
" Yes, i'm sure. Why not? "
Melisa menggeleng. " Aku juga yakin. Karena saat ini aku bahagia sama kamu. Kamu itu berhasil mutar balik duniaku yang sangat amat datar ini. " kata Melisa sambil tertawa.
Zein juga ikut tertawa. " Memang sekarang gimana? " tanyanya ingin tahu.
" Duniaku jadi bergelombang gak karuan kalau lagi sama kamu. " jawab Melisa dan Zein tertawa.
Tidak lama kemudian, makanan mereka datang. Zein dan Melisa menyantap makannya dalam diam dan sesekali bergurau. Mereka bertukar cerita tentang kegiatan masing masing dan pencapaian mereka ke depannya seperti apa.
" Sabtu depan ke kokas, yuk. " ajak Melisa disela pembicaraan mereka.
" Ngapain? " tanya Zein.
" Ada beda buku sama Fiersa Besari, Temani aku. " pinta Melisa.
Jelas Zein tak bisa berkata tidak. Dia pun mengangguk kemudian Melisa langsung merasa senang dan bahagia.
Sangat menyenangkan berbicara tentang masa depan sebab tidak ada yang tahu seperti apa masa itu. Seseorang hanya senang membicarakannya, Namun terkadang tidak mampu menghadapinya.
****
Desi memasukkan dompet dan ponselnya ke dalam tas kemudian mengecek apa yang masih tertinggal. Setelah memastikan semua lengkap, wanita itu keluar dari kamar. Namun sebelum turun ke lantai paling bawah, Dia sempat mengetuk pintu kamar putrinya.
" Ti? " panggil Desi.
" Apa, Ma? " Siti menjawab dari dalam kamarnya.
" Mau ikut mama arisan, gak? "
" Gak. Mau ke kafe Glenn nanti. Emang mama mau arisan dimana? " tanya Siti.
" Kokas. Ya sudah jangan pulang malam malam. "
Setelah Siti menjawab iya, Desi langsung turun tangga dan langsung menuju garasi dan mengemudikan kendaraanya sendiri.
Hari ini adalah jadwal arisan bersama sosialitanya. Sudah tradisi bagi Desi dan kawan kawan melakukan arisan di luar rumah. Karena selama satu hari mereka akan terlepas dari peran sebagai ibu dan istri.
Sesampainya di mall yang dituju, Desi langsung menelpon salah satu sahabatnya untuk bertanya dimana mereka akan berkumpul.
" Oh, di sana. Oke, aku lagi jalan ke sana. Yang lain sudah datang? " kata Desi.
__ADS_1
" Baru berempat sama kamu. Kami tunggu, ya. "
" Oke. Bye. "
Desi menutup teleponnya dan di saat dia ingin menyimpan ponselnya ke dalam tas, matanya melihat sepasang sejoli sedang bergandengan tangan sambil berbincang hangat. Dia kenal wajah yang sekarang sedang tertawa sambil berpegangan tangan itu.
Desi tak bisa menutupi rasa keterkejutannya. Dia ingin melabrak keduanya namun logikanya berkata bahwa harga dirinya jauh lebih penting.
Desi melihat si pria itu melepaskan gandengan tangannya kemudian merangkul bahu wanita di sampingnya. Dia geram bukan main.
" Zein dan Melisa! Berani sekali kalian! " gumamnya sambil terus memperhatikan sejoli itu.
Ketika Zein dan Melisa sudah menghilang di balik kerumunan banyak orang, Desi segera pergi menemui para sahabatnya.
Dia segera melanjutkan acara warisan dengan rasa gundah. Senyum dan tawanya palsu. Desi tidak sabar ingin mengadu pada Dwita dan Siti. Dia ingin Dwita menghukum. putranya yang sudah berselingkuh dan dia ingin Siti memarahi Melisa karena telah berani beraninya pergi bersama calon tunangan Siti.
" Desi, kenapa diam aja? " tanya salah satu sahabatnya.
Desi senyum dan menggeleng. " Gak apa apa kok. Yuk, dilanjutkan obrolannya. "
Seperti kegiatan ibu ibu sosialita pada umumnya yang topik pembicaraannya tak jauh dari seputar hidup mereka dan hidup orang lain. Desi berusaha untuk mengikuti obrolan bersama teman temannya demi membunuh waktu.
Desi tersenyum tipis. " Iya benar. Sebentar lagi mau tunangan. "
" Wah, selamat ya. Gak kerasa Siti sudah sebesar ini, tau tau sudah mau menikah saja. " kata Citra.
Kemudian Desi langsung mendapat ucapan selamat dari semua temannya. Dia senang sekaligus ketakutan. Takut apabila Siti tidak jadi menikah dan dia akan malu pada temannya.
Dia tidak ingin menanggung malu.
******
Sesampainya di rumah, Desi langsung menelpon Siti untuk cepat pulang. Awalnya Siti menolak karena masih terlalu sore , Namun ketika Desi berkata ada hal penting yang ingin dibicarakan, Siti dengan hati terpaksa harus pulang.
" Ada apaan sih, Ma? " tanya Siti malas.
Desi langsung mengajaknya bicara empat mata ketika ia sudah sampai di rumah.
" Ini gawat, Kamu harus tau kelakuan sahabat kamu itu. " kata Desi.
Dahi Siti berkerut. " Siapa? Melisa atau Glenn?"
__ADS_1
" Melisa. Kamu tau apa yang dilakukan sahabat kamu itu dibelakang kamu? "
Siti menggeleng lagi. " Gak tau lah, Ma. Orang Melisa ngelakuinnya di belakang Aku? mana Aku tau! " jawabnya asal.
Desi berdecak melihat kelakuan anaknya yang masa bodoh ini.
" Mama lihat dia jalan sama Zein di kokas. Berduaan dan mesra. " ujar Desi.
Dia menunggu respon Siti yang sedari tadi sudah ia kira kira tapi wanita itu malah tetap diam dan tak menunjukkan perubahan ekspresi di wajahnya.
" Ya sudah. Mau gimana? " hanya itu respons Siti.
" Siti! Ini tunangan kamu loh! Malah jalan sama sahabat kamu sendiri. Kamu itu sadar dong, Melisa itu kegatelan. Dia pasti tau Zein tunangan kamu dan berani beraninya dia jalan sama Zein. " Desi geram.
Siti kehilangan kesabaran. Tak peduli dia akan mengatakan yang sebenarnya walau belum berdiskusi dengan Zein.
" Ya. Memang Melisa gak tau kalau Zein tunangan aku. Yang Melisa tahu cowok yang dia ajak jalan itu pacarnya. " kata Siti, kesal.
Desi terdiam sesaat. " Apa kamu bilang? Pacarnya? "
Siti mengangguk. " Zein sama Melisa pacaran. Mereka sudah memiliki hubungan jauh sebelum aku dijodohin mama sama dia."
" Gak mungkin! Ini pasti alasan kamu lagi kan biar pertunangan kalian dibatalkan? " kata Desi, tak percaya.
" Sekarang Mama tau kan alasan aku gak mau nerima perjodohan itu, kan? Alasannya cuma satu, Zein sudah jadi milik orang lain dan aku gak mau jadi perusak hubungan mereka. "
Siti beranjak dari sofa untuk masuk ke dalam kamarnya. Namun sebelum dia menaiki anak tangga, Desi bersuara duluan.
" Mama akan minta tante Dwita agar pertunangan kalian dimajukan. " kata Desi dan tak mau dibantah.
Siti berbalik. Menatap lurus mata Mamanya. Sesungguhnya Desi menciut karena tatapan Siti mirip sekali dengan suaminya ketika marah.
" Jangan gila, Ma! Gak baik menghancurkan kebahagiaan orang. "
Siti kemudian melanjutkan langkahnya dan meninggalkan Desi sendiri di ruang keluarga dengan hati bimbang.
Desi bingung harus berbuat apa. Peringatan yang Siti kasih benar benar membuatnya kepikiran. Namun dia sadar apa yang harus dia lakukan. Dia harus menghilangkan alasan di balik Siti yang tak mau dijodohkan.
Siti tak habis pikir dengan ide gila dari ibunya. Bahkan kenyataan bahwa Zein sudah berpacaran dengan orang lain saja tidak menggoyahkan niat Desi untuk menjodohkan dirinya dengan Zein.
Siti curiga sebenarnya ala yang dikejar Mamanya selama ini. Sebegitu inginkah dia melihat Siti menikah, walaupun dengan orang yang salah???
__ADS_1