
" Hhmm ..... Kamu sayang sama sahabat sahabat kamu? "
Melisa mengangguk tanpa berpikir.
" Jelas sayang dong, Tante. Mereka selalu ada dan menemaniku dalam keadaan apapun."
" Kalau begitu, apa kamu rela melakukan apa aja demi sahabatmu? " tanya Desi.
Melisa mengerutkan keningnya. " Ya, bisa dikatakan begitu. "
Desi tersenyum. " Begini, Melisa. Tante mau cerita sama kamu, tapi kamu janji jangan bilang Siti, ya. " kata Desi.
Melisa mengangguk. " Iya, Tante. Tapi cerita mengenai apa? "
Desi meraih tangan Melisa, Digenggamnya tangan gadis yang sudah dianggap seperti putri sendiri.
" Tante dan Om sepakat untuk menjodohkan Siti dan rencananya mereka akan tunangan dalam waktu beberapa bulan lagi. " ujar Desi, mengawali pembicaraannya.
Melihat terlihat gembira. " Serius Siti mau tunangan? Aku tersinggung loh, Siti gak ngasih tau aku soal ini. " candanya.
Desi ikut tertawa.
Bukan.
Lebih tepatnya, tertawa iba. Bukan bahagia.
" Iya, Tante juga senang. Tapi masalahnya Siti menolak perjodohan ini karena dia gak enak sama kamu. " lanjut Siti.
" Kenapa gak enak sama aku? " Melisa heran.
" Karena....karena Calon tunangan Siti adalah Zein. " kata Desi. Dia mengeratkan genggaman tangannya pada Melisa.
Melisa mematung. Udara disekitarnya seolah mendadak hilang menyisakan sesak di dadanya. Dia masih terdiam, memorinya mengulang ucapan Desi barusan.
" Zein Wirawan?? " Melisa memastikan.
Desi mengangguk dengan berat hati. " Iya. Zein Wirawan. Seorang pengacara yang menangani kasus perceraian Sean waktu itu. "
Melisa menelan salivanya susah payah. Perkataan Desi barusan rasanya seperti membuat Melisa dipukul dari belakang setelah setelah sampai di atas tebing tinggi. Jatuh hingga dasar paling dalam.
Katakan ini bohong!
Katakan ini gak benar!
__ADS_1
Katakan ini salah!
Katakan Zein tak akan pergi!
Melisa merancau dalam hatinya.
" Sudah berapa lama tante menjodohkan keduanya? " tanya Melisa dengan suara gemetar.
" Hampir tiga bulan. " jawab Desi.
Tepat. Tepat benar waktu jadiannya bersama Zein. Begini kah cara takdir mempermainkannya? Hanya segini kah kebahagiaan yang ia rasakan?
" Lalu, bagaimana setelahnya? "
" Siti menolak terus terusan, begitu juga dengan Zein. Siti beralasan dia gak mau jadi perusak hubungan kamu dengan Zein, tapi kamu harus tau, Melisa. Tante dan keluarga Zein semata mata bukan hanya ingin menjodohkan mereka saja, tapi juga karena ini adalah pesan terakhir dari almarhum Papanya Zein. Tante mohon kamu mengerti. " terdengar permohonan dari nada suaranya.
Melisa membeku. Lidahnya kelu. Harus dengan apa ia menjawab?
" Kalau aja papa kamu punya pesan terakhir yang kamu penuhi, kamu pasti akan berusaha untuk mewujudkan itu kan, Mel? " Desi mengusap rambut Melisa.
Melisa mengangguk. Pastinya sebab bagi dia Andre sang papa adalah segalanya.
" Zein dan Siti gak pernah cerita soal ini. Aku benar benar baru tahu. " kata Melisa, tatapannya mulai mengosong. Pikirannya berlari kemana mana.
" Maaf, Tante harus ngomong ini sama kamu. Tante rasa harus bicarakan ini sebelum hubungan kamu dan Zein semakin jauh dan semakin sulit untuk kamu mengerti. " ucap Desi.
" Kamu itu cantik, pintar, sopan, baik dan pasti bisa dapat pria yang jauh lebih dari Zein. Kamu pasti gak akan kesulitan cari pengganti dia. Tante mohon ya, Melisa. " kata Desi. Dia membelai sayang kepala Melisa, seperti anak sendiri.
Melisa masih terpaku.
" Tante mohon sama kamu, tolong relakan Zein untuk Siti. Biarkan mereka tunangan kemudian menikah. Biarkan Zein memenuhi pesan terakhir Papanya. " ujar Desi, memohon.
Satu bulir air mata jatuh di kedua pipi Melisa. Meledak sudah gemuruh hatinya.
" A-apa aku harus? "
Desi mengangguk. " Maafkan tante. "
Melisa menggeleng. " A-aku janji akan bantu hubungan mereka. Zein harus bisa memenuhi pesan terakhir almarhum papanya. Dan Siti juga wanita yang baik. " kata Melisa, mencoba menaikkan kedua sudut bibirnya walau sulit.
" Tolong bantu, Tante. Apapun yang kamu mau akan tante berikan setelah ini. " Desi memeluk Melisa yang masih kaku.
Dia bisa merasakan terkejutnya Melisa tadi kemudian perlahan berubah menjadi sedih. Dia ikut mengiba, Namun bukan untuk itu ia berbicara tapi untuk mewujudkan apa yang sudah ia rencanakan.
__ADS_1
Kini alasan terbesar sekaligus batu penghalang di perjodohan Siti dan Zein telah tersingkir. Sebentar lagi, batu tersebut akan menghilang selamanya dan menyatukan apa yang Desi tunggu selama ini.
Dia ingin cepat cepat melangsungkan pertunangan Zein dan Siti, Namun dia harus sabar demi hasil yang sempurna.
Saat Siti keluar dari kamar dan sudah selesai mandi, Desi sudah keluar dari sana. Dan kini meninggalkan Melisa yang terpaku di tepi ranjang sembari memegang majalah. Sekilas Siti melihat sahabatnya sedang membaca, namun nyatanya tidak. Melisa sedang termangu akibat pembicaraan singkat tadi dengan Mamanya Siti. Dan Siti tetap tak mengetahui apapun.
" Mau gofood, gak? " tanya Siti sambil membungkus rambutnya dengan handuk.
Siti memperhatikan Melisa yang tidak menghiraukan ucapannya.
" Mel?? "
Masih terdiam.
Siti kemudian meraih boneka yang tadi digunakan Melisa untuk memukulnya dan melemparnya ke arah Melisa.
Melisa tersentak. " Apa sih? "
Siti berdecak. " Lo gak dengar gue tadi manggil lo? "
Melisa menyesal. Tak seharusnya ia memperlihatkan kesedihannya di depan Siti. Kalau sampai wanita itu tahu, maka sia sia
rencananya untuk menyatukan Dia dan Zein.
Sesungguhnya Melisa benci mengetahui nama pria yang ia cintai harus bersanding dengan Siti, sahabatnya sendiri. Tapi inilah kenyataan yang harus ia hadapkan. Ini adalah perwujudan dari kesiapannya terhadap masa depan.
" Sorry, tadi gue habis lihat lihat parfum, cuma mahal bangat. Jadi gue mikir mau beli apa gak. " dusta Melisa.
" Yaelah, Mel. Pacar lo kan pengacara, duitnya banyak. Minya beliin aja ke dia. " sahut Siti, wanita itu menghempaskan tubuhnya ke kasur.
" Ya, kali Ti. Parfum aja minta dibeliin. "
Siti terkekeh. " Lupa, Mel. Lo kan gak matre kayak gue. "
Melisa tertawa. " Jiwa matre lo harus dipertahankan biar beda sama wanita lain. " kemudian mereka tertawa.
" Ngomong ngomong, Lo gak ada niatan mau nikah sama Zein dalam waktu dekat, Mel? " tanya Siti.
" Nikah? Gak ada. Kita lagi sibuk sama karir masing masing. " kata Melisa, tak sepenuhnya bohong. Memang mereka sedang sibuk namun bukan berarti tak ingin menikah.
Seperti yang Zein bilang, menikah adalah tujuan bagi hubungan mereka. Pada saat itu Melisa tersentuh sekali, tapi sekarang rasanya ia ingin menertawakan dirinya sendiri.
" Karir bisa dibangun setelah menikah. Lo nunggu apalagi emang? Ekonomi? Gak usah ditanya, pasti kalian sudah siap dimasa sekarang dan masa depan. Mental? Gue kasih tau, Mel. Si Zein itu kayaknya udah siap bangat jadi suami dan lo juga sudah pas jadi istri dia. Lagipula 24 tahun itu udah ideal, kok. " cerocos Siti.
__ADS_1
Melisa tersenyum. " Bukan gitu, Ti. Menikah gak semudah itu, lebih berat dari apa yang kita lihat. "
Berat dalam maksud lain bagi Melisa. Berat sekali menuju kesana.