Semua Karena Kamu

Semua Karena Kamu
Episode 64


__ADS_3

" Kamu bisa diam gak? "


" Gue gak bisa salahkan Melisa juga, sih. Dia berhak dapat yang lebih baik daripada lo. Seenggaknya kehadiran Andi sudah buat gue tenang. " kata Siti sembari melirik Zein.


Cengkeraman Zein i batang setir semakin menguat. Tangannya bahkan mulai mengeluarkan keringat.


" Semoga aja dia bisa cepat move on dari lo. "


" Diam sebentar, Aku paling gak suka diganggu saat menyetir. "


" Bilang aja lo cemburu waktu gue sebut Andi, kan? " ledek Siti sambil tertawa.


Zein terganggu dengan cibiran dan tawa Siti serta ponsel yang tak henti hentinya berdering. Siti masih saja membandingkan dirinya Andi. Telinganya sesak dan ia geram.


" Habis ini Melisa pasti sadar kalau ZE!!! "


Suara decitan akibat ban yang dipaksa berhenti akibat diadu dengan bunyi pecahan kaca. Masing masing diantara mereka masih rak bisa mencerna apa yang sedang terjadi. Mereka hanya dapat mendengar suara klakson dari berbagai arah serta suara orang orang berteriak panik. Zein merasakan kebas pada tangan kirinya, dia menyempatkan menoleh ke arah gadis yang sedang berlumuran darah di sampingnya.


Melisa nyaris tak bisa berkata apa apa setelah Zein selesai bercerita. Biarpun dia dia berbicara seolah kejadian itu sudah berlalu, Melisa melihat sisa sisa keraguannya dalam melontarkan kejadian rinci pada peristiwa itu.


" Gak usah dilanjut. " kata Melisa.


Zein menggeleng.


" Kamu harus tahu semua. Akibat dari kecelakaan itu, tanganku patah dan mengalami luka luar karena kena gores pecahan kaca. Siti jauh lebih parah, sensor motorik tubuhnya sempat mati karena benturan di kepala. Dia lumpuh total saat itu. Tante Desi melimpahkan semua salah itu ke aku dan dia minta aku untuk bertanggung jawab sampai Siti sembuh. Mama marah sama tante Desi karena dalam keadaan seperti itu dia masih bisa menyudutkan aku. Tapi aku tetap tanggung jawab, aku janji akan rawat Siti sampai dia bisa normal kembali asal pernikahan itu tetap dibatalkan. " terang Zein.


Gadis itu menyingkirkan rambutnya yang jatuh ke dahi.


" Kondisi kamu gimana? " tanyanya.


" Cuma tanganku aja kok sama agak trauma untuk nyetir lagi. " kata Zein.


" Terus? "

__ADS_1


" Selama satu setengah tahun aku temani Siti terapi. Jalani pengobatan ini dan itu lalu setelah keadaan dia lebih baik, aku mulai cari tahu tentang kamu. Awalnya sendiri terus Siti tahu dan minta ikut untuk sama sama mencari. Aku merasa bersalah sama dia tapi aku juga gak pernah bisa mengontrol emosiku setiap sama dia entah kenapa. " ujar Zein.


Dia mengusap wajahnya, gusar. Lalu menggenggam kedua tangan gadis itu.


" Jangan pernah pergi lagi ya, Mel. Aku mohon. " pintanya.


Melihat Zein sekarang menyadarkan gadis bahwa memang sejauh apapun gadis itu berlari dan menghindari, hatinya benar benar gak pernah lepas darinya. Melisa tidak tahu sudah sejauh mana Zein menarik dirinya.


" Mel, aku kangen kamu. "


Perlahan Melisa mengangkat kepalanya hingga mereka kembali bertatapan.


" Aku juga. " jawabnya pelan.


Zein melepaskan genggaman itu. Dia menarik tangan Melisa hingga bertubrukan dengan tubuhnya lalu menahan rahang Melisa hingga gadis itu hanya bisa melihatnya.


" I love you. " bisiknya.


Melisa merasa ada yang berbeda. Ciuman ini bukan hanya sekedar nafsu belaka seperti yang dulu suka mereka lakukan. Ada rasa haru di dada gadis itu ketika merasakan sentuhan bibir kering pria itu. Apa namanya itu, rindu? Mungkin iya. Terlalu sering Melisa berbohong pada diri sendiri dan kini gadis itu mau jujur.


Dia mencintai Zein lebih dari apapun.


" I love you, Mel. "


Zein melepaskan bibirnya lalu memeluk Melisa dengan erat. Gadis itu membalas dengan hal yang sama, ditambah air mata yang tak bisa dia tahan. Gadis itu membiarkan hidungnya menempel di tengkuk Zein, mencium aroma pria itu dalam dalam.


Melisa merindukan apapun dari pria itu. Wajah, suara, aroma, kulit, tawa, gurauan, semua tentangnya.


*****


Glenn lupa kapan terakhir kali dia menginjakkan kaki di lantai marmer rumah mewah kawasan elite di daerah ibukota ini. Namun ingatannya tentang kenangan kenangan yang telah terukir di sana tidak akan pernah bisa ia lupakan, sejauh apapun ia melangkah seperti tetap ada bagian dari dirinya yang masih tertinggal di sana.


Dia baru sadar sejak kedua sahabatnya mulai menemukan tambatan hati masing masing dan seperti orang linglung ia kerap bertanya pada diri sendiri, sebenarnya siapakah yang ia cari?

__ADS_1


Glenn sudah menghabiskan waktu selama lima tahun di jogja. Memulai hidup dan karir yang baru namun dengan tidak dengan sisi romansanya. Tidak sulit untuk mendatangkan seorang gadis yang mau padanya bahkan yang versi sempurna menurut dia pun pasti ada namun aneh karena dia sendiri justru tidak pernah tertarik dan saat ia menganalisa apa yang dia inginkan, Ia paham.


Dia hanyalah versi pria dari Melisa. Sesungguhnya sebesar apapun berusaha melupakan, dia tetap tak bisa lupa dan melepaskan sebab pada akhirnya hanya ada satu wanita yang bisa mendobrak hatinya.


" Glenn? "


Wanita yang telah menghancurkan hatinya sekaligus mengeraskan perasaannya untuk orang lain.


" Kenapa lo kesini? Bukannya lo harus datang ke acara Melisa? "


Wanita yang berdiri di hadapannya dengan sejuta perasaan terkejut dan ..... mungkin rindu.


" Sebenarnya bukan pertanyaan itu yang gue harapkan setelah .... almost five years kita gak ketemu. " kata Glenn, mendengar ragu.


Siti mengangguk saat menyadari hal itu. " Iya, lo benar. Lima tahun kita ketemu. "


Hening.


Ternyata praktik lebih memang sulit daripada teori yang sudah ia rancang selama perjalanan tadi. Glenn menahan untuk tidak meledakkan perasaannya sekarang, terlalu dini.


" Lo apa kabar? " Dan akhirnya sebuah pertanyaan klasik itu keluar dari mulut Glenn.


Siti masih diam. Dia tidak tahu harus berkata jujur atau tidak. Dia juga tak tahu apakah Zein sudah mengungkapkan apa yang terjadi selama dua tahun pertama mereka tak bertemu. Bukan hanya Melisa yang ia hindari tapi juga Glenn. Perasaan malu dan hina selalu menghantui sejak perpisahan mereka.


" Kaki lo sudah sembuh? " Glenn melirik kedua Kaki Siti yang tampak baik baik saja di balik celana piyamanya.


Siti tertegun. Berarti pria itu sudah tahu.


" Sudah sembuh kok. "


Menyedihkan rasanya saat mereka menyadari bahwa pertemuan ini diliputi kecanggungan padahal dulu mereka bisa saling berbicara apa saja, tidak peduli itu adalah hal yang penting atau bukan. Sekarang bertanya saja harus dipikirkan dahulu.


" Gue dengar dari Melisa, lo kecelakaan sama Zein. Syukur kalau sekarang lo sudah baik baik aja. " ujar Glenn, begitu tulus.

__ADS_1


__ADS_2