Semua Karena Kamu

Semua Karena Kamu
Episode 35


__ADS_3

Selama perjalanan hingga sampai ke tujuan, Zein tak mengeluarkan sepatah kata apapun, begitu juga dengan Dwita.


" Tolong ambilin tas belanjaan mama dong di bagasi. " kata Dwita setelah sampai.


Zein Mengangguk dan turun lebih dulu. Dia membuka bagasi dan membawa dua tas belanjaan atas perintah ibunya.


" Ini aja? " tanya Zein memastikan.


" Iya, itu aja. " jawab Dwita dan sembari keluar dari mobil lalu membantu Zein membawa satu tas belanjaan.


Mereka berjalan bersisian karena mobilnya terparkir cukup jauh dari rumah Siti.


" Rame bangat kayaknya. " kata Zein.


Dia memperhatikan sekeliling rumah Siti yang dipenuhi mobil parkir.


" Mama belum bilang ya kalau malam ini ulang tahun pernikahan Tante Desi dan Om Darwin. " ujar Dwita.


" Oh, iya mama belum bilang sama saya. Pantas bawa hadiah begini. " sahut Zein.


" Melisa gimana kabarnya? "


Zein sontak menoleh ke arah sang ibu setelah mendengar pertanyaan yang nyaris hanya di angan angan saja.


" M- melisa baik. Sehat juga. Kemarin baru ketemu. " jawab Zein, terbata.


" Kamu sayang bangat sama dia? "


Zein terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk.


" Sangat. "


Dwita berhenti. Dia berbalik badan dan menatap putranya.


" Dulu waktu mama pacaran sama papa itu cuma enam bulan loh. " kata Dwita tanpa diminta.


Zein merasa heran. " Terus? "


" Terus mama di lamar sama papa kamu. " lanjut Dwita.


Zein berusaha dengan baik untuk mencerna dan memahami ucapan ibunya yang masih membuatnya bingung.


" Oh, lalu? "


" Ya, Mama terimalah. Enam bulan kemudian menikah, terus tiga bulan kemudian punya kamu. " ujar Dwita, mengenang masa mudanya.


" Maksud mama..... "


Nafas Zein nyaris tercekat saat mengetahui apa maksud Dwita. Sangat di luar dugaan dari kemarin tak ada tanda tanda Dwita akan memberinya lampu hijau atas hubungannya dengan Melisa.


" Iya, Nak. Mama merestui kamu sama Melisa." kata Dwita. Wanita itu tertawa melihat ekspresi Zein yang terkejut bukan main.


" Seriusan, Ma? "

__ADS_1


Dwita mengangguk. " Nanti mama akan ngomong baik baik sama tante Desi dan Om Darwin. Semoga mereka mengerti akan alasan kamu. "


Senyum secerah sang surya terbit di wajah Zein. Dia tak dapat menutupi rasa bahagianya. Jika tahu Dwita akan Melisa secepat ini, sejak awal harusnya ia kenalkan Dwita pada kekasihnya agar tak ada perjodohan itu.


" Terima kasih, Ma. "


Dwita ikut tersenyum. Dia juga bahagia.


Mereka melanjutkan perjalanan hingga tiba di rumah Siti. Benar saja, sudah ada dekorasi sederhana yang menghiasi rumah besar tersebut beserta tamu tamu yang sebagian besar adalah keluarga. Dwita bisa mengenali beberapa tamu yang hadir sebagai teman arisannya dulu.


Desi yang sudah merias diri melihat kehadiran ibu dan anak itu. Dia segera meninggalkan tamu yang sedang berbicara dengannya kemudian menyambut Dwita dan Zein.


" Akhirnya kalian datang juga. " sambut Desi, dengan gembira.


" Datanglah. Kamu cantik sekali, Des. " puji Dwita begitu melihat penampilan Desi.


Mereka bercipika cipiki sebentar sebelum pandangan Desi beralih ke Zein.


" Selamat atas ulang tahun pernikahannya, Tan. Semoga selalu bahagia. " kata Zein.


Desi tersenyum. " Terima kasih. Duh, calon menantuku ganteng bangat. "


Desi tertawa sementara Zein dan Dwita sempat saling lirik dan memilih untuk diam.


" Bisa aja, Des. Siti mana? " tanya Dwita.


" Oh, ada di dalam sama anaknya Ares. " jawab Desi.


" Mas Darwin mana? " tanya Dwita lagi.


Dwita melirik Zein kemudian mengangguk. Mau tak mau Zein menuruti Dwita, bagaimanapun juga restu sudah ia kantongi. Jadi ia ikuti saja apa yang ibunya minta. Dia pun paham bahwa semua butuh proses untuk menyelesaikan perjodohan itu.


Suasana rumah Desi begitu meriah dengan suara suara obrolan begitu juga musik klasik yang mengalun. Tepat di dekat kolam ikan koi, Siti dan keponakannya berdiri. Mereka terlihat sedang berbincang dan sesekali melempar makanan ikan ke kolam dan hal tersebut langsung menarik perhatian Desi. Dia jelas tak ingin menyia nyiakan kesempatan apapun.


" Nas, itu Siti ada di sana, Ze. Samperin deh. " Desi menunjuk dimana Siti berada.


Zein menoleh dan melihat objek yang ditunjuk Desi. " Iya, Tan. Kayaknya dia lagi asyik sama keponakannya. Kalau saya datang kesana jadi ganggu. " elak Zein.


" Gak lah. Kamu calon suaminya, gak mungkin ganggu. Sekalian nanti Siti kenalin kamu ke sepupunya. " ujar Desi.


" Samperin aja dulu. " bisik Dwita sambil mengusap lengan putranya. Dia mengerti raut tak nyaman yang nampak dari wajah Zein.


" Desi!! Aduh siapa nih, ganteng amat. Pasti calonnya Siti ya? " tiba tiba seorang wanita paruh baya menghampiri mereka bertiga.


" Oh, Ini pengacara yang kamu ceritain itu? Hebat bangat. " kata salah satu wanita yang muncul beberapa detik kemudian.


" Pintar bangat kamu cari menantu, Des. Gak kebayang nanti cucumu secantik atau setampan apa. " ujar wanita yang mengenakan dress berwarna hijau muda.


" Pantas ganteng, wong mamanya cantik juga."


Dwita tersenyum sopan ketika salah seorang wanita memuji dirinya. Sementara Desi tersipu bukan main atas pujian yang dilontarkan para saudaranya pada Zein dan dia.


" Iya. Ini namanya Zein. Dia itu pengacara muda dan hebat. Jadi selain ganteng, calon menantuku juga berbakat. " kata Desi.

__ADS_1


Zein merasakan aura yang melebihi rasa tak nyaman. Dia menduga setelah ini akan menjadi bulan bulanan para ibu ibu jika tidak cepat cepat menghindar. Jadi daripada hal itu terjadi, Dia segera mengambil tindakan.


" Mama, Tante, saha ke Siti dulu ya. " kata Zein.


Semua pandangan langsung tertuju padanya.


" Duh, romantisnya. "


" Kangen ya pasti. "


" Iya, Ze. Pasti Siti juga kangen sama kamu. " ujar Desi.


Zein dongkol setengah mati mendengar ucapan tersebut. Dia melihat Dwita dan mengangguk undur diri.


Setidaknya bersama Siti dan keponakannya anaknya Sean jauh lebih baik daripada berada di kerumunan ibu ibu. Zein melewati pintu pembatas halaman belakang dengan ruang tengah. Dia menghampiri Siti dan Mila yang sedang duduk di bebatuan dekat kolam.


" Ikan kalau tidur merem gak, Onty? " tanya Mila.


Dahi Siti berkedut. Sejujurnya dia pun tak tahu apakah ikan bisa tidur atau tidak.


" Kayaknya gak deh, soalnya ..... "


Siti berpikir lagi. Jawabannya yang ia berikan pasti absurd dan bahaya jika Mila benar benar menganggapnya serius.


" Merem kok, Kita aja yang gak pernah lihat. "


Suara bariton itu mengalihkan perhatian Siti dan Mila. Zein datang dan ikut duduk di sebelah gadis kecil yang berkuncir dua.


" Memang benar, Om? " tanya Mila, antusias.


Zein mengangguk. " Kalau gak merem matanya sakit kena air terus nahan ngantuk pula. "


Ekspresi Mila sangat takjub. Dia lalu melemparkan makanan ikan lagi setelah mendapat jawaban dari pertanyaannya.


Siti menghela nafas lega melihat Mila yang sudah tidak membahas masalah ikan tidur lagi.


" Memang benar ikan merem kalau tidur, Ze? " bisik Siti.


" Gak tau. Ngasal aja. Habis wajah kamu langsung kebingungan gitu tadi. " Zein terkekeh.


Siti mendengus. " Ya mana gue tahu. Ngomong ngomong tumbenan lo samperin gue? "


" Dari pada gue diserbu ibu ibu. " kata Zein.


Siti langsung paham maksud ucapan Zein. Pasti parah bibinya heboh melihat kedatangan pria itu.


" Tante Dwita, mana? "


" Sama ibu kamu. " Zein ikut memberi makanan ikan saat Mila tiba tiba menuangkan isi dari genggamannya yang berupa makanan ikan khusus.


" Lo sama Melisa gimana? "


" Baik, Baik bangat. Mama saya sudah kasih restu buat kami. Semoga aja perjodohan kita cepat batal. " ucap Zein.

__ADS_1


" A-apa???? "


__ADS_2