Semua Karena Kamu

Semua Karena Kamu
Episode 24


__ADS_3

Siti curiga sebenarnya ala yang dikejar Mamanya selama ini. Sebegitu inginkah dia melihat Siti menikah, walaupun dengan orang yang salah???


Entahlah Dia masih bingung. Pernikahan kakaknya masih terbayang. Dia tak sanggup jika harus bernasib sama dengan Sean. Ponselnya bergetar memecah lamunan Siti sedari tadi. Dan itu pesan masuk dari Glenn.


" Lo benaran gak apa apa? "


" Iya. "


" Kalau lo gak bisa cerita sama Melisa, Lo bisa cerita sama gue. "


" Lo gak akan paham. "


" Karena lo gak mau cerita. Gimana gue bisa paham? "


Siti terlalu takut untuk cerita. Dia takut Glenn gak akan mengerti dan berujung menghakimi dirinya.


" Rumit. Gue aja gak tau gimana menyelesaikannya. "


" Emang sejak kapan lo bisa nyelesaiin masalah sendiri? "


" Sial!!! "


" ??? "


" Udah, gue mau tidur. Bye!! "


" Kafe gue terbuka kapan pun buat lo. "


Siti hanya membaca pesan terakhir dari Glenn, Dia tak berniat membalas. Setidaknya jika memang benar sudah tak tahan akan semua ini, masih ada Glenn yang benar benar mengerti dirinya. Walau tak bisa 100 persen dia pastikan.


Kalau ada yang bisa menggantikan posisi Zein, akankah ibunya menerimanya??


" Ck! Apaan sih pikiran gue? Kok malah kebayang muka si Onta! " desisnya pada diri sendiri.


Siti mengangkat ponselnya yang bergetar dan nama Melisa yang muncul di sana.


" Udah tidur belum? " isi pesan dari Melisa.


" Nape? "


" Besok gue main ke rumah lo ya. Bete gue di rumah. Om Irwan ada acara reuni, terus Zein ada acara gitu sama teman kantornya di bandung. "


" Lo gak ikut? "


" Gak lah. Ganggu dia nanti. "


" Yaelah, gak mungkin lah. Yang ada cowok lo kegirangan. "


" Males. Mending main sama lo. Ajak Glenn juga kalau dia bisa. "


" Males karena gak bisa itu, yekan? "


" ???? "


Siti menutup ruang obrolan dengan Melisa sambil terbahak. Hobinya memang suka menggoda wanita itu. Dulu dia selalu berkata Melisa terlalu datar dan naif, sekarang ia harus melihat Melisa yang bertolak belakang. Melisa yang liar.

__ADS_1


Baiklah. Siti akan melupakan masalahnya dengan Mamanya sejenak. Besok dia akan bersenang senang dengan Melisa seharian. Sudah lama mereka tidak membuka sesi pillow talk. Terakhir mereka melakukan itu mungkin enam bulan yang lalu.


Siti kembali membuat ponselnya untuk mengirim pesan ke Glenn.


" Eh, Onta. Besok lu mau ikut gak ke rumah gue sama Melisa? "


Beberapa detik kemudian balasan dari Glenn masuk.


" Gak. Obrolan cewek gak ngerti. "


Siti mendengus membaca jawaban Glenn. Dia sebenarnya ingin bertanya mengapa sekarang pria itu jarang sekali mau diajak mai ke rumahnya. Padahal dulu hampir setiap minggu Glenn menjadi pengunjung tetap rumahnya.


Setiap pria itu galau.


Setiap pria itu putus cinta.


Setiap pria itu senang.


Setiap pria itu sedih.


Tapi Siti mencoba tak peduli. Untuk apa dia mengetahui alasannya. Toh, sekarang dia tak lagi terpaksa bangun karena tiba tiba Glenn datang dan bercerita soal pacar pacarnya. Dan itu sungguh membosankan. Sekaligus merindukan.


****


Siti membuka pagar rumahnya setelah Melisa mengirim pesan bahwa dia sudah sampai. Siti membiarkan mobil Melisa parkir dengan rapih di garasi milik keluarganya sebab tak ada mobil Sean ataupun Papanya.


" Miss, Me?? " Melisa membentangkan kedua tangannya setelah keluar dari mobil.


" Tau aja gue lagi kangen. " ujar Siti.


" Glenn gak kesini? " tanya Melisa.


Siti menggeleng. " Gak mau katanya. Sok gak ngerti obrolan cewek padahal kan di hidup dia emang cewek semua. "


Melisa tertawa. " Memang iya sih. "


Mereka meninggalkan garasi dan berjalan menuju kamar Siti.


" Sudah lama bangat gue gak main kesini. " kata Melisa. Dia langsung melompat ke ranjang Siti dan bergelung disana.


" Padahal dulu hampir tiap hari kesini. Dulu rumah gue udah kayak markas, bukan sih?? " kata Siti, terkekeh.


Melisa mengangguk. " Iya bangat!! Apalagi Glenn, tiap dia dicariin pacarnya kan selalu kabur kesini. " timpal Melisa.


" Bukan lagi, Mel. Rumah gue sudah seperti tempat sembuyiin buron tau gara gara si onta. " kata Siti berdecak.


Melisa tertawa. " Lagian dia juga sih, Baru pacaran sudah ngasih tau rumahnya dimana. Ya sudah pasti disamperin lah. "


" Namanya juga playboy cap badak. Tapi kalau diingat ingat, kenapa ya gue mau temanan sama dia? " ujar Siti.


Melisa semakin terbahak. " Iya juga ya. Kenapa kalau ke pria lain gue minder tapi waktu temanan sama dia biasa aja? "


Siti mengernyitkan dahi. " Jiwa playboy kayaknya sudah melekat di diri dia sejak lahir kayaknya. " gurau Siti.


Melisa tertawa lagi. Rupanya sudah lama mereka tak berbincang santai seperti sekarang. Sebuah rutinitas yang mereka jalani dulu, Kini menjadi sesuatu yang sangat langka bagi keduanya.

__ADS_1


" Eh, Lo belum mandi ya? " tanya Melisa, saat melihat Siti yang masih menggunakan piyama.


Siti hanya memamerkan deretan giginya dan mengangguk. " Kok, lo tau sih?? "


" Tahulah! Liat tuh lo masih pake baju tidur begitu, gimana ceritanya sudah mandi? Dasar jorok! " Melisa melempar boneka ke arah Siti.


Siti terkekeh. " Mandi di hari libur itu buang buang waktu doang, Mel. "


" Halah! Alasan! " Melisa menarik tangan Siti untuk masuk ke kamar mandi.


" Malas bangat, Mel. Sumpah! Nyentuh air aja gue ogah. " kata Siti.


" Mandi!! Anak perawan malas bangat. " Melisa menarik handuk yang tergantung di belakang pintu kamar Siti.


Akhirnya Siti mengalah dan berujung di kamar mandi. Melisa bernafas lega. Satu kebiasaan Siti dari dulu adalah malas mandi. Wanita itu selalu saja susah kalau disuruh mandi. Sudah seperti kucing kena air.


" Siti ..... Siti. " gumam Melisa, sambil geleng geleng kepala.


Dia kembali duduk di ranjang Siti dan membaca salah satu majalah favorit sahabatnya itu.


Tok .... Tok .... Tok ....


Melisa menoleh ke arah pintu.


" Iya?? " sahutnya.


Pintu itu terbuka kemudian Melisa tersenyum ketika melihat siapa yang datang dan mengetuk tadi.


" Tante Desi. " Melisa bangkit dan mencium punggung tangan Desi. Sudah jadi kebiasaannya sejak kenal dengan Siti.


" Kamu apa kabar? Sudah lama loh gak main kesini. " kata Desi.


" Iya, Tante. Aku sibuk sama kantor Papa sekarang. " jawab Melisa.


" Ah, ya, Melisa. Tante turut berduka cita dan maaf tante gak bisa hadir di pemakaman papa kamu karena waktu itu tante lagi di Lombok nemenin si Om. " ujar Desi, prihatin.


Melisa tersenyum " Gak apa apa tante, semua sudah berlalu. "


Desi memegang kedua bahu Melisa. " Kalau kamu rindu sosok Papa dan Mama kamu, Kamu bisa kesini kapan aja. Kamu tau dong, kalau Om dan Tante itu sayang sama kamu sudah seperti anak sendiri. "


Melisa sangat tersentuh mendengar ucapan Desi. Dia memeluk wanita paruh baya itu. Terkadang Melisa merasa sedang memeluk ibunya sendiri, sebab dari dulu Desi memang selalu baik padanya.


Melisa ingat setiap Desi membeli aksesoris perempuan buat Siti, wanita itu tidak pernah melupakan dirinya. Desi akan membeli dua yang nantinya akan diberikan pada Melisa satu. Bahkan saat malam kelulusan SMA, Desi juga yang memilihkan gaun dan merias wajahnya.


" Terima kasih banyak, Tante. " kata Melisa. Suaranya serak menahan tangis dan ia berhasil membuat air matanya tak keluar.


" Sama sama. Sekarang kamu tinggal sendiri? " tanya Desi. Sekarang mereka sudah duduk di ranjang Siti.


" Gak, Tan. Aku tinggal sama Om Erwin, Sepupunya Papa. "


Desi mengangguk. " Melisa, Kamu itu sama Siti dan Glenn sudah sahabatan berapa lama ya? " tanya Desi.


Melisa berpikir sebentar. Sudah lama sekali mereka kenal. " Kurang lebih delapan tahun, mulai dari jaman SMA, kenapa Tan? "


Desi terlihat ragu ingin mengatakan sesuatu.

__ADS_1


" Hhmm .... "


__ADS_2