
Sudah cukup lama dia tidak menginjakkan kakinya di rumah besar itu. Pernah ia merasa rindu ada di sana. Bersantai di gazebo dekat kolam ikan atau menikmati malam di teras rumah itu. Namun sejak kejadian setahun lalu, Ia tak pernah berani lagi datang kesana jika bukan karena terpaksa seperti saat ini.
Ponselnya berdering memecah lamunan. Dia segera menekan layar hijau di ponselnya itu.
" Halo? "
" Sudah sampai belum? Bilangin nyokap gue langsung taruh kulkas duriannya. " tanpa mengucapkan salam, suara wanita itu langsung memenuhi telinganya.
" Iye. "
" Woi! Glenn! Awas lo ya, sampai durian gue busuk karena lo. " ujar Siti.
" Iye nenek!! Rewel amat, heran. Ini gue udah di depan rumah lo. " kata Glenn, gemas.
" Nah gitu dong! Kalau ngasih kabar itu yang jelas jangan cuma iya iya doang. Yasudah, gue mau meeting lagi, bye! "
Sambungan telepon terputus. Atau lebih tepatnya diputus sepihak oleh Siti.
Sebenarnya Glenn sudah sampai sejak 20 menit yang lalu, namun entah kenapa ada rasa enggan untuk turun dan masuk ke rumah Siti. Rumah yang menyimpan banyak kenangan itu.
Dienyahkan rasa tersebut, demi durian Siti, ia akhirnya melepas sabuk pengaman dan turun dari mobil.
" Permisi. " Glenn mengetuk pelan pintu rumah utama Siti.
Hingga ketukan keempat, baru terdengar sahutan dari dalam. Ia menunggu dengan sabar sambil menenteng sebuah paper bag yang berisi titipan sahabatnya itu.
" Iya, cari siapa? "
Baru Glenn ingin menjawab tapi ucapannya seolah tertahan di tenggorokan dan lidahnya pun mendadak kelu.
" Tante. " sapa Glenn, sopan.
" Iya. "
" Ini, saya bawa titipan Siti. Isinya durian, Siti bilang minta tolong di taruh di kulkas supaya duriannya tetap fresh. " kata Glenn sedikit gugup.
Desi menerima paper bag yang disodorkan Glenn.
" Oke, ada lagi? " tanya Desi tanpa basa basi.
Pria itu menggeleng. " Cuma itu aja, Tan. Kalau gitu saya pamit dulu. "
Desi mengangguk singkat. Tapi baru saja Glenn berbalik dan berjalan beberapa langkah, Desi memanggilnya kembali.
__ADS_1
" Kamu masih dekat sama Siti? "
Glenn sadar yang membuatnya gelisah sejak tadi ialah pertemuannya dengan Desi yang tanpa persiapan ini. Hubungannya dengan wanita paruh baya itu mendadak berubah dan renggang sejak setahun lalu.
" Kita sahabatan, jadi gak mungkin gak dekat, tante. " jawab Glenn, rasional.
" Saya harap kamu sudah berhenti di setahun yang lalu. " jawab Desi dingin.
Glenn paham sekali apa maksud wanita itu. Dia hanya mengangguk untuk meyakinkan.
" Tante tenang aja. Setahun lalu itu saya cuma melantur aja kok. " kata Glenn.
" Baguslah. "
Bukan aura baik yang mengudara di sekitar mereka dan sadar akan hal itu, Glenn buru buru pamit dan meninggalkan rumah yang kini menyisahkan kesan berbeda bagi dirinya.
Perjalan dari rumah Siti ke Kafe miliknya membutuhkan waktu sekitar 45 menit. Sesekali saat menyetir ia memikirkan ucapannya sendiri.
Apakah setahun yang lalu, Ia benar benar melantur???
******
" Caramel satu sama pie lemon. " kata Seorang pelanggan tepat ketika orang di depannya pergi.
Glenn dengan cepat mencatat pesanan tersebut di mesin khusus.
Pelanggan tadi sibuk dengan dompetnya lalu dia mengeluarkan uang kertas berwarna biru.
" Andi?" Glenn setengah terkejut mendapati siapa pelanggan barusan.
" Glenn? Ini kafe lo? "
Glenn mengangguk. " Baru buka. Eh, selesai pembayaran dulu ya, kita lanjut ngobrol lagi nanti. Gak enak sama antrian di belakang. "
" Oke, oke. "
Glenn menerima uang tersebut lalu saat selesai mencatat pesanan, dia meminta salah satu pegawainya untuk menggantikan dirinya di meja kasir. Glenn melangkah ke tempat Andi duduk di dekat jendela.
" Apa kabar?? Sudah lama bangat kita gak ketemu. Gue pikir lo sudah pindah kewarganegaraan. " kata Glenn.
Andi Antonius, Senior dulu di kampus Glenn. Dia hanya tersenyum mendengar gurauannya itu. Andi adalah seorang mahasiswa aktif yang berprestasi, biarpun fakta tersebut menempel di jidatnya, tetap saja ia tidak lepas dari bahan bully dari kating. Andi dan Glenn saling mengenal ketika Glenn membantu Andi saat sedang di gencet para kating dulu. Keduanya menjalin pertemanan walau usia mereka terpaut dua tahun.
" Indonesia tetap di hati. " kata Andi.
__ADS_1
" Gimana, New York? " tanya Glenn.
" Good. Biasa aja sih, pada akhirnya gue tetap kangen sama rendang dan opor. " gurau Andi.
Glenn terkekeh. " Lidah orang indonesia gak bisa bohong ya. "
" Lo sendiri gimana? Sudah buka kafe aja sekarang, kayaknya dulu lo adalah mahasiswa paling madesu yang pernah gue kenal. " kata Andi membuat Glenn tergelak.
" Banyak hal yang bikin gue kayak sekarang. " sahut Glenn.
" Wanita masih menjadi salah satunya? "
Glenn mengangguk disertai senyuman jail khas dirinya.
" Hidup pria tanpa wanita itu bagaikan bubur tanpa kacang. Gak enak. " kata Glenn.
" Iya. Tapi gak banyak juga kali wanitanya. satu cukup. " ujar Andi.
" Gue bukan lo kali yang seumur hidup cuma mengharapkan satu wanita. Eh, ngomong ngomong, lo sudah move on? " goda Glenn.
Andi berdecak sambil memalingkan wajahnya. Dia sendiri juga bingung apakah sudah move on atau belum dari cinta lamanya.
" Kayaknya belum, ya? " timpal Glenn.
" Shhiit?! Kenapa jadi bahas percintaan gue? move on atau belum, hidup gue tetap bahagia kok. " kata Andi.
" Lo bisa bilang begitu sekarang. Lihat aja kalau lo sudah ketemu sama dia. Gue jamin, gak bakalan bisa move on seumur hidup lo. " ujar Glenn.
" Gak mungkinlah. Lagian hubungan gue sama dia sudah lama selesai juga. Sudah deh, gak usah bahas itu. Jadi kenapa lo bisa nyasar jadi pengusaha kafe begini? " Andi pun mengalihkan topik walau hatinya memikirkan kata kata Glenn tadi.
Benarkah dia tidak akan bisa move on? Hatinya bertanya tanya tentang kabar dia yang sudah bertahun tahun berpisah. Apakah dia masih sama seperti dulu atau justru sudah berubah?
Tak munafik, Andi juga menginginkan pertemuan tersebut walau tak yakin bisa menahan gejolak hatinya yang pasti terlampau gembira. Kadang ia berpikir, apakah keputusannya dulu adalah yang terbaik?
" Jadi ya gitu aja. Gue juga bosan luntang lantung gak jelas, makanya uang warisan almarhum bokap gue jadiin usaha aja. Awalnya sih gue nabung sama Toni, tapi semenjak dia menikah, gue coba terusin sendiri. " kata Glenn.
" Gak mau nyusul, Toni? Lo sudah mau 25 kan? Ideal tuh buat menikah. " kata Andi.
" Boro boro mau menikah. Calonnya juga gak ada. " Glenn kemudian beranjak untuk mengambil pesanan Andi.
" Thanks. " ucap Andi. Dia menyeruput minumannya. " Gak usah jauh jauh kali nyarinya, lirik aja yang dekat. "
Glenn mendengus. " Siapa? Hidup gue wanita semua. Bingung mau lirik yang mana. "
__ADS_1
" Dua wanita yang selalu lo kekang dari jaman maba dulu. Kalian masih sahabatan kan? " tanya Andi. Maksudnya adalah Siti dan Melisa.
" Masihlah. Tapi masa iya gue sama salah satunya. Siti tuh deman badboy, sementara gue kan goodboy. Terus kalau Melisa, Dia mah sudah ..... "