
Pria itu menunggu. Berharap.
" Aku jatuh cinta sama orang lain. "
Dan terjatuh.
******
Dua bulan kemudian.
Suasana kediaman sahabatnya sudah dipenuhi orang sejak beberapa jam lalu. Kini tiba saatnya acara yang dinantikan dimulai. Para tamu mulai duduk di kursi masing masing dan mendengarkan sambutan dari keluarga pria dengan khidmat. Dia tersenyum saat mata gadis si pemilik acara melihatnya.
Sambutan selesai dan bergantian dengan acara penukaran cincin yang mana menjadi puncak dari acara tersebut. Si pembawa acara memberikan mikrofon pada pihak pria untuk menuturkan maksud dan tujuan kedatangannya lalu bergantian pada pihak wanita untuk memberikan jawaban.
" Saya Andrena Siti Darwin .... " lagi, gadis itu menatap dirinya dengan sendu. Dia hanya tersenyum. " ..... Menerima lamaran dari Zein Wirawan. "
Suara gadis itu bergetar dan tak lama bulir airmata jatuh di pipinya. Pria disampingnya itu tampak biasa biasa saja. Dia memasangkan sebuah cincin berwarna silver ke jari emas gadis itu, begitu pula yang dilakukan gadis itu sebaliknya.
Para tamu berseru, menggoda pasangan yang sebentar lagi akan menginjakkan kaki di pelaminan. Mereka menghampiri pasangan itu untuk memberinya ucapan selamat dan doa, tak terkecuali dirinya.
" Selamat ya, Ti. Gue ikut bahagia. " Melisa tersenyum manis sembari mengusap pipi Siti yang basah.
" Maafin gue, Mel. "
Melisa menarik Siti ke dalam pelukannya. Entah bagaimana bisa wajahnya terlihat baik baik saja sekarang. Sejak meninggalkan kafe itu dua bulan lalu, Melisa bertekad untuk benar benar melepaskan apapun itu yang menyangkut tentang tunangan Siti.
" Maaf, si Glenn gak bisa datang. Katanya dia ada urusan penting. " kata Melisa, tak mengindahkan permintaan maaf Siti.
Hati gadis itu semakin sakit. Dia benar benar menghancurkan dua sahabatnya sekaligus.
" Jangan nangis lagi. "
Siti mengangguk. Dia menerima tissue dari Melisa dan segera menyeka airmata nya sebelum para tamu heboh melihat keadaannya. Melisa berjalan dua langkah ke depan, berniat untuk memberi selamat pada Zein namun seseorang sudah lebih dulu hadir sambil membawa satu buket bunga berukuran besar, Melisa menghampiri orang tersebut.
" Sorry, telat. Tadi macet bangat. Acaranya udah selesai? "
Melisa mengangguk. " Gak apa apa. Yang penting bunganya gak telat. Makasih ya, An. "
Pria itu tersenyum lalu memberikan bunga di tangannya pada Melisa. " Sama sama. "
Melisa kembali menghampiri Siti dan memberikan buket tersebut padanya. " Buket mawar kesukaan lo. "
__ADS_1
" Yaampun, Mel. ini gede bangat. Kapan lo bawanya? " tanya Siti.
Melisa menoleh ke arah Andi. " Nitip ke dia. "
Hati Siti mencelus. Dia berharap Andi bisa mengembalikan kebahagiaan Melisa.
" Thank you, Mel. " kata Siti, lirih.
" Eh, si cantik datang. Makasih ya sudah sempatkan hadir. " Desi datang dan memeluk Melisa.
" Sama sama, Tante. "
" Kamu datang sendirian? "
" Dia sama Andi, Ma. " Siti lebih dulu menjawab.
" Iya, tante. Kalau gitu Melisa ke sana dulu ya. " Dia melirik Siti dan melambai kepada Desi.
Andi sedang berdiri di sudut rumah Siti yang jauh dari keramaian. Melisa merasa tidak enak telah membawa Andi ke tempat asing bagi pria itu.
" Glenn, kenapa gak datang Mel? " tanya Andi.
" Masa iya karena cuma patah hati dia jadi merelakan gak datang ke acara sahabatnya sendiri? " kata Andi, bingung.
" Masalahnya, dia patah hati sama Siti. " Melisa mengecilkan volume suaranya.
Andi langsung mengerti. Mereka berdua menepi dari kerumunan dan membiarkan para kedua keluarga belah pihak mengerubungi Zein dan Siti. Pandangan Andi Mengitari rumah Siti yang cukup besar dan mewah lalu tanpa sengaja ia bertemu dengan mata Zein. Pria itu menatapnya tanpa ekspresi dan sedikit terlihat menyiratkan benci. Sama seperti terakhir Mereka bertemu dua bulan lalu.
" Kamu sudah kasih selamat ke Zein? " tanya Andi.
Melisa menggeleng. " Belum sempat. "
" Kelihatannya dia masih benci sama aku. " ujar Andi.
Wanita itu diam. Dia sama sekali tak ingin kontak mata dengan Zein.
" Kamu benar benar merasa sudah selesai sama dia? " tanya Andi, lagi.
" Hah? Sudah kok. "
Andi menggeleng pelan. " Belum, Mel. Kamu harus selesaikan hari ini juga. Demi kebaikan kamu dan dia. "
__ADS_1
Tidak mungkin. Dia sudah benar benar menyelesaikannya dengan Zein walaupun diakhiri tangisan semalaman tapi dia sudah yakin bahwa mereka telah selesai.
" Cinta memang gak ada bentuknya. Tapi akibatnya bisa sampai bikin gila. "
Andi melangkah meninggalkan Melisa menuju toilet. Di biarkan nya Melisa berpikir.
*****
" Melisa. "
Gadis itu menoleh ketika suara yang paling ia kenali memanggil namanya. Dia langsung memberikan senyuman pada pria itu. Melisa mengedarkan pandangan dan melihat para tamu sudah berkumpul di taman untuk foto bersama. Dia akan memanfaatkan keadaan sepi untuk benar benar menyelesaikan masalahnya dengan Zein.
Pria itu berbalik badan dan pergi menuju dapur, tempat yang paling sepi di rumah itu. Melisa segera menyusul saat memastikan tak ada orang yang melihat mereka.
" Selamat atas pertunangan kamu. " ucap Melisa, lebih dulu sambil mengulurkan tangannya.
Zein menerima uluran tangan tersebut. Dia menjabat erat tangan Melisa lalu menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Zein mendekap Melisa begitu erat, layaknya dua orang dekat yang lama tak berjumpa.
" Maaf. " bisik Zein. Dia tak tahu berkata apa lagi.
Melisa masih mematung. Dia tak menolak namun tak membalas pelukan Zein juga.
" Pernah jadi orang yang yang bisa kamu andalkan adalah bagian terbaik dalam hidupku. Kita itu bukan kesalahan, kita cuma salah memilih waktu dan kesempatan. Berjuang untuk kamu adalah pengalaman yang bisa aku lupakan. Setelah ini, aku akan lebih menghargai cinta, perasaan dan komitmen. Aku akan berjuang lebih keras lagi supaya gak kembali gagal. Aku bakal berusaha untuk terima ini semua dengan lapang dada dan dengan baik. Terima kasih atas semua yang sudah kamu berikan. " jelas Zein, suaranya nyaris berbisik, seperti sedang menahan sesuatu.
Perlahan Melisa mengusap punggung pria itu. Dia paling tidak suka menahan tangis dan sekarang mau tak mau harus ia lakukan.
" Syukurlah. Aku ikut bahagia hari ini. Doaku selalu yang terbaik untuk hubungan kamu dan Siti. " Melisa menarik diri dari dekapan Zein.
Mereka saling bertatap. Sama sama terlihat tegar.
" Aku harap kamu bisa jadi suami yang bertanggung jawab dan setia. Menjadi Ayah yang penyayang dan pengertian, jadi menantu yang berbakti. " gadis itu mengusap lengan mantan pacarnya sambil tersenyum.
" Aku akan jadi seperti yang kamu harapkan. " kata Zein.
" Good. Kalau gitu aku pulang dulu. " Melisa hendak pergi namun ditahan oleh Zein. Gadis itu memperlihatkan ekspresi bingung.
" Apa Andi adalah orang yang kamu maksud waktu itu? Yang buat kamu jatuh cinta? " tanya Zein.
Melisa sempat terdiam sesaat. Hubungannya dengan Andi memang semakin dekat sejak putus dari Zein. Tapi dia tak tahu menyebutkan apa, jadi ia berikan Zein senyuman sebagai jawaban.
" Ada lagi? " tanya Melisa.
__ADS_1