Semua Karena Kamu

Semua Karena Kamu
Episode 47


__ADS_3

" Iya. Hemat waktu. Kamu tunggu di sini ya. "


Melisa tak menjawab lagi sebab dia tahu pria itu tak ingin dibantah. Dibiarkan Zein mendatangi rental sepeda motor sementara dia duduk di sebuah kursi panjang di atas trotoar sembari memandangi jalan raya.


Melisa ingin memuji dirinya sendiri yang telah berhasil membuat pria itu senang. Ia sadar membuat Zein bahagia tak memerlukan usaha yang besar. Zein tidak menolak apapun yang Melisa berikan selama gadis itu masih bersamanya. Hal sederhana pun tak jadi masalah bagi pria itu.


Sekarang Melisa semakin paham yang sulit bukanlah meninggalkan Zein, tetapi membuat rasa percaya pria itu padanya surut. Hilang tak tersisa.


" Kalau nanti aku kangen kamu, pasti jogja adalah tempat yang akan aku kunjungi. Karena gak ada tempat seindah ini bagi kita. " gumam Melisa lada angin yang semakin malam semakin kencang.


Tak lama kemudian, sebuah sepeda motor berwarna merah muncul di hadapan Melisa.


" Ayo naik. " ucap Zein, lengkap dengan helm.


" Vespa? " Melisa terkejut mendapati sebuah vespa yang Zein bawa. Dia pikir adalah sepeda motor biasa, tapi ternyata kendaraan antik yang selama ini disukai Papanya.


" Gak suka ya? "


Melisa menggeleng cepat. " Suka bangat. Dulu papa suka koleksi miniatur Vespa. "


" Baguslah. " Zein tersenyum lega. " Ayo naik."


Gadis itu menerima helm yang diberikan Zein kemudian duduk di jok belakang sambil memeluk kekasihnya. Udara dingin menusuk ke kulit menjadikan ia mempererat pelukannya pada Zein.


Diam diam pria itu tersenyum. Hatinya bersorak menyuarakan kemenangan dirinya. Ah! Andai saja pekerjaan tidak membuatnya harus pulang cepat cepat, rasanya ia ingin setiap saat ada di posisi ini. Terlintas di pikirannya yang absurd untuk membeli sebuah vespa setelah pulang dari jogja. Melihat Melisa yang sangat bersemangat dan riang ketika menaiki vespa, membuatnya selalu ingin membonceng wanita itu kemana pun.


Dengan vespa merah ini, mereka tiba di Malioboro hanya dengan waktu 15 menit saja. Zein memarkirkan vespanya ditempat parkir yang sudah disediakan.


" Gandengan, biar gak hilang. " ucap Zein sambil menggenggam Melisa.


" Oke, jagain aku ya. "


Waktu berlalu dengan cepat seolah bahagia memang membuat waktu berjalan dua kali lebih cepat dari biasanya. Mereka benar benar mengelilingi Malioboro hingga malam hari, mendengarkan lagi lagu dari para pengamen hingga berfoto-foto di beberapa sudut malioboro.


Seperti yang Melisa katakan tadi siang, dia memang tidak berniat untuk membeli apapun di jogja. Walaupun sudah Zein tawarkan, dia tetap menolak. Melisa hanya ingin sebuah kenangan tersimpan di benak tanpa harus bisa ia sentuh kembali. Dia ingin menciptakan sesuatu yang berbeda sekaligus bentuk nyata dari ketidak kekalan yang ada di dunia bahwa apapun pasti lenyap pada waktunya.

__ADS_1


****


Glenn meninggalkan kafenya lebih awal dari biasanya, Hal itu disebabkan permintaan tuan putri Siti yang tak dapat dia bantah. Gadis itu minta ditemani di rumah karena sendirian. Walaupun awalnya Glenn mengatakan dia malas dan tak menggubris satu pun pesan yang dikirim wanita itu, pada akhirnya ia tetap kepikiran dan memutuskan untuk pergi.


Ia menghentikan mobilnya tepat di depan garasi rumah Siti. Kemudian menelpon gadis itu untuk cepat keluar rumah dan membukakan pintu untuknya.


" Akhirnya lo datang juga. " kata Siti, dramatis. Ia langsung memeluk Glenn ketika melihat pria itu tiba dihadapannya.


" Lebay! " Glenn menoyor kepala wanita itu.


Tadinya Glenn ingin masuk dan menerima permintaan Siti untuk menonton ulang film star wars di dalam, namun sesaat ia ingat bagaimana aura ketidaksukaan Desi pada dirinya.


" Teras aja deh. " Dan akhirnya ia putuskan untuk berbincang di teras rumah.


" Yahh, dalam aja yuk sambil nonton tv. " rengek Siti.


" Males ah cuma berdua, entar digerebek warga, mau lo? " ujar Glenn, tak serius.


Siti berdecak. " Apaan sih, lebay bangat. Dulu aja masuk ke kamar gue bisa tanpa permisi. " cibirnya sambil berjalan masuk ke dalam rumah.


Glenn tak merespon. Dia hanya senyum mengingat betapa lancangnya ia dulu, tapi semua ia lakukan tanpa beban dan tak pernah sekalipun keluarga Siti melarangnya kapan pun ia datang.


" Nescafe! " jawab Glenn.


Tak lama kemudian Siti datang membawa dua minuman kaleng. Dia memberikan satu untuk Glenn dan satunya untuk dia sendiri.


" Nyokap lo kemana? " tanya Glenn.


" Kondangan. " Siti nampak sibuk membuka penutup kaleng minumannya.


" Sama bokap? "


" Iya. "


" Mas Sean? " sementara Glenn sudah meneguk kopinya dari tadi.

__ADS_1


" Ngg .. Gak tau. Pergi dari siang. "


Melihat Siti yang tak kunjung selesai dengan usahanya, Glenn langsung mengambil minuman kaleng tersebut dengan satu gerakan ia dapat membuka penutupnya.


" Melisa kemana? Kenapa lo gak minta dia aja yang datang? " tanya Glenn sambil mengembalikan minuman Siti.


" Ke jogja dia. Ada kerjaan gitulah baru balik besok kayaknya. " jawab Siti.


Glenn mengangguk. Dia kembali meneguk kopi dinginnya hingga tersisa setengah. Tak sengaja menoleh ke arah Siti yang tengah melamun, Ia sadar bahwa ada hal lain yang lebih dari sekedar permintaan ditemani ketika gadis itu sendirian.


Siti adalah wanita mandiri dam cuek. Dia tak akan banyak bicara untuk menyelesaikan masalah. Pikirannya yang aneh dan out of the box kadang juga membantunya dalam memecahkan masalah yang tengah ia hadapi. Namun entah apa yang membuatnya begitu frustasi malam ini.


Sorot wajahnya tak biasa. Seperti memendam banyak hal di dalamnya.


" Are you okey? "


Siti hanya menoleh kemudian diam dan menatap lekat Glenn lalu menggeleng pelan.


" Wanna tell me why? "


Gadis itu mengangguk. " Semuanya semakin parah dan terjadi diluar dugaan gue. Rencana nyokap jalan terus dan sekarang malah didukung bokap. Tante Dwita awalnya sudah mau batalin ini semua, tapi nyokap gue, entah gimana caranya berhasil meyakinkan tante Dwita. "


Terdengar helaan nafas dari wanita itu.Ia lelah menentang dan usaha yang berakhir tanpa hasil.


" Dan lo sama Zein tetap akan menikah? " kata Glenn.


" Tunangan. " ralat Siti.


" Ya, pokoknya itu deh. Tapi apa lo gak ada gerakan yang bisa buat semua batal? Sesekali pakai ancaman gak dosa kali, Ti. " ujar Glenn.


" Gue sudah berkali kali ngomong ke mereka kalau gue gak bisa. Jangankan menikah, cinta juga gak. Tapi jawaban mereka cuma jalani aja dulu. Cinta bisa datang kapan aja setelah kalian punya ikatan. Nantinya juga akan saling sayang. Gondok gak sih lo kalau digituin? " ujar Siti sambil menirukan gaya ucapan sang ibu.


" Melisa juga kelihatan mau menyerah. Rencana lo ke depan apa? " tanya Glenn.


" Entah. Gue bingung bangat. "

__ADS_1


Siti kembali meneguk minumannya. Kafein membantunya untuk tetap waras pada saat saat seperti ini.


" Gimana kalau lo menikah sama gue? " terdengar sebuah suara ....


__ADS_2