
Sesaat dia ingat apa yang ingin dia katakan.
" Dan satu lagi, gue gak pernah mengharapkan Zein, even dia pacar lo atau bukan. " itulah kalimat terakhir Siti sebelum meninggalkan Melisa.
Setelah sahabatnya pergi sepihak, dia hanya termenung lama di tempat duduknya. Selera makannya pun hilang bersamaan dengan kalimat demi kalimat yang keluar dari mulutnya. Belakangan ini memang dia cenderung frontal, Melisa sadari hal itu. Sekarang Zein dan Siti sudah resmi kesal padanya.
" Baguslah. " gumam Melisa.
*****
Melisa memasuki kamar dan merentangkan tubuhnya di kasur empuk miliknya. Tubuhnya mungkin nyaris remuk akibat bolak balik naik turun tangga karena lift kantornya mati.
" Ngantuk bangat. Andai kalau tidur pake make up gak bikin jerawatan. " katanya dengan mata terpejam.
Melisa beristirahat sejenak sebelum mandi, tak lama kemudian suara dering ponsel dari tasnya terdengar.
Zein's calling ???
Wanita itu menatap lama nama yang menelpon dirinya. Sejak percakapan panas di mobil kemarin, dia belum menghubungi pria itu dengan kata lain juga menghindari interaksi dirinya dan Zein.
Bersamaan dengan helaan nafas, Melisa mereject telepon dari Zein. Dia terlalu lelah untuk berdebat.
" Mel, lagi mandi ya? "
Suara Om Irwan membuyarkan lamunan Melisa.
" Gak, Om. Kenapa? " sahut Melisa.
" Ada tamu, katanya teman kamu. " kata Om Irwan.
Dahi Melisa mengerut. Memang dia punya teman selain Glenn dan Siti?
" Iya, sebentar Om. Meli nyusul ke bawah. "
Dia beranjak dari kasur dan merapikan rambut serta bajunya yang sudah lusuh. Melisa menerka nerka, apakah yang datang rekan kerjanya? Tapi itu tidak sangat mungkin, karena ia tidak pernah terlibat hubungan yang lebih dari sekedar rekan.
Melisa menuruni anak tangga dan langsung menuju ruang tamu.
" Hai, Teleponku kok gak diangkat? "
Jantung Melisa nyaris copot saat melihat Zein sedang berdiri di ruang tamu. Dia melirik Om Irwan yang sedang senyum senyum sendiri.
" Om, cuma iseng, Mel. Jangan ngambek. " kata Om Irwan. Kemudian pria itu meninggalkan Zein dan Melisa di ruang tamu.
" Mel. " tegur Zein.
" Ooh itu, aku tadi baru aja balik kantor. Jadi gak tahu kalau itu telepon dari kamu. Sorry. " kata Melisa, terbata.
Dusta lagi.
Zein merasa tak ada yang perlu dipermasalahkan dari hal kecil tersebut. Ia melangkah menghampiri Melisa lalu mencium kening gadis itu.
" Makan di luar yuk. " kata Zein.
Atmosfer panas diantara mereka perlahan surut dan bergantian dengan suasana sejuk kembali. Keduanya bisa saling merasakan hal tersebut.
" A-ayo. Aku gak usah ganti baju ya. " kata Melisa.
__ADS_1
" Iyalah. Gak apa apa lusuh, biar gak ada yang naksir sama kamu. " usil Zein.
Melisa tertawa kecil. " Mulai deh. "
Zein menggandeng Melisa keluar rumah. Tujuan mereka adalah nasi goreng yang berjualan di depan komplek rumah Melisa. Semua adalah strategi Zein demi bisa punya waktu untuk Melisa. Dia sengaja mengajak gadis itu berjalan kaki sambil bergandengan dan mengobrol ringan.
" Aku baru sadar kalau bulan depan itu lusa. Kamu jadi pergi ke jogja lusa? " tanya Zein.
Malam ini dia berjanji akan menghindari topik yang akan memancing debat diantara mereka.
" Eh ya iya? Aku juga baru sadar. Gak lusa bangat sih. Aku pergi senin tanggal empat. " kata Melisa.
" Oh, cepat ya. Baru juga ketemu kamu, sudah mau ditinggal lagi. "
" Lebay kamu ah, " kata Melisa.
" Mel, kalau gak kita pergi ke jogja jumat malam aja, gimana? mau gak? " tawar Zein.
" Hah? Kita? "
Zein mengangguk. " Iya. Aku dan kamu. Jadi nanti di jogja kita pacaran deh sampai hari minggu, tapi malamnya aku pulang. Gimana?"
Entah dari mana asal usulnya tersebut. Yang Zein tahu, Ia hanya mengatakan apa yang disusun di otaknya.
" Hhhmmm ..... Kamu gak capek besoknya langsung kerja lagi? " tanya Melisa.
" Aku gak tidur dua hari juga sudah biasa. " kata Zein.
" Kamu yakin? Jam kerja kamu itu super sibuk loh. Dengar dengar jasa kamu itu dipakai sama Artis ya? " ucap Melisa.
Zein mengangguk. " Iya. Kasus perceraian gitu, seperti artis sinetron. Tapi sudah mau selesai kok, gak usah khawatir. "
" Oke deh. " kata Melisa akhirnya.
" Yes! Aku gak sabar pacaran sambil minum wedang jahe di alun alun. " ujar Zein membuat Melisa tergelak.
Anggap saj jogja akan menjadi kenangan terakhir untukku dan Zein. Semoga setiap kamu ingat jogja, yang terlintas hanya kebahagiaan semata nantinya. Semoga aku gak akan jadi simbol patah hati untuk kamu. Batinnya meracau.
*****
Mereka tiba di jogja pukul 22.44 waktu setempat. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam menggunakan pesawat, sampailah mereka di bandara Adisutjipto. Keduanya memilih naik taksi untuk cek in di hotel yang sudah mereka pesan kemarin.
" Kita sekamar? " tanya Melisa saat Zein baru saja menyelesaikan administrasi.
Pria itu mengangguk dengan santai. " Iya. Lagi pula kemarin tinggal satu kamarnya. "
" Serius? " tanya Melisa sangsi.
" Iya, sayang. Ranjangnya ada dua kok kalau memang kamu gak mau tidur sama aku. " kata Zein. Dia bisa membaca raut wajah Melisa yang terkejut tadi.
" Oke. "
Mereka memasuki lift yang membawa keduanya ke kamar untuk beristirahat. Setibanya di sana, Melisa lebih dulu membersihkan diri kemudian pamit untuk tidur duluan karena terlalu lelah.
Sementara Zein, memilih untuk menonton TV karena rasa kantuknya sudah hilang sejak landing tadi. Sesekali ia menoleh ke arah tempat Melisa tidur bergelung selimut. Sepertinya gadis itu benar benar lelah hingga cepat sekali terlelap.
Tertarik dengan pemandangan disisinya, Zein meninggalkan layar TV yang menampilkan Christ Evan dan Robert D **. Dia duduk di pinggir ranjang Melisa, merapikan rambut gadis itu yang menutupi wajahnya sendiri.
__ADS_1
" Capek bangat ya. " bisik Zein.
Pria itu mengecup kening kekasihnya sambil mengusap belakang kepala Melisa.
" Aku mungkin bukan yang terbaik, Mel. Tapi kalau kamu mau pertahankan aku, aku janji sampai mati aku gak akan pernah buat kamu menyesal. " kata Zein.
Ditatapnya wajah Melisa yang damai. Bulu matanya yang lentik dan bibirnya yang berwarna pink alami.
" Aku gak akan pergi, kecuali kamu yang minta sendiri. " bisiknya lagi.
" Kita senang senang ya disini. Aku capek ribut terus. Kadang aku kangen kamu yang dulu, Mel. Kadang aku pengen mengulang masa perkenalan kita. Lucu aja rasanya ketemu orang sedatar kamu, tapi ambisius dan penyayang bangat ternyata. Gak nyangka aku akan jadi salah satu yang kamu sayang. " ucap Zein, masih sambil memandang Melisa.
Tangannya terus bergerak mengusap kepala gadis itu.
" I Love You more than 3000. " bisiknya sekali lagi sebelum mengecup kening Melisa.
" Dasar korban endgame. "
Gumaman tersebut menarik tangan Zein dari posisinya. Dia menatap Melisa yang masih terpejam. Tapi dia yakin suara parau itu milik kekasihnya.
" Kamu belum tidur ternyata. " kata Zein.
" Gimana mau tidur kalau suara kamu lebih menarik daripada mimpi aku, Ze. " ucap Melisa, masih dengan mata terpejam.
Zein tak kuasa untuk tidak tersenyum. " Mau dengar suaraku terus? "
" Seandainya kamu penyiar radio, Aku akan dengarkan suara kamu setiap saat. "
" Kalau gitu aku rela ngoceh sepanjang malam buat kamu. " kata Zein.
Melisa tertawa kecil. " Gombal. Tidur, Ze. Kamu gak capek apa? "
" Tadi sudah hampir ngantuk. Eh, tapi diginiin sama kamu langsung terbang, gak bisa turun. " gurau Zein.
Kini Melisa tertawa sambil membuka matanya.
" Kamu itu beneran sudah 29 tahun, gak sih? "
" Entah. Jiwa remajaku gak pernah hilang kayaknya. " kata Zein membuat Melisa tergelak.
" Tidur sini, Ze. " Melisa menepuk sebelah bantalnya. Dia memundurkan tubuhnya agar Zein bisa tidur disisinya.
" Katanya gak mau tidur berdua. " goda Zein.
" Aku gak bilang gitu. " elak Melisa.
" Tadi di lobby kayaknya syok banget tahu sekamar sama aku. " kata Zein.
Melisa mengurai tatapannya ke arah lain demi menghindari mata Zein. Dia malu.
" Ya iya. itu karena kamu gak bilang dulu sebelumnya sama aku. " kata Melisa.
" Yasudah. Anggap aja aku percaya. " jawab Zein seraya ikut membaringkan tubuhnya di ranjang.
Zein merentangkan salah satu tangannya di bawah kepala Melisa.
" Good night, Ze. " gumam Melisa.
__ADS_1
" Sweet dream, Mel. " balas Zein disertai kecupan hangat di pucuk kepala gadis itu.