
" Sampaikan maafku sama Om Irwan dan Glenn. " ucap Zein.
" Aku gak tahu kamu salah apa sama mereka, tapi nanti aku sampaikan." ucap Melisa.
Zein mengangguk pelan. Dia merogoh sesuatu di saku celananya dan memberikan benda kecil itu pada Melisa. Secarik kertas yang sudah dilipat lipat menjadi kecil.
" Kalau ada waktu, kamu boleh baca. " kata Zein.
Melisa menatap pria itu putus asa. "Kalau ini soal--- "
" Isinya memang gak begitu penting. Cuma soal perasaan dan harapanku. Mau kamu buang juga gak apa apa. " ujar Zein, memotong kalimat Melisa.
Mau tidak mau Melisa menerima. Dia mengangguk dan menyimpan kertas itu ke dalam sling bag nya. Tak lama kemudian ada salah satu orang yang memanggil nama Zein. Mendengar nama tersebut semakin dekat, Melisa segera pamit sama Zein dan pergi.
Dia memutuskan untuk pulang setelah pamit pada keluarga Siti dan Dwita. Sebuah hal hang sangat sulit ia lakukan, jantungnya bahkan lebih cepat berdetak saat bertemu Ibu Zein.
Dengan berat hati, ia meninggalkan kediaman sahabatnya itu. Dia segera mencari tempat tersepi agar bisa melegakan hatinya yang sejak tadi sesak. Dia menangis sambil berjongkok di salah satu sudut parkiran. Melihat pandangan menyedihkan itu, Andi segera menghampiri Melisa. Membantu gadis itu berdiri dan memeluknya.
" Sekarang aku paham perasaan Glenn. " ujar Melisa disela sela isak tangisnya.
" Kamu sudah gak ada kesempatan untuk mundur. Yang harus kamu lakukan sekarang adalah menata hidupmu kembali, Mel. Aku yakin sesingkat apapun Zein pernah singgah, dia punya andil besar dalam hidupmu. Melihat kamu seberat ini untuk melepas dia, buat aku makin kehilangan nyali untuk memperjuangkan kamu lagi. Tapi kamu gak usah khawatir, karena aku pasti ada untuk kamu seperti Glenn. " Andi mengusap kepala gadis itu, berusaha menenangkan tangisan Melisa yang semakin jadi.
Dia ikhlas jika harus jadi cadangan gadis itu atau pilihan terakhir saat gadis itu tak lagi memili harapan. Dia siap.
******
Sedari tadi Melisa masih mengisyaratkan usiran halus pada pria yang saat ini masih santai menonton tv di rumahnya. Padahal jam sudah menunjuk pukul 11 malam, tapi pemuda itu masih saja asyik tertawa sendiri menonton tayangan talkshow.
" Biarpun rumah gue gak ada jam malam, tapi gue mau tidur, tahu! Kalau lo gak pulang pulang kapan gue tidur? " gerutu Melisa.
" Gue nginap, deh. Malas balik, gue juga sudah ngantuk. " Glenn mematikan TV dan membereskan mangkuk bekas makannya ke dapur.
" Tidur di sofa tapi. " ancam Melisa.
__ADS_1
" Gak masalah. "
Glenn justru merebahkan tubuhnya ke sofa besar lalu ia mulai memejamkan mata.
" Mel, gue kepikiran besar buat pindah ke jogja. " kata Glenn.
" Terus kafe lo gimana? "
" Mau gue jual aja yang disini. Terus mulai yang baru lagi di jogja. "
Melisa menggeser tubuh pria itu dan duduk disamping kepalanya.
" Kenapa, Glenn? Lo sudah banyak berjuang demi kafe itu. " ujar Melisa.
" Gue selalu ingat Siti. Dulu dia hampir setiap hari datang, sekarang bertegur sapa pun gak. Lucu ya, Mel, gimana gue bisa sakit hati sama orang yang bahkan belum pernah gue miliki. " kata Glenn.
Melisa menghela nafas. " Lo jangan gini dong, baikan sama Siti. "
" Tapi gue gak boleh egois, Glenn. " dia menyenderkan kepalanya di sofa.
" Egois sekali sekali gak bikin lo mati muda. Daripada lo mendam galau terus terusan dan gantungin perasaan si Andi, mending lo ikut gue ke jogja. Kita bikin usaha baru dan tinggal di sana. " ajak Glenn.
" Enak loh di jogja. Biaya hidup murah, suasana teduh, orang orangnya ramah, banyak anak muda kreatif, kota pendidikan pula. " tambah Glenn, persuasif.
Melisa merasa tawaran Glenn ada untungnya juga. Dia ingin sekali mulai melupakan Zein tapi terasa sulit karena terus berbenturan dengan kenangan mereka. Andi juga sempat menyarankannya untuk menyendiri di suatu tempat yang jauh dari sini tapi ia menolak karena takut sendiri dan kini Glenn ada bersamanya jika ia pindah ke jogja.
Lantas, apakah jogja menjadi pilihan yang tepat untuk dia? Move on dari Zein dan lagi bagaimana menjelaskan ke Siti jika ia tak dapat hadir di pesta pernikahan gadis itu?
" Pokoknya tinggal lo pikirin. Gue sama Andi sudah setuju, kemarin dia mulai survey harga sewa rumah di lokasi strategis. " kata Glenn.
" Andi ikut? " tanya Melisa, terkejut.
Pria itu mengangguk. " Dia kan jadi partner bisnis gue. Makanya lo juga dong, jadi nanti kita bertiga pas gitu untuk mulai usahanya. Lo di bidang marketing, Andi yang ngurus bisnisnya mulai dari properti dan segala macam dan gue bagian konsep. Ayo dong, Mel. " bujuk Glenn.
__ADS_1
Bagaimanapun Melisa butuh pertimbangan besar atas tawaran Glenn. Jakarta tempat ia lahir, tumbuh, belajar, belum lagi kenangan bersama papa laku Om Irwan yang sudah jauh jauh datang demi menemaninya. Semua hal tersebut tak mampu ia lupakan dengan singkat.
" Tapi, makam papa dan mama ada disini. " kata Melisa, bahunya merosot, seperti dia tak mungkin ikut Glenn.
Pria itu meletakkan telapak tangan di atas kepala gadis yang sudah ia anggap sebagai adiknya.
" Dimana pun lo berada, lo bisa tetap kirim doa untuk orang tua lo. "
Melisa menjatuhkan tubuhnya kedalam pelukan Glenn, sudah lama rasanya tidak bercengkerama dengan pria itu.
" Terus gimana sama Om Irwan? " tanya Melisa.
" Dia pasti mengertilah. Mungkin bakalan sedikit senang karena lebih bebas nyari pacar. " gurau Glenn.
" Nanti biar gue pikirin dulu. Gue juga harus berunding sama On Irwan. " kata Melisa.
Glenn mengangguk. " Asal jangan kelamaan aja. Rencana gue pindah sebelum Siti menikah. "
Sebenci itukah Glenn pada fakta yang ada di depan matanya? Kini Melisa bertanya tanya seberapa besar pria itu memiliki rasa pada Siti dan sejak kapan Glenn memendam hal tersebut? Jika saja ia tahu lebih awal, mungkin ia bisa menyelamatkan rasa sakit hati Glenn dan juga dirinya.
Mungkin saja.
Tapi toh, sudah terlambat. Mereka berdua sedang sama sama menguyah sakit hati masing masing.
" Lagi pula, Mel, Gue yakin lo gak sekuat itu untuk melihat Zein sumpah pernikahan sama orang lain, kan? Jangan sampai dada lo sesak kayak kemarin gara gara maksa untuk kelihatan baik baik saja. " ujar Glenn.
Mendengar nama Zein, Melisa teringat pesan dari mantannya untuk Glenn.
" Oh, iya. Gue baru ingat kalau Zein titip salam buat lo. Katanya dia minta maaf, gue gak tahu Zein ada salah apa sama lo, Glenn. " ucap Melisa, heran.
Seketika kedua sudut bibir Glenn terangkat.
" Ada dong. Kesalahan dia ada dua yaitu sudah bikin lo sakit hati dan .... dia sudah jadi suami Siti. "
__ADS_1