
Melisa masih mengawasi Desi yang berkutat di dapur. Dia selalu luluh ketika diperlakukan dengan lembut. Semenjak figur Ibu kandungnya tidak ada, Dia selalu merasa nyaman ada di dekat wanita paruh baya manapun. Jika dulu di sekolah, Dia memiliki seorang guru biologi gang bernama Ibu Sulis yang sudah ia anggap seperti ibu sendiri karena sikap lemah lembut dan perhatian yang diberikan beliau padanya.
Semenjak mengenal Siti, Dia juga sudah menganggap Desi sebagai Ibunya. Wanita paruh baya itu sangat baik padanya dan yang pasti selalu memperlakukan dirinya layaknya anak sendiri.
Sepuluh menit berlalu dan Desi datang membawa nampan berisi 4 potong roti kering dan dua gelas teh. Dia mempersilahkan Melisa untuk mencicipi jamuannya.
" Kamu kalau senggang kesini aja, Mel. Tante kesepian tahu. Semenjak kamu sama Siti lulus kuliah, Kalian jadi jarang main di rumah. " keluh Desi. Dia membelai rambut Melisa gang tergerai.
" Iya, Tante. Kalau aku lagi gak sibuk, aku pasti main kesini. Emang Siti kalau jam makan siang gak pulang? " tanya Melisa.
" Boro boro pulang jam makan siang. Pulang sore aja tante udah bersyukur. Dia masih suka dugem gak, Mel? " tanya Desi dengan tatapan menyelidiki.
Melisa terkekeh. " Gak kok, tante. Eh, maksudnya jarang. Soalnya Glenn kan udah jarang kesana, jadi Siti merasa gak punya teman lagi. "
Desi mengangguk. " Bagus deh. Punya anak perempuan satu satunya kelakuan begitu. Kamu mau jadi anak tante juga gak? Biar gak pusing pusing amat tante mikirin si Siti. " gurau Desi dan Melisa tertawa.
" Mau bangat dong tante. "
" Mau tante kepangin rambutnya? Rambutmu panjang juga ya. " kata Desi.
" Ah, iya. Belum aku potong lagi. " Melisa menyampirkan rambutnya ke bahu sebelah kanan untuk mengukur seberapa panjang rambutnya.
" Dulu waktu SMA sampai pinggang kan? "
Melisa mengangguk. " Kalau gak di marahin papa, mungkin gak akan aku potong. " Melisa terkekeh.
Desi beranjak dari sofa dan mengambil beberapa perlengkapan rambut. Dia membawa sisir dan beberapa aksesoris rambut lainnya.
" Sini tante kepangin. " ujar Desi.
Melisa dengan senang hati mengatur posisi duduknya menjadi membelakangi Desi.
" Tante kenapa gak buka salon aja? " tanya Melisa.
" Bingung mau di wariskan ke siapa nanti. Siti mana mau mengurus begituan, tante suruh urus butik aja pake kesepakatan dulu. " ujar Desi.
__ADS_1
Melisa terkekeh. " Tapi Siti itu hebat. Biarpun semua orang anggap dia perempuan yang selebor, tapi buktinya dia mampu ngurus butik sampai sekarang. "
" Tante sih gak pernah skeptis sama dia. Cuma was was aja. "
Desi mulai menyimpulkan rambut Melisa hingga berbentuk kepangan satu per satu. Jari jarinya lentik mungkin karena jarang menyentuh sabun cuci piring atau detergen seperti ibu rumah tangga pada umumnya.
" Mel? "
" Iya, Tan? "
" Gimana kamu sama Zein? " Desi mulai membuka topik.
Melisa hanya tersenyum tipis, tanpa bisa diartikan. Desi yang duduk dibelakangnya jelas tak dapat melihat.
" Baik, tante. Tadi baru ketemu. " jawab Melisa.
" Oh, Harusnya Zein sama Mamanya malam ini kesini. Cuma mamanya bilang diundur lusa aja, katanya Zein lagi kecapekan. " kata Desi.
Melisa mungkin tak paham maksud Desi memberi tahu soal ini, Namun satu yang ia tangkap mungkin saja Desi sedang membicarakan kesepakatan mereka tempo hari.
" Kamu .... Sudah coba ngomong ke Zein? " Desi bertanya.
" Belum, Tan. Gimana sama Siti? "
" Siti gampang. Kalau Zein sudah setuju, Dia pasti juga setuju. Karena kendala dia cuma satu. Zein sudah punya pacar. "
Melisa ber-ohh. Dia bingung ingin membalas apa. Sejujurnya dia pun belum tahu harus dengan cara apa membujuk Zein. Percakapan serius yang ia bangun tadi pagi seakan tak berguna sebab jika dia sudah bertatap dengan pria itu, maka buyar semua topeng yang mau ia gunakan.
" Tante harap kamu mengerti sayang. " kata Desi mencoba mengerti Melisa.
" Iya, Tante. Pokoknya nanti Melisa akan bujuk Zein secepatnya. " kata Melisa.
" Terima kasih ya, Nak. Ayo diminum teh nya nanti keburu dingin, sayang. " kata Desi, mengingatkan jamuannya belum disentuh sama sekali.
Melisa mengambil gelas kecil yang berisi teh dan meminumnya perlahan. Dia berharap aroma chamomile dapat merilekskan pikirannya.
__ADS_1
" Memang rencana tunangan mereka kapan mau diadakan? " seketika Melisa ingin tahu agar dia bisa mengatur waktu.
" Kurang lebih dua bulan dari sekarang. Nunggu Om pulang. " dengan senang hati Desi memberi tahu.
" Oh gitu. "
Berarti dia hanya punya waktu kurang lebih sembilan minggu dari sekarang untuk bersama Zein. Sebab setelahnya pria itu harus ia lepaskan dan ikhlaskan bersama wanita lain. Entah ia sanggup atau tidak mengingat perkataan Glenn kemarin dan tadi. Namun rasanya tak pantas menolak permintaan Desi yang selama ini selalu baik padanya.
" Sudah selesai! " Desi merapikan rambut Melisa kembali. Dia memastikan hasil kepangannya rapih dan sempurna.
Melisa meraba raba rambutnya. Rapih sekali ditambah dengan jepitan bunga bunga mungil ikut menempel disela sela simpulan kepangannya.
" Makasih tante. Bagus bangat. Gak tau kapan terakhir aku dikepangin gini. " kata Melisa. Dia takjub dengan hasil tangan Desi.
Desi tertawa, tersipu. " Bagus dong. Yang punya rambut juga cantik, jadi pas."
Melisa tersenyum malu. Hanya ada dua orang wanita yang ia rasa tulus ketika memuji yaitu Ibu kandungnya dan Desi.
" Mel, cobaiin juga roti keringnya, nih. Kemarin tante beli di toko roti baru gitu depan kompleks. Kalau gak enak nanti tante bisa komplein. "
Melisa mengambil sepotong roti itu. Kemudian dia menghabiskan waktu hingga hampir petang menemani Desi. Mereka berbincang hangat layaknya Ibu dan Anak. Desi tak lagi membahas Zein dalam perbincangan mereka.
Sesungguhnya, tak bisa ia pungkiri dirinya juga sangat menyayangi Melisa. Tetapi bukan itu poinnya untuk saat ini, Dia hanya ingin putri kandungnya menikah dengan pria pilihannya. Yang sudah ia kenal sejak lama dan pastinya bisa menjamin kehidupan Siti ke depan.
****
Melisa membereskan sisa piring makan malam barusan. Sementara pamannya asyik menonton tayangan pertandingan bola internasional. Biasanya dia akan membagi tugas dengan Om Irwan dan malam ini adalah jadwal dirinya.
" Mel, kayaknya kamu ada tamu tuh. " kata Om Irwan yang masih fokus dengan layar TV.
" Siapa tamu malam malam begini. " gumam Melisa. Dia buru burj meletakkan piring dan gelas di wastafel.
Setelah itu dia melangkah ke arah jendela dan mengintip siapa yang datang. Ternyata adalah Zein. Dia tersenyum dan langsung membukakan pintu. Pria itu tanpa basa basi langsung menghamburkan pelukannya ke tubuh Melisa. Memeluknya erat hingga dapat mencium aroma asli tubuh wanita itu.
" Sudah malam dan kamu masih ke sini? "
__ADS_1