
" Tapi kan wajar mengenang Mereka yang sudah tiada! " kata Melisa.
" Benar. Tapi? mengenangnya Kamu itu dalam bentuk apa? berusaha menjadikan hidup suram atau hanya mengingat bahwa Mereka pun pernah mampir di dalam hidup Kita. Kenang hal yang baik, doktrin diri sendiri bahwa Kamu disini ditinggal untuk mengirimkan Mereka Doa sebanyak mungkin."
Ada hal yang Melisa paling suka dari Zein selain fisik Pria itu, adalah cara Zein ketika berbicara yang selalu menatap Dirinya. Berbicara dengan santai dan tenang, membuat Dia tertular kedamaian Pria itu.
" Aku mau kirim doa yang banyak buat Ayah. " kata Melisa.
" Kalau terus seperti zombie hidup begini memang bisa berdoa ?? " tanya Zein menatapnya.
" Aku akan berusaha tegar dan ikhlas. " jawab Melisa sembari menggeleng.
" Aku yakin Kamu bisa. " ujar Zein.
Dia mengikuti perubahan gaya bicara Melisa yang tadinya Saya - Kamu menjadi Aku - Kamu. tidak masalah untuk Zein.
" Ayo, lanjutin makannya. Aku temenin Kamu malam ini. "
Melisa mengangguk.
" Ah, Iya, Melisa. " Zein teringat sesuatu yang lupa Dia sampaikan tadi.
" Ya ?? "
" Jangan lupa bahwa Kamu punya Siti dan .... Hm, siapa yang pernah ngajak Kamu friend with benefit itu? "
" Glenn. " kata Melisa sambil terkekeh.
Zein lega melihat Wanita di hadapannya itu tertawa.
" Iya, Dia. Pokoknya Kamu harus terus bersyukur punya Mereka. Om Irwan juga. Mereka semua adalah Orang yang selalu support Kamu, Aku yakin. " Zein menggenggam tangan Melisa yang tidak memegang sendok.
" Kalau Kamu butuh sesuatu, Mereka gak akan kabur biarpun keinginan Kamu gak masuk akal sekalipun. "
Melisa tersenyum. Sentuhan dan ucapan Pria itu seperti telah mendonorkan atau menyalurkan energi baginya. Benar. Mulai hari ini Dia harus selalu bersyukur tentang apa yang ada di hidupnya.
__ADS_1
" Kalau begitu, Aku juga bersyukur bisa kenal Kamu. " Melisa menatap Zein dengan lekat.
Zein mendaratkan sebuah kecupan hangat di kening Wanita itu. Dia bercerita mengenai pengalamannya saat Ayahnya meninggal semata mata hanya ingin merasa Wanita itu menjadi lebih baik. Membuat Wanita itu tidak merasa sendiri lagi.
Setidaknya biarpun rasa sedih dan pedihnya masih berkeliaran di hati Melisa, Dia masih punya setitik harapan yang bisa membuatnya lebih baik.
" Melisa ikhlas. Ayah, Melisa yakin. "
****
Tiga bulan terlewati, Melisa dengan susah payah di bantu dukungan dari Sahabat dan Keluarga serta ucapan Zein hari itu telah berhasil melewati dua bulan tanpa Ayah tercinta. Hari hari awal terasa berat dan menyakitkan, segala hal masih mengingatkan dirinya akan Ayahnya dan kemudian menangis. Namun semakin kesini setiap Dia ingat Ayahnya, bukan lagi tangisan yang hadir melainkan lapalan doa yang tak pernah putus untuknya.
Rutinitasnya pun sudah kembali seperti semula. Bekerja dari pagi hingga sore di kantor dan sesekali mengunjungi Butik Siti atau tempat tongkrongan ngopi Anak Muda sekarang milik Glenn.
Kasus korupsi di kantornya juga sudah selesai dan Mereka yang terlibat sudah mendapat hukumannya masing masing.
" Kalian harus datang di pembukaan cabang baru Gue besok. Jangan sampai lupa. " kata Glenn pada Dua Sahabatnya.
" Iya. Bawel bangat Lo. Kan tadi juga Lo sudah bilang !! " sahut Siti kesal.
" Yaa, Gue cuma ingatin doang. Lo nih terutama, Sit. Masih muda tapi sudah pikun seperti Nenek Nenek. "
" Tenang aja, Kita pasti datang kok. "
" Yang dekat apa sih, tempatnya ??? " tanya Siti setelah meneguk kopinya.
" Tuh kan, baru juga diomongin 10 menit yang lalu, sudah lupa lagi Di. " ujar Glenn kesal.
Melisa semakin terbahak, " Itu loh yang sebelah Rumah Makan HJ. Slamet S.H, S.E, sama S apalagi itu " tanya Melisa melirik Glenn.
" S .... S .... S.... " Glenn juga nampak berpikir. Yang Dia ingat hanya gelar yang banyak namun yang Dia fak hafal detailnya.
" Es Cendol !! " seru Siti sambil tertawa disusul tawa Melisa.
" S .... Ah, tau ah. Pokoknya yang gelarnya kayak jalan tol. "
__ADS_1
" Motivasi apa itu Orang punya gelar sepanjang jalan kenangan tapi malah jual ayam kremes. " kata Siti ngasal.
" Siapa tau emang hobi Dia ngoleksi gelar sarjana. " kata Melisa.
" Siapa yang punya hobi semulia itu? kelar S1 aja udah bersyukur Gue. "
Komentar Glenn membuat dua Sahabatnya tertawa. Kemudian Mereka larut dalam cerita masing masing. Siti yang berkeluh kesah ingin cepat cepat mengakhiri masa jomblonya dan Glenn yang sekarang sudah mulai jenuh dengan Aplikasi Teman Semalam serta Melisa yang mengaku tengah merindukan Seseorang tanpa Dia ketahui pasti siapa Orangnya.
" Zein? " semua terdiam saat Glenn menyebut nama Pria itu. Sudah lama sekali rasanya Melisa tidak mendengar nama itu.
Siti memberi tatapan bertanya lada Wanita itu.
" Gue pikir Kalian akan jadian. Apalagi pas Zein semangatin Lo waktu kepergian Om Andre. Dia kelihatan sangat khawatir sama lo bahkan Dia meluangkan waktunya lo kapan pun lo butuh. Dia idaman habis sih, Mel. " kata Siti dengan tatapan berbinar.
" Lo suka sama Dia, Mel ? " Glenn bertanya.
" Pakai ditanya! " sela Siti sambil menyikut Glenn.
" Entahlah. Dia cukup berkesan buat Gue. Dia satu satunya cowok asing yang masuk ke kehidupan gue stelah lo. " jawab Melisa.
" Iyalah. Sangat berkesan. " ujar Siti, Dia menekan dua kata terakhir dengan makna tersirat.
Diantara ketiganya memang hanya Siti yang mengetahui hubungan lawyer with benefit diantara Melisa dan Zein.
" He is a good, guys. Kelihatannya. " Glenn menaikkan bahunya, tidak terlalu peduli kepribadian Zein. Yang penting baginya, Pria itu tidak membuat Melisa menangis. Sudah cukup.
Lalu Mereka tenggelam dalam pembicaraan mengenai lawan jenis. Siti dan Glenn sangat bersemangat sedangkan Melisa hanya menanggapi seadanya. Gara gara di senggol tentang Zein, hatinya seolah teriris. Zein begitu berarti dalam kehidupannya, Namun sekarang Dia tidak pernah bertatap muka lagi dengan pria itu. Dia pun segan menghubungi Zein lebih dulu, toh Dia pikir Dia tak punya lagi kepentingan dengannya.
****
" Keren juga si Onta bikin konsep kafenya. " kata Siti takjub melihat desain kafe kopi milik Glenn.
" Pasti lah. Dia juga ngikutin trend jaman now." jawab Melisa yang sama takjubnya.
" Tapi jarang jarang banget kan, Mel, si Onta buat konsep sekeren ini. Menurut gue konsep cafe Dia masuk ke segala jenis umur deh walau gak terlalu gede. Menurut lo gimana? " Ella mulai duduk di kursi bar dekat jendela.
__ADS_1
" Gue sependapat sama lo. Mungkin Dia sudah berpikiran mau berkeluarga, Ti. Makanya dibuat konsep masuk ke segala usia. Mau anak muda, yang sudah berkeluarga, atau suami istri bahkan kakek nenek menurut gue cocok cocok aja."
Siti mengangguk setuju. Cafe kopi tongkrongan milik Glenn tidak besar hanya ruko minimalis yang diubah menjadi kelihatan sangat luas. Di dinding cafenya terdapat banyak foster band favorit anak muda jaman dulu dan sekarang serta foster foster film terkenal. Juga terdapat tempat khusus untuk live musik di pojok cafe. Meja bar yang modern tidak terlalu fancy membuat siapa saja percaya diri masuk ke dalam cafe ini.