Semua Karena Kamu

Semua Karena Kamu
Episode 62


__ADS_3

Dua tahun lalu


Zein sudah lama terdiam di meja kerjanya sembari memandang sebuah foto kecil yang ia tempel pada papan kalender. Foto bersama Melisa yang mereka ambil di mobil saat hujan deras. Kala itu hujan cukup lama dan Zein paling gak suka menyetir saat hujan deras. Jadilah mereka berfoto.


Dua bulan tak bertemu Melisa adalah penyiksaan. Dia ingin sekali terus terusan ingin menegaskan bahwa ia cinta tapi percuma gadis itu tak akan menghiraukan. Dia benar benar egois dengan cara lain.


Zein terus berpikir dengan cara apa agar perasaannya terus tersampaikan. Matanya terlihat sebuah memo berukuran A5, dia merobek sehelai kertas dan siap untuk menulis perasaannya di sana.


Tak peduli cara ini terkesan kuno dan picisan penting ia ingin Melisa tahu betapa ia mencintai gadis itu lebih dari apapun itu.


Zein mengambil sebuah pen warna hitam dan mulai menulis.


Untuk Melisa si monster Milkshake.


Kalau aku selalu bilang i love you itu fakta.


Mau kuulangi seratus kali pun artinya tetap sama hingga kapan pun. Rasanya pasti cheesy dapat pernyataan cinta yang sama dan berulang ulang dari pria yang usianya udah lewat remaja. Tapi aku gak pernah bosan menegaskan bahwa aku cinta kamu dan hanya itu satu satunya supaya kamu tahu perasaanku.


Ada satu cita cita yang baru aku inginkan sejak papaku meninggal yaitu menikah dan jadi seorang ayah. Aku berjanji akan menjadi suami dan ayah yang baik, setia, penyayang, pengertian, gak pelit, gak galak, aku ingin bahagia bersama istri dan anakku. Aku punya figur menjadi suami yang baik lewat papa tapi sebagai seorang ayah, aku masih merasa kurang hingga akhirnya kutemukan satu yang membuatku bersumpah akan menjadi seperi beliau.


Dia adalah papamu. sewaktu kita datang ke makam, aku berjanji akan menjaga, menyayangi, menghormati dan mengabdi seumur hidup sebagai suami pada putrinya.


Aku hanya akan menjadi suami yang baik jika menikah dengan kamu.


Ak hanya akan menjadi ayah yang baik jika kamu adalah ibu dari anakku.


Selamanya dan prinsip itu tidak akan pernah berubah.


Sampai saat ini aku hanya ingin mengucap sumpah dan janji pernikahan, naik ke pelaminan hingga melempar bungan hanya dengan kamu.


I love you, Melisa Septian

__ADS_1


Best Regards,


Yours.


Tanpa dia sadari sebutir air mata turun dari pelupuk matanya. Dia beranjak meninggalkan klub dan masuk ke mobil. Terisak di sana hingga hatinya sedikit lega. Merutuki kebodohan yang sudah lama terjadi, Berharap akan ada lagi kesempatan untuk dia tepati janji pada almarhum Andre. Zein menahan kepalanya di stir mobil, dia memang bodoh dan lemah.


Persetan dengan fakta tersebut tapi itu lah memang kenyataannya.


*****


Sementara itu jauh dari ibukota, ada seorang gadis yang menangis tersedu sedu di dalam kamarnya sembari memegang kertas yang beberapa tulisannya mulai luntur akibat tetesan air matanya sendiri.


Dia terisak, menahan untuk tidak meraung. Ia harus berterima kasih kepada Andi yang menyadarkan betapa pentingnya membahagiakan diri sendiri. Inilah akibat dari tindakan influsifnya.


Dia tak dapat lagi berbohong. Hatinya terlalu kuat untuk berontak sekarang.


" Aku ..... kangen kamu. "


Malam itu ia habiskan untuk menangis.


****


Melisa memarkirkan mobil tepat di depan kafe. Akhir pekan selalu ramai pengunjung, Melisa melihat Leo sedang berkuat di balik coffee maker menggantikan Glenn yang sedang survei biji kopi. Melisa tak begitu tahu menahu soal itu, biarlah menjadi urusan Glenn.


" Mbak Melisa, sudah ditunggu sama orang yang mau bekerja sama. " kata Reni, begitu Melisa masuk.


" Tunggu, dimana orangnya? " tanya Melisa.


" Di lantai dua. Tadi sudah saya suruh orangnya untuk menunggu di ruangan Mbak Melisa, tapi gak mau. " ujar Reni.


" Kamu minta dia nunggu di ruangan saya aja deh. Ada berapa orang? " Melisa meletakkan tasnya di meja bar lalu mengambil minum di cooler box.

__ADS_1


" Satu orang, Mbak. Tadi sempat datang berdua, tapi yang satunya keburu pulang. " jelas Reni.


Melisa melihat jam tangannya, baru jam 11 siang. Tidak mungkin dia telat hingga ditinggal investor itu.


" Yasudah, kamu minta dia nunggu di ruangan saya aja. Saya mau siap siap dulu. " katanya pada Reni.


Pelayan itu segera mengangguk dan menuju lantai dua sesuai perintah dari Melisa sementara gadis itu mulai mengeluarkan ipad dan menyusun materi apa saja yang akan dijelaskan nanti kepada investor tersebut.


Setelah merasa semua sudah siap dan pas, Dia melangkah meninggalkan lantai satu dan menuju ruangannya di lantai dua.


Kafe mereka terdiri dari 3 lantai. Dua lantai beroperasi sebagai kafe dan yang paling atas untuk gudang. Tadinya Andi ingin membangun ruang meeting di lantai tiga tapi Melisa dan Glenn sepakat menolak. Mereka beralasan akan cepat lelah.


" Aldrich Sutedja dan Mario Saputra. " gumam Melisa, menyebutkan dua nama investor tersebut dan menerka siapa yang tetap tinggal.


" Kira kira siapa yang pergi duluan ya? "


Melisa mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk dan melihat seorang pria sedang berdiri menghadap jendela. Melisa hanya bisa melihat punggungnya yang memakai kemeja biru navy serta celana bahan warna hitam berserta sepatu pantofel di kakinya. Meski pakaiannya formal namun pria itu memilih untuk mengeluarkan kemejanya sehingga terkesan santai.


" Maaf, Ini dengan Bapak Aldrich atau Bapak Mario? " tanya Melisa, sopan.


Pria itu berbalik, masih dengan kedua tangan tersimpan di saku celananya dan tatapan mereka dan langsung bertemu.


" Ini Zein Wirawan. "


Senyum Melisa pudar, matanya terbuka lebih lebar demi sekedar memastikan ucapan pria itu. Melisa melihat dirinya lekat lekat dan memang benar.


" Sebagai perwakilan dari Bapak Aldrich. " lanjut pria itu, lalu memberikan senyuman.


Ah! Jangan sampai aku merusak pekerjaanku hanya karena bertemu mantan. Lagipula aku harusnya tahu lebih cepat atau lambat kami akan bertemu juga entah sengaja atau tidak. Hanya lari ke jogja tak membuat nol kemungkinan dia dan Zein bisa bertemu kembali.


Baiklah. Tak apa. Ini hanya sebatas pekerjaan. Tidak lebih.

__ADS_1


" Silahkan duduk. " Melisa mempersilahkan dia duduk di sofa yang panjang.


Zein duduk di sana lalu memberikan gadis itu sebuah map berisi beberapa kertas. Bahkan gadis itu belum sempat berbasa basi dan menuturkan kerja sama dengan mereka.


__ADS_2