
Ketika Melisa terbangun dari tidurnya, Dia tidak melihat Zein. Namun dia menemukan secarik kertas di nakas kamarnya.
" Morning pacar? Kalau kamu udah baca surat ini, Berarti aku udah pulang dengan selamat. "
Melisa tersenyum membaca pesan singkat dan padat itu. Tahu saja jika memang dia khawatir pada pria itu. Kalau saja dia tidak lelah, dia pasti tidak akan tidur.
Melisa bergegas mandi dan siap siap ke kantor. Harinya cerah, secantik hatinya. Sebelum berangkat ke kantor dia mengirim pesan singkat untuk pria yang semalam baru resmi jadi pacarnya.
" Morning pacar? Bangun!! jangan tidur terus. " Melisa menyimpan ponselnya di dalam tas dan bergegas ke kantor.
Zein tanpa sadar menyungging senyum ketika membaca pesan gurau dari kekasihnya. Dia senang. Sekarang Melisa resmi menjadi pacarnya.
" Ze, sarapan dulu. " panggil Mamanya dari dapur.
Zein langsung keluar kamar dan mengambil posisi di meja makan. Dia menyantap sarapannya dengan lahap. Bukan hanya karena lapar tapi juga karena senang.
" Kamu sudah mabil keputusan, Ze? " tanya Dwita, Dia duduk menghampiri putranya.
Suasana hati Zein menurun drastis. Dia menurunkan tangannya yang tadi ingin menyuap nasi. Dia kehilangan selera makannya.
" Sudah, Ma. " katanya pelan.
Dwita mengerjap. " Apa, Nak? "
" Saya butuh waktu untuk saling mengenal sama Siti. Jadi jangan menyiapkan apapun dulu. Acara pertunangan apalagi pernikahan. " ucap Zein, final dan tak mau dibantah.
Bahu Dwita menurun. " Tunangan aja ya? biar ada ikatan. "
Zein menggeleng.
" Biar hubungan kalian kelihatan serius, Ze. " pinta Dwita, lagi.
Zein tetap menggeleng.
" Ya sudah, Saha berangkat kerja dulu. "
Dwita menyerah. Setidaknya Zein sudah setuju dengan perjodohan itu dan untuk saat ini persetujuan dari putranya sudah cukup.
Zein bangkit dari kursi dan meneguk air minumnya lalu mengecup pipi Mamanya kemudian pergi meninggalkan apartemen.
Disepanjang perjalanan hati dan pikirannya berkecamuk. Ini tentang permintaan Papanya dan perasaan Melisa. Bagaimana dia bisa mewujudkan semua, sementara penyelesaian keduanya berbeda jauh.
" Andai papa masih ada. " gumam Zein, disela dirinya yang menyetir.
__ADS_1
Ya. Andai Papanya masih ada, pasti tidak serumit ini. Membujuk Papanya jauh lebih mudah daripada Mamanya. Papanya selalu bisa mengerti keinginan Zein, Namun tidak dengan Mamanya.
****
Sebenarnya nomor telepon Zein yang di beri Desi sangat tidak berguna. Sebab dia sudah memiliki duluan saat pria itu menghubunginya tiga bulan lalu. Meminta alamat rumah Melisa.
Siti sudah mengatakan dia setuju dengan perjodohan ini dengan mengajukan syarat yang dinyatakan sama dengan Zein. Di Satu sisi merasa senang melihat kondisi mamanya yang semakin membaik, tapi di sisi lain hatinya merasa bersalah pada sahabatnya, Melisa.
Dia menatap butiran hujan yang menempel di kafe Glenn. Tatapannya hampa. Seandainya dia tidak putus dengan Lucas, pasti tidak akan terlibat pada perjodohan sialan ini.
" Brengsek! " umpat Siti kesal kala mengingat mantan kekasihnya itu.
" Heh! perawan masih pagi udah ngomong kasar aja. " tegur Glenn, saat mengantarkan kopi untuk sahabatnya itu.
" Bodo! " kata Siti tak peduli.
" Asem bangat itu muka, kenapa sih? " tanya Glenn.
Dia memang melihat beberapa kejanggalan pada diri Siti sedari tadi. Biarpun persahabatan mereka didominasi oleh pertengkaran, Glenn tak bisa memungkiri jika Siti dan Melisa sudah seperti adiknya sendiri. Maka ketika Siti dan Melisa dalam masalah, dia akan menjadi tameng paling depan untuk kedua gadis itu.
" Gak apa apa. " jawab Siti singkat.
Glenn berdecak. " Selama gue berkelana dan ketemu banyak cewek, kata gak apa apa punya arti beda dari yang seharusnya. Dan gue bukan cenayang yang tau artinya. "
" Udah deh! Lo bawel bangat. Gue beneran gak apa apa. Sok peduli banget lo. "
" Ya sudah, lo cerita saja ke Melisa. "
" Melisa? apa kata Melisa nantinya, Glenn? Dia bisa benci bangat sama gue. " Siti tersenyum kecut. Harusnya dia tidak menerima ide gila Zein. Harusnya dia biarkan saja Desi menerima keputusannya. Harusnya dia bisa tegas dalam pendiriannya. Tapi nasi sudah jadi bubur. Tak ada yang bisa kembali.
Getaran ponsel Siti membuyarkan pikiran kesalnya.
" Nanti sore ajak Zein ke rumah, ya. Kita makan malem bareng. Ada tante Dwita juga. " isi pesan dari Mamanya.
Siti mendesah semakin kesal. Tapi dia ingat perkataan Zein, Dia harus membuat pikiran ibunya tenang dan cair agar mudah membujuk untuk membatalkan perjodohan ini.
" Ok, Ma. " balasnya.
Apalagi yang bisa dia jawab selain menuruti keinginan ibunya. Dia berdoa semoga aja Zein bisa cepat cepat menemukan solusi agar masalah ini cepat selesai.
******
" Wah, pasangan baru sudah sampai nih. " seru Sean, Kaka Siti ketika melihat Zein dan Siti datang secara bersamaan.
__ADS_1
" Berisik! " sungut Siti, Sean hanya berseringai jail.
" Apa kabar, Ze? " sapa Sean sambil berjabat tangan dengan Zein.
" Baik. Mas sendiri apa kabar? Tina sehat?" tanya Zein balik. Tina adalah anak Sean.
" Sehat. Tapi sekarang dia lagi sama Mamanya. "
Zein mengangguk mengerti. Kemudian masuk bersama Sean.
" Aduh, Calon menantu tante sudah datang. Yuk, Ze, duduk. Tante sama mama kamu sudah masak buat kamu dan Siti. " sambut Desi, ketika melihat Zein datang.
" Terima kasih, Tante. " ucap Zein, sungkan.
" Santai aja, Ze. Hitung hitung ini perayaan hari jadi kalian. Iya, gak, adikku sayang? " gurau Sean, pada Siti.
" Ishhh! Apaan sih. " Siti langsung mencubit pinggang kakaknya.
" Aww! Kamu itu wanita tapi kasar. Sudah mau menikah loh, kamu. " kata Sean sambil merintih.
" Sean, jangan gangguin adiknya terus. " tagur Desi.
Mereka makan dengan tenang sambil berbincang mengenai latar belakang pendidikan Zein dan Siti. Atau bercerita tentang masa kecil yang sedari tadi hanya terdengar suara Dwita, Desi dan sesekali Sean menimpali. Baik Zein maupun Siti hanya diam dan menyimak. Tertawa saat ada yang lucu atau senyum saat mengingat momen yang memang berkesan.
" Lo bilang apa ke Melisa kalau malam ini lo kesini? " bisik Siti, diantara bisingnya suara Dwita dam Desi.
" Saya bilang lembur. Tapi nanti saya mungkin mampir ke rumah dia dulu. " kata Zein.
" Kangen, ya? "
Zein tidak menjawab. tapi tak bisa mengelak.
" Khawatir? "
Zein mengangguk.
Kini tebakan wanita itu telak di hatinya. Benar. Zein khawatir. Dia takut Melisa tidak mempercayainya.
" Melisa sudah cerita tentang lo yang maksa dia jadi ceweknya. Ngeselin abis lo. " Siti terkekeh.
" Spontan. Gak direncanakan sama sekali. " jawab Zein membela diri.
" Lo senang, Ze? "
__ADS_1
Zein mengangguk tanpa ragu. " Ini yang saya harapkan sejak lama. "
Siti tersenyum. Dia senang Melisa dapat pria yang baik. Kalau saja Zein bukan milik Melisa, mungkin Siti akan membuka hatinya untuk pria itu. Seandainya.