Semua Karena Kamu

Semua Karena Kamu
Episode 52


__ADS_3

" Gue duluan ke mobil deh, kuncinya dong. " mengetahui situasinya kurang baik, Bagas memilih untuk menghindar.


Zein memberikan kunci mobilnya kepada Bagas. Ia masih berdiri di tempat sementara Melisa mendekat padanya.


" Kamu disini juga. " kata Melisa. Matanya bergerak gerak mencari pandangan lain.


" Aku kira kamu sudah pulang. " kata Zein.


Sedikit terkejut karena Zein tahu, Melisa kembali bertanya. " Kamu sudah tahu aku disini ternyata. Kamu cuma berdua sama Bagas? "


Zein mengangguk. " Dia yang kemarin ketemu di bandara, kan? "


Melisa menoleh sebentar ke arah tempat duduknya, lalu ia mengangguk. " Iya. Kita cuma ngobrol biasa aja kok dan ---- "


" Gak usah dijelasin. Aku tahu kamu gak akan jujur. Aku juga gak mau tahu alasan kamu ketemu dia buat apa. " sela Zein.


Melisa semakin merasa bersalah. Niatnya dari awal memang tak ingin Zein tahu pertemuannya dengan Andi siang ini.


" Aku beneran cuma ngobrol kok sama dia. " ucap Melisa, meyakinkan.


" Iya, aku percaya. Yasudah aku mau balik kekantor, Kamu lanjutkan obrolan asyikmu tadi. Aku duluan. "


Tak seperti biasanya, Zein langsung berjalan ke luar restoran ketika ia selesai bicara padahal setiap mereka mengakhiri pertemuan selalu ada kata kata manis dari bibir pria itu atau sentuhan yang membuat Melisa senang seperti dicium atau dipeluk.


Melisa merasa sangat bersalah. Cepat cepat dia balik ke meja dan menyelesaikan pertemuannya dengan Andi.


" Aku pulang duluan ya, An. " kata Melisa.


" Loh, kok buru buru? Katanya kamu free? " ujar Andi.


" Iya. Ada urusan mendadak. " kilah Melisa.


" Oke deh, kita bisa ketemu lain kali kalau begitu. Aku antar ya. "


Tawaran Andi langsung di jawab dengan gelengan Melisa.


" Aku bawa mobil kok. "


Melisa pergi meninggalkan Andi yang sebenarnya masih kebingungan. Dia memutuskan untuk balik ke kantor atau memutar otak bagaimana cara membuat rasa kesal Zein mereda.

__ADS_1


******


Pukul delapan malam Zein memutuskan untuk pulang. Kepalanya penat karena Bu Diana, padahal sebelumnya kedatangan wanita itu selalu ditunggu namun kali ini berbeda. Pengacara senior itu meminta kantor Zein menerima pengacara junior yang tak lain dan tak bukan adalah keponakan Bu Diana.


Zein dan para kawannya tentu tidak akan menolak jika disodorkan seorang pengacara hasil didikan Bu Diana walaupun fresh graduate tapi yang membuat mereka tak habis pikir ialah pengacara yang disodorkan Bu Nadia adalah orang yang lulus dengan hasil ijazah bodong. Hanya demi sarjana dan advokat keluarganya.


" Gak usah dipikirin, Ze. Besok buar gue yang ketemu Bu Diana, tolak secara baik baik. " kata Mike.


Zein mengangguk. " Kalau abu Diana tersinggung, lo kasih tau prinsip kantor kita kayak apa. Gue gak peduli itu anak siapa tapi kalau gak bisa jadi advokat yang benar mending out. "


" Iya, besok gue sama Bagas ya. Ajak Bobby sama aja kayak ngajak tembok, gak guna. " gurau Mike.


Zein tertawa. " Yasudah, gue balik dulu. "


Saat Zein melangkah memasuki lift, ponselnya berdering dan memunculkan nama ibunya di layar ponselnya.


" Ya, Ma? "


" Zein sudah mau pulang? "


" Iya, baru mau jalan. Mama mau nitip makanan? "


Merasa ada yang janggal, Zein kembali bertanya. " Ada apa, Ma? "


Jeda cukup lama hingga suara ibunya kembali terdengar.


" Ini tante Desi datang sama orang orang apa gitu, Mama lupa. Kamu cepat pulang ya, Mama bingung ngadepin tante Desi gimana. " ujar Dwita.


Zein mengusap wajahnya. Dia terpaksa merelakan waktu istirahatnya di ganggu oleh kedatangan tamu tak diundang itu.


" Iya, Ma. Sebentar lagi saya pulang. "


Zein memutuskan sambungan telepon dengan Dwita.


" Maunya itu orang apa sih? " desisnya.


Zein melajukan mobilnya secepat mungkin namun masih batas normal. Dia tak ingin ibunya merasa terganggu lebih lama dengan kedatangan Desi. Jika Dwita sudah meminta bantuannya, maka tandanya ibunya sudah kewalahan.


Kekesalannya dengan Melisa masih belum reda, masalahnya dengan Bu Diana juga belur kelar dan masalah baru sudah datang lagi. Sebenarnya ada apa sih dalam hidupnya sehingga ditimpa masalah sekaligus dalam sehari?

__ADS_1


Ponselnya berdering lagi. Dia mengecek sekilas lalu mengabaikan karena tak ada waktu untuk mengangkat.


30 menit berlalu dan tibalah Zein di gedung apartemennya. Dia langsung menuju lantai delapan dan bergegas masuk ke rumahnya.


Benar saja, Ruang tamunya penuh dengan orang orang asing. Saat ia sampai ibunya langsung menyambutnya dan berkata maaf karena sudah membawa Zein menyelesaikan masalah ini.


" Gak apa apa, Ma. Memang harus saya tegaskan lagi supaya tante Desi mengerti. "


Dwita merangkul putranya dan mereka duduk bersama di sofa.


" Sudah lama ya kita gak ketemu. Apa kabar Zein? " sapa Desi.


" Baik. Apa maksud tante datang ke sini? " kata Zein, langsung pada inti pembicaraan. Dia sudah terlalu lelah.


Desi tersenyum. " Tante lihat kamu sama Siti sibuk terus, jadi tante putuskan untuk bantu kalian menyiapkan acara pertunangan. Ini tante bawa EO bagus, rekomendasi dari--- "


" Kayak ada yang perlu saya jelaskan ke tante. Ini juga sudah kesepakatan saya dan Siti. " potong Zein, jengah mendengar Desi berkoar.


Desi terdiam ketika dirinya dipaksa berhenti berbicara.


" Ada apa? "


" Tidak akan ada pertunangan. Tidak akan ada pernikahan. Saya dan Siti menolak perjodohan ini. Mama saya juga setuju untuk menolak dan tante gak punya satupun hak untuk memaksa kami menikah. " ujar Zein, dengan tenang.


Desi masih terdiam. Lebih tepatnya dia terkejut.


" Saya gak peduli jika ini adalah wasiat almarhum ayah saya sekalipun. Saya yakin, gak ada orang tua yang mau menjerumuskan anaknya ketempat yang gak membuat dia bahagia sedetikpun. " Zein menarik nafas dan menghembuskan perlahan, dia tak ingin emosi.


" Tante gak perlu khawatir untuk hal lainnya, biar saya yang urus untuk pembatalan semua yang sudah tante pesan tanpa sepengetahuan saya dan Siti. Saya tahu niat tante baik, saya tersanjung karena tante sudah percaya pada saya tapi maaf sekali lagi saya bukan pria yang tepat untuk anak tante. Saya mungkin menantu yang tante inginkan, tapi tidak untuk Siti. Tante akan bahagia senantiasa tapi tidak untuk Siti. Saya harap tante mengerti. "


Zein menunggu reaksi Desi. Dia sudah siap dengan segala kemungkinan bila wanita itu marah, kesal, menangis bahkan pingsan sekalipun.


" Lalu, Kamu merasa bahwa Melisa adalah wanita yang tepat buat kamu? Dan kamu juga merasa pria yang tepat untuk dia? "


Namun respon Desi sangat diluar dugaannya. Untuk apa dia membawa bawa Melisa?


" Setidaknya kami menjalankan hubungan tidak dengan rasa terpaksa. " ujar Zein.


" Melisa tidak cinta sama kamu, Zein. Dia mengakui itu pada saya maka ketika dia dengar kamu dan Siti terlibat dalam perjodohan dia pun merasa biasa saja. Dia tidak peduli kamu mau menikah dengan siapapun karena toh dia tidak pernah cinta dengan kamu. Dimata Melisa, kamu hanyalah teman untuk bersenang senang. " ucap Desi tanpa keraguan.

__ADS_1


__ADS_2