
" APAA? " sambar Zein dengan sangat ketus.
" Cieeee yang lagi minum sendirian. Mau ditemani gak, Bos? "
Tidak perlu dijelaskan siapa orang tersebut. Zein tak perlu susah bertanya mengapa orang itu bisa tahu dirinya berada di sini. Dia mengelilingi sekitar dan menemukan seorang pria tengah melempar seringai jail kepadanya.
Zein menekan tombol merah di layar ponselnya dan kembali meletakkannya di meja bar.
Satu.
Dua.
Tiga.
Jika dalam lima detik tidak ada yang berubah maka malam ini akan damai. Setidaknya itu yang Zein harapkan.
Empat.
Lima.
En--
" Gue temenin aja deh. Lo pasti butuh tumpangan kasur nih nanti. "
Zein berdecak dalam hati. " Kenapa sih hidup gue itu ketemunya lo lagi, lo lagi?! Heran deh gue! "
Bukannya tersinggung, Bagas malah terkekeh.
" Mungkin karena takdir. " jawab Bagas, ngasal.
" Jijik! "
Bagas tergelak.
__ADS_1
" Namanya wanita mah memang begitu, Bos. susah ditebak pikirannya. " cetus Bagas tiba tiba, padahal Zein belum cerita apa apa tapi pria itu sudah mengetahui isi kepalanya.
" Kok lo bisa tahu masalah gue? "
" Ck!, Yaelah, tadi ada teman gue katanya hamilin anak orang, eh ceweknya gak mau dinikahin. Bingung gue! Apa sih isi otak para wanita yang ada di dunia ini? " ujar Bagas, dramatis.
Zein terkekeh. Haruskah dia mengucapkan syukur karena masalahnya tidak seberat ini? Namun semua orang punya posi masing masing dalam masalah yang tengah dihadapinya. Jadi tetap saja baginya berat dan tidak mudah.
" Gue beneran gak paham dengan Melisa. " Zein memutuskan untuk memberi tahu Bagas.
Pria berusia 28 tahun itu mengangguk setuju. Dia pun mempersilahkan Zein untuk mengeluarkan unek uneknya hingga tak tersisa dengan begitu wine sedikit terlupakan karena fokusnya terbagi dengan bercerita.
Bagas tahu seorang Zein yang sering ia elu elukan sebagai senior terbaik sekalipun ada saatnya dimana pria itu lepas kontrol dan menggila dengan menenggak minuman keras tersebut.
Hangover terparah Zein adalah saat ia sedang ditipu seorang klien yang menyebabkan karirnya hampir hancur dua tahun lalu, bersamaan dengan menghilangnya para manusia yang sempat mengaku sebagai temannya dan pada akhirnya hanya Bagas dan Bobby yang setia menemani hingga karirnya bangkit kembali.
Bagas tak pernah melihat Zein sehancur itu. Kelak ketika pria itu membutuhkan dirinya, dia tidak akan keberatan sama sekali. Sadar diri tak pernah bisa memberi solusi, Bagas beralih menjadi pendengar dan teman yang baik. Dan itu berhasil.
" Gue tahu ini sulit bahkan rumit karena masalahnya ada di pihak lain. Penyesalan gue adalah sempat menerima perjodohan kampret itu, Gas. " ucap Zein, kesal.
" Gue rasa lo dan Melisa itu punya perasaan yang sama. Mulai dari cinta sampai khawatir sampai khawatir akan hubungan kalian. Dia ngomong gitu mungkin ada maksud, tapi gak tahu gimana cara jelasinnya ke lo. Tau kan kalau pikiran cewek itu rumit, Ze? Mereka terkadang gak mikir untuk saat ini saja. Pikiran mereka gak se simple kita. " kata Bagas.
Zein menopang kepalanya dengan lengan . Ia memijit pelipisnya yang semakin penat.
" Gue gak paham kenapa Melisa selabil ini. Kemarin bilang iya, sekarang bilang hal lain. Semua orang benar benar di luar ekspektasi gue, Mulai dari nyokap yang ternyata kasih restu, Which is good for us and other side? Dia malah seolah ragu sama gue. " Zein meneguk segelas wine lagi.
Bagas sedikit tahu mengenai Melisa melalui Zein. Sewaktu mereka PDKT ulang, Zein rajin bertanya bagaimana cara yabg tepat untuk mendekati gadis itu dan dari sanalah Bagas tahu tentang siapa Melisa.
" Sorry to say, Melisa adalah seorang yatim piatu. Menurut gue wajar dia begitu plin plan. Pegangan dari mana lagi selain diri dia sendiri? Nah, apa hubungannya? Hubungannya adalah Melisa juga gampang dipengaruhi. Saat dia mulai terpengaruh sam lo, jelas dia akan mengikuti apapun itu bersama lo tapi kalau dia terpengaruh dengan orang lain sampai buay dia percaya .... " You know what i mean. Melisa memang labil. " tutur Bagas.
Perkataan pria itu membuka pikiran Zein. Sudah banyak rentetan kejadian yang memang membuktikan kelabilan wanita itu benar adanya. Melisa memang sudah dipengaruhi apalagi jika pelakunya merupakan perayu ulung sehingga membuat dirinya percaya.
" ****?! Tante Desi. " umpat Zein.
__ADS_1
" You say what? Tante Desi? " Bagas nyaris tersedak mendapati Zein yang mengumpat sambil meletakkan gelas dengan kasar.
" Nyokapnya Siti. Gue lupa Melisa dan dia sudah sahabatan sejak lama dan gak mungkin Tante Desi gak dekat sama Melisa. Dari tadi gue berusaha buat cari apa akar masalah ini dan ternyata itu penyebabnya. " jawab Zein.
Bagas hanya diam. Untuk perjodohan yang Zein katakan, ia tak tahu menahu lebih banyak.
" Jadi masalahnya lebih rumit? "
Zein mengangguk.
" Tante Desi adalah pihak lain yang gue maksud. Gue dan Nyokap berusaha untuk jaga perasaan dia. Rasanya gue kayak ke dalam jebakan tikus dan susah buat lepas. Susah buat melangkah keluar, Gas. "
" Memang apa yang menghambat? " tanya Bagas.
" Tante Desi punya semacam penyakit yang buat dia sering pingsan kalau kaget atau kecapean atau apalah gue juga gak paham. Kemarin waktu nyokap minta batalin perjodohan ini, beliau pingsan dan kayaknya gak terima dengan keputusan sepihak dari nyokap gue. " kata Zein.
Bagas menenggak habis isi gelasnya. " Belum jadi mertua aja sudah sering ikut campur gini, Ze. " Dia menggeleng geleng tak percaya.
" Gue harus selesaikan ini semua sama Melisa. Gue mau dia buat keputusan agar gue juga tahu mau melangkah kemana. " Zein yakin itu adalah pilihan terbaik. Dia tak ingin ada perdebatan sama seperti tadi lagi.
Esok harinya ia temui kekasihnya.
******
Sesungguhnya sandiwara tak sesulit yang ia bayangkan namun jika melakukan dengan kenyataan yang melawan fakta, hati rasanya sangat melelahkan dan menguras emosi.
Dia sendiri pun bingung mengapa dirinya begitu naif dan bodoh pada waktu waktu yang membutuhkannya untuk menjadi sosok yang kuat. Kenyataan bahwa dirinya lemah memang tak bisa ditampik.
Ponselnya bergetar lagi. Sudah ada belasan pesan dari Zein yang sengaja tidak ia balas demi mengurangi komunikasi dengan pria itu.
" Maafkan aku. " ucapnya lirih.
Melisa meraih ponselnya dan membuka ruang obrolan dengan Zein. Sebagain besar isi chat sang pria menunjukkan bahwa dirinya ingin bertemu dengan Melisa dan sisanya menanyakan kabar wanita itu.
__ADS_1
Teriris yang melihat Zein begitu gigih menghubunginya walau dia tak acuhkan juga. Akan lebih baik jika pria itu mundur dan memilih untuk menikah dengan Siti dengan begitu Melisa bisa dapat memulihkan hatinya dengan belajar ikhlas. Namun yang pria itu lakukan justru sebaliknya dan malah membuatnya semakin sulit melepas.
" Kalau kamu gak mampu, gak usah dipaksa. "