
Zein sama terkejutnya dengan wanita yang katanya akan menjadi calon istrinya. Dunia memang sedang benar benar mempermainkan pria itu.
" Jadi lo anak tante Dwita? " tanya wanita itu.
Zein mengangguk. " Siti? Kamu sahabat Melisa, kan? "
Wanita itu mengangguk. " Oh, Aish! Gosh! " gumam Siti, kesal.
Dwita dan Desi saling tatap. Mereka senang melihat kenyataan jika kedua anak mereka ternyata sudah saling kenal.
" Kalian sudah saling kenal? " tanya Dwita dengan senyum sumringah.
" Walah, Sudah cocok berarti. Kalau bisa sehabis ini kalian langsung tunangan, ya. Gak usah pendekatan lagi. "
" NGGAK! "
" NGGAK! "
Jawab Zein dan Siti secara bersamaan. Mereka tidak habis pikir dengan Ibunya masing masing, Mengapa sangat antusias sekali dengan perjodohan tak masuk akal ini.
" Kita gak sedekat yang kalian pikir. " jawab Siti, Dia melirik Zein untuk meminta bantuan.
Zein menerima sinyal itu dengan baik. Maka dia secepat mungkin memutar otak agar bisa menghentikan perjodohan sialan ini. Mana mungkin dia menikah dengan Siti. Seharusnya dia menikah dengan sahabatnya Siti.
" Saya kenal Siti karena Sean dan sahabatnya pernah menjadi klien saya. Hanya sampai disitu, Kita cuma saling tahu nama, Gak lebih. " ujar Zein dan Siti mengangguk.
" Dan kita gak mungkin nikah. " tambah Siti.
Desi terkejut dengan respons putrinya. Padahal semalam Siti sudah meng iyakan untuk menerima perjodohan ini karena sampai batas waktu yang sudah ditentukan Siti masih belum mempunyai pasangan.
" Siti. " tegur Desi.
" Kamu sudah janji sama mama akan menerima perjodohan ini, Mama gak suka kamu ingkar janji. "
" Iya, kalau bukan Zein orangnya. "
" Memangnya kenapa, Nak? " tanya Mamanya.
" Pokoknya kami gak bisa melanjutkan perjodohan ini. Tante Desi bisa jodohkan Siti dengan pria lain. " alih alih Siti yang menjawab, justru Zein yang lebih dulu membuka mulut.
Dia gerah dengan suasana ini.
Dia gelisah.
Dia takut hubungannya dengan Melisa terancam.
" Saya gak bisa. Siti juga gak bisa. Gak ada kecocokan diantara kami sejak awal, Jadi saya mohon batalkan perjodohan ini. " ucap Zein pada Desi dengan nada memohon.
" Zein! " Dwita membentak anaknya.Dia tak suka dengan ucapan Zein barusan.
__ADS_1
" Jangan malu maluiin, Mama! " desisnya.
Zein terdiam. Desi juga belum menganggapi.
" Tante Dwita, Maaf aku juga bisa. Zein .... " Siti melirik Zein, meminta ijin ke Pria itu untuk menceritakan mengenai Melisa.
Zein mengedipkan kedua matanya.
" Zein itu sebenarnya sudah ada pa--- "
" Siti!! "
Ucapan Siti terpaksa berhenti saat Desi tiba tiba limbung dan nyaris pingsan. Desi memegangi kepalanya. Dwita membantu memapah wanita paruh baya itu untuk duduk.
" Mama kenapa? " tanya Siti panik.
Desi masih diam. Dia terduduk lemas dan masih syok mendengar pernyataan dari Siti dan Zein. Mungkin juga dia kecewa.
" Kita ke rumah sakit aja. Mama pucat bangat. " kata Siti.
" Ze! Bantuin tante Desi dong! "
Zein buru buru membantu Siti memapah ibunya ke mobil. Mereka berempat pergi ke rumah sakit untuk mengecek kondisi Desi yang tiba tiba drop.
Sampai di rumah sakit, Desi segera di periksa oleh Dokter. Siti ikut masuk ke ruang periksa sedangkan Zein dan Mamanya menunggu di ruang tunggu.
Dwita panik bukan main. Dia tidak menyangka kejadian beberapa menit lalu dan juga penolakan tegas yang dikatakan oleh Zein dan Siti.
Zein menunduk saja. Sejujurnya Dia pun juga merasa bersalah. Apakah kata katanya terlalu kasar? Entah. Dia hanya memikirkan perasaan seseorang di luar sana.
" Kalau sampai tante Desi kenapa kenapa, Kamu harus tanggung jawab loh, Ze. " ujar mamanya lagi.
Zein tak menjawab apapun.
Sementara itu di ruang periksa, Siti dan Desi sedang menunggu Dokter membernya resep obat. Dokter mengatakan bahwa Desi hanya sedikit syok dan kondisi tubuhnya memang kurang fit hari ini. Jadi dia disarankan untuk istirahat beberapa hari ke depan.
" Siti. "
" Ya, Ma? " Siti meraih tangan Desi dan menggenggamnya.
" Mama mohon ..... " Desi memasang wajah memelas.
Siti menghela nafas. Lelah.
" Ma, jangan kayak gini. Siti mau dikenalin sama siapapun asalkan jangan sama Zein. "
" Tapi Mama maunya kamu sama Zein, Sit. Dia itu mapan, ganteng, keluarganya sudah kenal lama dengan kita. Daripada kamu cari orang lain lagi, terus harus menyakinkan papa dan mama dulu, kelamaan. Mama pengen cepat cepat punya cucu dari kamu. "
Desi mengeluarkan seribu satu cara agar Siti menuruti keinginannya. Dia bahkan sampai meneteskan air mata dan mengucap dengan nada memohon.
__ADS_1
Hati Siti berdenyut nyeri. Bagaimana bisa pertimbangan orang tuanya memilih pasangan hanya dengan mapan atau tidak? Tampan atau tidak? Materi terlalu membutakan akhlak.
Tetapi dia juga tak punya alasan kuat untuk tidak menerima permintaan ibunya. Tidak mungkin juga ia mengatakan apa yang ia pikirkan barusan.
" Kamu pacaran aja dulu sama Zein, ya. Sambil mama sama tante Dwita mempersiapkan pertunangan kalian. " Desi tersenyum senang saat membayangkan momen itu.
" Tapi, Ma .... "
" Mama yakin kamu sama Zein cocok 100 persen. Bakalan langgeng seperti mama dan papa. " ucap Desi percaya diri.
Siti tersenyum kecut. Langgeng? Lalu bagaimana dengan Sean dan istrinya yang sudah jadi contoh nyata dengan pernikahan dari hasil perjodohan itu?
Sayangnya Siti hanya mampu berucap dalam hati.
" Gimana keadaan kamu? "
Dwita datang bersama Zein dan langsung menanyakan keadaan Desi dengan khawatir. Siti mengucap syukur dalam hati karena Dwita datang dan menghentikan percakapannya dengan Desi.
" Cuma kecapean aja kok. Gak usah khawatir. " kata Desi.
" Maafkan Zein, ya. Aku jadi gak enak sama kamu. " ujar Dwita sambil melirik Zein.
Kemudian Desi dan Dwita berbincang layaknya dua orang wanita paruh baya pada umumnya. Zein melirik Siti yang sedari tadi diam saja sambil menunduk.
" Siti, ikut saya ke depan sebentar. " bisik Zein.
Siti melirik Zein dengan sangsi tetapi sehabis itu dia mengangguk.
" Tante, Mama. Saya tunggu di luar, ya. " kata Zein. Dua wanita itu mengangguk.
Siti dan Zein keluar dari ruang pemeriksaan dan menunggu di ruang tunggu.
" Mama, maksa gue terus, Ze. " kata Siti frustasi.
" Saya juga kehabisan akal untuk bantah Mama sayam " jawab Zein menimpali.
Keduanya kalut dalam pikiran masing masing. Mencari jalan keluar dari takdir rumit yang tiba tiba datang.
" Ze! "
Zein tersentak karena tiba tiba Siti memanggil namanya dengan intonasi keras.
" Apa? "
" Kenapa lo gak bilang aja, Kalau lo sudah jadian sama Melisa? Terus lo ajak Melisa ketemu nyokap lo. Dan perjodohan ini batal deh! Cemerlang kan ide, gue? " ujar Siti kegirangan dengan idenya sendiri.
Awalnya Zein mengira ide itu memang cemerlang namun sepersekian detik kemudian dia menggeleng frustasi.
" Gak bisa, Ti. "
__ADS_1
" Kenapa? Lo malu ngenalin Melisa? " sungut Siti.