiwa kepercayaan dirinya setinggi apa. Dia menghayal fotonya bisa terpampang di media terus dia terkenal karena ketampanannya. Pusing aku sama dia."
Melisa tertawa. " Dia memang tampan sih, Ze. " cicit Melisa.
" Oalah! " kata Zein seraya membuang pandangannya ke samping dan terdengar tawa Melisa yang lebih puas.
Sore menjelang malam itu Melisa diantar Zein pulang. Keduanya tak banyak bicara saat dalam perjalanan, terlebih Zein dengan Melisa yang butuh istirahat setelah menunggu delay sebelum keberangkatannya ke jakarta.
Saking lelahnya, Melisa bahkan tertidur di mobil dan baru Zein bangunkan ketika sudah sampai di rumah.
__ADS_1
" Makan, mandi, terus tidur. Aku pulang dulu. " kata Melisa kemudian mengecup kening Melisa lalu pulang.
*****
Bagas menghempaskan bokongnya ke kursi empuk seraya melonggarkan dasi yang ia kenakan. Pria itu baru saja pulang dari persidangan tepat jam istirahat kantor. Matanya mengelilingi ruangan dan melihat Zein sedang sibuk sendiri sementara Bobby dan Mike sudah keluar kantor lebih dulu.
" Makan yuk. " kata Bagas.
Merasa tak ada siapapun kecuali dirinya dan Bagas, Zein menjawab. " Traktir. "
Bagas berdecak kesal. " Heran deh gue, karir bagus, duit banyak, tapi minta ditraktir mulu. "
" Itu taktik buat menghemat. "
" Hemat atau koret? " cibir Bagas.
Zein terkekeh. Dia menutup laptop dan bangkit dari tempat duduknya.
" Makan di mana? "
" Nah gitu dong! " seru Bagas, " Pasta yuk, gegara lihat mukbang jadi ngiler gue. "
" Tuh kan, Gimana gue gak mau bangkrut kalau tiap hari makan sama lo diajak ke tempat mahal mulu. " keluh Zein.
" Yaelah, Ze. Sekali kali ngeluarin duit seratus ribu buat makan gak bikin lo miskin kali. " ujar Bagas.
" Sekali sekali tapi sering. Sama aja! "
" Gaya lo kayak bapak bapak anak empat gitu, Ze, yang pusing bangat mikirin masalah keuangan ditambah istri yang sangat amat perhitungan. " kata Bagas kemudian terkekeh.
" Sialan. "
Mereka memasuki lift yang membawa keduanya ke lantai satu.
" Atau jangan jangan, Lo memang ada rencana menikah dalam waktu dekat? "
Sebenarnya Bagas hanya asal tebak, berhubung pertanyaannya tadi masih nyambung dengan bahasan sebelumnya, Namun bagi Zein pertanyaan Bagas adalah hal yang sangat sulit untuk dijawab.
" Entah. Kalau cuma gue yang siap buat menikah, ngapain. Mending nanti aja. " kata Zein seraya keluar dari lift.
Bagas mencerna apa yang Zein katakan hingga ia pun mengerti.
" Jadi maksud lo?---''
__ADS_1