
Ponsel Melisa bergetar kemudian terlepas dari tangannya dan jatuh ke dalam kolong kursi mobil. Siti mengambilkan ponsel tersebut dan melihat siapa yang menghubungi Melisa. Dan itu Zein, Beberapa pesan masuk juga ada dari Zein.
" Mel, are You oke ?? Saya tunggu balasan Kamu semalam, tapi Saya gak bisa berhenti khawatir. That's oke kalau kemarin Kamu gak datang, tapi at least balas pesan Saya. "
Siti tersenyum membaca kata demi kata pesan yang di kirim Zein. Dia sangat bersyukur Melisa memiliki Orang lain yang peduli dengannya selain dirinya dan Keluarnya Melisa. Kalau sudah seperti ini, Dia akan mendukung hubungan Melisa dan Zein sampai akhir. Siti membalas pesan Zein dari ponsel Melisa.
" Ze, ini Gue Siti. Om Andre meninggal kemarin dan sekarang mau dimakamkan di TPU yang sama dengan Alm. Mama Melisa. "
Beberapa menit kemudian Zein membalasnya langsung.
" I'am sorry to hear that. Saya turut berduka cita. Gimana dengan Melisa ??? Apa boleh Saya datang ??? "
" Melisa terpukul bangat. Lo datang aja. "
" Oke. Saya kesana. "
Kemudian datanglah panggilan dari Glenn yang memberi tahu bahwa pemakaman telah selesai. Siti lalu membangunkan Melisa untuk menuntun Wanita itu untuk menaburkan bunga di atas pusara Ayahnya.
Melisa bersimpuh di samping nisan Ayahnya. Mengusap pelan. Kemudian mengambil mawar di plastik dan menaburi sedikit demi sedikit.
" Ayah .... " sesekali Dia bergumam.
Bagaimana bisa beberapa hari lalu begitu indah dan sekarang begitu menyedihkan baginya. Waktu berputar begitu cepat dan tak terduga. Rentetan kejadian tak pernah Dia kira kira akan terjadi. Hati dan mentalnya belum siap menerima ini semua.
Siti juga ikut menaburkan bunga. Suasana pemakaman ramai dan sanak keluarga dan Teman Teman serta rekan kerja Ayahnya.
" I love You, Ayah .... Forever. " ujarnya, lirih.
Semakin sore semakin berkurang para Pelayat, sekarang hanya tersisa Orang Orang terdekat Melisa.
" Mel, balik yuk. Kamu belum istirahat dari semalam. " Irwan membujuk keponakannya itu.
" Om duluan aja. "
Siti mengangguk. " Iya, Om. duluan aja. Lagipula masih banyak keperluan yang harus di urus sama Om, kan. Biar Aku sama Glenn yang temani Melisa. "
Glenn mengangguk juga. " Nanti Saya yang antar Mereka. Om gak usah khawatir. "
" Iya, sudah. Om titip Melisa ya. "
Irwan mencium kening Melisa dan meninggalkan tiga sekawan itu.
" Kasusnya sudah mau selesai. Tapi Ayah keburu pergi. Dia belum sempat lihat gimana busuknya si Rita itu. " kata Melisa tiba tiba sambil terisak.
__ADS_1
" Dia ikhlas cerai sama Rita demi Gue. Tapi Dia gak tau kalau Wanita itu pantas untuk di ceraiin. "
Siti mengusap punggung Melisa, berusaha menenangkan Sahabatnya itu. Namun karena Andre sudah seperti keluarganya sendiri Siti justru ikut terisak.
" Jangan nangis, Ti. Nanti Melisa makin sedih. " kata Glenn.
" Gak bisa Glenn, air matanya jatuh sendiri. "
Glenn tak bisa membantah, Dia tak bisa berbuat banyak. Kata kata pun tak mampu menahan sedih kedua Sahabatnya. Pria itu memeluk Siti dan Melisa dalam diam dan membiarkan kedua Sahabatnya menangis.
Dari kejauhan ada Seorang Pria yang memandang Mereka penuh haru. Glenn tak sengaja melihat Pria bersetelan hitam itu dan memberi tahu Siti.
" Gebetan Melisa. " bisik Siti kepada Glenn.
Glenn hanya mengangguk kemudian berdiri dan menghampiri Pria itu.
" Melisa terpukul bangat. Lo gak usah banyak ngomong nanti, gak akan mempan. " Glenn memperingati, lalu Dia menatap Siti dan mengisyaratkan untuk pergi bersamanya.
" Iya. "
Begitu Siti dan Glenn pamit dan sudah agak menjauh dari pusara Andre, Zein baru menghampiri Melisa yang masih termenung. Dia bersimpuh di sebelah Wanita itu, lalu menggenggam jemari Melisa yang terasa dingin.
Tatapan matanya kosong. Tidak lagi Dia temukan semangat hidup dibalik cahaya matanya.
" Pasti. "
Zein menarik perlahan ke dalam pelukannya. Mengusap pelan punggung Gadis itu, membiarkan kemejanya basah karena air mata Melisa.
" Nangis sepuas Kamu, Mel. Gak ada yang larang. Kamu berhak dan wajar. "
Ucapan Zein membuat isak tangis Melisa semakin jadi. Semua air mata yang sempat Dia tahan kini sudah tak terbendung lagi. Semua merembes hingga kepalanya sakit dan dadanya sesak.
Melisa pingsan.
Zein curiga saat isakan tangis Wanita itu tidak terdengar lagi. Saat Dia lihat, Melisa ternyata pingsan. Entah beban pikiran penyebabnya atau kelelahan menangis.
" Dia belum makan dari pagi. Semalam juga makan cuma dikit doang. " kata Siti ketika Zein sudah sampai di rumah Melisa.
Awalnya Dia bingung mau mengantar Melisa kemana karena Dia tidak tau rumahnya. Lalu Dia memutar otak dan berpikir sehingga Dia mengambil nomor Siti dari ponsel Melisa.
*****
" Dia bisa sakit kalau terus menerus begini. Tapi gak ada yang bisa buat Dia berhenti. Waktu Mamanya meninggal, Dia sangat kehilangan karena usianya baru masuk remaja. Sekarang, Dia kehilangan Ayahnya yang dimana Dia cuma ingin bahagiain Orang Tuanya satu satunya itu. Gak ada yang bisa tau seberapa sedihnya Dia. " ujar Glenn.
__ADS_1
" Tumben omongan Lo benar. " balas Siti terkekeh.
Sedikit demi sedikit, Zein pun paham lika liku hidup Melisa. Dulu Dia mengomentari kehidupan Melisa yang begitu datar, ternyata semua disebabkan oleh rentetan kejadian dalam hidupnya.
Hidup tanpa Seorang Ibu adalah hal yang paling berat. Zein sangat mengapresiasi siapapun yang bisa hidup tanpa Seorang Ibu. Dia saja yang usianya mau kepala tiga tetap bergantung sama Ibunya.
" Enggg .... " erangan itu memecahkan keheningan.
Zein segera beranjak dari kursi meja rias milik Melisa dan duduk di tepi ranjang sambil menggenggam tangan Wanita itu.
" Minum dulu, Mel. " Zein membantu Melisa duduk dan memberinya segelas teh hangat.
" Makan ya, Mel. " ujar Siti.
Melisa menggeleng.
" Makan, Mel. Nanti Lo sakit. " timpal Glenn, Melisa tetap menggeleng.
Merasa usaha kedua Sahabat Melisa sama sekali tidak mempan membuat Wanita itu luluh, Zein turun tangan.
" Kamu bebas mau nangis lagi atau sedih sampai waktu yang Kamu tentukan sendiri. Tapi jangan menyiksa diri sendiri. Sekarang Kamu makan dulu. " suara Zein tidak terdengar sebagai permintaan seperti Siti dan Glenn melainkan seperti sebuah perintah.
" Aku gak lapar --- "
Kemudian terdengar suara bunyi sesuatu dari perut Melisa.
" Saya suapin atau makan sendiri ?? " tanya Zein tanpa mempedulikan jawaban Melisa tadi.
Melisa akhirnya mengambil piring berisikan nasi dan potongan ayam. Dia tentu saja akan makan sendiri. Sudah cukup memalukan perutnya berbunyi tadi, tak mungkin Dia meminta Zein menyuapinya.
" Mbak, ada tukang terpal datang. " kata Wahyu setelah mengetuk pintu.
Siti dan Glenn keluar untuk mengecek persiapan untuk acara 3 hari setelah kepergian Ayahnya yang sudah menjadi tradisi Mereka.
Sekarang di kamar hanya ada Zein dan Melisa. Mereka saling diam. Melisa makan dalam diam dan Zein hanya memperhatikan Wanita itu tanpa suara.
" Dulu waktu Ayah Saya meninggal kira kira usia Saya sepantaran Kamu. Saya baru lulus kuliah. " Zein melirik Melisa sebentar sebelum melanjutkan ceritanya dan Dia lega Wanita itu menunjukkan wajah tertariknya.
" Sama seperti Kamu, Saya juga sangat amat terpukul. Saya jadi jarang pulang ke rumah karena setiap ke sana Saya selalu ingat Papa. Tapi Saya sadar, Saya gak bisa terus menerus begitu. Saya mikirin Mama, Saya sebab Beliau hanya punya Saya. Hubungan Kami semakin erat setelah itu, padahal awalnya Saya dan Mama biasa saja. Saya lebih dekat sama Papa. " sambungnya.
" Selain itu, Saya juga punya Sahabat yang selalu support Saya. Dan cara Mereka beda, Mel. Disaat Orang lain berusaha mengasihani Saya, Mereka justru mati matian untuk Saya bangkit. Rekan kerja sekaligus Sahabat Saya. Cara membuat Mereka yang baru saja berduka menjadi lebih baik adalah memberinya harapan. Bantu Dia meneruskan hidupnya yang tertunda sebentar. Bawa Dia terbang setinggi mungkin. Dan jangan pernah biarkan Dia larut dalam kesedihan. Yang ditinggalkan harusnya jauh lebih baik daripada yang sudah meninggalkan. "
" Tapi kan wajar mengenang Mereka yang sudah tiada !!! "
__ADS_1