Semua Karena Kamu

Semua Karena Kamu
Episode 54


__ADS_3

Zein segera pergi meninggalkan firma dan menuju tempat yang Bagas katakan tadi waktu di lift . Bisa bisanya Melisa lupa dengan janji bersamanya, sementara dia bisa makan siang dengan pria lain di kafe. Lagi lagi Zein kepikiran oleh ucapan ambigu Desi. Mengapa masalah ini mudah sekali mendistrak pikirannya.


Zein mengendarai mobilnya seperti biasa. Semakin dekat dengan tujuan, jantungnya semakin berdebar. Entah rasa gugup atau rasa takut yang menggerogotinya sekarang. Dia hanya ingin tahu apa tujuan Melisa saat ini. Belakangan ini, Gadis itu jadi semakin sulit ditebak.


" Siapa kira kira pria yang bersama Melisa sekarang? " gumamnya.


Siapa? Tak ada satupun wajah pria yang terlintas dipikirannya mengingat Melisa hanya memiliki hubungan dekat dengan tiga pria saja yaitu dirinya, Om Irwan dan Glenn.


" Apa ada yang gue gak tahu tentang dia selama ini? "


Suara dari Google map berhasil mengalihkan pikirannya. 20 menit ia sampai di halaman luas parkiran sebuah ruko besar. Mobilnya berhenti di depan sebuah kafe bernama kafe milenials. Zein langsung turun dan mengedarkan pandangannya kedalam kafe tersebut, Beruntung keadaan masih ramai.


Matanya terhenti ketika melihat seorang gadis sedang tertawa bersama pria berkacamata. Suara yang sangat ia kenali, suara yang sangat ia sukai.


Melisa sedang di sana. Sedang duduk santai sambil berbincang dan tertawa dengan pria lain.


Padahal dia belum melangkah lagi namun hatinya sudah mencelus. Sungguh, melihat pemandangan tersebut jauh lebih sakit daripada dia harus ditolak Melisa. Zein mengusap wajahnya, ia lebih dulu menyampingkan masalah perasaan. Yang harus dia lakukan saat ini adalah datang kepada Melisa dan tuntut penjelasan.


Melisa mungkin tak sadar jika pria itu sedang melangkah ke arah dirinya. Ia masih asyik berbincang dan minum milkshake.


" Oh ya? Masih ada? Aku kangen sih, gado gado di sana. "


" Masih. Terakhir aku ke sana masih jualan. Kapan kapan kita kesana, yuk. sekalian bernostalgia. "


" Boleh boleh. Sekalian ajak Glenn sama Siti seru pasti. "


" Siti masih sama Lucas? "


" Udah gak. Putus setahun lalu. "


" Oh, berarti kita berempat aja? "


" Iya. Tapi gak tau kalau Glenn bawa gebetan, Dia kan biasanya gitu. "


Pria itu tertawa. " Gak berubah ya. "


Melisa mengangguk. " Tapi sekarang dia jauh lebih baik sih. Lebih di filter gebetannya. "


" Bagus dong. Semoga dia cepat dapat jodoh."


" Iya. Kamu tahu pu--- "

__ADS_1


" Melisa. "


Kompak. Melisa dan pria di hadapannya menoleh lada seseorang yang melafalkan nama gadis itu.


" Kamu ..... "


Melisa tak mampu menyembunyikan rasa terkejutnya sekarang. Dia tahu Zein memang blak blakan tapi tak menyangka hingga ia datang kemari.


" Siapa? " pria di depannya berbisik.


" Aku mau ngomong sebentar sama kamu, Mel. " Zein berbicara tanpa menoleh sedikit pun pada pria di hadapan Melisa.


" Sebentar, nanti aku balik lagi. "


Melisa bangkit dan mengikuti Zein keluar kafe. Entah dia harus senang atau sedih melihat kedatangan Zein saat ia sedang bersama pria lain.


" Kenapa, Ze? " tanya Melisa, begitu mereka sampai di luar kafe.


" Kenapa? Kamu masih tanya kenapa? " ujar Zein, jengah.


Melisa terdiam.


" Kamu ingat hari ini ada janji sama aku pas makan siang tadi? Pastinya gak, karena selingkuhan kamu jauh lebih menarik saat ini daripada aku. " ucap Zein. Ternyata emosi lebih menguasainya lebih dulu.


" Terus ngapain? Luang bangat waktu kamu buat dia sementara kalau samaku kayaknya sibuk terus. " kata Zein, lugas.


" Kalau kamu disini buat marah marah, mending pulang aja deh. Aku masih ada urusan sama dia. " ujar Melisa.


Zein memijit pelipisnya. " Kamu kenapa sih, Mel? " tanyanya, dengan intonasi lebih rendah.


Melisa terdiam cukup lama.


" Mel? "


" Tinggalin aku, Ze. "


Zein memegang kedua bahu Melisa, memaksa gadis itu menatap dirinya setelah dari tadi ia menghindari matanya.


" Apa lagi? Aku capek, Mel. Aku gak ngerti mau kamu sekarang apa. Aku gak tahu apa tujuan kita masih sama lagi atau gak. Jelasin ke aku, kamu kenapa? " ucap Zein.


" Aku udah bilang tadi.." jawab Melisa.

__ADS_1


Kini Zein yang diam. Ia tak puas dengan jawaban gadis itu dan menuntut lebih.


" Aku .... jenuh sama kamu. Bukan hubungan hang kayak gini yang mau aku jalanin jadi tinggalin aku. Kita kembali kayak dulu. Aku salah udah menanggapi kamu lebih, harusnya hubungan kita hanya sebatas pekerjaan dan cinta .... Aku gak yakin pakai cinta atau gak sama kamu. " tutur Melisa. Dia menepis kedua tangan Zein.


Raut kecewa tertera jelas di mimik wajah Zein.


" Kita butuh waktu berdua supaya pikiran kamu gak kemana. " Zein menggenggam tangan Melisa dan hendak menariknya namun ditahan.


" Mau ngapain? "


" Andi? Kamu ngapain keluar? Sebentar lagi aku selesai, kok. "


" Selesai? Kita butuh waktu lama buat lurusin semua ini. Kamu ikut aku. " Zein hendak pergi namun tetap ditahan oleh Andi.


" Kamu mau ikut dia? " tanya Andi pada Melisa.


" Ze, semua sudah jelas. Gak ada yang harus dilurusin lagi. " Melisa mengalihkan pandangannya ke arah Zein dan melepaskan genggaman pria itu.


" Kenapa? Karena ada dia? " Zein menunjuk Andi.


" Gak ada sangkut pautnya sama alasan aku tadi. " ujar Melisa.


" See? Dia gak mau ikut lo, jadi jangan paksa. " sahut Andi pada Zein.


" Gak usah ikut campur. " Zein mencengkeram kerah kemeja Andi dan tak lama segera di tepis pria berkacamata itu.


" Lo maksa dia aja udah gak benar. " balas Andi.


" Cukup! " Melisa berdiri diantara keduanya.


Dia tak bisa pergi lagi. Setelah ia pikirkan, mungkin ini saat yang tepat.


" Andi, kamu balik duluan aja. Aku pergi dulu sama dia. " ujar Melisa sama Andi.


" Kamu yakin? "


" See? Dia mau mau aja pergi sama gue. " balas Zein.


Pria itu langsung menggenggam kembali tangan Melisa dan berjalan menuju mobilnya. Andi tak habis pikir bagaimana Melisa bisa memiliki hubungan dengan pria itu. Sebelum pergi, Melisa mengisyaratkan pada Andi bahwa dia akan baik baik saja.


" Kita mau kemana? " tanya Melisa saat Zein sudah melajukan kendaraannya.

__ADS_1


" Ke tempat yang bisa bikin kamu berpikir tenang dan jernih. " jawab Zein, asal.


Melisa pasrah. Toh, bila berhasil ini akan menjadi pertemuan terakhir mereka sebagai pasangan kekasih.


__ADS_2