Semua Karena Kamu

Semua Karena Kamu
Episode 60


__ADS_3

Dia menekan tombol hijau di layar ponselnya. Awalnya ia ragu karena nomor itu baru, Tapi dia juga berpikir siapa tau ada hubungannya dengan bisnis dan pekerjaan.


" Halo? " sapa Andi, lebih dulu.


" Ini Andi? "


Si pemilik nama langsung terdiam. Dia memberi jeda waktu cukup lama sebelum akhirnya menjawab.


" Iya. Dapat dari mana nomor gue? " tanya Andi, dengan nada dingin.


" Dari orang lain. Ada sesuatu yang pengen gue sampaikan sama lo. "


" Gue gak punya waktu lama. " sahut Andi, tak minat.


" Kasih tau gue kalian dimana. "


" Lo bisa tanya Glenn atau Melisa. Gue gak berhak jawab itu. " kata Andi.


" Cuma lo yang gak balak reject nomor gue. Mungkin juga nomor gue sudah di blokir sama mereka. "


" Itu urusan lo. Kalau gak ada yang mau lo sampaikan lagi, gue tutup. " kata Andi.


" Jangan! Palas, tolongin gue. Selama dua tahun gue tersiksa sendiri, gue gak tahu harus dengan cara apa membayar penyesalan ini, An. "


Permohonan yang disertai isak tangis itu harusnya membuat Andi simpati, namun nyatanya tidak.


" Dengan cara jauh jauh dari kehidupan Melisa dan Glenn. Yang harus lo lakukan sekarang adalah mengurus keluarga kecil lo itu. Gue tutup teleponnya, jangan pernah telepon gue lagi. "


Andi tahu orang itu masih ingin berbicara padanya tapi dia tak mau lagi mendengar. Lagipula untuk apa, Melisa dan Glenn sudah sebebas bebasnya sekarang. Dia tidak ingin ada siapapun yang mengganggu mereka apalagi dari masa lalu.


Andi hendak mau masuk dan alangkah terkejutnya dia melihat Melisa sedang bersandar di pintu utama.


" Ya ampun, Mel! Bikin kaget aja. " kata Andi, sambil menyentuh dadanya.


Melisa tersenyum. " Sorry, tadi lo teleponan sama siapa? Kok kayaknya emosional bangat? "


Andi tak tahu sejak kapan gadis itu bertengger di sana. Apakah Melisa sudah mendengar jawabannya?


" Gak penting. Kamu sendiri ngapain keluar? Emang film nya udah selesai? " tanya Andi.

__ADS_1


Melisa menggeleng. " Mau ke mobil ambil jurnalku. "


" Oh, yasudah. Aku masuk duluan. "


Semoga saja Melisa tak mendengar apapun yang ja katakan tadi saat berteleponan.


Sementara jauh di sana, ada dua orang yang sama sama frustasi. Hujan deras membuat keduanya tak bisa pulang dari restoran cepat saji dan mau tak mau menunggu hingga reda. Pria itu tak suka mengemudi dalam keadaan hujan deras.


" Diangkat? Diangkat teleponnya? "


Gadis dihadapannya hanya mengangguk tapi raut wajahnya benar benar sedu.


" Kamu sudah tahu? "


Gadis itu kini menggeleng.


" Hidup aku gak bakal tenang kalau harus seperti ini terus. " pria itu mendesah, frustasi.


" Kamu kira aku gak? Aku juga sama hancurnya kayak kamu! Harusnya kita lebih tegas buat batalkan semua dari awal. Kalau sudah begini kita sama sama tersiksa! " tukas sang gadis dan tak lama airmata membanjiri pipinya.


" Harusnya dia gak pergi kalau dia baca pesanku. " gumam sang pria sambil menatap keluar jendela.


****


Andi sedang menemukan Melisa sedang duduk di teras sembari ditemani ipad dan segelas susu. Niatnya ia hanya ingin memastikan apakah pintu utama sudah di kunci atau belum namun saat melihat Melisa ada di sana, Ia jadi tertarik untuk bergabung. Ikut menemani gadis itu. Melisa terlihat asyik mengotak atik ipad dengan salah satu tangan memegang gelas susu. Sungguh menggemaskan bagi Andi.


" Belum tidur? " tanya Andi.


Melisa menoleh dan memberikan senyumannya.


" Lagi mantau perkembangan sosial media kita. Mau lihat seberapa besar pengaruhnya, kalau bagus aku mau endorse selebgram buat datang ke kafe. " kata Melisa.


" Sudah ada list siapa aja yang mau di endorse? " Andi menempelkan bokong ke ubin teras.


Melisa mengangguk. " Ada Anwar, Renya, Arcis dan beberapa food vlogger. Beru itu sih yang aku pikir bakalan kasih feedback besar ke kita. Akun mereka banyak kasih vibes positif jadi pasti gampang di terima orang. " jelas Melisa.


Gadis itu mengikat rambutnya menjadi satu. Meninggalkan anak anak rambut disekitaran kening dan pelipisnya. Pemandangan yang paling Andi suka.


" Aku percaya sama kamu soal marketing. Insting kamu gak pernah salah. " puji Andi.

__ADS_1


Wanita itu hanya tersenyum. " Oh iya, An, Mumpung aku ingat, jadi kemarin ada yang email buat minta kita kadi tamu di acara workshop kampus gitu. Mengingat trend kafe kopi sedang marak, mereka ingin kita berbagi tips gitu lah. Fee nya lumayan dan nanti akan ada beberapa perwakilan dari mereka yang langsung datang ke kafe kita buat coba. Lumayan juga buat promosi, kita dibayar lagi."


Andi menggaruk dagunya seraya berpikir. Sebuah permulaan bagus buat usaha mereka.


" Lokasinya dimana? "


" Jakarta. "


Mendengar jawaban Melisa, bahunya merosot. Jakarta? Mungkin Andi tidak peduli tapi ia yakin akan berat bagi Glenn dan Melisa untuk kembali ke sana. Mati matian berusaha melupakan masa lalu hingga kabur ke jogja, membuang usaha di sana dan memulai kehidupan serta karir yang baru. Semuanya adalah pengorbanan yang tak terhitung jumlahnya.


" Menurut kamu gimana? Mending kita ambil atau gak? " Andi bertanya.


" Peluangnya cukup besar buat kita. " kata gadis itu.


Jelas Melisa akan menomorduakan dirinya. Prioritasnya saat ini adalah kage mereka. Andi tahu itu.


" Mel, aku mau nanya deh. Tapi kalau kamu gak mau jawab juga gak apa apa. " ucap Andi.


Melisa mengangguk. Dia meletakkan ipad di ubin dan mengubah posisi duduknya menghadap Andi.


" Apa tujuan kamu pindah ke jogja sudah tercapai? " tanya Andi.


Pria itu selalu bertanya dengan nada yang enak di dengar, tak pernah Melisa merasa dituntut atau dicecar ketika berbicara dengan Andi.


" Sudah. Kafe kita itu adalah salah satu tujuan aku. " jawab Melisa.


" Kalau begitu masih ada tujuan yang lain. Sudah? " Andi menatap mata Melisa.


Gadis itu mengalihkan pandangannya ke arah tanaman lidah buaya yang di tanam Glenn beberapa pekan lalu.


" Aku gak tahu. Mungkin lebih gak peduli karena sudah lupa. Usaha kita bikin aku gak terlalu memikirkan hal lain. " terang Melisa.


Andi tahu gadis itu tak benar benar menjawabnya namun ia harus tahu yang sesungguhnya. Dia takut kalau tiba tiba Melisa dihadapkan dengan hal yang pernah menjadi alasan gadis itu datang ke jogja kembali hadir di depannya dan Melisa tak siap lalu hancur kembali. Andi hanya takut Melisa tak mampu bangkit.


" Kalau seandainya kamu dipertemukan sama Siti, apa yang akan kamu lakukan? " tanya Andi.


Tiba tiba Melisa terkekeh. " Kamu nanyanya kayak orang lagi interview. "


Namun Andi tak ikut tertawa. Berarti seberat itu bagi Melisa untuk bertemu kembali dengan masa lalunya. Teror telepon yang dilakukan Siti baginya selama seminggu kebelakang benar benar mengganggu. Andi tahu gadis itu frustasi karena setelah mereka pindah ke jogja, Baik dirinya, Melisa maupun Glenn sepakat untuk tidak memiliki akun sosial media pribadi. Siti pasti kesulitan mencari keberadaan mereka.

__ADS_1


__ADS_2