
Siti tersenyum. Dia senang Melisa dapat pria yang baik. Kalau saja Zein bukan milik Melisa, mungkin Siti akan membuka hatinya untuk pria itu. Seandainya.
" Duh, Dik. Kamu itu kita lagi cerita malah senyum senyum sama Zein. Senang bangat kelihatannya. "
Rupanya mereka tertangkap basah oleh Sean. Tapi beruntung percakapan mereka tidak ada yang mengetahui kecuali satu sama lain.
" Biarin, Sean. Mereka itu masih proses pendekatan. " kata Dwita.
" Jadi jangan kamu ganggu. " timpal Desi pada putra sulungnya.
" Iya deh, iya. " Sean mengalah.
Zein melirik jam tangannya. Sudah pukul 9 malam. Kalau jalanan tidak macet, mala dia masih punya cukup waktu untuk sekedar menatap wajah kekasihnya setelah mengantar mamanya pulang.
" Ma, pulang yuk. Sudah malam. Siti sama tante Desi juga mau istirahat. " kata Zein pada Dwita.
Walau tak rela tapi Dwita akhirnya menuruti. Dia juga tak tega melihat Zein kelelahan.
Usai pamit, Zein hanya mengantar mamanya sampai lobby apartemen. Dia berdalih ingin mengambil charger ponselnya yang tertinggal di kantor. Padahal Zein sedang menuju perjalanan ke rumah Melisa.
Sesampainya di rumah Melisa, Dia disambut senang oleh wanita itu. Dia mendapat sebuah pelukan hangat dan satu kecupan manis yang mendarat di bibirnya.
Melisa meminta Zein untuk masuk ke rumahnya untuk bertemu Om Irwan. Dia tak dapat lama lama menyembunyikan hubungannya dengan Zein.
" Halo, Om. Sehat, Om? " tanya Zein, saat melihat Irwan lagi duduk di sofa ruang tamu.
" Sehat. Kamu apa kabar? Baru kelihatan lagi. " kata Irwan. " Sini duduk. " lanjutnya, sambil menepuk sofa, mempersilahkan Zein duduk.
Melisa datang membawa nampan berisi dua cangkir teh.
" Nih, buat kamu sama Om. Silahkan diminum. " kata Melisa.
" Makasih, Mel. " kata Zein.
Melisa duduk disebelah Zein. Sambil menunggu pria itu yang masih asyik mengobrol dengan pamannya.
" Oh, ya, Ze. Itu kebetulan teman Om lagi cari pengacara untuk masalah perceraian. Kalau Om rekomendasikan kamu, keberatan gak? " tanya Irwan.
Zein tertawa. " Jelas, gak lah Om. Justru saya senang, jadi bisa nambah uang jajan buat traktir Melisa. " candanya.
" Ze!! "
__ADS_1
Mendengar namanya disebut, Melisa langsung menegur Zein walaupun pipinya memerah karena tersipu.
Zein dan Irwan tertawa.
" Ya sudah, Om tidur dulu. Mel, Nanti jangan lupa kunci pintunya habis Zein pulang. "
Melisa mengangguk patuh. " Baik, Om. "
Setelah memastikan Irwan masuk ke dalam kamar, Melisa langsung merebahkan kepalanya di pangkuan Zein. Dia memeluk pria itu dalam dalam sembari berbaring, menghirup aroma kesukaannya. Aroma pria itu.
" Kerjaan kamu banyak bangat ya, sampai jam segini baru pulang. Kamu sudah makan? Kalau kamu capek gak usah kesini, Ze. " kata Melisa, pengertian.
Zein tercenung. Wanita itu selalu saja khawatir dan dia beruntung memilikinya.
" Gak capek kok. Aku sudah biasa pulang jam segini kalau lagi banyak klien. Dont worry. " ucap Zein sambil mengelus rambut Melisa.
" Yakin?? Muka kamu itu kelihatan lelah akhir akhir ini. " kata Melisa.
Zein tersenyum. Dia mengecup kening Melisa.
" I'm fine. Cuma memang kurang tidur, makanya tiap libur aku tidur terus, kan. "
Melisa mengangguk. Dia kembali memiringkan tubuhnya dan menyembunyikan wajahnya di bawah perut pria itu.
" Kamu bau. " kata Melisa.
" Apa? " tanya Zein, akibat dia melamun hingga tak mendengar suara Melisa.
" Kami bau. " ulang wanita itu.
Seulas senyum memenuhi bibir Zein.
" Tapi kamu suka. " kata pria itu, sambil menatap Melisa lalu menjewer hidung wanita itu.
" Aw! " pekik Melisa sambil memukul tangan Zein.
Dan Zein hanya tertawa.
" Maafkan Aku ya, Mel. " ucap Zein, pelan.
" Untuk apa?? " tanya Melisa heran.
__ADS_1
" Karena aku jarang punya waktu buat kamu. "
Melisa tertawa kecil. " Kenapa harus minta maaf? Memang sudah kewajiban kamu kan, karena kamu kerja? "
Melisa bangkit dan melingkarkan tangannya di leher Zein. Kemudian memeluk pria yang ia cintai itu dengan erat. Zein tersenyum dan membalas pelukan itu.
Walau sebenarnya bukan untuk itu ia meminta maaf. Melainkan untuk hal yang jauh lebih rumit dari apa yang terjadi mulai hari ini hingga waktu yang tak ditentukan.
****
Perjodohan antara Zein dan Siti masih berlanjut. Keduanya masih belum menemukan titik terang untuk mengakhiri atau membujuk masing masing ibunya agar menyudahi perjodohan yang tak akan pernah terjadi ini.
Baik Siti maupun Zein masih menjalani rutinitas mereka seperti biasa. Siti dengan butiknya dan Zein dengan kantornya. Jika lelah di teror soal pendekatan, Mereka akan sepakat berbohong dan mengatakan sedang jalan bersama padahal tidak.
Namun, Beruntung hari ini Zein dapat ijin dari Mamanya setelah mengatakan ada acara bersama teman kantor. Tentu saja itu hanya dalih, Sebenarnya dia ingin pergi dengan kekasihnya, Melisa Septian.
" Kamu mau makan sushi atau ramen? " tanya Zein, ketika mereka sudah sampai di sebuah mall.
" Kayaknya sushi enak. Sushi aja ya. "
Lalu mereka berdua berjalan menuju restoran sushi terbesar di mall itu.
" Ze, " panggil Melisa.
Zein mengalihkan tatapannya dari buku menu kemudian menatap Melisa. Mereka sudah memesan makanan sejak tadi.
" Hm?"
" Goals hubungan kita untuk kamu itu apa? " tanya Melisa.
Zein menyingkirkan buku menu dan melipat tangannya di meja. Berpikir sejenak tentang apa tujuan hubungan mereka. Jujur saja pernyataan cinta Zein kemarin adalah bentuk spontanitas karena ia takut hubungan dirinya dan Melisa terancam karena tak memiliki ikatan pasti.
Tapi ada satu garis besar yang ia tangkap. Tujuannya hanya satu, Dia tidak ingin kehilangan wanita itu. Iya, hanya itu saja.
" Aku mau menikah, punya anak dan hidup bersama dengan kamu selamanya. Mungkin itu kedengarannya mudah dan juga sesuai dengan siklus hidup masyarakat pada umumnya. Tapi buat aku, untuk mencapai tujuan itu dibutuhkan proses panjang dan komitmen yang pasti. Kita gak tau apa aja masalahnya yang akan datang nanti. Kadang kita bisa lewati masalah yang sulit, tapi malah gak mampu dengan masalah yang kecil. "
Zein meraih tangan Melisa. " Thats the point, Melisa. Aku mau berkomitmen sama kamu sampai kapan pun. Sampai kita menikah, punya anak, jadi kakek nenek, forever. "
Melisa tersenyum. Dia sangat tersipu dan tersentuh dengan perkataan Zein.
" Kamu yakin, we can last forever? " tanya Melisa.
__ADS_1
Zein mengelus. Di dalam hatinya dia sangat yakin. Tetapi pada realita dan keadaan saat ini sangat tidak memungkinkan untuk dia berkata iya. Namun, tetap dalam pendiriannya, dia tidak ingin Melisa tahu masalah ini. Dia tidak ingin Melisa ragu.
" Yes, i'm sure. Why not? "