
Pagi hari, Mereka memutuskan untuk tidak mengambil menu sarapan yang disediakan hotel, keduanya ingin mencicipi kuliner khas jogja sebagai menu pada awal hari.
" Kayaknya itu enak, Mel. " kata Zein sambil menunjuk sebuah warung makan di pinggir jalan.
" Gudeg? " Melisa menatap Zein kembali setelah membaca spanduk di warung tersebut.
" Pagi pagi kamu mau makan gudeg? "
Namun Zein menjawab dengan anggukan antusias. " Bosan sarapan roti atau gak nasi goreng terus. "
Dalam gandengan pria itu, Melisa mengekor dan ikut mencicipi gudeg sebagai sarapan. Ini bukan pertama kalinya dia makan makanan khas jogja tersebut, Namun Melisa berani jamin kalau gudeg ternyata memang lebih enak makan di kota lahirnya.
" Kalau aku hidup di jogja, kayaknya bisa kebeli rumah deh dalam setahun. " ucap Zein usai selesai membayar makanan mereka.
" Murah banget ya? "
Zein mengangguk. " Jakarta kalau kayak gini bisa hidup gak ya? "
" Bisa aja. Jadi pengen tinggal di sini. Suasananya nyaman walaupun panas. " kata Melisa.
" Nanti kita cari tempat wisata lagi. "
Keduanya melanjutkan makan dan sesekali mengobrol. Semakin siang, semakin banyak pengunjung yang berdatangan. Hingga mereka keluar dari warung tersebut, pengunjung masih tak henti henti memenuhi warung gudeg itu.
" Itu apa? " tanya Melisa sambil menunjuk sebuah toko yang menjual oleh oleh.
" Barang barang dari anyaman gitu kayaknya. Mau kesana? " ajak Zein.
Melisa mengangguk. " Mau. "
Ternyata toko tersebut menjual oleh oleh dari hasil kerajinan tangan, seperti tas, topi, nampan, bakul nasi yang terbuat dari anyaman.
" Ini lucu bangat. " kata Melisa sambil menyentuh salah satu tas yang digantung.
" Kamu mau? " tanya Zein.
" Gak ah. Kayaknya gak cocok buat aku. "
" Cocok aja kok. "
" Aku gak mau beli apa apa juga, Ze. Pengen coba pergi keluar kota tanpa bawa oleh oleh. " kata Melisa.
" Menarik juga. Terus ngapain dong keluar kota kalau gak mau kenangan? "
" Kenangan gak musti harus barang atau oleh oleh. Semua yang kita lakukan disini juga termasuk kenangan waktu kita pulang nanti. " ucap Melisa.
" Iya juga. " Zein mengangguk paham.
__ADS_1
" Kamu mau kemana lagi? " tanya Melisa.
" Aku sebenarnya lagi nunggu sore ke malam sih, nanti kita ke alun alun ya. Kalau kamu mau kemana? " tanya Zein.
Melisa terdiam. Dia pun tak tahu. Tak banyak ia tahu tentang jogja.
" Kita cari di internet aja wisata yang dekat dekat sini. " usul Melisa.
" Atau kuliner. " tambah Zein.
" Nanti pulang banyak banyak olahraga ya. " kata Melisa sambil mengusap usap perut Zein.
Pria itu hanya mendengus dan kemudian Melisa tertawa.
Tak salah memang jika Melisa mendadak mengidolakan jogja sebagai kota ternyaman untuk ia tinggali. Semakin sore, suasananya semakin indah. Sesuai permintaan Zein tadi, kini mereka sudah berada di alun alun kota jogja.
Sebuah lahan yang sangat luas dan dipadati oleh penduduk serta pedagang pedagang kecil yang berjualan di pinggiran alun alun.
Zein memilih sebuah gerobak yang menjual wedang jahe di tempat yang tidak begitu ramai. Keduanya duduk di sebuah karpet dari anyaman.
" Ada wedang ronde juga, kamu mau? " tanya Zein.
" Bentuknya kayak apa?"
" Kayak onde onde. Mau? "
" Oke."
Selanjutnya Zein menghampiri si penjual dan menyebutkan pesanannya. Tak butuh waktu lama untuk menyiapkan satu porsi wedang jahe dan wedang ronde. Hanya butuh waktu kurang lebih lime menitan dan Zein sudah kembali dengan membawa dua pesanannya.
" Awas panas. " kata Zein.
Melisa mengambil mangkuk yang diberikan Zein dengan hati hati. Dia meniup sendok yang berisi wedang rondenya.
" Enak? " Zein mengambil yang Melisa gunakan, lalu ia bergantian menikmati makanan tersebut.
" Enak. Hangat di tubuh. "
" Yasudah, kamu habiskan sendiri saja. " kata Zein.
Melisa menggeleng. " Nanti gak habis, ini banyak bangat. "
" Iya gampang. Kamu makan dulu aja. "
Zein menikmati wedang jahenya dengan tenang. Embusan malam menyapu keduanya yang tengah duduk dalam diam. Sesekali mereka bertukar menu.
" Itu ponsel kamu bunyi. " kata Melisa.
__ADS_1
Zein reflek mencari ponselnya disekitar tempat duduknya.
" Sebentar ya. " Pria itu beranjak sedikit jauh dari Melisa untuk menerima panggilan telepon.
" Ze, lo balik kapan? " tanpa sapa atau salam, seseorang langsung menyambar bicara.
" Besok malam lah. Kan gue udah bikang ama lo. Ada apaan sih? " tanya Zein sedikit merasa terganggu.
" Gawat, Ze. Tadi kantor di datangi media buat penjelasan terkait perceraiannya Visca. Untung aja ada Nadia, jadi mereka gak dikasih masuk. Cuma gawatnya adalah mereka terus mendesak masuk sampai kita kasih klarifikasi. Lo kan yang nangani kasusnya dia, gue sama Bobby gak paham apa apa. " kata Bagas. Zein dapat mendengar nada panik dari seberang sana.
" Visca gak mau masalah ini jadi konsumsi publik, Gas. Gue juga gak bisa kasih tau apa apa ke me-- "
" No! Visca katanya sudah buat klarifikasi semua penjelasan mengenai masalah perceraian dia dan bisa ditanyakan langsung sama pengacara dia. Which is lo! Jadi lo musti balik secepatnya kalau kantor mau selamat. " ujar Bagas.
" Sejak kapan Visca bilang begitu? " tanya Zein, heran.
" Lo kayak gak tahu artis sinetron aja, Ze. Hari ini bilang gak, besok beda lagi. Tergantung mana yang bisa menguntungkan mereka aja. " ucap Bagas.
Zein terdiam cukup lama. Dia memikirkan keputusan yang tepat. Sesekali dia menoleh ke arah Melisa yang sedang asyik menonton pengamen disekitar jalanan. Zein memikirkan perasaan Melisa, Akankah wanita itu kecewa jika ia tak bisa menepati janjinya?
" Ze! Jawab napa, pulsa gue kepotong banyak nih. " omel Bagas.
" Oke, oke. Gue ambil flight pagi deh. Lo stand by di kantor ya, sekalian bilang sama media kalau gue baru ada besok sore. " Zein memutuskan untuk kembali ke jakarta secepatnya.
" Oke, bye. "
Zein menghela nafas kasar. Baru saja dia merasakan quality time sama Melisa, tiba tiba ada kendala yang mengharuskan semua berakhir lebih cepat dari yang ia rencanakan. Pupus sudah harapannya ingin membawa Melisa ke Malioboro untuk jalan jalan dan belanja.
" Telepon dari siapa? " tanya Melisa saat Zein kembali.
" Bagas. Dia bilang ada masalah di kantor dan mau gak mau aku harus balik besok pagi karena masalahnya urgent bangat. Gak jadi ke Malioboro deh. " ujar Zein disertai dengan penyesalan dan pasrah.
" It's oke. Kita bisa ke Malioboro malam ini juga. " kata Melisa sambil melempar senyum pada kekasihnya.
" Kamu gak capek seharian aku ajak jalan jalan gini? "
" Biasa aja sih. Kadang aku sama Siti bisa lebih lama dari ini kalau ke mall. " kata Melisa.
" Oke. Yuk, ke Malioboro. "
Seuntai senyum terbit di wajah keduanya. Tak dipungkiri jika memang hari ini menyenangkan bagi Zein dan Melisa. Hari ini kencan mereka mulus tanpa debat dan pertengkaran. Hanya ada canda dan tawa setiap waktu yang mereka luangkan.
" Sewa motor, yuk. " kata Zein saat melihat rental sepeda motor.
" Cuma tiga setengah kilo, kok. Aku kuat, Ze. " ujar Melisa.
" Iya. Hemat waktu aja. Kamu tunggu disini ya. "
__ADS_1