Semua Karena Kamu

Semua Karena Kamu
Episode 55


__ADS_3

Mereka sampai disebuah kafe tempat dimana mereka pertama kali bertemu. jika kata kata sama sekali tidak mempan untuk meluluhkan hati wanita itu, maka beda cerita jika kenangan yang bertindak, bukan? Dan jika ini tak berhasil juga, Zein akan mendatangi semua tempat yang paling berkesan bagi dirinya dan Melisa.


Semua. Termasuk Hotel.


Melisa dengan terpaksa mengekori Zein yang sedang menggandeng tangannya. Pria itu memilih tempat duduk yang sama persis saat pertama kali ia datang ke tempat ini. Dia duduk lebih dulu sementara Zein memesan entah makanan atau minuman untuk mereka dan tak lama kemudian pria itu datang lalu segera duduk di kursi yang langsung berhadapan dengannya.


" Jelasin semua ke aku kenapa kamu tiba tiba berubah seperti ini. " kata Zein, tanpa basa basi.


Melisa bergeming. Dia bingung bagaimana cara menjelaskan pada Zein. Namun satu satunya yang ia inginkan saat ini adalah berpisah. Hanya itu yang membuat ia bebas dan tenang.


" Ini masih ada sangkut pautnya sama tante Desi, bukan? Dia ngomong apa lagi ke kamu? Aku sudah bilang jangan percaya. Hubungan kamu dan tante Desi memang dekat tapi bukan berarti bisa merusak hubungan kita begitu aja, Mel. Kita ya kita, Hubungan kita adalah milik kamu dan aku. Jang. terdistrak sama hal hal lain. " ujar Zein, frustasi.


Baru saja Melisa ingin berbicara, seorang pramusaji datang membawakan dua minuman kepada mereka.


" Mango float dua. Pesanannya sudah lengkap semua ya. Terima kasih. " kata pelayan itu lalu pergi.


Melisa menatap minuman berwarna orange didepannya. Mengapa aku harus itu?


" Minum dulu. " Zein memindahkan salah satu gelas menjadi lebih dekat dengan Melisa.


" Aku mau jawab pertanyaan kamu. " Melisa tak mengindahkan ucapan Zein.


" Silahkan. "


" Semua orang pasti berubah. Apapun yang aku lakukan adalah demi diriku sendiri. Kamu tahu kalau egois adalah sifat alami manusia? Dan sekarang aku sedang melakukannya. Aku gak perduli sebanyak apa hal yang sudah kamu korbankan, rencana apa saja yang sudah kita susun bersama, dan berapa banyak waktu yang sudah kita luangkan .... Aku akan tetap mementingkan diriku sendiri. Aku akan memilih mana yang bisa lebih membuatku bahagia dan pilihan tersebut adalah ketika sudah gak bersama kamu. " kata Melisa.


Zein menatapnya intens tanpa mengalihkan sedikit pun.

__ADS_1


" Aku pernah merasa bahagia banget waktu sama kamu, tapi makin kesini aku sadar bahwa itu bukan bahagia melainkan awalan dari penyiksaan ku. Aku harap kamu mengerti. Aku sudah mengutarakan apa yang aku mau. " lanjut Melisa.


Pria itu memajukan tubuhnya. Dia melipat tangannya di atas meja dan masih tetap menatap Melisa.


" Lalu bagaimana dengan aku? " tanya Zein, pelan.


" Kalau kamu mau egois, Setidaknya bilang sama aku sejak awal supaya aku gak menaruh harapan lebih sama kamu. "


Melisa tanpa sadar mengepalkan jemarinya dibawah meja.


" Aku sudah menyerah sejak awal, tapi kamu menyakini dirimu sendiri kalau ini akan mudah. Kalau pikir pakai logika, yang kita lakukan sejak awal itu kesalahan besar. Kita itu gak ditakdirkan sebagai pasangan, kita yang teledor. Salah mengartikan situasinya. " ucap Melisa, emosional.


" Jadi kamu pikir kita adalah sebuah kesalahan? "


" Apalagi? Kita berdua ketemu untuk pekerjaan. Kamu pengacara dan aku klien kamu. Harusnya gak lebih. Harusnya kamu tahu batasanmu sampai mana, Ze. " seru Melisa.


Sebentar lagi ....


" Memang apa yang kamu tahu dari aku selain wanita yang hidupnya biasa biasa aja, terkesan datar dan banyak masalah? Pokoknya mauku gak berubah. Aku mau kita putus, Ze. " hampir tercekat Melisa mengatakan kalimat terakhirnya.


" Kenapa? Kenapa disaat situasinya lagi sulit, kamu malah pergi, Mel?! " Zein juga ingin dimengerti. Pria itu tak selalu bisa menerima apapun dengan mental bajanya, kadang kala ia juga ingin diperlakukan sama dengan wanita.


Melisa diam.


" Kita disini bukan buat main main. Aku jalin hubungan sama kamu bukan sekedar buat senang senang. Kamu mau putus karena apa? Karena kamu tertekan dengan tante Desi atau persahabatan kamu sama Siti? Bilang, dan aku akan selesaikan sendiri. Aku gak bisa meninggalkan kamu. " ucap Zein.


" Bukan karena tante Desi dan Siti. Tapi karena aku .... Aku jenuh sama kamu. Bukan hubungan seperti ini yang mau aku jalani. Dari awal .... Kamu tau kita itu berbeda. Lingkungan, gaya hidup, karakter kita itu sangat amat beda. Kadang aku merasa gak nyaman ngobrol sama kamu, aku merasa kita gak satu frekuensi dan itu buat aku capek terus lama lama bosan. Jadi tolong, tinggalin aku karena kamu gak akan bisa bahagia denganku. " ucap Melisa, setengah mati ia berharap Zein mempercayainya atau bahkan lebih bagus jika pria itu membencinya.

__ADS_1


Dari semua alasan yang ia duga selama ini, mengapa harus .... jenuh??


" Kamu tahu hati gak bisa dipaksakan. Semakin aku mencoba menerima hubungan kita, semakin aku kehilangan diriku sendiri. " tambah Melisa.


" Ini semua karena pria tadi, kan? " Dan yang bisa Zein lakukan adalah menyangkal semua alasan Melisa.


" Jangan bawa bawa orang lain. Aku sama dia cuma teman. " jawab Melisa.


" Bohong. Kamu pasti lebih memilih putus dari aku karena sudah ada dia. Dia janjikan apa ke kamu? Biar aku yang ngomong sama dia kamu itu milikku, Mel! "


" Ze! Berapa kali aku bilang kalau Andi gak ada sangkut pautnya dengan alasanku. Ini pure dari perasaanku sendiri. " tegas Melisa.


Zein mengusap kasar wajahnya dengan kedua tangannya. " Aku cinta sama kamu. "


" Aku gak yakin selama kita berhubungan ada cinta atau gak antara aku ke kamu. Kehadiran kamu memang bikin hidupku serasa jungkir balik tapi aku sadar sekarang kalau itu sama sekali gak buat aku jatuh cinta sama kamu. Harusnya kita gak sampai berkomitmen. Friend with benefit mungkin jauh lebih baik. " Melisa juga sama frustasinya namun dia tak mungkin menunjukkan pada Zein.


" Jangan bikin bikin alasan yang sama sekali gak ada. Sayangnya, aku terlanjur jatuh cinta sama kamu dan untuk meninggalkan kamu begitu aja .... maaf, aku punya perasaan. " intonasi suara Zein menurun bersamaan dirinya yang sudah putus asa.


Melisa memegang kedua tangan Zein, menatap pria itu sebisa mungkin. " Jalani hidup kamu seperti sebelum mengenal aku. Masih banyak wanita yang pantas dapat cinta dari kamu. Lepasin aku dan kita akan menemukan kebahagiaan masing masing. "


" Aku gak bisa, Mel. " ucap Zein, nyaris berbisik.


" Kamu harus bisa. Aku pulang, ya. " Melisa melepaskan tangannya dari Zein, dia hendak pergi namun ditahan Zein.


" Jangan kayak gini, Mel. Aku beneran gak bisa. " Zein berdiri dan menahan Melisa dengan kedua tangannya di bahu gadis itu.


Sebentar lagi, tahan .... tahan.

__ADS_1


" Kalau ini bisa buat kamu merasa berpisah adalah pilihan yang terbaik, aku bakal jujur ke kamu. " Melisa mengunci tatapan Zein.


Pria itu menunggu. Berharap.


__ADS_2