Semua Karena Kamu

Semua Karena Kamu
Episode 34


__ADS_3

Usai pertemuan mendebarkan tadi, Melisa menghela nafas lega karena semua ketakutannya tidak terjadi sama sekali. Dwita jauh dari ekspektasinya. Wanita itu sangat baik dan ramah walau memang terkesan harus berhati hati ketika berbicara dengannya.


Senyuman belum surut hingga ia membentangkan tubuhnya di ranjang. Melisa membuka ponselnya dan menemukan sebuah pesan dari Zein.


" Gimana mamaku? "


Tak menunggu lama, Melisa langsung membalas pesan itu.


" Nice. Jadi ingat almarhum Mamaku. "


" Baguslah. Mama juga senang ketemu kamu."


" Apa rencana kamu selanjutnya? "


" Dekatin kamu sama mama. Emang apa lagi?"


" Aku percaya sama kamu. "


" ???? Mandi sana, pasti belum mandi kan? "


" Kamu juga pasti belum mandi. "


" Gak mandi pun aku tetap wangi kan? "


" Pede bangat!! Ya udah, aku mau mandi. Bye!"


" Pakai sabun mandinya. "


Melisa hanya membaca pesan terakhir dari Zein itu. Dia menghapus riasan wajahnya kemudian lanjut membersihkan diri. Hatinya senang bukan kepalang. Senyum yang Dwita berikan bagaikan harapan untuknya dan Zein.


Walaupun semua belum bisa dipastikan, setidaknya citranya di depan Dwita tidak buruk buruk amat. Setidaknya Dwita tahu siapa wanita yang sudah mengisi hati putranya itu. Setidaknya Dwita bisa mempertimbangkan siapa yang akan menjadi menantunya.


Usai menghabiskan waktu 20 menitan mandi, Melisa keluar kamar dan menemani Pamannya menonton TV. Efek dari hatinya yang sedang berbunga bunga adalah ia tak bisa tidur.


" Tumben kamu belum tidur? " tanya Om Irwan.


" Belum ngantuk, ya udah sekalian nemenin Om nonton. " jawab Melisa.


" Ada maunya pasti nih. " kata Om Irwan, dengan tatapan menyelidik.


" Ck, Nggaklah. Om tau gak tadi Melisa ketemu siapa? " Melisa mengubah posisi duduknya menghadap pamannya.


" Mantan. " jawab Irwan, ngasal.


" Apaan sih, Om! " Melisa melempar bantal sofa dan langsung ditangkap Om Irwan yang tertawa.

__ADS_1


" Terus siapa? "


" Meli habis ketemu sama mamanya Zein. " kata Melisa, setengah berbisik.


Mulut pamannya membulat. " Waow! Ngapain aja kalian? " tanyanya penasaran.


Melisa tersenyum malu. " Ngobrol ngobrol biasa aja sih. "


Om Irwan dapat merasakan aura kebahagiaan Melisa. Senyum gadis itu terpancar indah. Dia sangat senang melihat Melisa bahagia, itu berarti dia merasa sudah menepati janjinya dengan Andre.


Om Irwan mengusap kepala Melisa.


'' Gak terasa kamu sudah sebesar ini. Om tinggal tunggu keluarganya Zein datang buat malamar kamu. "


" Om! " Melisa menyembunyikan wajahnya di balik bantal sofa yang ia angkat hingga menutupi wajahnya. Dia sangat tersipu.


" Kamu cinta bangat sama Zein? " tanya Om Irwan.


Melisa mengangguk.


" Awas aja kalau sampai dia menyakiti kamu. Om yang akan turun tangan. " kata Om Irwan.


" Turun tangan buat apa Om? "


" Buat nampol dia. "


********


Dwita meletakkan ponselnya di atas meja makan setelah berbicara kurang lebih setengah jam dengan Desi. Mereka membahas mengenai acara pertunangan yang di adakan dua bulan dari sekarang.


Awalnya Dwita begitu antusias membahas hal itu, Namun ketika ia mengakhiri percakapan tersebut, tiba tiba dia teringat obrolannya dengan Zein semalam.


Akhir akhir ini hubungannya dengan Zein sangat baik. Jika dulu dia hanya menjadi penonton diantara kedekatan Zein dan Ayahnya, kini dia bisa menempati posisi suaminya. Dia sekarang mengerti mengapa dirinya selalu saja bertentangan dengan Zein dahulu ialah karena dia yang tak pernah bertanya apa alasan Zein.


Dia juga sangat terharu setiap Zein memberinya perhatian yang dulu hampir tak pernah di lakukan putranya.


Seperti kemarin saat Zein memergoki dirinya tengah mengobati luka di punggung tangannya akibat tak sengaja ketumpahan air panas ketika ingin mengisi termos.


" Mama ngapain? " tanya Zein yang menutup pintu kamarnya dan menghampiri Dwita di dapur.


" Ngak. Ini mama lagi --- "


" Loh! Tangan mama kenapa? " belum selesai Dwita menjawab, Zein sudah lebih duku melihat luka ditangannya dan kotak obat di meja.


" Kena air panas tadi waktu isi air panas ke termos. Gak apa apa, kok. "

__ADS_1


Zein memegang tangan ibunya lalu meniupnya secara berulang hingga obat yang dioleskan disekitar luka kering.


" Diperban aja, Ma. biar gak kena kotoran, takut infeksi. " kata Zein.


Dwita termangu melihat raut khawatir di wajah anaknya. Hampir saja ia berkaca kaca kalau Zein tak bersuara lagi.


" Saya ambil perban dulu di kamar, sebentar ya, Ma. " ujar Zein.


Dwita mengangguk dan buru buru menyeka air matanya. 29 tahun dia sudah menjadi seorang ibu tetapi baru sekarang ia merasakan haru setelah melahirkan putranya.


Terdengar suara pintu di tutup dan kemudian Zein datang membawa perban.


" Besok besok mama gak usah lagi isi termos malam malam gini. Kan bisa masak air paginya. " kata Zein. Dia membalut luka punggung tangan ibunya dengan kain kassa.


" Mama takut gak keburu masak air. Kamu itu kan kalau sudah keluar kamar langsung buru burj pergi. Jadi mama takut gak sempat buatin kamu kopi. " kata Dwita.


Zein menatap ibunya setelah selesai melakukan tugasnya. Dia menggenggam kedua tangan ibunya.


" Yasudah. Mulai besok saya akan tunggu selama apapun biar bisa minum kopi buatan mama. Jadi janji sama saya, Mama jangan main main ke dapur lagi ya kalau sudah malam." ucap Zein.


" Kok main main? Memangnya mama anak kecil? " Dwita merajuk.


Zein tertawa kecil. " Ya sudah sekarang mama tidur."


Namun yang Dwita lakukan masih bergeming, memandang putranya.


" Kamu mirip papa. " kata Dwita, nyaris berbisik.


Zein tersenyum tipis. " Kan saya anaknya. "


Kedua sudut bibir Dwita terangkat. " Mama boleh peluk kamu, gak? "


Zein melepaskan tangan ibunya lalu tanpa menjawab pertanyaan Dwita, dia langsung merengkuh ibunya ke dalam pelukannya.


Zein akui saat pertama kali kedatangan Dwita di apartemen dulu sedikit membuatnya terganggu, karena dia merasa tak memiliki hubungan yang dekat dengan ibunya. Tetapi waktu terus berjalan dan membuktikan bahwa sejauh apapun hubungannya dengan Dwita, tak ada yang mampu menentang hubungan darah diantaranya.


Zein merasakan perubahan yang banyak ketika Dwita datang ke Apartemennya. Dia jadi tak heran lagi ketika Bagas bercerita mengenai omelan dan celoteh ibu pria itu karena sekarang dia juga tinggal bersama ibunya dan juga mengalaminya.


Zein membelai rambut Dwita yang mulai memutih, kemudian berbisik. " I love you, Ma."


Dwita mengeratkan pelukannya. Kini dia tahu harus kemana ketika merindukan suaminya.


Dwita mengambil ponselnya lagi dan memberi tahu Zein untuk pulang lebih awal karena akan berkunjung ke rumah Siti.


******

__ADS_1


Padahal kemarin kemarin Zein sudah berekspektasi tinggi Dwita akan merestui hubungannya dengan Melisa dan membatalkan perjodohan ini. Tetapi rasanya harapan yang ia gantung dan yang begitu ia harapkan seolah putus saat ibunya berkata malam ini akan berkunjung ke rumah Siti.


__ADS_2