
Zein yakin ada yang tidak beres dengan kekasihnya. Tak seperti biasa Melisa berbicara begitu ketus dan seolah tidak peduli pada hubungan yang tengah mereka jalin. Entah kenapa yang membuat kekasihnya itu bersikap seperti tadi.
Seusai dari rumah Desi, ia memang kembali ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaan dan saat dia ingin membuka berkas baru, fokusnya terpecah. Dia memilih untuk beristirahat dan meninggalkan kantor. Tepat pada saat perjalanan pulang Zein terpikir pada Melisa lagi. Ia khawatir, maka dari itu Zein mengganti tujuannya ke rumah Melisa.
Dia harus menemui wanita itu. Meminta penjelasan tentang maksud ucapannya tadi sore yang terasa begitu melantur dan menyinggung perasaannya.
" Gak mau ngobrol di dalam aja? " tanya Melisa saat melihat Zein tengah duduk di teras.
" Gak usah. Disini aja. " kata Zein, Dia menepuk ubin disebelah tempat ia duduk. " Sini. "
Melisa menurut. Ia duduk disamping kekasihnya.
" Ada apa? " tanya Zein, lembut. Ia merapikan rambut Melisa yang tergerai.
Melisa membeku di tempat. Perlakuan Zein nyaris membuat pertahanannya runtuh. Sikap Zein selalu membuatnya nyaman.
" Apa? " tanya Melisa balik.
Zein menghentikan gerakan tangannya. Ia menatap Melisa lekat selama beberapa saat, lalu tangan yang ia gunakan untuk mengusao rambut Melisa tadi berpindah ke pipi wanita itu.
" Aku sayang sama kamu. Aku lupa kapan terakhir kali aku segila ini terhadap wanita dan aku rasa, kamu satu satunya yang buat aku gak bisa berhenti menggila, Mel. Sejak awal kamu kasih aku ruang untuk masuk lebih jauh ke hidup kamu, saat itulah aku merasa gak ingin keluar lagi. Aku merasa nyaman ada di hidup kamu. " tutur Zein. Suaranya lembut nan menenangkan.
Melisa ingin terlena. Ingin mendengar kalimat seperti itu lagi dari mulut Zein, Namun ia tak bisa. Ia harus secepatnya mengakhirinya sebelum benar benar terlena dan tidak bisa lepas.
" Kamu ngomong apa sih? Jangan gombal terus, ah. " kata Melisa. Ia memalingkan wajahnya ke atap langit yang menggelap.
" Aku nyaman, tapi apa kamu juga nyaman berada di hidupku? "
Pertanyaan Zein telak di hati Melisa. Pria itu baru saja memberinya pertanyaan retoris. Bahkan tanpa ia jawab, Seharusnya Zein tau apa jawabannya.
__ADS_1
" Kamu kenapa tiba tiba bahas hal kayak gini? Jelas aku nyaman. Kalau gak, kenapa kita bisa berhubungan sejauh ini? Tidak mungkin kamu tahu, kalau perasaan juga bisa surut pada waktunya dan kita harus punya cara menyiasatinya dengan tepat. Apa kamu tahu gimana cara mempertahankan perasaan yang sama dari awal hingga akhir? Perasaan berubah bahkan hilang tanpa kita sadari. "
Semakin jadi. Zein tak salah, pasti ada hal yang mempengaruhi Melisa.
" Aku gak akan bahas ini kalau kamu gak mulai, Melisa. Terakhir kita ketemu, kita baik baik aja dan beberapa jam yang lalu kamu mendadak seperti gak minat dengan hubungan kita ini. Dan dari apa yang kamu omongin tadi aku bisa narik kesimpulan. Kamu bosan? "
Namun sayangnya, Zein tak bisa menahan emosinya untuk tidak tersinggung. Untuk tidak marah dan kesal.
" Bukan bosan. Tapi kalau kamu memang serius sama aku, Harusnya kamu sudah siapkan cara gimana kita nantinya gak saling bosan atau jenuh atau tiba tiba gak punya rasa. " Melisa memberanikan diri untuk menatap Zein. Lalu ia melanjutkan ucapannya.
" Kita pasti akan mencapai titik dimana kita saling bosan. Pasti, Ze! Aku cuma gak mau menjalani hubungan yang dipaksa bertahan hanya karena nyaman aja tapi bukan cinta. Atau sayang mengakhiri karena hubungan kita sudah terlanjur lama di jalin. "
Melisa meremas pinggiran ubin tempatnya duduk. Menahan gejolak demi gejolak yang bergemuruh di dadanya.
" Kamu takut kita saling bosan? Jangan khawatir, Kita bisa atasi asal mau berjuang. Jangan jadi pengecut yang menyerahkan diri bahkan sebelum perang dimulai. Tapi beda cerita kalau memang sudah gak ada perasaan atau hasrat bersama lagi. " intonasi suara Zein meninggi berubah menurun. Lirih dan terdengar pasrah.
Zein membuang pandangannya ke langit. Ke arah apapun yang berlawanan dengan wanita disampingnya. Padahal baru saja hujan, tapi hawa disekitarnya teras panas dan pengap.
" Jangan jadi naif, Melisa, " tandas Zein.
" Mungkin kita harus mengoreksi kenapa kita saling jatuh cinta. Karena kalau memang kita ditakdirkan bersama, Tuhan gak akan bawa kita ke keadaan seperti in--- "
" Walaupun restu mamaku sudah kamu pegang? " potong Zein.
Keduanya terdiam. Nyaris sesunyi malam yang menemani mereka.
" Oke. Mungkin kita memang harus koreksi apa alasan kita bisa saling jatuh cinta. "
Zein beranjak dan meninggalkan Melisa yang masih termangu di teras, Ia berjalan dengan langkah tegap tanpa menoleh.
__ADS_1
Hatinya perih mendengar kata kata Melisa. Tak ia sangka ucapan itu bisa keluar dari mulut wanita yang sangat ia cintai, ia dambakan yang pada akhirnya membuat dirinya begitu lirih.
Sementara Melisa hanya menatap punggung Zein yang semakin jauh bersamaan dengan angin malam yang membawanya menghilang.
" Zein baru balik ya? "
Melisa tidak menjawab pertanyaan yang berasal dari tempat Zein menghilang tadi.
" Hoi! Mel?! Sudah malam jangan suka melamun! " Glenn menjentikkan jarinya di depan wajah Melisa.
Gadis itu masih berdiam tetapi bulir air mata turun di kedua matanya. Glenn yang panik, buru buru meletakkan bawaannya ke teras. Pria itu duduk dan mengusap punggung Melisa.
Tak usah ia tanya, Gadis itu pasti habis bertengkar.
" Gue memang naif. " lirih Melisa.
Tak membutuhkan waktu lama untuk Glenn membiarkan dadanya dipenuhi suara tangisan Melisa.
Zein yakin egonya sedikit terguncang akibat perdebatan dengan Melisa barusan. Amarah seolah mengumpul di balik kepalanya yang sekarang terasa penat. Tak habis pikir ia akan beradu mulut dengan Melisa karena persoalan yang tak pernah terpikirkan olehnya.
Benar. Mungkin rasa bosan akan muncul suatu saat dan hubungan yang mereka jalani hanya akan menjadi sebatas tanggung jawab karena waktu dan ikatan. Namun bukankah seharusnya sepasang sejoli sama sama tahu bagaimana cara membuat dirinya selalu jatuh cinta pada pasangannya
Zein membelokkan mobilnya ke sebuah lahan parkir klub. Sudah lama dia tidak kesana dan saat ia membutuhkan asupan lebih dari sebotol wine.
" Kenapa keadaan gak pernah berpihak sama gue? " gumamnya di tengah riuh musik khas klub malam.
Untuk saat ini cukup wine yang mengisi rongga rongga penat di benaknya. Zein biarkan malam ini ia larut dalam minuman keras tersebut.
" Siapa sih? "
__ADS_1
Zein meraih ponsel di saku kemejanya. Terlihat nama seseorang yang selalu saja membuatnya jengkel dimana pun dan kapan pun.
" APAA? " sambar Zein dengan sangat ketus.