Semua Karena Kamu

Semua Karena Kamu
Episode 31


__ADS_3

" Apaan?? " Namun Siti memilih berpura pura tidak tahu. Malah terkesan tak acuh.


Melisa memajukan badannya. " Angsa itu melambangkan cinta, Ti. Kalau lo lihat foto dua angsa yang saling berhadapan, maka lo akan melihat seperti bentuk hati. Dan lagi, Angsa itu adalah hewan monogami. Mereka hanya akan menikah dengan satu angsa saja dan punya anak hanya untuk pasangannya. Angsa juga lambang kesetiaan. Penuh makna bangat pokoknya. " Melisa berbicara dengan penuh semangat.


Siti memerhatikan Melisa dengan perasaan teriris nan perih. Hatinya merasa di remas kencang melihat raut wajah Melisa yang sumringah ketika menceritakan filosofi angsa sebagai liontin di kalungnya.


Kenapa situasinya harus seperti ini. Kenapa takdir selalu tak berpihak pada gadis itu?


Siti memaksakan untuk senyum. " Waow!! Lo senang sih baca baca gituan. Gue sih bodoh amat mau artinya apaan. Orang di kasih juga. " Dia terkekeh, lalu meraih botol minumnya untuk di minum.


Melisa tertawa kecil. " Jadi, Lo siap nikah nih?"


Pertanyaan tiba tiba dari Melisa membuat Siti yang sedang minum tersedak. Dia batuk batuk hingga menepuk nepuk dadanya.


" Ma-maksud lo?? "


" Ya, menikah. Tante Desi pengen lo menikah, Siti. Seperti kata lo 24 tahun itu udah ideal untuk menikah. Jadi apa yang lo tunggu? " kata Melisa.


Siti berdehem. " Apa yang gue tunggu? Ya, jelas pasangan dong, Mel!! Lo kan tau gue jomblo. "


" Tapi tante sudah ngejodohin lo kan? Tapi lo malah nolak. " ujar Melisa.


Siti bingung sekaligus kaget bukan main. Tak habis pikir Ibunya bertindak sejauh ini.


" Lo tahu? "


Melisa mengangguk.


Siti mencelus. Sudah dipastikan persahabatannya dengan Melisa akan berakhir.


" Lo tau siapa pasangan gue? " hati hati Siti bertanya.


" Gak sih. Cuma tante bilang lo dijodohin dan lo nolak. Harusnya lo itu terima. Gue yakin pilihan tante itu yang terbaik, Ti. Gak ada seorang ibu yang pengen anaknya sengsara dengan salah memilih pasangan. " tutur Melisa, benar benar seperti aktris profesional.

__ADS_1


" Ada, Nyokap gue,Mel paling senang lihat anaknya sengsara. Anaknya jadi duda aja dia biasa aja. " batin Siti.


Siti menghela nafas. Dia lega ternyata Melisa tidak tahu.


" Urusannya gak semudah itu, Mel. Masalahnya ..... itu cowok dan gue gak bisa bersatu. Kita bertolak belakang, gak akan bisa jadi pasangan. " elak Siti, sebisa mungkin tak mendeskripsikan Zein.


Melisa tersenyum tipis. " Lo sudah coba belum? jalan atau nonton gitu. " usulnya.


Siti menggeleng. " Gue lebih rela balikan sama mantan daripada menikah karena dijodohin. "


" Siti, Orang tua lo itu masih lengkap. Lo punya waktu banyak buat bahagiain mereka, gak kayak gue. Jadi selagi waktu itu masih ada, Lo harus semaksimal mungkin bahagiain mereka. Hitung hitung balas kasih orang tua lo karena sudah besarin lo sampai sekarang. " ucap Melisa.


Lebih tepatnya gadis itu baru saja menasihati sahabatnya yang bebal.


Siti mendengus. " Kalau ini cuma balasan karena mereka sudah besarin gue , Gue malah ogah. Gue gak pernah tuh minta di lahirkan. Jelas, mereka yang harus tanggung jawab. Kenapa gue harus balas budi kesan nya? " Siti mendadak badmood. Kemudian ia melanjutkan. " Sudahlah, ganti topik aja. Besok nonton yuk. "


Melisa mencoba memahami sahabatnya. Dia sangat menghargai usaha Siti yang secada terang terangan menolak perjodohan ini. Setidaknya gadis itu masih memikirkan sahabatnya Melisa. Tapi Melisa mungkin akan lebih bahagia jika melihat perjodohan itu terjadi.


Seperti yang dia bilang, Orang tua adalah segalanya. Apalagi perjodohan ini karena wasiat almarhum Ayahnya Zein.


" Ish! Males bangat jadi nyamuk! " Siti menolak tanpa berpikir lagi, terlebih setelah mendengar nama Zein.


Melisa tertawa. " Dulu juga sering pas sama Glenn jadi nyamuk dia sama pacarnya. "


Siti berdecak. " Beda cerita kali, Mel .... "


" Karena pacar gue calon suami lo kan, Ti? Itu bedanya jadi nyamuk gue sama Glenn. " batin Melisa.


" Yasudah. Terserah lo. Gue balik duluan, kasihan Om Irwan sendirian di rumah. Bye.. " Melisa menenteng tasnya. Lalu keluar dari ruangan pribadi Siti di butiknya.


Siti menatap kepergian Melisa masih dengan perasaan sesak. Bisa bisanya Melisa memberinya dukungan untuk menikah dengan pacarnya sendiri.


" Gak akan mungkin, Mel. Gue lebih rela percintaan gue berantakan daripada persahabatan kita. " Siti bergumam di tengah kesendiriannya.

__ADS_1


Setengah jam kemudian Siti bersiap untuk pulang dan menenangkan pikirannya karena dia akan menyemprot ibunya yang lancang memberi tahu Melisa masalah yang rumit ini.


******


Zein menjatuhkan diri di samping Melisa setelah membersihkan tubuhnya. Dia merentangkan salah satu tangan, meminta Melisa untuk datang ke pelukannya dan gadis itu menurut.


Melisa membaringkan kepalanya di dada pria itu dan kemudian ia rasakan dekapan hangat dari tubuh pria itu.


" Aku tau ini gak mudah, tapi aku juga gak akan menyerah. " ucap Zein lalu mencium kepala Melisa.


Melisa memeluk Zein lebih erat. " Aku ..... percaya sama kamu. "


" Harus. Kamu memang harus percaya sama aku, Melisa. Hubungan kita bukan permainan yang bisa kapan saja di oper sana sini. Aku tau perjuanganku belum ada apa apanya dalam mendapati kamu dan menjalani hubungan ini. Maka dari situ sekarang aku akan buktikan ke kamu kalau aku itu pantas. " Zein mengecup kepala Melisa lagi.


Dia sangat mencintai wanita itu. Belum pernah Zein merasakan perasaan sebesar ini sebelumnya. Mungkin karena Melisa juga mencintainya dengan tulus.


" Kamu yakin gak buat almarhum Papa kamu kecewa? " tanya Melisa setelah diam cukup lama.


" Papa pasti mengerti alasan aku gak bisa menerima permintaan terakhirnya. Kalau papa masih ada, jelas alasanku ini masuk akal. Mungkin papaku juga akan senang kalau ketemu kamu sebagai calon menantunya. " ujar Zein.


Ya. Seandainya papanya masih ada, pasti situasinya tidak akan seberat ini. Ibunya tidak akan bersikeras memintanya menikah dengan wanita asing hanya embel embel wasiat dari mendiang papanya.


" Sayangnya, beliau sudah gak ada. Maka yang harus kamu dengarkan adalah ibu kamu sekarang. " sahut Melisa pelan.


" Mamaku cuma butuh waktu. Nanti aku kenalkan kamu ke mama. " Zein mengakhiri percakapan yang berpotensi memicu penatnya kembali.


Zein mengecup dahi Melisa kemudian pamit untuk tidur. Begitu juga dengan gadis di pelukannya yang ikut tertidur seiring dengkuran halus yang diciptakan Zein.


Mereka terlalu lelah hingga lelap lebih cepat dari biasanya.


Benar yang Melisa duga, dia hanya bisa bermain topeng di belakang Zein. Sebab ketika pria itu menatap dirinya, hilang sudah kemampuannya untuk bersandiwara.


****

__ADS_1


Zein langsung pulang sehabis mengantar gadis kesayangannya. Dia hanya ingin tidur dan memanfaatkan hari liburnya dengan baik. Lagipula dia tak enak jika harus terus berbohong pada ibunya dan meninggalkan wanita itu sendirian di rumah.


__ADS_2