
Hidup terkadang begitu menarik ketika bahagia datang. Namun kadang kala kita juga lupa bahwa ketika bahagia surut maka tibalah saatnya sedih yang datang. Mereka akan datang bergiliran, mengisi ruang ruang kekosongan pada hidup manusia. Tanpa mereka, hidup manusia akan monoton tanpa gelombang yang menarik untuk diceritakan, diresapi dan di pelajari. Tanpa mereka, Manusia tak akan paham apa arti berjuang dan bersyukur.
Pernah Melisa berpikir tentang hidupnya yang begitu monoton atau bahkan kelewat sial. Saat remaja dia pernah berpikir mengapa hidupnya tak seperti para teman sebayanya. Ketika menjajakan kaki di dunia sekolah menengah akhir, dia nyaris mendapat label katro apabila tak bertemu dengan Siti dan Glenn yang pada saat itu termasuk siswa gaul.
Kemudian sekian tahun setelahnya ia mendapat kesialan beruntun sehabis dijejalkan kebahagiaan. Kehilangan satu satunya malaikat dalam hidupnya, sang ayah dan pria yang memutarbalikkan hidupnya serta yang membawanya bangkit dari keterpurukan, sang Pengacara.
" Meli? Kok melamun? "
Melisa mengerjap ketika mendengar suara lembut itu. Dia memfokuskan kembali pikirannya yang sempat berkelana sesaat.
" Maaf, Tante. "
Desi tersenyum kemudian meraih tangan Melisa di pangkuan gadis itu.
" Tante harap kamu mengerti. " kata Desi, nyaris berbisik.
Melisa melihat tatapan penuh harap dari bola mata coklat milik wanita paruh baya di hadapannya. Sungguh sepenuh hati dia ingin berteriak berlawanan dengan apa yang akan ia katakan berikutnya.
" Iya, Tante. Melisa mengerti kok. Lagipula pilihan orang tua pasti yang terbaik buat anaknya. Terima kasih karena tante Desi sudah mau jujur ke Melisa terkait masalah ini. " ujar Melisa, sambil tersenyum.
" Tante cuma gak pengen terkesan berkhianat dengan kamu. Seandainya Zein bukan anak teman Om Darwin, Mungkin hati tante juga gak akan seberat ini. Kalau aja perjodohan ini bukan wasiat dari almarhum ayahnya Zein, mungkin juga Tante bisa batalkan semua. " ucap Desi, dengan raut wajah sedih.
Melisa mengusap salah satu lengan Desi dan tersenyum penuh pengertian.
" Iya, Melisa mengerti. Tante gak usah banyak pikiran lagi ya tentang ini, Nanti tante sakit lagi. Pokoknya Tante gak usah khawatir, Melisa akan usahakan supaya semua berjalan lancar. " kata Melisa.
Desi mengangguk. " Terima kasih ya, Nak. "
Tapi tetap ia tidak bisa elakkan juga bahwa ada secuil bagian dari hatinya memikirkan perasaan dan kondisi Desi. Sebagai seorang gadis yang tumbuh dalam keadaan kekurangan kasih sayang seorang ibu, Melisa berusaha paham apa yang Desi inginkan. Mungkin jika ibunya masih ada, beliau juga akan mengusahakan yang terbaik untuk dirinya.
Tak lama kemudian terdengar suara pintu utama di ketuk dan Melisa menawarkan diri untuk membukakan siapa yang bertamu. Dan ia sedikit menyesal ketika melihat siapa yang berdiri di hadapannya saat ini.
" Mel, sedang apa kaku disini? " tanya pria berkemeja abu abu muda itu tanpa menyembunyikan raut wajah terkejutnya.
__ADS_1
" Kamu juga ngapain kesini? " tanya Melisa balik setelah diam beberapa detik.
" I-itu M-mamaku---- "
Belum selesai sang pria itu menuntaskan bicaranya, Melisa sudah tertawa duluan.
" Kenapa aku harus tanya ya? Ini kan rumah calon mertua kamu. " kata Melisa.
Raut wajah Zein seketika berubah. Dia tidak suka Melisa menyebutkan fakta tersebut dengan begitu ringan.
" Melisa, " tegur Zein.
" Ya? " Melisa melihat raut wajah Zein namun ia berpura pura tidak tahu.
" Jangan pernah ngomong kayak tadi lagi. " kata Zein.
Melisa mengerutkan dahinya. " Kenapa? Lagi pula itu fakta. "
" Fakta kalau rumah ini adalah rumah Tante Desi. Rumah calon mertua kamu, Zein. "
Zein berdecak. " Kamu habis ngapain sih? "
" Jadi kamu ada keperluan apa datang? Mau ketemu langsung sama tante Desi? " Alih alih menjawab, Melisa malah kembali mempertanyakan maksud kedatangan pria itu.
Kini dahi Zein yang berkerut. Sebenarnya Melisa kenapa? Dari awal ia berbicara seperti orang linglung.
" Kamu itu kenapa, Mel? Bukannya kemarin kita sudah sepakat untuk mempertahankan hubungan kita? "
" Ze, jangan bicara seolah hubungan kita sudah ada di tahap yang benar benar tinggi. Kita itu masih pacaran yang berarti banyak kemungkinan yang bisa buat kita putus. Kamu jangan mendewakan hubungan ini banget. " ujar Melisa dengan santai walau dadanya bergemuruh berujar sebaliknya.
Zein nyaris menganga mendengar ucapan Melisa. Dia lalu tertawa kecil. Seperti disengaja.
" Mendewakan hubungan kita? Jelas aku melakukan itu karena pengen serius sama kamu. Aku gak akan mengemis minta dibatalkan perjodohan ini dan mempertemukan kamu dengan mama kalau aku gak serius sama kamu, Melisa. "
__ADS_1
Zein tersinggung dan kesal. Terlihat dari sorot matanya yang memendam kekesalan pada lawan bicaranya saat ini.
Sedangkan Melisa terdiam. Hatinya seperti di lecut cambuk kasar.
" Aku cuma gak mau banyak berharap dengan sesuatu yang gak pasti. Aku cuma mengantisipasi kamu kalau memang rasa serius bukanlah hal yang tepat kamu lakukan sama aku. " kata Melisa. Sekuat hati ia menahan agar topengnya tetap melekat.
Zein ingin menjawab namun hatinya berkata lain. Jika ia meneruskan perdebatan bodoh ini maka akhirnya tidak akan baik mengingat tingkah Melisa yang sangat tidak biasa. Melisa yang ia kenal adalah wanita yang lemah lembut bukan ketus seperti saat ini.
Zein mengusap wajahnya dengan salah satu tangannya kemudian menghembuskan nafas perlahan untuk mereda emosi.
" Aku maklumi sikap kamu barusan karena aku gak paham setan apa yang mempengaruhi kamu saat ini. Tapi nanti kita bicarakan lagi. " kata Zein.
Melisa masih bergeming ditempat. Dia berusaha tidak bertemu tatap langsung dengan pria itu sebab kalau ia lakukan maka Zein pasti langsung tahu jika ia sedang berbohong walau pria itu tidak tahu apa alasannya.
" Eh, ada Zein. Tumben datang, mama kemana? " tak lama setelahnya Desi bergabung ketika merasa Melisa terlalu lama meninggalkannya.
Zein mengubah raut wajahnya dalam waktu singkat. Ia langsung tersenyum sopan ketika melihat Desi hadir.
" Mama gak ikut. Saya habis dari kantor mau antar titipan mama buat tante. " kata Zein, sambil menyodorkan sebuah paper bag putih yang berisikan makanan khas masakan ibunya.
Desi menerima dengan senang hati. " Wah, terima kasih banyak. Ayo masuk dulu, Ze. "
Zein menggeleng pelan. " Terima kasih tante. Tapi saya harus balik ke kantor lagi. "
Desi sedikit kecewa mendengar jawaban Zein tetapi ia tak memaksa.
" Ya sudah, hati hati ya. "
Pria itu mengangguk dan tersenyum. Setelah itu tatapannya bergantian tertuju pada Melisa.
" Aku balik dulu. " kata Zein.
Melisa hanya mengangguk tanpa berkata sepatah kata apapun. Dia membiarkan pria itu berlalu dengan mobil hitam miliknya. Melisa bernafas lega ketika tahu Zein tak sepenuhnya menganggap serius perkataannya tadi namun ada satu sisi yang membuatnya kecewa karena berarti usahanya gagal.
__ADS_1