Semua Karena Kamu

Semua Karena Kamu
Episode 63


__ADS_3

" Dalam kertas tersebut berisi perjanjian atau kesepakatan yang harus ditandatangani kedua belah pihak bila ingin menjalin kerja sama. Perjanjian ini tentu diikat hukum berdasarkan ketentuan undang undang yang berlaku. Selama proses ini berlangsung, Pihak Anda bisa mengajukan pergantian perjanjian apa bila ada yang kurang berkenan atau merasa ada ketimpangan diantara perjanjian tertulis ini. " terang Zein, dia menaruh map itu di meja dekatku.


" Kalau begitu nanti saya diskusikan dulu bersama dua rekan saya yang lain dan ini dan ini beberapa konsep kafe beliau mulai dari latar belakang, maksud dan tujuan. Sebelumnya sudah saya kirim lewat surel ke Bapak Aldrich. " Melisa memberikan ipad tersebut kepada Zein.


Dia hanya menggeser beberapa yang sudah Melisa siapkan dan kemudian memberikan benda elektrik itu pada gadis itu.


" Bapak Aldrich sudah setuju. Saya diutus kesini hanya untuk diskusi pernjanjian tersebut. Saya akan tunggu sampai besok sore untuk permohonan pergantian perjanjian jika ada keberatan. " kata Zein, tenang.


Perbincangan itu mengingatkan Melisa sewaktu menjadi kliennya dulu.


Tunggu.


Kenapa dia jadi bernostalgia? Bodoh sekali!


" Baik. Secepatnya saya akan hubungi anda kembali. "


Melisa membereskan map yang diberikan Zein lalu beranjak ke meja kerjanya untuk menyimpan berkas itu di sana. Biar nanti malam bisa mereka rundingkan bersama.


" Nomorku gak pernah ganti. Kamu bisa hubungi lewat nomor itu kalau sudah ditanda tangani perjanjiannya. " ujar Zein, saat Melisa masih berada di balik meja.


Gerakan tubuh gadis itu berhenti. Melisa kembali menatapnya dengan memberi senyum seolah kalimat tadi adalah hal yang biasa.


" Nanti biar Andi yang hubungi. Itu tugas dia. " jawabnya.


" Kenapa gak kamu? Nomorku sudah di blokir dan di hapus? " tanya Zein.


Pria itu beranjak dari sofa dan melangkah ke arah Melisa tanpa mengalihkan tatapannya. Untuk apa dia bersikap seperti ini?


" Terakhir kali aku telepon kamu, sudah gak nyambung. Kamu ganti nomor? " Zein berdiri tepat di hadapannya. Dia menahan salah satu tangannya meja dan sedikit menunduk untuk menyejajarkan wajah kami.


Melisa sudah muak dengan sikapnya. Apa dia tidak memikirkan istrinya? Atau bahkan anaknya?


" Cukup. " Melisa mundur beberapa langkah membuat jarak diantara mereka.


" Kamu gak pantas seperti ini. Urusan kita telah selesai jadi kamu silahkan pulang. "


Zein ikut mundur dan bersandar pada jendela.

__ADS_1


" Dua setengah tahun dan akhirnya aku berhasil menemukan kamu. Walaupun sebenarnya sangat sulit untuk mencapai titik ini tapi aku tetap bersyukur. " kata Zein.


" Buat apa kamu cari aku?? Pikirkan perasaan Siti, jangan egois. " tegas Melisa.


Namun ekspresi Zein tak berubah. Tetap datar.


'' Ngapain aku mikirin perasaan orang lain? Kamu benar benar gak pernah baca surat dariku? " tanyanya, dia kecewa.


Melisa ragu menjawab. Bagaimana pun yang sudah dia ketahui dia adalah sumi---


" Aku gak pernah menikah sama Siti. "


Sontak Melisa terkejut mendengar pengakuannya. Apa lagi ini?


" Maksud kamu? "


Zein berjalan ke arah gadis itu. Dia mendekat dan memegang kedua bahu gadis itu lalu menunduk demi bisa melihat wajah Melisa.


" Ada banyak cerita yang kamu lewatkan. Apa yang kamu pikirkan sekarang berbanding terbalik kenyataan. Tidak ada pernikahan, aku dan Siti gak pernah menikah. " ucap Zein, pelan namun penuh penekanan.


" Kamu pergi terlalu cepat. Bahkan menyembunyikan diri dengan sangat pandai. Aku kelimpungan cari kamu. Aku akui gak selama dua tahun setengah mencari kamu. Sempat tertunda satu setengah tahun, tapi setelah ini aku gak pernah menyerah buat nyari kamu. Dari dulu aku selalu pengen bawa kabar bahagia ini sama kamu. " ujarnya, lirih.


Sabar sabar gadis itu melihat lingkaran hitam di bawah matanya. Dia setengah tahun tak berjumpa tak banyak perubahan dari pria itu. Kulitnya hanya sedikit menggelap dan bobot tubuhnya mungkin berkurang beberapa kilo. Namun entah kenapa hati gadis itu sedih.


" Mel, suratku itu kenyataan yang sekarang sedang kita jalani. I love you dariku gak akan pernah berubah arti dan janjiku ke almarhum papamu gak akan pernah kuingkari. Jadi mau ya, bekerja sama denganku untuk menepati janjiku ke almarhum papamu? " tanya pria itu menyentuh pipi dan rahang Melisa.


Apa dia sedang merayu kembali? Sebab jantungnya berdebar bukan main.


" Kenapa pernikahanmu batal? "


Zein menarik tangannya dari wajah gadis itu dan menggulung kemejanya hingga siku dan memperlihatkan sebuah bekas luka jahitan di sana.


" Kamu mau dengar aku cerita? "


Melisa mengangguk tanpa ragu. Dia ingin tahu semua.


Semua.

__ADS_1


*****


Dua setengah tahun yang lalu


Seminggu sebelum acara pemberkatan Zein dan Siti.


" Haduh! Nyokap lo berisik bangat nih telepon terus. Lo juga nyetirnya cepat dong. Sudah tau telat masih santai aja. " omel Siti, yang duduk di samping pengemudi.


" Kamu bisa lebih sopan ke Ibu saya, gak? " Zein menoleh singkat sambil merespon ucapan Siti dengan dingin.


Gadis itu memutar bola matanya, jengah.


" Sudah buruan. Memang ya nyokap lo memang bawel. "


Zein membanting stir kemudinya ke sisi jalan secara mendadak lalu menginjak pedal rem hingga gadis itu memekik kaget.


" Sekali lagi kamu bertindak gak sopan ke Ibu saya, jangan harap keluargamu akan dapat perlakuan baik dari saya. " ujar Zein, sambil menunjuk gadis di sampingnya.


Siti yang tidak terima atas tuduhan itu langsung melepas sabuk pengamannya dan memutar tubuhnya menghadap Zein.


" Asal lo tahu, Pernikahan kita terjadi juga karena persetujuan nyokap lo. Seandainya lo dan tante Dwita bersikeras membatalkan, kita gak akan terjebak dalam status hubungan sialan ini! Lo juga lemah bangat, gak bisa pertahanin Melisa. Memang lo itu pantas diputusin sama dia. Cowok gak punya pendirian kayak lo, gak pantas jadi suami Melisa! " sungut Siti, menumpahkan segala amarahnya pada pria itu.


Zein diam. Dia benci setiap Siti menyebutkan nama Melisa.


" See. Lo bahkan gak berkutik. Gak bisa usaha apa apa untuk batalin semua ini. " gadis itu melipat tangannya di dadanya.


Zein mencengkeram stir mobil demi menahan emosinya. Dia kembali menurunkan rem tangan lalu menginjak pedal gas hingga batas kecepatan maksimal. Sejak putus dari Melisa, dia menjadi buruk dalam hal mengontrol emosi. Sering kali meledak ledak tanpa alasan dan berimbas pada orang disekitarnya.


Siti adalah salah satu yang sering memancing emosinya sejak awal.


" Saya sudah usaha sejak awal, Kamu yang pasrah. " ujar Zein.


Zein menginjak pedal gas lebih kuat lagi. Beberapa kali ia hampir menyerempet pengemudi lain yang berada disekitar mobilnya.


" Seenggaknya, lo lebih kuat dong! kan lo dan Melisa yang jalanin hubungan. " kata Siti.


" Kamu bisa diam gak? "

__ADS_1


__ADS_2