
" Jadi maksud lo, Melisa gak ada niatan buat menikah sama lo? "
" Kurang lebih begitu. Memang ada masalah di luar hubungan gue dan dia yang pada akhirnya mempengaruhi kepercayaan dia ke gue. " ujar Zein.
Mereka memutuskan pergi menggunakan mobil Zein.
" Dia ragu? "
Zein mengangguk.
" Ya, berarti lo harus menyakinkan dia dong. Gue gak yakin sih kalau lo lepasin Melisa, lo bakal bisa temui yang kayak dia lagi atau gak. Melisa itu wanita limited edition buat kita yang bejat. " ucap Bagas.
" Iya memang, gue juga gak yakin. Makanya gue ngebet bangat mau menikah sama dia. " kata Zein. Membayangkan Melisa menerima pinangannya saja sudah membuatnya bahagia.
" Tapi menurut gue, Melisa itu bukan tipikal wanita yang bakal luluh dengan hanya kata i love you. Jadi lo harus benar benar meyakinkan dia, Ze. Apalagi dia anak yatim piatu, pasti selektif bangatlah buat pilih pasangan. " ucap Bagas, Bagi pria itu celotehnya adalah refleks namun tidak bagi yang mendengar.
" Maksud lo, gue harua apa? "
" Hhmm.... Mungkin kasih tau tujuan lo menikah buat apa biar dia gak ragu lagi untuk menerima lo jadi suaminya. Kayak lo tahu, menikah itu sampai sisa hidup lo berakhir dan gak ada orang yang mau milih pasangan yang salah. " ucap Bagas.
" Gila ya, curhat sama jomblo lebih bermanfaat buat gue ketimbang sama yang sudah menikah. " ujar Zein kemudian tertawa.
" Kampret lo! "
" Lo jomblo langka tau, Gas. "
" Sial! Seumur hidup jadi jomblo, amit amit dah. "
Zein terbahak melihat raut wajah Bagas yang kesal. 10 menit lagi mereka sampai di restoran pasta yang Bagas inginkan.
" Smoking area aja, Ze. Gue mau merokok. " kata Bagas begitu masuk kedalam restoran.
__ADS_1
" Ada di atas Mas, tapi tunggu sebentar ya, kami cek dulu untuk mejanya. " kata pelayan itu.
Zein dan Bagas menunggu di dekat meja kasir. Waktu mereka tiba sangat pas dengan waktu makan siang sehingga restoran pun ramai pengunjung.
" Kalau gak dapat tempat, kita ke warteg aja ya. " kata Zein.
" Ck! iya. "
Sembari menunggu, Zein melihat lihat aksesoris yang di jual di restoran tersebut. Dia menemukan sebuah miniatur motor yang sudah di modif sebagai gantungan kunci. Mengetahui bahwa Bagas adalah anak kotor, Zein berinisiatif untuk memberitahu sahabatnya namun ketika ia berbalik, matanya mengunci dua orang lawan jenis tengah makan bersama sambil tertawa.
Beberapa saat Zein diam memerhatikan keduanya. Dia tahu dua orang itu tak melihatnya. Lalu lalang para pengunjung pasti membuatnya tak terlihat. Saking terlihat bahagia keduanya, emosi Zein semakin menggebu tapi tetap terpedam.
Ribuan pertanyaan menghampiri benaknya. Dorongan amarah menuntut dirinya pada penjelasan.
" Ze, katanya ada di atas ayo! " Bagas baru berjalan dua langkah dan dia kembali berhenti saat sadar dirinya tak digubris.
" Lihat apa sih, kenceng amat muka lo! " Bagas pun berdiri di samping Zein dan mencoba melihat apa yang sahabatnya sedang perhatikan.
" Melisa selingkuh? "
Pria yang menimbulkan tanda tanya besar tentang kedekatannya dengan Melisa. Pria yang membuatnya cemburu bukan main saat ini.
" Lo, yakin mau lanjut makan siang disini? Kalau mau cari tempat lain juga gak apa apa kok. " kata Bagas, tak enak hati.
Karena ajakannya untuk makan siang di restoran pasta, Zein harus menyaksikan kekasihnya duduk bersama orang lain tanpa sepengetahuan dirinya. Raut wajah kesal tentu saja terlihat dengan jelas dimatanya namun dia berusaha tak mencampurkan urusan pribadinya ke dalam pertemanan.
" Gak apa apa. Ya sudah lanjut, lo mau pesan apa? "
Seolah tidak terjadi apa apa, Zein pun berusaha mengenyahkan pikiran macam macam terhadap Melisa. Mungkin saja mereka hanya benar benar teman atau mungkin juga Melisa lupa memberi tahu.
Semua bisa terjadi, mengingat hubungan mereka memang yang belum bisa dikatakan baik, sudah pasti banyak kemungkinan kemungkinan buruk yang Zein pikirkan.
__ADS_1
Dia tahu dirinya terlalu lemah untuk menjadi sisi yang kuat dalam hubungannya, tapi bukan berarti dia tidak punya usaha untuk mempertahankan. Ada posisi serba salah membuatnya bingung bergerak ke arah mana.
Setelah memesan, 20 menit kemudian pesanan mereka datang. Sembari makan, Bagas sesekali berceloteh mengenai persidangannya tadi pagi, Zein juga tak ingin larut maka ia pun turut bercerita tentang
kliennya yang meributkan harta gono gini.
" Asli, tadi itu tegangnya berasa bangat. Gila aja, si istri anak menteri, si suami anak pengusaha terkenal. Keduanya sama sama mempertahankan image mereka biar gak buruk setelah bercerai dengan saling menyalahkan. Gila bangat! " ujar Bagas.
" Jadi yang diributkan cuma masalah image" " tanya Zein.
Bagas mengangguk. " Mereka punya anak satu. Lucu bangat, baru umur tiga tahun dan selama persidangan gak ada satupun dari orang tuanya yang bahas masalah hak asuh. Mereka seolah gak peduli baik hak asuh anak jatuh kepada siapa. Mungkin mereka juga berharap setelah cerai maka anak yang mereka dilahirkan juga ikut tiada. "
" Sakit jiwa orang tua kayak gitu. " Zein benar benar tak habis pikir dengan orang orang seperti itu.
Ia kadang bertanya tanya, atas dasar apa keduanya menikah jika harus berakhir seperti ini? Apakah mereka tidak mengingat jika pernah saling cinta?
" Terus, hak asuh anaknya jatuh ke siapa? "
" Terpaksa jatuh ke nyokapnya karena umur dia dibawah 17 tahun. Tapi tadi gue dengar, anaknya bakal tinggal sama neneknya. Miris bangat. " ucap Bagas lalu kembali melanjutkan makan.
Zein melilitkan pasta di garpu namun tak kunjung dia makan. Pikirannya malah terpusat pada pernikahan. Selama ini ia menangani masalah perceraian, kasus paling banyak ialah faktor ekonomi dan kekerasan. Zein awalnya merasa dia tak termasuk kedalam jajaran pria brengsek yang suka memukul wanita dan menelantarkan keluar serta tak menafkahi mereka.
Tapi semakin kesini, semakin banyak kasus perceraian dengan alasan yang aneh namun walau begitu dia jadi tahu bagaimana menyelesaikan apabila masalah tersebut menghampiri pernikahannya kelak.
Zein dulu memang tak pernah takut. Namun sekarang terbesit di benaknya, apakah nanti jika dia sudah menikah akan mendapat masalah yang gak terduga? Yang gak bisa ia atasi?
" Bobby, WhatsApp nih. katanya ada bu Diana di kantor. " kata Bagas.
" Oh, yasudah, kita langsung balik aja habis ini. Gak enak kalau Bu Diana menunggu kelamaan. " ujar Zein.
" Lo udah selesai? "
__ADS_1
Zein mengangguk. Dia mengambil sehelai tissue untuk mengelap mulutnya. Setelah minta bill pada pelayan dan selesai membayar, keduanya turun dari lantai atas. Reflek Zein menoleh ke arah dimana ia menemukan Melisa dan ternyata gadis itu masih ada bersama dengan pria tadi. Namun ada yang berbeda saat ini gadis itu membalas tatapan Zein.
Untuk sesaat mereka terdiam. Senyum Melisa pun memudar kala ia bertemu dengan mata kekasihnya. Kemudian Melisa beranjak dan dengan canggung menghampiri Zein.