
" Akhirnya kalian datang juga. So, siapa yang nyetir kesini? " tanya Glenn sambil merangkul Siti dan Melisa yang sedang duduk.
" Melisa. " jawab Siti polos.
" Sudah gue duga. " kata Glenn.
Melisa menutupi mulutnya yang sedang tertawa kecil.
" Maksud lo? " Siti yang menyadari kejahilan Glenn langsung meninggikan emosinya.
" Maksudnya gue sedang memantapkan diri lo betapa penyakit pikun lo itu semakin jadi Siti. " sahutnya dengan nada jail.
Tanpa aba aba Siti langsung menjitak kepala pria berkemeja hitam dengan celemek coklat itu.
" Kurang asem lo, ucup! "
Melisa yang melihat kedua sahabatnya sedang bertengkar itu hanya tertawa saja. Lagipula sudah biasa melihat mereka saling sindir. Sudah tradisi dari zaman sekolah.
" Lagian gue baru bilang kemarin, Ti. Belum ada 24 jam kita obrolin ini kemarin. " Glenn membela diri.
" Sudah diam lo! Mana kopi gue? " Siti berdecak.
" Yang gue agak banyak susunya ya, Glenn. " kata Melisa dan Glenn mengangkat kedua jempolnya.
" Yang gue kopinya banyakin. " kata Siti.
" Ampasnya aja lo mah. " kata Glenn menambah kekesalan Siti.
" Sudah deh kalian berantem terus. " kata Melisa menengahi sambil ketawa.
" Dia duluan. " adu Siti seperti anak kecil.
Glenn hanya menjulurkan lidahnya dan kembali ke balik coffee maker untuk membuatkan kopi ke dua orang sahabatnya itu.
" Rame juga nih kafe si Onta lama lama. " kata Siti.
" Daerah sini memang rame sih, Ti. Dia pintar cari lokasi. " jawab Melisa.
Menunggu kopi buatan Glenn, Mereka berbincang banyak dan sesekali bergosip. Atau membicarakan artis artis yang mereka suka dan tidak suka. Mereka juga merencanakan akan menonton apa malam minggu nanti. Kata Siti kalau sesama jomblo harus bisa saling melengkapi.
" Satu expresso large, dua mocca latte medium dan satu lagi americano medium. "
" Pembayaran tunai atau debit? "
" Tunai. "
Melisa yang duduk meja bar dekat kasir, mendengar jelas suara pelanggan tadi. Dia kenal suara itu. Suara berat dan tegas namun santai dan nyaman di dengar. Suara yang pernah ia puji puji saat itu.
" Ditunggu, ya. "
" Lo udah tahu belum si Bobby baru ditolak sama Lisa? "
" Belum. "
__ADS_1
" Sumpah kasih bangat tuh anak. Kemarin pas pdkt mati matian banget, eh pas nembak malah di tolak. " lanjut pria itu sambil tertawa.
" Heh! ketawa di atas penderitaan orang. Kena karma instan lo! "
Melisa tidak salah lagi. Dia memang sangat mengenali pria itu.
" Mel? kok bengong?? " suara Siti membuyarkan Melisa dari lamunannya.
" Eh, gak kok. "
" Lah, Mel. Itu bukannya Zein? " tanya Siti, yang ternyata juga menyadari keberadaan Zein dan meyakinkan Melisa bahwa dugaannya benar.
Mereka bertemu lagi.
" Ze! " Siti melambaikan tangan pada pria berkemeja putih itu dengan lengan yang di gulung.
Zein mengedarkan pandangan, mencari sumber suara yang memanggil namanya.
" Hai! " Zein membalas lambaian tangan itu dan pada saat bersamaan Melisa menoleh yang akhirnya mempertemukan mata mereka.
Keduanya butuh waktu beberapa detik untuk menetralisir gejolak pada diri masing - masing.
" Hai, Melisa. " sapanya kikuk.
Bagas yang duduk disebelahnya langsung melongo melihat ekspresi Zein yang berubah menjadi canggung layaknya anak ABG. Namun akhirnya Bagas tahu wanita yang belakangan ini memporak porandakan perasaan rekan kerjanya itu. Membuat pria itu uring - uringan sambil menyerukan namanya ketika mabuk.
Melisa mengangguk lalu tersenyum sama kikuknya. " Hai. "
" Kok cuma hai sih, Mel? " bisik Siti.
" Mau apaan emangnya? " tanya Melisa balik.
Lalu di seberang mereka juga ada Siti versi pria.
" Gitu doang cara lo nyapa?? Hai, Melisa? " sindir Bagas.
" Mau gimana lagi?? " Zein tak acuh.
" Yaelah, Ze. Gue juga bisa kalau cuma bilang, hai? Anak SMP aja cara PDKT nya jauh lebih keren dari lo. " ujar Bagas yang lagi lagi menyindir.
" Dua bulan, Gas. Dua bulan. Bisa jadi sekarang dia lagi dekat sama orang lain. Sudahlah! " kata Zein sambil memainkan ponselnya. Gelisah.
Bagas bisa melihat betapa depresi dan frustasi pria disampingnya.
" Lo masih punya waktu kalau mau tau apa dia sudah jadi milik orang lain atau belum. Gue ingatkan kalau lo lupa, tiga bulan yang lalu kencan lo batal dan Melisa sama sekali belum tahu terkait masalah perasaan lo. "
Ucapan Bagas benar benar seperti suara seorang Ibu buat Zein. Tahu tahu saja dia menurut apa yang dikatakan pria itu. Padahal usia Bagas jauh lebih muda daripada Zein. Tetapi pengetahuan dia soal percintaan luar biasanya luasnya.
Tatapan mata Melisa dan Zein bertemu lagi. Kini mereka saling melempar senyum. Senyum yang mereka rindukan satu sama lain namun tak ada yang berani mengungkapkan.
" Nomor antri 41! " suara barista dan dentingan bel menggema.
Zein dan Bagas beranjak dari kursi mereka dan mengambil pesanan kopi yang ia pesan tadi. Lalu mereka jalan melewati Melisa dan Siti.
__ADS_1
" Duluan, Mel. " Zein mencuri kesempatan itu untuk menatap mata indah Melisa lagi.
" Siti, Saya duluan. "
Siti mengangguk.
" Mel!! fix dia suka sama lo! " ujar Siti begitu antusias.
" Siapa yang suka sama siapa?? " tahu tahu ada aja yang nimbrung di depan mereka, tak lain dan tak bukan Glenn.
" Dasar Onta kepo! " semprot Siti yang masih kesal.
Melisa tak mengindahkan pertengkaran kecil antara Siti dan Glenn. Tiba tiba ponselnya bergetar, ada pesan masuk dari Zein Wirawan.
Sudah lama sekali nama pria itu tidak muncul di dalam bar notifikasi ponselnya. Cepat - cepat Melisa membuka pesan itu.
" Mel, Kamu free sampai siang? "
" Iya, Ze. Aku lagi di kafe nya Glenn. "
" Oh gitu. Btw Kamu makan siang bareng aku, mau gak? Udah lama kita gak ketemu kan? "
Melisa sangat sulit menutupi rasa senangnya ketika membaca pesan dari pria itu. Ingatannya seperti di lempar ke tiga bulan yang lalu saat Zein mengajaknya bertemu di kafe yang kenyataannya batal tidak kesampaian itu. Tak mau Zein menunggu lama, Melisa segera langsung membalas pesan itu.
" Boleh aja. Mau dimana? "
" Di sebelah kafe Glenn. Rumah makan ayam kremes. "
" Oke. Jam berapa? "
" 11.30 pas aku istirahat. Kesiangan gak?? "
" Gak kok. Oke see you ya. "
" See you there. "
Mau berapa kali pun ia menyebut bahwa dirinya telah ikhlas merelakan Melisa bersama orang lain, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam dia masih menyimpan harapan yang besar pada wanita itu. Keduanya berusaha untuk membunuh waktu secepat mungkin agar bisa cepat bertemu.
******
Usai memesan dua porsi ayam kremes, keduanya bingung ingin memulai topik pembicaraan dari mana padahal sudah banyak hal yang ingin mereka sampaikan.
" Gimana kabar kamu, Mel?? " pertanyaan basic dari Zein memecah lamunan dari keduanya.
" Baik. Kamu? "
" Baik juga. Aku senang kamu gak berlarut dalam kesedihan setelah Papa kamu meninggal. " ujar Zein sambil tersenyum tulus.
" Berkat Kamu. " jawab Melisa.
" Hai, Bro! " Bagas melambaikan tangan pada Zein kemudian melirik Melisa.
" Lo ngapain disini? " tanya Zein berbisik.
__ADS_1