Semua Karena Kamu

Semua Karena Kamu
Episode 44


__ADS_3

" Masihlah. Tapi masa iya gue sama salah satunya. Siti tuh deman badboy, sementara gue kan goodboy. Terus kalau Melisa, Dia mah sudah taken. " kata Glenn.


" Melisa sudah menikah? " dari semua penuturan Glenn, hanya satu yang membuatnya tertarik. Melisa.


" Ooh, belum. Masih pacaran. "


" Oooh. "


" Kenapa? Masih diharapkan? " goda Glenn.


Andi tertawa. " Ya, Gak lah. Yasudah gue balik dulu. Masih mau ngurus surat surat pindahan gue. "


Andi beranjak dari kursi sembari membawa pesanannya tadi. Glenn mengangguk dan membiarkannya pergi.


Jika ia telaah, sepertinya pria itu menghindari topik masalah lalunya mengenai Melisa. Sebesit ide terlintas di benak Glenn. Jiwa protektifnya bangkit setelah percakapannya tadi dengan Andi.


" Apa Melisa gue comblangin lagi aja sama Andi? Daripada dia kesiksa sama hubungan yang gak pasti dengan Zein? " Glenn bermonolog sekaligus mempertimbangkan idenya barusan.


Dia pikir ulang, sepertinya ide nya tersebut tidak begitu buruk.


*****


Bukan tanpa alasan selama ini dia bertindak seperti wanita bodoh yang dengan ikhlas nya menyodorkan sang kekasih dengan wanita lain. Melisa hanya menghindari hubungan melelahkan yang bahkan jika dia dan Zein menang, belum tentu bahagia. Karena sama saja, siapapun yang Zein pilih tetap akan ada yang terluka diantaranya. Jadi lebih baik dia mundur.


Jika ditanya apakah dia mencintai Zein, maka tentu dia sangat mencintai pria itu. Hubungan yang tak pernah ia duga sebelumnya akan menjadi sejauh ini. Pertemuan yang hanya sebatas pekerjaan bisa berubah kemudian hari menjadi percintaan.


Hal hla yang dulu ia anggap tak penting, sekarang justru ia syukuri karena sudah terjadi. Masalah yang menimpanya dahulu pun ikut ia syukuri. Tanpa ada adanya semua itu, maka tak akan pernah ia mengenali sosok pria dengan segala keapa - adaannya yang membuat ia jatuh cinta seperti saat ini.


" Nyokap gue ada ngomong aneh aneh lagi ya, ke lo? " tanya Siti.


Mereka sedang makan siang di sebuah restoran dekat kantor Melisa.

__ADS_1


" Nggak, kok. "


" Terus, terus kemarin itu ngapain lo ke rumah dan gak bilang bilang gue dulu lagi. " kata Siti, sangsi.


" Ya Ampun, Ti. Gue cuma mampir karena kebetulan lewat aja. " dusta Melisa.


" Yakin? Soalnya mama kelihatan girang bangat malamnya. " kata Siti.


" Bagus dong kalau tante Desi senang. Memang lo gak ikutan bahagia kalau nyokap lo sendiri bahagia? " kata Melisa, kemudian dia melahap potongan daging yang sudah selesai dipanggang.


" Bukan begitu, Mel. Nyokap gue itu kalau girangnya sudah overkuadrat, pasti ada sesuatu yang dia inginkan tuh terjadi. And you know what, my mom desire, right? " kata Siti sambil menunjuk Melisa dengan sumpit.


" What? I don't know. Tapi gue rasa kebahagiaan nyokap lo adalah kebahagiaan lo dan om Darwin deh, Secara tante Desi itu tipikal ibu rumah tangga yang baik. Family is first. " kata Melisa sambil menggerakkan sumpitnya.


Siti mendengus. " Maunya nyokap gue itu, gue kawin sama laki lo, Melisa. "


" Nikah. " ralat Melisa.


Melisa mengangguk sambil mengambil daging panggang nya.


" Kalau bukan jodoh, apa boleh buat. " ucap Melisa.


" Gila! " Siti membanting sumpitnya di sebelah mangkuk nasi. Dia kehilangan selera makan.


Dia tak habis pikir bagaimana Melisa mampu sesantai ini tanpa merasa terbebani sama sekali, sementara dirinya kalang kabut mencari solusi supaya tak ada pernikahan antara dirinya dan Zein.


" Zein, tipe lo bangat, Ti. Mungkin nanti kalian bisa buat resepsi di klub. " ujar Melisa, lagi.


Siti tertawa sumbang. " Lo lucu bangat, Mel, kalau lagi ngelantur gini. "


" Siti, kalau kalian menikah gue gak akan benci sama lo. Kita sama sama tahu, dari dulu pria bukan masalah diantara lo dan gue. Gak masalah, kok. Toh, gue bisa cari yang lain. Memang gue dan Zein gak jodoh aja makanya dilimpahkan masalah begini. " ucap Melisa.

__ADS_1


" Stop it, Mel! "


" Lagipula kalau pernikahan kalian ada, masalahnya gak akan serumit ini. Gue tanya sama lo, kalau seandainya gue dan Zein gak pacaran, lo pasti mau kan sama dia? " tanya Melisa.


" Mel, apapun yang terjadi ya udah biarin aja, gak usah pakai pengandaian sega---"


" Iya kan? Jawaban lo pasti iya. Zein itu tipe lo bangat dari jaman sekolah dulu. Kita sudah berapa lama sih jadi sahabat. Fakta sekecil itu gak bisa lo tutupin dari gue, Siti. "


" Lo salah. Banyak hal yang lo gak tahu tentang gue, Mel. Yang kadang lo sendiri gak paham apa masalah gue, sifat gue dan lainnya. Dan ini? Masalah perasaan, lo juga gak akan ngerti. " kata Siti, jengkel.


" Oh ya? Termasuk cerita setahun lalu sama Glenn? Lo pikir gue gak tau, Ti? " kata Melisa.


Siti nyaris menganga. Pasalnya, tak ada yang tahu cerita itu selain dirinya dan Glenn. Dia juga tidak pernah bercerita pada siapapun untuk menghindari hal hal yang tak diinginkan. Selama ini dia hanya bertindak seolah olah masa itu tidak pernah ada.


" Lo tahu soal itu? "


" Iya gue tau. Tapi gue tutup mulut biar kita gak renggang. Gue gengsi sifat lo yang gengsian, keras kepala dan gak mau dibantah. Gue mungkin gak kelihatan se-sejati itu sebagai seorang sahabat. Tapi lo harus tahu, kadang gue milih ngalah daripada harus ngeluarin ego yang berakhir gak baik. " tandas Melisa.


" Tapi bukan berarti dalam segala hal lo harus ngalah, Mel! Lo punya hak untuk memilih yang terbaik buat lo tanpa harus mikirin orang lain. Sekali aja, lo pikirin diri sendiri. Kalau lo gak bahagia, gak usah sok sok an bahagian orang lain. " kata Siti.


Makan siang itu berlangsung sangat panas akibat perdebatan mereka.


" Orang lain gak perlu tahu cacatnya gue, Ti. Kalau gue bisa bahagiain orang lain, kenapa gak? Gue gak pernah minta imbalan dari mereka yang merasa bahagia karena gue. Lo gak tau rasanya melihat ada orang yang bahagia atau senang karena diri kita. Karena selama ini lo selalu sibuk dengan diri lo sendiri. " ujar Melisa. Entah kenapa dan darimana keberanian dia mengucapkan semua itu.


Siti terdiam. Mulutnya terkunci mendapati unek unek Melisa yang mungkin belum keluar sepenuhnya.


" Mungkin lo benar. Gue memang seegois itu. Tapi kalau bukan kita, siapa lagi yang bisa bahagiain kita? Apa lo mengharapkan dapat kebahagiaan dari orang lain? Mustahil. "


" Bahagia gue gak selalu soal puasnya diri sendiri, kok. "


" Bulshit! Entah apa yang buat lo jadi naif begini, Mel. Gue harap, lo gak pernah menyesal dengan keputusan gila lo. " Siti beranjak dan menenteng tasnya di bahu.

__ADS_1


Sesaat dia ingat apa yang ingin dia katakan.


__ADS_2