Semua Karena Kamu

Semua Karena Kamu
Episode 18


__ADS_3

Zein diam saja. Dia sudah mengerti maksud dan tujuan Mamanya.


" Kamu itu sudah 28 tahun. Sudah cukup matang dan mapanlah buat menikah. Kamu ingat si Tara gak? "


Zein menggeleng.


" Teman SD kamu yang pernah nyemplung di selokan waktu kita tinggal di Depok. Ingat? " Dwita berusaha menjelaskan momen yang paling berkesan dari pertemuan Zein dan Tara.


Zein mengingat ingat lagi. Namun dia memang hanya punya satu teman yang hobinya jatuh. Tara.


" Oh, si Tara? yang dimana mana jatuh mulu, kan?? "


" Iya. Tau gak, Ze, Dia sudah menikah loh. Walaupun dia gak seganteng kamu, gak semapan kamu tapi sudah berkeluarga. Anaknya sudah mau dua, Kalau kamu?? satu aja belum. Jangankan anak, pasangan aja gak punya. " sindir Mamanya. Zein mendengus kesal.


" Ya sudah, angkat saja si Tara jadi anak mama. " katanya sebal.


Dwita berdecak. Zein selalu saja menghindari topik tentang pasangan membuat dia berpikiran buruk.


" Kamu .... Gak, gay kan, Ze? " dengan ragu Mamanya bertanya.


Zein yang sedang minum langsung batuk batuk dan tersedak.


" Mama! Astaga, anak sendiri loh ini. " Dia mengusap dadanya karena masih terus batuk.


" Kan mama cuma nanya. Jadi beneran kan kamu gak, Gay? " Dwita bertanya ulang.


" Iya, gak lah, Ma. " jawab Zein frustasi.


" Kalau gitu kenapa kamu gak punya pacar? " tanya Mamanya membuat Zein jengah.


" Ada sih. Tapi bukan pacar, Kita saling suka, saling perhatian, saling ---- "


" Daripada sama yang gak pasti, Mending sama anak teman mama yang sudah pasti. Gimana?? Nanti mama kenalin sama dia. Anaknya itu cantik loh, pintar juga, punya usaha pula. Kamu pasti cocok deh sama dia. " kata Mamanya, dengan wajah berbinar.


" Ma? Please, Ini sudah gak jaman jodoh - jodohan. Saya bisa cari pacar sendiri. Saya yang paling tahu kriteria istri saya nanti seperti apa. Saya bahkan gak peduli kalau anak teman mama sesempurna Gal Gadot atau Scarlett Johansson. "


Obrolan ini mungkin terasa ringan bagi kebanyakan orang tapi tidak untuk Zein. Dia jadi kehilangan nafsu makannya dan merasa lelah dengan perbincangan ini.


Raut wajah Dwita berubah menjadi sedih. Dia mungkin sedikit tersinggung dengan ucapan anaknya barusan yang seolah olah Zein meragukan selera Mamanya dalam memilih wanita.


" Mama cuma mau mewujudkan pesan terkahir dari Papa. " kata Mamanya, pelan.

__ADS_1


Zein memusatkan perhatiannya kepada Mamanya lagi. Zein tak bisa tak peduli ketika Dwita menyebutkan Papanya dalam obrolan ini.


" Maksud Mama? "


" Papa kamu itu pernah janji sama sahabatnya akan menikahi kalian ketika kalian sudah besar. Tapi keburu meninggal sebelum mengenalkan kalian. Jadi mama dititipkan pesan itu sama Papa. Mama harap kamu mengerti.... dan mewujudkan permintaan terakhir Papa. Kamu sayang bangat sama Papa, kan?? "


Pertanyaan retoris itu membuat hati Zein teriris. Dia kembali merindukan Papanya yang sudah meninggal 6 tahun lalu. Selama ini dia selalu menyesal karena belum bisa membuat Papanya bangga. Dan mamanya membawa pesan terakhir dari Papanya yang sangat sulit ia penuhi.


" Saya gak tau, Ma. "


" Mama berharap bangat, Kamu mau menikah dengan pilihan Papa. " ujar Dwita, memohon.


Zein membawa piringnya ke wastafel dan mencuci kilat lalu meminta ijin ke kamar dalih ingin mengecek berkas klien penting. Padahal dia hanya duduk melamun di depan laptop yang terbuka.


Bukannya dia tidak ingin memenuhi pesan terkahir Papanya. Bukan juga karena dia tidak sayang Papanya. Namun dia juga memikirkan Melisa yang akhir akhir ini sedang mengisi hati dan pikirannya.


Ponselnya bergetar dan ada pesan masuk dari Melisa.


" Sapu tangan kamu, kebawa aku nih. Mau ku balikin atau gak? "


Zein tersenyum membaca pesan dari Melisa. Dia tak akan bisa membayangkan ekspresi wanita itu kalau saja Melisa tau apa yang tadi dia bicarakan dengan Mamanya. Namun apa Melisa akan kecewa atau sedih? Lagipula wanita itu memang belum sepenuhnya menjadi milik dia. Mereka bahkan tak punya label apapun di antara keduanya.


" Gak usah. Kamu simpan aja buat kamu. " balas Zein.


" Oke. Kamu gak bisa ambil lagi ya. "


" Iya, Melisa. "


Dia menutup ruang obrolan dengan Melisa. Kepalanya penat karena kurang tidur dan perbincangan tadi. Zein memutuskan untuk melanjutkan tidurnya yang terpaksa kebangun tadi.


****


Zein duduk dengan kesal di belakang kemudi mobil. Dia senewen bukan main karena Dwita membangunkannya dengan paksa dan meminta Zein mengantar wanita paruh baya itu pergi. Dia hanya bersiap siap dan ogah ogahkan karena Mamanya memintanya untuk mengantarnya bertemu dengan temannya padahal dia masih ngantuk bangat.


" Strawberry kafe. Kamu tau tempatnya, kan? " tanya Mamanya sehabis melihat ponselnya.


Zein hanya berdehem.


Dia membalikkan setir ke kanan saat melihat tulisan besar kafe yang di tuju Mamanya tadi. Dengan malas, Zein mengikuti Mamanya dari belakang. Dia mengenakan kemeja kasual dengan celana jeans panjang. Rambutnya dia biarkan berantakan karena di terpa angin. Dia tidak menggunakan pomade karena malas, Jadi dia hanya menyisir rambutnya menggunakan jari.


" Senyum dong, Zein. " pinta Mamanya.

__ADS_1


Zein tersenyum dengan terpaksa. " Sudah?? "


" Yang tulus. "


Zein tersenyum lagi dengan lebih niat dari yang sebelumnya. Mereka melanjutkan langkahnya kembali. Zein berkali kali membenarkan rambutnya karena terus menerus turun.


" Apa kabar Dwita?? " seru seorang wanita dengan heboh. Dia adalah Desi.


Desi langsung bercipika cipiki dengan Dwita.


" Des, kenalkan ini Zein. " Dwita menarik tangan Zein dan memintanya untuk memberi salam pada Desi.


" Halo, Tante. " Zein menjabat tangan Desi dan tersenyum.


" Kamu sudah dewasa bangat loh, Ze. Kemarin ketemu tante pas kamu umur belasan tahun, ya. " Desi sambil tertawa sambil memperhatikan Zein dari ujung kepala hingga ujung kaki.


" Gimana? Sudah cocok jadi istri kamu belum? " tanya Dwita.


Zein membelalak. Dia tak tau bahwa Desi adalah Ibu dari calon istri yang dipilihkan Mamanya.


" Maksud, Mama?? " Zein meminta penjelasan, Namun mamanya tak mengindahkan.


" Cocok banget dong, Sekarang giliran kamu yang kenalan sama calon menantu. Zein juga sudah gak sabar kan mau lihat calon istrimu? " ujar Desi girang.


" Mana anakmu, Des? "


Desi melirik sekitar lalu menunjuk kegirangan ke arah pintu kafe di buka.


" Itu dia anakku! " Desi kemudian menghampiri anaknya dan menggandengnya.


" Sayang, kenalan yuk sama calon suami kamu. "


Wanita yang baru datang itu juga terlihat ogah ogahan meladeni ibunya. Dia mengangkat kepalanya dan menatap pria yang disebut mamanya sebagai calon suaminya.


Dan dia terkejut bukan kepalang.


" ZEIN?! "


Begitupun Zein yang tak bisa menutupi rasa terkejutnya melihat siapa yang datang dan siapa wanita yang mau dijodohkan dengannya itu.


" Kamu? " Zein berbisik dengan raut wajah yang terkejut setengah mati.

__ADS_1


__ADS_2