Semua Karena Kamu

Semua Karena Kamu
Episode 30


__ADS_3

" Sudah malam dan kamu masih ke sini? " omel Melisa. Dia tahu Zein sedang sibuk dan selalu mencuri waktu untuk bisa keduanya bertemu.


" Kangen. " cicit Zein dengan wajah cemberut.


" Kita baru bertemu sembilan jam yang lalu, Pak pengacara. " ujar Melisa, gemas.


" Iya. Terus kenapa Ms.Melisa Septian? Harus berjarak lama dulu baru kangen? " goda Zein.


Melisa mendengus. Pria itu selalu saja berhasil menggodanya.


" Ya sudah. Ayo masuk, anginnya kencang di luar. " Melisa melingkarkan genggamannya di lengan pria itu lalu menutup pintu utama.


" Oh, hai, Ze. " Om Irwan melambai sekilas ketika melihat siapa yang bertamu lalu kembali fokus ke layar TV lagi.


" Maaf, ganggu malam malam, Om." kata Zein, sambil melirik Melisa membuat wanita itu kesal. Pasti pria itu sedang balas dendam karena tadi ia mengomel.


" It's okey, Melisa senang kok. " sahut Om Irwan.


Zein terkekeh. Dia tersenyum penuh kemenangan.


" Ternyata diam diam kamu juga kangen sama aku. "


" Gak tuh. PD bangat kamu aku ngengenin kamu. " sahut Melisa, sambil melipat tangannya.


" Menyimpan amarah sendiri bisa jadi penyakit, Mel. Apalagi kangen. " kata Zein, dia menatap lama Melisa. " Harus dilampiaskan. " bisiknya.


Sontak Melisa langsung memukul lengan Zein dan pria itu langsung mengaduh kesakitan.


" Om, Melisa ke atas ya mau nonton TV juga. " kata Melisa dan dibalas anggukan oleh Pamannya.


Melisa menarik tangan Zein untuk menaiki tangga. Mereka bersantai di sofa sembari menonton sebuah drama luar negeri. Melisa memang sudah lama memasang TV kabel semenjak dia merasa bosan dengan tayangan dalam negeri yang semakin tak karuan.


" Gak ada kartun? " tanya Zein, dia menyandarkan kepalanya di bahu Melisa.


" Ada. Banyak. Kamu mau nonton kartun apa?"


Zein mengangguk. " Aku gak ngerti kalau nonton sinetron. "


" Ih! itu bukan sinetron, tapi drama. " koreksi Melisa.


Zein berdecak. " Sama aja. sama sama ada episodenya. " kata Zein pembelaan diri.


Akhirnya Melisa mengganti saluran TV dengan tayangan kartun sesuai permintaan pria di sampingnya.


" Tumben rambutmu di kepang. " kata Zein saat membelai rambut kekasihnya.


" Tebak siapa yang kepang? " Melisa tertarik memulai semuanya dari sekarang.


Zein berpikir, walau sebenarnya tak benar benar serius. " Om Irwan? "

__ADS_1


Gantian Melisa yang berdecak. " Om aja gak bisa bedain karet rambut sama karet gelang. "


" Oke, kalau gitu ..... Glenn? "


" Apalagi dia. Aku suruh sisirin rambut aja kusut. " kata Melisa.


Zein terkekeh. " Parah juga dia. Siapa lagi ya? Hm .... Kamu sendiri mungkin? " Dia menyerah.


" Salah semua. Yang benar adalah Tante Desi, Mamanya Siti. Bagus kan kepangannya? " tanyanya pada Zein, dengan senyum sumringah. Persis seperi anak kecil yang baru saja dibelikan loli pop.


Melisa dapat melihat perubahan raut wajah Zein dengan sangat kentara dan pria itu tak sadar jika sedang diperhatikan. Perlahan mintanya hilang dan berujung dengan senyuman yang dipaksakan.


Melisa tahu.


" Bagus kok. Oh, ya kamu besok mau datang lagi kayak tadi? " Zein mengalihkan topik. Cukup dengan Dwita ia membahas hal yang bersangkut paut dengan Desi.


" Gak setiap hari juga, Ze. Aku kan bukan catering. " kata Melisa.


Zein terkekeh. " Kalau aku bayar demi bisa makan enak tiap hari, mau? "


Melisa berpikir. Awalnya hanya berpura oura hingga muncul sebuah ide di kepalanya.


" Gak usah bayar deh. Tapi sebagai imbalan kamu harus menuruti semua permintaan yang aku mau, gimana? "


Zein mengangguk. " Setuju. Aku akan turuti semua apapun yang kamu mau dan aku akan dapat masakan kamu setiap hari. Deal! "


Zein meraih tangan Melisa kemudian menjabatnya. Wanita itu malah ketawa.


" Kamu .... di rumah sendirian? " tanya Melisa.


Zein menoleh. Terdiam beberapa detik. "Iya. Makanya aku bisa main kesini malam malam."


Bohong.


Melisa mengangguk saja. " Ohh. Orang tua kamu tingga dimana, Ze? "


" Di Bandung. " jawab Zein, masih fokus pada cemilan dan kartun di TV.


" Kemarin ke bandung sekalian mampir? "


Zein terdiam. " Ummm..... Gak sih. Kan mepet juga. "


Jelas gak. Kamu tinggal ibumu disini.


" Kenapa? " Zein menoleh, menaikkan sebelah alisnya.


Melisa menggeleng. " Gak apa apa. Sabtu ini pergi yuk. " Gadis itu melingkarkan tangannya di lengan Zein yang berotot.


" Nonton? " kata Zein setelah memasukkan cemilan ke mulut.

__ADS_1


" Boleh. "


Kemudian Zein menghabiskan waktu satu jam demi bersantai santai di bahu ke kasihnya.


*****


Baiklah. Melisa sudah membulatkan tekad, jika memang Glenn tidak mau membantu dirinya maka dia akan berusaha sendiri. Melisa yakin, dia mampu. Dia tidak akan lemah hanya karena cinta.


Mungkin di luar sana banyak pria seperti Zein. Mungkin alasan ia menganggap Zein begitu spesial karena pria itu hadir di luar ruang lingkupnya yang selalu ada pada zona nyaman. Namun mungkin saja yang seperti Zein hanyalah pria itu seorang.


Tak apa. Melisa ikhlas. Setidaknya dia mencoba untuk ikhlas. Dia pernah diajarkan Papanya untuk tidak terikat dengan apapun dan inilah saatnya merealisasikan ucapan Andre, Ayahnya.


Kini Melisa berada di Butik Siti setelah pulang dari kantor. Dia ingin mengantarkan paket Siti yang sengaja gadis itu pesan dengan alamat Melisa.


" Taruh di tas gue aja, sekalian paketnya. " kata Siti, masih sibuk dengan manekin.


" Iya. Tas lo mana? "


" Itu, di rak paling bawah. "


Melisa bangkit dari sofa dan mencari tas charles & keith keluaran terbaru milik Siti.


Ketika membuka tas berwarna putih itu, Melisa menemukan sebuah kotak beludru berwarna hitam beserta sebuah tulisan Frank & Co di sudut kanan bawah. Dia mengernyitkan dahi, Melisa tahu betul kalau Siti tidak menyukai perhiasaan sama seperti dirinya.


" Ti, Kamu beli perhiasan? " tanya Melisa penasaran.


Siti menoleh. Dia gelagapan. " E-eh, I-iya. Itu dibeliin ..... " Gadis itu memutar otak untuk berpikir. " Nyokap. Dibeliin nyokap kemarin. "


Melisa mengangguk angguk. Percaya saja.


" Ini apaan, Ti? Gelang atau kalung ? " tanya Melisa lagi.


" Kalung. " jawab Siti.


" Gue boleh lihat? Biasanya selera Tante Desi itu bagus bagus. " kata Melisa.


Siti mengusap tengkuknya. Dia bimbang. Tapi tak apa lah ya, toh hanya melihat. Melisa juga tidak tahu siapa pemberinya.


" Iya. Lihat aja Mel. "


Melisa mengambil kotak itu hati hati. Lalu dengan perlahan gadis itu membuka kotak merah tersebut dan menemukan sebuah kalung emas dengan liontin kecil berbentuk angsa. Dia memperhatikan liontin tersebut, sangat menawan dan penuh makna yang indah. Cinta sejati.


Dia mengusap liontin tersebut, mirip liontin yang dikasih Ayahnya saat dia berulang tahun ke 17 dahulu.


" Tante Desi emang gak salah pilih. Kode tuh, Ti. " ujar Melisa, kembali menyimpan kotak tersebut ke dalam tas Siti.


" Kode apaan?? " gantian Siti yang bingung.


" Kode kalau tante Desi pengen cepat cepat lo nikah. Lihat aja liontin nya tadi, bentuk angsa. Lo tau gak apa artinya? " ucap Melisa.

__ADS_1


Cinta sejati dan kesetiaan. Gue tau, Mel. Maafin gue. Maaf gak bisa jadi sahabat yang baik buat lo.


" Apaan?? "


__ADS_2