
Dan terbang lah puluhan lampion itu ke langit membuat cakrawala semakin indah dengan cahayanya. Menemani bintang yang hanya hadir sedikit malam ini seolah tahu akan ada teman baru yang akan menemani mereka.
Melisa terlihat sangat gembira. Dia bahkan tak bisa mengalihkan tatapannya pada puluhan lampion itu. Zein menatap wajah yang penuh dengan cahaya di sampingnya. Kemudian dia meletakkan salah satu tangannya di pinggang wanita itu, mendekapnya dengan hangat.
Melisa sempat terkejut namun tak menolak. Dia malah menyandarkan kepalanya di dada pria itu.
" Indah bangat, Ze. " gumamnya.
" Kayak kamu. " kata Zein yang diakhiri dengan kecupan di puncak kepala wanita itu.
Usai memandangi lampion yang terbang yang kian menjauh, Zein mengajak Melisa pulang. Dia menawarkan Melisa untuk makan malam dan diterima baik oleh wanita itu.
" Makasih ya, sudah bawa aku ke tempat seindah ini. " bisik Melisa, ketika mereka berdiri tepat di depan mobil Zein.
Posisi mereka masih seperti saat melihat lampion tadi.
" Makasih banyak, Ze. " ucap Melisa lagi, sedikit mendongak untuk menatap pria yang sedang memeluknya.
" Sama sama, Melisa. "
Zein mendekatkan wajahnya laku mengecup bibir wanita itu. Mereka saling menikmati ciuman dan semilir angin yang hadir malam itu.
******
Setelah selesai makan malam di salah satu restoran pilihan Melisa. Mereka melanjutkan aktivitas yang tadi sempat tertunda karena mereka tak sengaja melakukannya di tempat umum. Keduanya memilih sepakat untuk cek in di hotel terdekat malam ini demi melampiaskan hasrat dan kerinduan pada masing masing.
" Ze? "
" Hmm? "
" Kamu .... Waktu tidur sama mantanmu, juga meninggalkan banyak kissmark di tubuh mereka, ya?? " entah apa yang mendasari Melisa menanyakan seperti itu.
" Gak juga sih. Kadang mereka lebih agresif dari pada aku. " jawab Zein.
" Emang kamu punya mantan berapa? "
Zein mengusap perut Melisa sambil menjawab.
" Empat. "
Melisa menciut mendengar jawaban itu. Berarti sudah ada empat orang yang merasakan pelukan hangat dari Zein.
" Kenapa, Mel? " tanya Zein karena merasa ada yang ganjil dari pertanyaan Melisa itu.
" Mereka semua ---- "
" Gak, Melisa. Aku melakukan sama dua orang diantaranya. "
Mau tidak mau Zein tersenyum setelah memberi klarifikasi pada Melisa. Dia yakin wanita itu sedang cemburu. Zein membalikkan tubuh Melisa sehingga mereka berhadapan.
__ADS_1
" Gak usah cemburu. Mereka sudah berlalu, Aku bahkan gak pernah ingat malam sama mereka. " kata Zein sambil mengusap pipi Melisa dengan ibu jarinya.
" Siapa yang cemburu? " ujar Melisa tak senang.
" Kamu. " jawab Zein dengan senyumannya.
" Gak. "
" Gak salah lagi. "
" Apaan sih, Ze?! " Melisa menepis tangan Zein dari pipinya. Dia langsung menjorokkan kepalanya ke dada Zein agar pria itu tidak lagi melihat wajahnya yang tengah malu karen ketahuan cemburu.
Zein tertawa melihat tingkah laku Melisa. Dia mengecup kening wanita itu dan memberi pelukan lebih dalam lagi. Melisa menghirup aroma tubuh Zein dalam dalam. Walau telah di basuh air tapi aroma alami pria itu tidak pernah hilang.
" Good night ms, Melisa Septian. Sweet dream. "
" You too, mr Zein Wirawan. "
Mereka kemudian tenggelam dalam mimpi masing - masing, Namun sebelum menjelajah dalam mimpinya, Zein ingin berterima kasih pada lampion yang Dia terbangkan tadi. Harapannya benar benar terkabul. Malam ini sangat berkesan dan menyenangkan.
*****
Zein mengerang kesal saat ponselnya bunyi terus menerus dan mengganggu tidur siangnya. Dia dengan malas tanpa perlu membuka matanya mangacak nakas untuk mencari ponsel sialan itu.
Zein menjauhkan ponselnya dari telinga begitu mendengar suara nyaring dari seberang telepon. Tanpa dia tanya siapa, Dia sudah tahu siapa orang yang membangunkan dari tidur nyenyak dan mimpi indah.
" Iya, Ma. Sabar saya lagi tidur. Buka sendiri aja. " Zein menyebutkan kode pintu apartemennya.
" Kamu itu perjaka bangun siang siang begini!! Gimana mau dapat jodoh coba? kerjaannya tidur terus! " oceh Dwita, Mamanya.
Zein menggaruk garuk kepalanya. Kesadarannya belum kumpul sempurna.
" Mama, kok gak bilang bilang mau kesini? " tanya Zein, tak mengindahkan omelan Mamanya.
" Masa Mama mau ke rumah anak sendiri aja harus bilang dulu. " kata Dwita.
" Mama itu kangen sama kamu. "
" Bukan gitu, Ma. Takutnya aja saya lagi gak ada di rumah. Saya juga kangen kok sama mama. " Zein mendekatkan diri ke Mamanya dan mereka berpelukan singkat.
" Mama bawain cumi balado. Kamu sudah makan belum? Mama hangatin, ya. Kita makan sama sama. " Dwita mengambil beberapa kotak bekal dari tas besar yang ia bawa.
Zein mengangguk. " Barang mama mana lagi? Saya taruh di kamar dulu. "
Zein meraih satu travel bag dan menaruhnya di kamar sebelah ruangan dia.
Wangi masakan mengudara di semua sudut. Perutnya berbunyi. Dia baru ingat belum makan apa apa sejak tadi pagi dan belum sempat membeli sarapan.
" Makan yang banyak. " kata Dwita. Dia senang melihat putranya memakan masakannya dengan lahap.
__ADS_1
" Mama gak makan? " tanyanya dengan makanan masih di mulut.
" Ini mau makan. "
Dwita memperhatikan ada yang aneh di kulit putranya. Dia pun langsung bertanya karena khawatir.
" Itu leher kamu kenapa merah merah? " tanya Dwita, sambil menunjuk sisi leher Zein yang memerah.
DJUENGG!
" Oh, ini. " Dia gelagapan menjawab. Tangannya mengusap bercak merah di lehernya. Jelas dia tau apa penyebabnya dan siapa pelakunya.
Ya. Apalagi kalau bukan kissmark yang ditinggalkan Melisa Septian.
" Coba mama lihat. "
Zein menelan salivanya. Dia menahan tangan mamanya.
" Gak apa apa, Ma. Ini cuma gara gara kena rokok kemarin. " ucap Zein, Dia berharap Mamanya percaya.
" Rokok? Memang kamu merokok? " tanya Mamanya, heran.
DJUEENGG!!
Dia jelas bukan perokok. Dia bahkan tak pernah menjadi perokok aktif. Dia sama seperti Dwita dan Melisa, sama sama membenci asap rokok.
Lapar benar benar membuat otaknya tak bisa berpikir jernih.
" Ngg ..... Bukan saya yang merokok, tapi ... "
Ayo Zein berpikir! Jangan lemot please!!
Lalu dia teringat Bobby yang suka merokok.
" Tapi teman saya. Jadi dia gak sengaja merokok terus kena leher saya gitu, Ma. "
Dwita mengerutkan kening. Dia bingung.
" Giman sih, Ze? Mama gak ngerti. Masa teman kamu yang merokok dan malah kamu yang kena sundut. "
Zein tertawa kecil untuk mencairkan suasana.
" Gak apa apa. Gak sakit kok ini. Ngomong ngomong masakan mama enak bangat. " kata Zein mengalihkan topik.
" Jelas dong! Aduh Ze, Kamu itu kayak gak pernah makan masakan enak gitu deh. Pasti beli junk food terus ya? " Dwita menambahkan lauk lagi ke piring Zein.
" Gak selalu junk food juga, Ma. " Zein memberi pembelaan.
" Makanya kamu itu cepat punya istri biar ada yang masakin. Gak beli terus. Masakan rumah itu lebih sehat. " kata Mamanya, mulai mengikuti Mami Bagas.
__ADS_1
Zein diam saja. Sudah mengeti maksud tujuan Mamanya.