
" Kemarin Siti telepon aku, dia terus terusan nanya keberadaan kita. Aku gak bisa jawab. Nomornya sudah aku blokir berkali kali, tapi dia rajin beli nomor baru demi bisa menghubungi aku. Dia terlalu takut berinteraksi dengan kamu atau Glenn, jadi pilih aku. " jelas Andi, dia harus memberi tahu Melisa secepatnya agar bisa mengambil keputusan.
Melisa terkejut, tapi dia berusaha untuk tidak memperlihatkan. Ia masih diam, sama seperti posisi sebelumnya. Hanya hati yang berubah menjadi tidak tenang.
" Kamu tau kan, An, Aku paling gak bisa nahan perasaanku sendiri. Aku merasa paling gak kenal diriku sendiri. Waktu ditanya benci atau suka sama orang, kadang aku gak tahu. Hatiku mungkin berbunga bunga atau meledak ledak tapi bibirku ini gak pernah menyuarakan hatiku dengan benar. Aku selalu bingung sama diriku sendiri. " kata Melisa. Dia memainkan jarinya sebagai pengalih rasa gugup.
" Aku tau, bangat. Makanya aku selalu merasa bersalah sudah biarin kamu pergi dulu. Tapi Mel, coba belajar untuk menyampaikan isi hatimu dari hal hal kecil. Selalu pasrah dan mengikuti orang lain gak selamanya benar dan bikin kamu nyaman. Sekarang aku tanya, kamu benci sama Siti? " Andi memegang pergelangan tangan Andi.
Melisa diam cukup lama. Sulit sekali menyinkronkan hati dan mulutnya. Ia sudah terbiasa sejak kecil memendam keinginannya.
" Melisa, jawab aku. " Dan baru kali ini Andi menuntut jawaban atas pertanyaannya.
" Aku gak mau jawab yang itu, An. "
Andi menggenggam satu tangan Melisa diantara kedua tangannya. Dia menatap mata gadis itu lekat lekat.
" Benci atau gak? " Intonasi suara Andi jauh lebih rendah.
Dan tak lama kemudian gadis itu mengangguk kecil.
Andi mengangkat genggaman tangan Melisa lalu mencium tangan wanita itu.
" Mel, kasih kebahagiaan ke orang lain itu memang gak salah tapi usahakan sebelum kamu bahagiakan orang lain, coba bahagiakan dirimu sendiri. Kamu berhak atas apa yang kamu inginkan, seegois apapun itu. Seenggaknya kalau salah, kamu pasti akan menyadari dan melepaskan. Jangan sampai disaat semua orang bahagia ats usahamu, hanya kamu sendiri yang sedih dan menderita. Kamu mencarikan orang lain kebahagiaan tapi kamu sendiri gak mampu dapatkan itu. Coba prioritaskan diri kamu sendiri. " Andi menekan kalimat terakhirnya.
Gadis itu diam. Meresapi kata lata Andi yang dulu juga pernah ditekankan Glenn padanya. Saat itu dia tak peduli, Menganggap ucapan Glenn hanya angin lalu namun kini ucapan Glenn benar benar menjabarkan dirinya sekarang.
Kamu mencarikan orang lain kebahagiaan tapi kamu sendiri gak mampu dapatkan itu? Benar. Dia bahkan harus rela meninggalkan Jakarta demi bisa menggapai apa itu yang disebut bahagia.
" Ternyata selama ini aku sedang berusaha menyengsarakan diri sendiri. " cicit Melisa.
Andi sangat ingin mengangguk dengan kuat tapi tak mungkin.
" Sekarang jawab pertanyaanku lagi, apa kamu masih cinta sama Zein? "
__ADS_1
Melisa mengangkat wajahnya yang tak tertunduk. Ia tak menyangkan Andi akan melontarkan pertanyaan seperti itu.
" Jujur. Perasaanmu gak salah. " kata Andi.
" Entahlah. Kalau yang ini aku benar benar gak tahu. Mungkin iya tapi mungkin juga gak. Dua tahun cukup buat aku lupain dia. " kata Melisa.
Andi mengangkat kedua alisnya secara bergantian. " Apa ini? Barusan kita sepakat buat coba kamu untuk jujur dengan dirimu sendiri, sekarang sudah bohong lagi. Aku ingat kapan hari kamu menangis di dapur sambil lihatin wedang ronde yang dibelikan Glenn. Apalagi kalau bukan ingat Zein? "
Telak. Melisa malu sekali, ternyata Andi mengetahui dirinya yang diam diam menangis karena teringat kenangan bersama Zein saat di jogja dulu.
" Siti minta aku untuk sampaikan ke kamu untuk baca surat yang diberikan Zein dua tahun yang lalu. Kamu masih simpan? " tanya Andi.
Melisa mengangguk. " Masih. Belum pernah kubaca sampai hari ini. "
" Kalau begitu coba baca. Siapa tahu bisa jawab pertanyaanku tadi. "
" Aku benar benar mau move on dari Zein. " tegas Melisa.
" Aku gak nolak kami karena itu. " sanggah Melisa.
" Iya, aku percaya. Walaupun hatiku berkata seratus persen itu benar. " sindir Andi.
Melisa menarik tangannya dari genggaman Andi.
" Aku gak bisa terima kamu karena sejak kita disini, kamu bukan lagi mantanku tapi sudah seperti Glenn. Seperti kakakku sendiri. " cicit Melisa. Dia jadi tak enak hati pada pria disampingnya.
Andi mengusap pucuk kepala Melisa. Dia tersenyum dan berkata. " Gak apa apa, Mel. Awalnya aku kecewa tapi semakin kesini aku semakin menikmati hubungan kita sebagai saudara. "
" Maaf, aku selalu sering buat kamu patah hati. " ujar Melisa, pelan.
Andi justru tertawa. " Patah hati paling menyedihkan dan menyenangkan buatku adalah kamu. Aku mungkin akan coba buka hati lagi setelah kamu menemukan orang yang pas. "
" Kenapa harus nunggu aku? " tanya Melisa.
__ADS_1
" Karena kalau seandainya kita jodoh tapi aku malah milih jodohku itu orang lain sementara kamu masih luntang lantung cari pacar, aku rugi. " gurau Andi.
Melisa tertawa dan menyingkirkan tangan Andi dari kepelanya.
" Makasih ya An, Meski sudah kutolak berkali kali kamu tetap setia sama aku. Aku bakal pastiin dapat orang yang tepat agar seorang wanita beruntung yang entah ada dimana saat ini bisa segera bertemu dengan jodohnya. " kata Melisa.
" Amin. "
Mulai sekarang akan mencoba menyuarakan isi hatinya. Hal pertama yang akan ia lakukan adalah membaca secarik kertas yang diberikan Zein dua tahun lalu.
*****
Dentuman musik EDM memadati telinga Zein yang nyaris teler berkat ulah beberapa botol wine di hadapannya. Dia lagi lagi mengangkat ponsel dan beberapa panggilan telepon yang ia abaikan sejak tadi. Tak peduli berapa puluh kali wanita itu memenuhi ruang obrolan mereka dan panggilan telepon. Dia hanya ingin sendiri.
Zein mengerang karena ponselnya kembali bunyi. Gadis itu meneleponnya lagi dan mau tidak mau untuk membungkamnya ia haru mengangkat.
" Apa?! Biarkan aku tenang! Jangan hubungi aku kalau kamu gak punya informasi apapun yang kubutuhkan. " ujarnya, ketus.
" Tenang! Terus ngapain kamu ada di klub? Ketenangan apa yang kamu cari? Kamu pikir aku gak capek apa berusaha sendirian?! "
Zein tertawa mendengar keluhan gadis itu.
" Sekarang giliran kamu yang usaha. Dulu aku mati matian berjuang sendirian dan kamu diam aja nerima hasil. "
" Aku capek, Ze! Bantu aku sedikit aja, kenapa sih? "
" Terserah. Aku gak mau di ganggu. "
Zein memutus sambungan telepon mereka dan menonaktifkan ponselnya. Dia lelah sekali. Satu setengah tahun ia relakan untuk bersabar dan saat keadaannya mulai bisa ia kendalikan, tak akan pernah ia beri cela. Kini ia harus mendapatkan apa yang sudah hilang dari hidupnya.
" Sekali lagi dan gak akan aku sia siakan kamu lagi. " gumamnya, entah pada siapa.
Zein teringat surat yang ia tulis di malam sebelum tunangan dengan Siti. Surat yang ditujukan untuk gadis yang sangat ia cintai.
__ADS_1