
Satu berlalu dari hari dimana Zein menceritakan tentang Melisa pada Dwita. Biarpun dia sudah mendapat respons yang baik dari ibunya, namun segala keputusan tetap pada ada di tangan Dwita. Dan hari ini, dia akan mempertemukan Dwita dan Melisa. Dia berharap segala keajaiban akan berpihak padanya khusus hari ini saja agar rencananya dapat berjalan sempurna.
Semoga saja Melisa dapat meluluhkan hati Dwita.
" Kamu yakin dia sebaik yang kamu ceritakan ke mama? " tanya Dwita sangsi, ketika mereka sudah sampai di lapangan parkir tempat mereka janjian dengan Melisa.
" Mama nilai sendiri aja nanti. " kata Zein sambil menarik rem tangan.
" Mama penasaran, apa sih yang buat kamu tergila gila bangat sama dia? "
Zein menoleh ke arah ibunya. " Entahlah. Mungkin karena sebelumnya saya gak pernah ketemu wanita seperti dia. "
Dwita melihat binar cahaya yang terpancar setiap kali putranya membicarakan tentang kekasihnya itu. Menambah rasa penasaran Dwita terhadap siapa sosok Melisa itu sebenarnya.
Mereka turun dari mobil dan memasuki sebuah restoran kecil yang terdapat di salah satu ruko tersebut. Zein gugup setengah mati, sebab ini adalah kali pertamanya dia mengenalkan perempuan kepada orang tuanya. Dulu dulu dia merasa tidak perlu untuk mengenalkan kekasihnya kepada Mama atau Ayahnya karena dia belum yakin kemana hubungan itu akan berlanjut. Namun sekarang sosok wanita yang baru ia kenal kurang lebih setengah tahun mempu melunturkan pikiran tersebut dan memaksa Zein menata masa depannya.
" Itu, Ma, orangnya. " kata Zein, ketika mereka sudah masuk ke restoran.
" Mana?? " tanya Dwita mengerling matanya ke seluruh arah.
" Itu yang pakai baju warna putih gading. " ujar Zein, sambil memutar bahu ibunya menuju tempat Melisa duduk.
Melisa duduk di salah satu tempat paling pojok dekat jendela. Zein yakin alasan gadis itu memilih tempat tersebut karena lebih sepi di banding tempat lainnya.
" Mel, " sapa Zein.
Melisa langsung menutup ponselnya yang ia genggam dan berdiri.
" Ma, kenalkan ini Melisa. Mel, kenalin ini mamaku. " kata Zein, menatap Dwita dan Melisa bergantian.
Melisa mengulurkan tangan lebih dulu dan tersenyum sopan. " Melisa, tante. "
Dwita membalas uluran tangan Melisa sambil tersenyum. " Dwita. "
" Ayo duduk. " Zein memecah suasana canggung diantara Melisa dan Dwita.
Kemudian Zein memanggil pelayan restoran untuk memesan makanan. Lalu saat pelayan itu kembali lagi, Zein mencoba membuka topik obrolan yang sebisa mungkin tidak membosankan.
" Ma, Melisa itu suka masak juga loh kayak Mama. " kata Zein yang langsung menarik perhatian Dwita.
__ADS_1
" Oh ya? Kamu bisa masak apa aja? " tanya Dwita pada Melisa.
" Banyak sih tante. Tapi yang paling aku kuasai biasanya masakan yang orang orang terdekatku suka aja. " jawab Melisa, Dia merasa canggung setengah mati.
Dwita mengangguk angguk. " Makanan kesukaan Zein, tau? "
" Tahu, Tante. Tumis buncis, rendang, opor ayam, tempe goreng yang harus di rendam dulu pakai garam, terus udang pete balado sama tumis brokoli juga dia suka. " jawab Melisa tanpa diminta panjang lebar, dia langsung menjelaskan.
" Kalau yang dia gak suka? " tanya Dwita lagi.
" Hm.... kayaknya hampir semua makanan masuk mulut dia deh, tan. " jawab Melisa.
Dwita tertawa kecil. " Rakus kamu. " katanya pada Zein.
" Biar gak buang buang makanan, Ma. " jawab Zein membela diri.
Melisa baru teringat sesuatu saat dirinya dan Zein menghadiri acara kuliner nusantara beberapa waktu lalu. " Ada deh yang gak dia suka. Tape sama kerang. " Melisa melirik Zein meminta persetujuan.
" Masih ingat aja, kamu. " kata Zein tak suka.
Melisa tertawa. " Jelas dong. "
" Kamu gak suka kerang? " tanya Dwita.
Zein mengangguk. " Dulu tiap papa beli kerang, saya gak pernah ikutan makan. "
" Ohh, Mama baru sadar kamu yang gak pernah makan kerang setiap papa bawa dulu. " kini Dwita merasa kian jauh dengan putranya. Bahkan makanan yang tidak disukai Zein saja dia tak tahu dan kekasihnya juga lebih tahu tentang Zein.
" Kalau tante suka makan apa? " tanya Melisa.
Dwita membuyarkan lamunannya. " Oh, Tante suka sayuran. Apapun yang ada sayurannya pasti tante suka. "
Melisa tersenyum. " Plecing kangkung doyan Tan? "
Dwita mengangguk. " Tante paling suka kangkung. "
" Papa aku juga suka kangkung kayak tante. Dulu aku sering masak kangkung sekreatif mungkin biar aku sendiri gak bosan makan itu terus karena papa gak ada bosannya. " kenang Melisa, Dia tidak sedih tapi rasanya rindu mulai menyergap dirinya.
" Oh, ya? Paling suka dibuat apa? " Dwita bertanya.
__ADS_1
" Itu plecing kangkung. Tapi sekarang sudah gak pernah buat lagi karena papa sudah gak ada. " kata Melisa. Dia tersenyum tipis tanda tak apa walaupun ia sedang membahas almarhum ayahnya.
Dwita tertegun. Menurut cerita Zein, Gadis dihadapannya adalah seorang yatim piatu, tetapi yang membuat Dwita tertarik adalah cara gadis itu berbicara yang sangat sopan walaupun santai. Dan lagi biarpun Melisa tadi membahas ayahnya yang sudah tiada, Gadis itu tidak meminta tatapan iba darinya.
" Ya sudah jangan bahas top-- "
" Kalau kamu gak keberatan, tante mau kok dimasakin plecing kangkung sama kamu. " kata Dwita, memotong ucapan Zein barusan.
Baik Zein maupun Melisa sama sama terkejut mendengar perkataan Dwita. Dua sejoli itu saling tatap saking kagetnya.
" Bo-boleh aja kok, Tante. Nanti aku masakin buat Tante. " kata Melisa, senang.
Zein tersenyum melihat interaksi Dwita dan Melisa yang tadinya canggung perlahan berubah menjadi lebih santai.
" Jadi perusahaan kamu itu bergerak di bidang apa? " tanya Dwita, ketika membahas tentang pekerjaan.
" Jasa, Tan. Semacam biro iklan. Jadi kalau misalnya ada suatu brand yang mau buat iklan komersil ataupun non komersil bisa menghubungi ke perusahaan. Pokoknya apapun yang berhubungan dengan advertising itu pekerjaan perusahaan ku. " jawab Melisa menjelaskan menyita perhatian Dwita.
" Kalau iklan di tv gitu, termasuk juga? "
Melisa mengangguk. " Iya, Tan. "
" Waow ... " puji Dwita takjub.
" Pantas saja Zein suka sama kamu. Jangan jangan dia mau ke kamu karena kamu itu kaya. " sambung Dwita, lantas membuat Melisa tertawa.
Zein melepaskan sedotan di mulutnya. Hampir saja ia tersedak karena ucapan ibunya barusan.
" Mama kalau ngomong kayak sama anak tiri aja. " protes Zein.
" Loh, kenapa gak? " lanjut mamanya.
Melisa yang masih tertawa, langsung berkomentar lagi. " Gak kok, Tante. Perusahaan aku itu kecil gak seperti yang tante bayangkan. "
" Kamu ngomong begitu bukan karena kasihan sama Zein, kan? " Dwita melirik Zein dengan tatapan jahilnya. Melisa kembali ketawa.
" Berarti mama harus bangga dong punya anak yang berhasil menggaet wanita tajir. " sindir Zein.
Kedua wanita itu tertawa bersama. Walau kesal tapi hati Zein senang melihat kedua wanita yang ia sayangi dapat berbagi tawa dalam satu kali pertemuan. Ternyata mamanya tidak sekolot yang ia duga.
__ADS_1
Tak lama kemudian makanan yang mereka pesan datang. Zein menyantap makanan sambil mendengarkan obrolan Dwita dan Melisa yang masih terus berlanjut. Walau sesekali ia tetap dijadikan bahan lelucon, tapi tak apa adal ibunya bisa merasa nyaman dengan Melisa.