
" Kalau kamu gak mampu, gak usah dipaksa. "
Melisa menoleh ke sumber suara. Dia melihat Glenn sedang berkutat dengan laptopnya tak jauh dari tempat Melisa berbaring.
Sudah hampir seminggu ia rajin berkunjung ke rumah Glenn demi menghindari pertemuan kebetulan dengan Zein.
" Tante Desi bukan nyokap lo juga. " tambah Glenn.
Melisa berbaring terlentang menghadap langit langit kamar.
" Ingat gak, Dulu kita sering main ke rumah Siti tiap pulang sekolah? Terus main di sana sampai sore gak tahu waktu. Rumah Siti sudah jadi rumah kedua buat kita, Begitu juga dengan keluarganya yang selalu baik sama kita. Ingat gak, Glenn, waktu hujan hujan terus tante Desi yang baru pulang dari salon bela belain ngantar gue balik supaya papa gak jadi marah. Terus waktu lo ulang tahun dan gue sama Siti bokek bangat, Tante Desi yang siapin kejutan buat ulang ---- "
" Iya, Gue ingat, Melisa. Gue ingat semua kebaikan tante Desi. " jengah dengan Melisa, Glenn menutup laptopnya dan mengubah posisi duduknya sehingga menghadap wanita itu.
" Mungkin gue bisa balas semua kebaikan beliau dengan cara kayak gini. Lagipula cuma masalah pria, masih banyak di luaran sana. " kata Melisa.
Glenn nyaris melongo mendengar Melisa berucap seperti tadi.
" Kalau Siti yang ngomong begitu gue percaya. Tapi kalau lo? Pacaran aja cuma pernah du kali. Gue bisa hitung pakai jari siapa aja pria yang masuk ke kategori gebetan buat lo. " ujar Glenn, gemas.
" Berhenti jadi naif deh, Lo cinta sama Zein, kan? "
Melisa malah terkekeh. " Kalau gue gak ketemu sama lo dan Siti pasti hidup gue bakalan kelewat datar, Thank you Glenn, dan gue juga berterima kasih sama Siti. " ujar Melisa.
" Sama sama. Tapi lo jangan mengalihkan pembicaraan. Asal lo tahu Mel, nemuin orang yang cinta sama kita jauh lebih sulit daripada buat diri sendiri jatuh cinta sama orang lain. " kata Glenn, telak.
Melisa tertawa kecil nyaris seperti meringis.
" Memang. Tapi gue punya papa, om Irwan, lo, Siti yang bisa mencintai gue sampai mati. Kalau masalah cinta, gue gak ambil pusing, kok. "
" Emang lo bisa dapat yang kayak si Zein? Kelihatan, Mel. Kelihatan bangat dia cinta sama lo. Sebagai pria sih gue tersinggung cinta gue gak diacuhkan begini cuma karena gengsi pula." kata Glenn.
" Sudah ah! Jangan bahas beginian lagi. "
Melisa meraih ponselnya dan membuka folder musik. Dia menyumpal earphone dan bertelungkup memunggungi Glenn.
" Jangan datang ke gue pas nangis nangis. " seru Glenn. Dia pun kembali fokus ke laptopnya.
******
" Berhenti menghindar! "
Melisa terkejut bukan main saat mendapati Zein yang membukakan pintu rumahnya.
__ADS_1
" K-kamu sedang apa? " tanya Melisa.
" Nunggu kamu. " jawab Zein, singkat.
Lidah Melisa seketika kelu. Dia tidak menyangka Zein nekat mengunjunginya semalam ini.
" Sudah malam. " kata Melisa.
" Ngusir? "
" Bukan begitu. Tapi .... " Melisa tak mampu menyelesaikan kalimatnya. Ia menunduk sambil menggigit bibir bawahnya.
" Sebenarnya ada apa? " tanya Zein sambil memegang kedua bahu Melisa.
Reflek wanita itu mendongak dan menatap wajah Zein.
" Gak ada apa apa. " jawab Melisa.
" Yakin? "
Wanita itu kembali mengangguk.
" Terus kenapa menghindar? Hubungan kita bukan hubungan anak SMP yang kalau punya masalah langsung kabur. Kita berkomitmen dari awal dan punya tujuan kalau kamu lupa. " ujar Zein.
" Kita berakhir setelah waktu hidup salah satu dari kita selesai. '' Dia mengerti kekhawatiran gadisnya dan ucapan Bagas itu terus menghantui dirinya.
" Aku gak yakin kalau kita bisa. " kata Melisa.
" Percaya sama aku. " bisik Zein, Pria itu meletakkan kedua tangannya untuk menangkup kedua pipi Melisa.
Wanita itu mengangguk.
" Jangan pernah menghindar lagi. " bisik Zein.
Bagian tersulit dari mencintai adalah merelakan. Setidaknya itu yang Melisa tahu dari film dan buku yang ia tonton dan baca. Sama sekali tidak menyangka bahwa dirinya akan mengalami hal tersebut. Dia selalu menganggap kalimat itu hanya omong kosong namun ternyata benar dan jauh lebih sulit dari sekedar tulisan.
" Tunggu hujannya reda dulu aja, Ze. " kata Melisa.
Zein mengangguk. " Aku juga malas nyetir pas hujan deras gini. "
Keduanya sudah ada di dalam mobil. Niat awalnya hanya ingin mengisi perut dengan membeli nasi goreng di pinggir jalan dan setelah selesai, hujan turun cukup deras. Mereka memutuskan untuk menunggu hujan reda karena terlalu deras hingga membuat penglihatan tidak jelas dan keduanya tidak ingin mengambil resiko.
" How's your day? " tanya Zein. Dia meletakkan kedua tangannya di belakang kepala sambil menatap Melisa.
__ADS_1
" Biasa aja. Tapi tadi ada tambahan meeting sama salah satu perusahaan televisi. Bulan aku mau ke jogja juga. " ujar Melisa.
" Jogja? Berapa lama dan pergi sama siapa? " Zein kembali bertanya.
" Kepo bangat. " canda Melisa, ketika melihat ekspresi Zein yang sangat ingin tahu.
" Bukannya kepo, Mel..... "
" Cuma pengen tau? " goda Melisa.
Zein membenarkan posisi duduknya dan sedikit memalingkan wajah ke arah jendela. Niatnya tertangkap basah oleh Melisa.
" Iya nih aku kasih tahu, Aku di sana empat hari dan pergi sama Lita sekretarisku. Ada lagi yang mau ditanyakan, Bapak Zein? " sehabis menggoda kekasihnya, gadis itu tergelak.
Zein hanya menatapnya dengan masam. Tapi senang karena melihat Melisa ketawa.
" Jail bangat sih? "ujar Zein sambil mengacak rambut Melisa.
" Ih, kusut nanti. " kata Melisa.
" Biarin. "
Melisa merapikan rambutnya yang hampir kusut akibat ulah Zein.
" Tuh kan! Kusut! " gerutu Melisa.
" Iya deh, maaf. Sini aku sisirin. " kata Zein.
Pria itu membiarkan kepala kekasihnya bersandar di dadanya. Lalu ia mulai menyisir rambut Melisa dengan jemari. Tak benar benar fokus merapikan rambut Melisa, sesungguhnya ia hanya sedang menikmati situasi yang akhir akhir ini jarang terjadi di antara mereka.
Salah satu tangannya ia gunakan untuk mendekap Melisa dan satunya untuk menyisir rambut wanita itu. Dia menghirup dalam dalam aroma sampo Melisa yang sangat ia rindukan. Kali ini aroma strawberry.
" Kangen. " gumam pria itu.
Melisa dengar. Sangat jelas tapi ia tak menggubris.
" Aku gak tau gimana kosongnya hidupku tanpa kamu. Aku masih bisa hidup tapi mungkin gak sehidup saat ini. " kata Zein, lagi.
Lama keduanya terdiam. Hanya suara mesin mobil yang berdengung dan air hujan yang jatuh dengan kasar di atas kaca mobil.
" Aku penasaran apa alasan kamu kenapa gak mau menikah sama Siti selain karena kamu punya pacar. " kata Melisa.
Topik ini lagi ......!!!
__ADS_1