
" Saya tahu kamu menginginkan pernikahan ini. Tapi kamu juga sudah dengar bahwa anak anak kita menolak, kamu gak perlu pakai cara kotor begini buat bikin keyakinan anak saya goyah. " kata Dwita, dia pun akhirnya bersuara setelah diam tadi.
" Saya bicara fakta kok. Melisa sendiri yang bilang kalau hubungannya dengan Zein bukan apa apa. Dia sendiri yang mengakui kalau masih banyak pria yang jauh lebih daripada Zein dan anak kamu itu gak ada apa apanya. Lagipula Siti sudah setuju menikah dengan Zein. " kata Desi.
Dwita menoleh ke arah Zein, meminta penjelasan. Pria itu bahkan belum bisa mencerna semua kata yang dilontarkan Desi.
" Melisa gak mungkin bicara begitu. "
Desi tersenyum dan berujar lebih tenang.
" Kamu jauh lebih tahu. "
Zein yakin yang dikatakan Desi hanyalah bualan semata namun tetap saja sulit untuk tidak kepikiran semalam akibat ucapan wanita paruh baya itu, mengingat kejadian kemarin siang ketika ia melihat Melisa bersama pria lain. Pria yang masih Melisa sembunyikan identitasnya dari dirinya hingga saat ini.
Sekarang Zein sedang menunggu Melisa di kafe milik Glenn. Wanita itu sendiri yang menjadwalkan pertemuan hari ini.
" Melisa kemana dulu ya? Jam segini belum sampai. " Zein melirik jam tangan di pergelangan tangannya. Tak biasanya Melisa telat.
15 menit lagi jam istirahatnya selesai namun tak ada tanda tanda kedatangan Melisa.
" Mungkin ada urusan mendadak di kantor makanya telat. "
Glenn yang sedari tadi menyadari kegelisahan Zein beranjak dari belakang coffee maker dan duduk di hadapan Zein. " Atau mungkin dia lupa. " lanjutnya.
" Dia gak akan lupa kalau buat janji. " ujar Zein.
Glenn Mengangguk. " Ngomong ngomong, gimana rencana kawinan lo sama Siti? Lancar?"
" Hah? "
" Lo jadi menikah sama dia, kan? "
Zein mendengus. " Lo tahu pilihan gue. "
__ADS_1
Glenn tertawa lalu menggeleng kepala.
" Ayolah, Ze. Lo, Melisa, Siti dan gue sama sama tau kalau perjodohan kalian susah buat dibatalin. Kecuali lo nekat ngajak Melisa kawin lari atau lo hamilin dia. Tapi kalau sampai kejadian pun, masalah dalam hubungan lo dan Melisa gak akan pernah selesai. Lo paham maksud gue, kan? "
" Gue gak ngerti maksud lo. " Demi apapun Zein tak ingin membahas hal tersebut. Lagipula untuk apa Glenn ikut campur dalam masalahnya.
" Yasudah, biar gue jelaskan. Itu artinya, lo cuma membawa masalah buat Melisa. Dari segi apapun, pilihan yang lo ambil cuma akan membebankan Melisa. Jadi kalau lo mau nyakitin dia ya sekalian aja. Menikah sama pilihan nyokap lo dan pergi yang jauh. Jangan pernah temui Melisa lagi, dengan begitu dia bisa tetap menjalankan hidupnya seperti biasa. Ya memang bakalan ada drama sakit hati tapi gue yakin dia bakalan bisa melewati itu semua. " kata Glenn, tak ada kemarahan dalam intonasi suaranya.
" Sebentar, lo ada masalah apa sih sama gue? Kenapa tiba tiba nyerang gue gak jelas kayak gini? Gue tahu Melisa sahabat lo tapi hidup dia bukan urusan lo. " kata Zein. Dia mulai tersinggung.
" Kata orang, perasaan itu ada tingkatnya. Yang pertama suka, kedua sayang, ketiga cinta dan keempat ikhlas. Saat lo sudah ada ditingkat yang terakhir, maka yang lo harapkan adalah kebahagiaan dari orang yang lo cinta. Lo ikhlas atas apapun yang terjadi dalam hidupnya asal ia bahagia. Dan ikhlas yang gue maksud adalah tolong lepasin Melisa, Ze. Semakin cepat semakin baik. " Glenn beranjak dan bermaksud kembali kebelakang coffee maker lagi namun Zein menahannya.
" Lo gak ada hak untuk memandang gue serendah itu. Gue mampu untuk membahagiakan Melisa tanpa harus melepaskan dia. Tapi sekarang waktunya gak tepat, lo juga belum tentu siap ada diposisi gue. " ujar Zein, gak senang.
" Buktikan. Kalau ngomong doang gue juga bisa. " ujar Glenn singkat sembari menepis tangan Zein.
Tak ingin memperpanjang, Zein segera keluar dari kafe milik Glenn dengan hati sedikit dongkol. Tak bisa dipungkiri pula bahwa ucapan pria itu pula telah menyinggung perasaannya.
Zein memutuskan untuk kembali ke kantor, dia akan mengirimkan pesan kepada Melisa kalau kalau gadis itu sudah terlanjur datang.
" Lah, lo disini? " Zein menoleh mendengar suara Bagas bergema ketika ia menunggu lift.
" Iya. "
" Gue pikir tadi lo sama Melisa. " kata Bagas.
" Gue memang mau ketemu dia tapi sampai jam istirahat selesai Melisa gak datang juga. " kata Zein.
Kening Bagas berkedut. " Terus yang tadi di resto sama Melisa siapa? Gue pikir itu lo. Tapi memang gak kelihatan jelas sih cowoknya. Cuma kemejanya mirip punya lo itu. " katanya polos.
Sesaat Zein menemukan kecurigaan dari pengakuan Bagas barusan. Melisa tidak datang namun Bagas melihat gadis itu di restoran bersama pria lain?
" Mau masuk gak lo? "
__ADS_1
Zein tersentak dan segera masuk ke lift bersama juniornya.
Segera harus ia tanyakan pada Melisa. Jangan jangan yang dimaksud tante Desi itu adalah???
*******
Resah sekaligus gelisah. Mungkin itu kalimat yang tepat bagi Zein sekarang. Melisa resmi mengobrak abrik perasaannya. Dia jadi kembali berpikir apakah benar wanita itu juga mengharapkan hal yang sama dengannya? Mengapa rasanya seperti berjuang sendirian? Apa benar Melisa sudah lelah dan ingin menyerah? Lantas dia harus melakukan apa bila benar benar terjadi? Haruskah ia ikut menyerah dan melepaskan cintanya atau bagaimana? Zein bingung. Dia bisa saja melakukan apapun baik yang masuk akal hingga di luar nalar sekalipun tetapi semua tidak akan berguna jika hanya dia yang berusaha.
" Susulin deh, daripada lo uring uringan seperti gini. " kata Bagas, dari seberang meja.
Zein menghela nafas untuk kesekian kali.
" Pergi sana. Lo kayak udah gak ada harapan hidup. " kata Bagas.
" Kalau gue susulin dia, gue harus ngapain? " tanya Zein. Konyol sekali kalau harus datang hanya untuk mengungkapkan bahwa dia cemburu.
" Tanyalah, kenapa dia gak datang tadi siang? Lo kenapa jadi bego sih? " sungut Bagas.
" Gue bimbang. Semisal realitanya berbalik dari apa yang gue bayangkan, gue mesti ngapain di sana? " Zein bertanya lagi.
Bagas berdecak. " Coba kalau jatuh cinta yang dipakai jangan cuma hati tapi otak juga. Semua tergantung lo, mau marah, mau nangis, mau ngedumel, terserah lo, Ze. Emosi itu wajar. "
Zein melirik jam tangannya. Belum lama sejak jam istirahat masuk, mungkin saja Melisa masih di tempat yang sama.
" Yaudah, gue pergi dulu. Nanti ada orang Asia corp mau datang meeting, lo yang mimpin. " kata Zein, sembari beranjak dari kursinya.
" Gampang. Yang CEO-nya cantik itu, kan? "
" Iya. Jangan lo godain. " Zein menunjuk Bagas, isyarat sebagai tanda peringatan.
Bagas hanya mengacungkan dua jempolnya.
" Baik, bro. "
__ADS_1