Semua Karena Kamu

Semua Karena Kamu
Episode 20


__ADS_3

" Kenapa? Lo malu ngenalin Melisa? " sungut Siti.


" Gak gitu. Tapi kamu gak tau sifat mama saya. Dia itu gak bisa dibantah keinginannya. Apalagi dibilang kalau ini permintaan terakhir papa saya sebelum beliau pergi. " ujar Zein.


" Sorry. " cicit Siti. " Terus kita harus gimana? "


Zein menyandarkan kepalanya di tembok tempat ia duduk. Dia pening sekali memikirkan masalah ini.


" Say juga gak tega lihat nyokap kamu tadi. " Zein memberi jeda. Dia menarik nafas.


" Gimana kalau kita terima dulu perjo--- "


" Gila lo, ya! Lo mikir gak kalau sampai kita terima ini akhirnya bakal gimana? Mereka gak akan lepasin kita, Ze! Kita bakal nikah. NIKAH! Gila apa lo. " protes Siti.


" Dengar saya dulu. Maksud saya adalah kita pura pura terima di depan ibu kamu dan saya. Selebihnya kita masing masing lagi. Jujur saya khawatir dengan kondisi ibu kamu tadi. Kalau keadaan sudah memungkinkan, Kita bisa selesaikan sandiwara ini. Kalau keadaan sudah lebih cair, gak tegang kayak tadi, mungkin aja lebih gampang memohon sama mereka. " Zein menatap Siti meminta persetujuan.


Siti terlihat gusar. Dia punya feeling tidak enak dari ide itu.


" Saya butuh waktu untuk menyakinkan Mama saya kalau kita gak bisa menikah. Dan juga .... tolong jangan kasih tahu Melisa tentang ini. " ujar pria itu lagi.


Siti mengangguk. " Tapi secepatnya kita harus cari cara gimana batalin ini semua. "


Zein mengangguk.


Dai baru saja merasakan masa emas bersama wanita yang dia cintai. Tetapi badai sudah datang lagi dan mencoba memisahkan mereka berdua.


*****


" Ingat papa kalau masih terus menolak perjodohan ini. Papa pasti kecewa sama kamu, Ze. " kata Dwita sebelum masuk ke kamarnya.


Dan itu berhasil membuat Zein runtuh. Papanya adalah kelemahannya. Namun sekarang ada Melisa yang menyanggahnya. Dia memang akan berpura pura dengan Siti, Tetapi jika Mamanya masih terus dingin seperti ini pastilah dia akan membutuhkan waktu lebih banyak untuk menciptakan keadaan yang dia mau. Dimana dia bisa keluar dari badai itu.


Zein sadar dia belum punya ikatan resmi dengan Melisa. Jika dalam persandiwaraan nanti jarak berulah lagi, Mungkin saja Melisa bisa terlepas dari dirinya untuk kesekian kali. Maka dia putuskan untuk mengikat Melisa lebih dari sekedar teman tidur.


Dddrrttt .....


Zein meraih ponselnya di meja. Nama Melisa tertera di layar ponselnya dan segera ia tekan tombol hijau untuk mengangkat telepon itu.


" Ya, Mel? Kamu belum tidur? " sapa Zein setelah Melisa mengucapkan, Hai.


" Belum. Gak bisa tidur. Terus malah kepikiran kamu, ya sudah ku telepon. Ganggu ya? " kata Melisa.


Zein tersanjung. Wanita itu memang ahli membuat dirinya terbang.


" Gak lah, Mel. Jadi kamu mau cerita apa? Mau ngomong apa? " tanya Zein. Dia merebahkan tubuhnya ke sofa.


" Gak tau. Cuma pengen telepon aja. "

__ADS_1


" Oh. Kamu seharian ngapain aja? " tanya Zein. Dia tidak rela sambungan teleponnya harus terputus karena kehilangan topik.


" Hhmm, Bersihin kamar terus bantuin Om Irwan menghitung kalkulasi buat biaya konsumsi buat reunian SMA nya. Habis itu, Aku ke kafe Glenn yang dekat kantor kamu. " kaya Melisa dengan sesekali memberi jeda karena dia tidak ingat detailnya.


" Ngapain kesana? "


" Main aja sih. Tadinya mau ngajak Siti, tapi dia malah gak bisa. Katanya ada urusan keluar gitu. Kami seharian ngapain? "


Zein terdiam. Dosa kah jika dia berdusta demi menjaga perasaan wanita yang dia cintai? Siti tak bisa main bersama Melisa dan Glenn karena jelas tadi siang mereka bertemu. Dan ngapain saja dia seharian? Ya, bertemu Siti. Tetapi mana mungkin dia mengatakan itu sama Siti.


" Aku kebanyakan tidur. Paling ngecek berkas klien terus nonton TV. Begitulah. Membosankan sebetulnya. " dusta, Zein.


" Gak main sama teman? " tanya Melisa diseberang sana.


" Gak. Temanku pada sibuk sama pasangannya. Sedangkan aku kan, jomblo. "


Melisa tertawa. " Kasihan kamu. "


" Makanya kamu jadi pacarku. " Zein mengatakannya begitu saja.


Tawa Melisa berhenti. " Gimana? "


Zein menegakkan tubuhnya. " Kamu jadi pacar aku. Kita pacaran. Ngerti? "


Melisa diam.


" Kamu nembak aku? "


" Gak, kok. "


" Lalu? "


" Kalau nembak itu kan butuh jawaban antara iya dan tidak. Tapi tadi aku gak butuh jawaban. Aku pengen kita pacaran dan tanpa penolakan dari kamu. " kata Zein.


" Kalau aku gak mau, gimana?? "


" Ya harus mau. Kan gak boleh nolak. "


Melisa diam lagi.


Lalu dia menjawab. " Iya sudah deh, kalau kamu maksa. "


Zein terkejut. " Jadi kita beneran jadian nih? "


" Kan kamu yang bilang tadi. " kata Melisa.


Rasanya Zein ingin mencium wanita itu karena gemas.

__ADS_1


" Mel, aku ke rumah kamu sekarang, ya. "


" Eh, ngapain? Sudah larut malam tau! " omel Melisa.


" Ngapelin kamu lah. Aku otw, Kamu jangan tidur dulu. "


Zein mematikan sambungan telepon sebelum wanita itu menjawab. Dia mengambil jacket dan dompetnya kemudian menengok kamar mamanya. Dia menghela nafas lega karena mamanya sudah tidur. Lalu dia keluar apartemen dan mengendarai mobil secepat mungkin untuk bertemu pacarnya.


Sementara di rumah, Melisa risau setengah mati. Dia benar benar tak menyangka jiwa nekat Zein akan setinggi ini. Kini dia sedang berdiri di dekat jendela kamarnya, menanti sebuah fortuner hitam datang.


Dia gelisah karena sudah menunjuk pukul 22.20 malam. Dia takut terjadi apa apa pada pria itu sebelum akhirnya pesan dari Zein masuk ke layar notifikasi ponselnya.


" Aku di depan. "


Buru buru Melisa turun dan membuka pagar rumahnya. Dia tersenyum lega mendapati pria yang sekarang hanya mengenakan kaos hitam polos dengan celana selutut berwarna abu abu tiba dihadapannya sedang bersandar di mobil.


" Kamu itu ada ada aja. " kata Melisa.


" Wajar dong kalau aku mau ketemu sama pacarku kalau kangen. " ucap Zein, disertai senyuman yang tak tertahan.


" Mau ngapain coba kesini malam malam? " omel Melisa lagi. Dia hanya bisa bersikap pura pura marah demi menutupi rasa khawatir dan tersipu nya.


" Mau lihat pipi kamu yang sekarang lagi merah merona. " kata Zein. Dia maju selangkah untuk mendekati wajah wanita itu.


Melisa susah payah menelan salivanya. Dia malu. Sangat.


" Gak lucu. "


" Tapi kamu lucu, jadi pengen kucium. " seloroh Zein.


Jantung Melisa sudah berdegup tak karuan. Jutaan kupu kupu di perutnya sudah bergerak bebas.


" Gak tau ah! " Melisa melipat tangannya di depan dada.


Zein tergelak. " Lucu bangat pacarku kalau lagi ngambek. I love you, Melisa. "


" Apa sih, Ze? " Wanita itu memukul pelan bahu Zein.


" Datang datang buat ngomong begitu doang."


" Mel, perasaan itu wajib diungkapkan supaya orang lain bisa tahu. Supaya orang lain gak menerka nerka. " sahut Zein, Dia menurunkan kepalanya untuk melihat wajah Melisa dari dekat.


" Supaya pacarku gak penasaran. "


Melisa terdiam. Dia sungguh tersipu dan malu. Setelah sekian lama berstatus single, Zein adalah pria pertama yang menjadi pasangannya lagi.


" I love you too. " balas Melisa, pelan sekali.

__ADS_1


" Kedengaran kok. " Zein menarik Melisa ke dalam pelukan dan menikmati dekapan pertama mereka sebagai pasangan.


__ADS_2