Semua Karena Kamu

Semua Karena Kamu
Episode 16


__ADS_3

" Lo ngapain disini? " tanya Zein berbisik.


" Mau belajar nih sama pak HJ, Slamet. " jawabnya ngasal dan berseringai jail.


" Hai, Melisa. " sapanya pada gadis di hadapan Zein. Suaranya berubah menjadi lembut atau tepatnya sok imut.


" Hai. " Melisa menjawab dengan canggung karena dia tidak kenal dengan orang itu.


" Kok kamu tau nama saya? " tanyanya sedikit heran.


" Oh, iya dong gue tahu. Soalnya Zein ser--- "


Buru buru Zein membungkam mulut pria itu dengan telapak tangannya. Raut wajahnya mengisyaratkan untuk dia tetap diam.


" Dia ..... Dia tahu karena tadi pagi kami ada di kafe kopi dan dia lihat waktu aku sapa kamu. " kata Zein yang tidak sepenuhnya berdusta.


Melisa membulatkan mulutnya dan mengangguk.


" Gue Bagas. " Bagas mengulurkan tangannya untuk berjabat.


" Melisa. "


Zein melirik Bagas dan mengisyaratkan pria itu agar segera menjauh dari dia dan Melisa. Untungnya Bagas mengerti dan segera duduk di tempat telat belakang Melisa agar dia bisa melihat ekspresi Zein.


" Pengganggu. " desis Zein.


" Hah?? " Melisa mempertanyakan apa yang Zein katakan karena suara pria itu seperti berbisik.


" Oh, gak. Sorry, tadi Bagas agak lancang. " ucap Zein sungkan.


" Gak apa apa. Ngomong - ngomong kantor kamu di sekitar sini, ya? " tanya Melisa.


" Iya. Tepat di belakang kafe ini. Hak nyangka bisa ketemu kamu lagi. " kata Zein.


Suasana canggung mereka berangsur surut. Tak sengaja Zein beradu tatap dengan Bagas dan juniornya itu memberinya isyarat untuk cepat melancarkan aksinya.


" Jadi gini, Mel. Kamu ingat waktu kita mau ketemuan di kafe dan batal karena ada peristiwa gak terduga? Aku sama sekali gak menyalahkan apapun dan siapapun. Tapi kalau kamu gak keberatan, mau gak kamu pergi sama aku? " sebisa mungkin Zein menutupi rasa gugupnya.


" Kita .... Nge ... date? " tanya Melisa ragu.


" Ya. Mungkin. " Zein mengetuk ngetuk meja dengan jarinya demi untuk menutupi kegugupannya.


Zein ingin merutuki dirinya sendiri saat ini. Bagaimana dia bisa merasa gugup hanya dengan mengajak wanita berkencan? Hanya saja berbicara pada satu orang saja. Jika dulu baginya memberi kesaksian di pengadilan sangat sulit, sekarang ada yang jauh lebih sulit. Yaitu mengajak wanita berkencan.


" Oke. bisa aja. Mau kemana? " tanya Melisa.


Melisa pun sama gugupnya dengan pria itu. Namun dia pintar menutupinya.

__ADS_1


" Di taman layang - layang akan ada festival lepas lampion untuk menyambut tahun baru. Kamu tertarik mau kesana? "


" Kayaknya menarik. Kapan kita kesana? " tanya Melisa antusias.


" Sabtu ini. Nanti aku jemput kamu ke rumah ya. "


Melisa mengangguk.


Hidup terlalu mempermainkan dia. Kadang bisa senang bukan main, kadang bisa membuatnya hancur berkeping - keping. Namun Zein maupun Melisa tidak ada yang tau menahu akan takdir ke depannya. Yang mereka lakukan hanyalah menunggu dan mempersiapkan diri untuk menghadapinya.


****


Hari ini adalah hari terbaiknya. Zein tak akan membiarkan dirinya pergi hanya mengenakan kaos oblong dan celana jeans gaya andalan casual biasanya. Dia ingin menampilkan kesan tersendiri bagi Melisa sebab ini adalah pertama kalinya mereka pergi tanpa status pekerjaan.


Maka Zein memilih kemeja santai berwarna biru laut dan celana cino berwarna coklat pucat agar tetap terlihat sopan. Tak lupa ia tambahkan sedikit pomade agar rambutnya yang suka moodyan tidak ikut merusak momennya. Dan sepatu sneaker yang berbalut hitam putih favoritnya.


Sempurna.


Dia memastikan tidak ada yang aneh pada dirinya dari kaca spion dalam mobilnya. Setelah merasa cukup, Dia keluar dan memberi tahu Melisa lewat WhatsApp jika dirinya sudah sampai.


" Sudah siap? " tanya Zein ketika Melisa keluar dari rumahnya.


Melisa mengangguk.


" Sudah. Kita pergi sekarang? "


Ini kelewat sempurna. Zein membatin.


" Ze? " Melisa menyentuh lengan Zein karena pria itu melamun alih alih menjawab pertanyaanya.


" Oh iya. Kita pergi sekarang. Ngomong ngomong Om kamu gak di rumah? " tanya Zein.


Melisa menggeleng. " Dia lagi ada acara gitu sama teman temannya yang juga teman Ayah dulu. "


" Ayo masuk. " Zein mengangguk.


Zein mempersilahkan sekaligus membukakan pintu mobil untuk Melisa dan mereka pun berangkat ke tempat tujuan yang sudah mereka tentukan kemarin.


Perjalanan singkat itu tidak diselingi obrolan apapun, Mereka hanya diam sambil mendengarkan lagu yang di putar radio. Setelah perjalanan 30 menit, akhirnya mereka sampai.


" Aku sudah lama gak keluar rumah dan nikmati udara sore gini. " kata Melisa sambil tersenyum.


Dia menikmati semilir angin sore yang sejuk itu. Dibiarkan rambutnya sedikit berantakan karena angin yang sepoi - sepoi.


" Semakin malam udaranya semakin nyaman. " kata Zein membuat Melisa semakin tak sabar.


Melihat orang sudah banyak berlalu lalang menenteng lampion, Melisa juga ingat tujuan awal mereka datang kesana. Dia menghampiri Zein yang tengah bersandar pada bemper mobilnya.

__ADS_1


" Kita beli lampion yuk, Ze. "


Wajah berbinar Melisa tak kuasa bisa Zein tolak. Pria itu segera mengangguk dan melangkah ke tempat penjualan lampion.


" Aku aja yang bayar. Kan, Aku yang ngajak kamu kesini. " kata Zein mencegah Melisa mengeluarkan dompetnya.


" Makasih, ya. " Melisa tak menolak.


" Mas sama Mbaknya jangan lupa sebelum terbangin lampionnya buat harapan dulu. Walaupun kita gak percaya 100 persen sama hal kayak gini, Tapi bisa bikin kita termotivasi buat menggapai harapan kita itu. " kata seorang wanita penjual lampion itu.


Melisa dan Zein mengangguk bersama dan mengucapkan terima kasih. Kemudian mereka berjalan ke tempat yang sudah dipenuhi banyak orang. Tempat dimana nantinya mereka melepas dua buah lampion yang sudah diiringi harapan masing masing.


Petang hilang perlahan berganti dengan malam. Tepat pukul 7 malam nanti, Mereka akan melepas lampion itu secara bersamaan.


" Kamu sudah buat harapan? " tanya Zein.


" Sudah. Kalau kamu? "


" Sudah. Apa harapanmu, Mel? " Zein menatap mata wanita itu. Menelisik lebih jauh seolah sangat ingin tahu.


" Sesuatu yang buat aku bimbang. Semoga aja cepat atau lambat aku bisa mengatasi rasa bimbangku ini. " Melisa tersenyum, mengingat sesuatu yang membuat ia bimbang adalah pria disampingnya saat ini.


" Kalau kamu apa? "


" Berharap hari ini menyenangkan buat kita. "


Jawaban sederhana Zein malah membuat Melisa tersentuh. Dia tersenyum dan berkata.


" I wish too. "


Senyuman Melisa benar benar membuat Dia mabuk kepayang. Rasanya ia ingin membungkam bibir wanita itu agar hanya dia yang dapat melihat betapa indah senyum Melisa.


" Tujuh .... "


" Enam .... "


" Lima .... "


" Empat .... "


" Tiga .... "


Seruan hitung mundur itu menyadarkan keduanya. Mereka bersiap untuk menerbangkan lampion beserta harapannya.


" Dua .... "


" Satu ..... "

__ADS_1


__ADS_2