
Melisa menepati janjinya untuk datang ke kafe Glenn siang hari, tepat jam istirahat kerja Zein. Dia membawa beberapa masakan untuk Zein dan Glenn. Salah satunya adalah tumis buncis, favorit Zein.
Melisa melambaikan tangannya ketika melihat Zein masuk ke kafe. Dia tidak bisa menyembunyikan senyumannya. Padahal semalam mereka baru bertemu tetapi rindu selalu menyerangnya.
" Hei. " sapa Zein lalu mengecup kening kekasihnya itu.
" Aku masakin kamu tumis buncis, ayam goreng sama ikan balado. " kata Melisa dengan semangat menunjukan satu satu maha karya dari dapurnya.
Zein tak tahan untuk tidak tersenyum. Sikap Melisa siang ini berhasil menepis ketakutannya tadi pagi akan keraguan wanita itu.
Ya. Melisa bukan ragu. Tapi dia hanya mempertimbangkan masa depannya. Begitulah Zein menarik kesimpulan.
" Gak apa apa makan di sini? Gak ganggu pengunjung lain? " tanya Zein, melirik Glenn dan Melisa bergantian.
Sepertinya kebanyakan kafe, biasanya mereka melarang pengunjung untuk membawa makanan dari luar.
" Sudah aku sogok pakai ayam goreng masih gak boleh, awas aja. " Melisa melirik Glenn sambil menyeringai.
" Kalau gue gak kasih, gue yang malah di tampol dia. " kata Glenn.
" Makanya punya pacar biar bisa di masakin tiap hari. " sahut Melisa yang sedang menyiapkan makanan.
Glenn berdecak. " Mulai deh, " ucapnya tak suka kalau ada yang mengungkit soal urusan asmaranya.
" Bukannya cewek lo banyak? " kata Zein ikutan nimbrung. Kira kira hanya itu yang dia tahu tentang Glenn. Playboy.
" Dia mau tobat katanya. Gak tau deh seorang playboy kalau ngomong tobat benaran apa gak. " sindir Melisa. Sebab sudah kesekian kali sahabatnya berkata akan tobat namun tetap mengulangi lagi.
" Kok lo jadi underestimate gue? Lihat dong Mel, gue sudah jarang ke klub. Gak pernah lagi tuh gue sembunyi di rumah Siti karena di kejar cewek cewek. " kata Glenn dengan wajah masam.
Zein tertawa. " Jadi playboy itu gak salah kok, asal tahu cara mainnya. " timpal Zein.
" Kamu dulu playboy juga? " Melisa menatapnya. Kemudian menyodorkan kotak nasi yang sudah dia isi dengan lauk dan sayur.
Zein menggeleng. " Aku gak tau. Tapi dulu aku suka juga ke klub. Gonta ganti pasangan tiap pergi. Dulu bangat, waktu kuliah. " katanya tak ingin Melisa salah paham.
" Tuh dengerin, Mel. Playboy itu sudah naluri pria." Zein membela diri.
" Iya, ya. Dua lawan satu bisa apa. " kata Melisa tak acuh.
Zein membelai rambut wanita itu. " Bercanda, Sayang. "
Melisa hanya berdehem, Dia memilih diam menunggu kedua pria itu makan. Sesekali Melisa menyeka sisa makanan yang tertinggal di sudut bibi Zein pakai tissue. Dia juga tak lepas menyandarkan kepalanya di lengan penuh otot milik Zein.
__ADS_1
" Kamu sudah makan? " tanya Zein.
Melisa mengangguk. " Di rumah tadi, makan duluan. "
" Mau lagi? " Zein mengangkat sendok yang berisi nasi dan potongan lauk.
Melisa membuka mulut dan menerima suapan dari pria itu.
" Enak gak masakanku? " tanya Melisa.
Zein mengangguk. " Lolos jadi calon istriku ini mah. "
Melisa tertawa. Sesekali mereka melempar gurau. Tawa dan senyuman mereka membuat Glenn meringis. Baginya, mereka adalah pasangan serasi dan bahagia. Namun mengapa cobaan begitu berat datang untuk keduanya??
Glenn berusaha untuk tetap netral. Mengingat dia sudah sepakat untuk tidak membantu Melisa. Tapi tetap saja sebagai sahabat pikirannya ikut kalut. Dia memikirkan perasaan Melisa yang akan hancur kelak, Juga Siti yang harus berperang dengan hati dan keinginan keluarganya.
Waktu berlalu kian cepat saat dinikmati. Satu jam berlalu begitu saja dengan obrolan ringan dan gurauan. Zein harus kembali bekerja dan sebelum ia meninggalkan kekasihnya, pria itu mendaratkan sebuah kecupan manis di kening Melisa.
Melisa tersenyum bahagia saat merasakan ciuman dari Zein, membuat Glenn yang melihat itu semakin teriris hatinya. Ini baru Melisa, Dia belum mendengar versi Siti yang pastinya tetap membuatnya sedih sebagai sahabat.
" Nanti aku telepon. " ujar Zein. Dia melambaikan tangannya.
" Dahh. " dan dibalas Melisa.
" Gue gak mau bahas itu. " kata Melisa.
" Kenapa? Takut makin sakit hati? " cecar Glenn.
" Lo senang lihat gue sakit hati? " Melisa menatap lurus sahabatnya.
Glenn mendengus. Membuang pandangannya keluar jendela.
" Gue gak paham apa pertimbangan lo sampai sampai mau berkorban. "
" Gak ada pengorbanan dalam cinta. Semua yang gue atau Zein lakukan itu bukan berkorban. Tapi usaha untuk saling membahagiakan. " ujar Melisa.
" Bulshitt. Iya kalau seandainya kalian bahagia. Tapi kalau cuma salah satunya? Apa itu pantas disebut usaha, bukan pengorbanan? " sekali lagi Glenn akan mencoba membuka mata Melisa selebar lebarnya.
" Pikirkan lagi, Mel. Ini hidup lo. Lo juga yang akan jadi dalang dari berbagai kisah hidup lo kedepannya. Eh, ngomong ngomong, makasih makanannya. " Glenn beranjak dan kembali mengisi meja barista meninggalkan Melisa sendiri lagi.
Melisa melihat ponselnya ketika dia merasakan getaran. Nama Desi tertera di sana.
" Halo, Tante. " sapa Melisa.
__ADS_1
" Halo, Melisa. Kamu lagi dimana sayang? " tanya Desi.
" Aku lagi di kafe, Glenn. Ada apa, tan? " tanya Melisa.
" Gak ada apa apa sih. Cuma kepikiran kamu aja terus jadi nelpon. " ujar Desi.
Melisa tersenyum tipis. " Ya ampun, Tante. Aku kira kenapa tiba tiba telepon. Tante lagi ngapain? "
" Lagi sendirian aja nih di rumah. Si Om masih di Kalimantan terus Siti sama Sean juga kerja. Kamu kalau lagi gak sibuk kesini aja, temenin Tante. " kata Desi.
Melisa menimbang - nimbang. Kerjaan di kantor juga sudah ia bereskan tadi pagi. Di tambah keadaan kantor yang sudah stabil membuatnya lebih tenang kalau harus meninggalkan kantornya.
" Boleh, Tan. Melisa jalan ke rumah ya. "
" Kamu sudah makan belum? " tanya Desi lagi.
" Sudah, Tan. "
" Oh, gitu. Ya sudah, tante tunggu ya sayang. "
" Oke, Tan. Bye. " Melisa memutuskan panggilan sambungan telepon.
Dia segera membereskan kotak makan yang tadi ia bawa dan bersiap menuju rumah Siti. Dia melirik Glenn yang sedang sibuk dengan coffee maker miliknya.
" Glenn, Gue duluan. "
Melisa keluar kafe setelah mendapat sahutan dari Glenn.
Melisa hanya menempuh waktu kurang lebih 30 menit untuk sampai di rumah Siti. Dia memarkir mobilnya tepat di depan pagar rumah besar itu. Ketika ia membuka pagar, Ia mendapati Desi sedang menyiram bunga bunga yang di tanam disekitar halaman dekat teras rumah.
" Melisa, Kamu sudah datang. " seru Desi, ketika melihat siapa yang membuka pagar.
Desi meninggalkan halaman dan langsung menyambut Melisa. Dia mengandeng Melisa untuk masuk ke rumahnya.
" Macet gak sayang? " tanya Desi.
" Gak kok, tan. Biasa aja. Eh, tapi Melisa gak bawa apa apa buat tante. Tadi lupa mampir mau beli kue." kata Melisa begitu tiba di ruang keluarga.
" Ya. Gak apa apa. Kan kamu yang tamu disin, jadi tante yang harus menyuguhkan makanan. Kamu mau chamomile tea? kemarin Sean bawa dari pekanbaru. " ujar Desi bersemangat.
Melisa mengangguk. " Boleh, Tan. Sekalian Melisa bantuin ya. "
" Gak usah, Nak. Kamu di sini aja, bentar ya. " Desi meminta Melisa bersantai di sofa dan dia berlalu ke dapur.
__ADS_1