
Pov. Danu Narendra
Setelah siang itu, aku tak lagi melihatnya kembali ke kantor. Bahkan terakhir kali aku bertemu dengannya, dia kembali menangis dengan menatap benci kearahku.
Aku hanya ingin membantu Yuna, jika ada masalah aku siap untuk menjadi tempat dia bercerita. Namun, logikaku kembali menyadarkanku. Aku hanya seorang junior yang baru saja bekerja ditempat ini. Bahkan aku belum bisa beradaptasi dengan baik saat berada di lingkungan sekitarku. Mustahil bagiku jika bisa langsung dekat dengan Ayuna, yang notabennya adalah seorang senior.
Aku mencarinya, hingga sore. Saat akan pulang kerja pun ia tak menampakkan batang hidungnya. Entah apa yang mengganggu fikiranku, akhir-akhir ini nama Ayuna memang menjadi pusat perhatian. Padahal, bukan aku tak memiliki masalah. Banyak masalah yang harus aku selesaikan, terutama masalah dengan kekasihku, Fathin. Banyak hal janggal yang terjadi, hingga saat ini aku belum juga mengetahui kebenarannya.
Namun, masalahku dengan Fathin seolah hilang begitu saja. Malah serasa aku tak memiliki masalah. Karena siapa? Ayuna.
Dialah yang mengganggu fikiranku, bahkan aku selalu membayangkan wajahnya akhir-akhir ini. Apalagi, ketika aku melihatnya beberapa kali menangis secara langsung.
Rasa penasaranku meronta-ronta. Ingin sekali aku membantu wanita cantik yang terlihat Malang itu. Bukan maksudku mencampuri urusannya, tetapi ...
Akh, banyak sekali tapi yang ada di benakku. Sepertinya fikiranku ini benar-benar kacau karena wanita yang baru saja beberapa hari aku kenal.
Dan, pagi ini aku pun tak melihat kehadirannya. Beberapa kali aku menoleh ke tempat di mana Ayuna biasanya duduk, namun sepertinya dia tak pergi bekerja hari ini.
Sangat mengganggu konsentrasiku, isi otakku kali ini benar-benar dipenuhi oleh Ayuna, Ayuna dan Ayuna. Sampai pada waktu yang mengejutkan Pak Robert tiba-tiba datang ke ruang divisi kami. Matanya melirik kesana-kemari. Aku mengerti arti tatapannya itu, sepertinya dia pun sama denganku. Mencari sosok Ayuna.
"Danu, ke ruangan saya, sekarang!"
Belum juga sempat aku menjawab, Pak Robert langsung berlalu begitu saja dengan langkah cepat.
Gita dan Syifa pun segera memberi kode keras kepadaku agar segera mengikuti Pak Robert menuju ke ruangannya.
Sampai di dalam ruangan kerja Bossku itu, perasaanku menjadi tak karuan. Sepertinya ada hal penting yang akan dia sampaikan. Hal apa yang membuat Pak Robert memanggilku secara langsung? Mengapa tidak melalui sekretarisnya, Satria?
"Danu, kemari!"
"Baik, Pak,"
Aku menuju ke kursi yang di tunjuk Pak Robert. Di situ pun sudah ada laptop yang dia siapkan.
"Danu, tolong kamu periksa laporan ini!"
"Baik, Pak,"
__ADS_1
Tak banyak hal yang kami bicarakan, aku hanya menuruti perintah dari Pak Robert untuk memeriksa laporan yang telah dia tunjukkan. Ya Tuhan, baru membuka mata saja aku sudah dibuat pusing karena membaca teks laporan ini. Belum lagi designnya, kacau sekali.
Hingga tak terasa sudah hampir satu jam aku berada di dalam ruangan Boss yang menurut kata orang-orang, ia amat menyebalkan.
TOK! TOK!
"Siang, Pak,"
Akhirnya yang ditunggu-tunggu sejak kemarin pun menampakkan batang hidungnya juga. Merasa sedikit lega ketika aku mendengar suara Ayuna. Hingga aku pun memutuskan menghentikan sejenak pekerjaanku. Aku pun memberanikan diri menatapnya, dan dia pun membalas tatapanku.
Mataku yang tadinya terasa sakit akibat terus memandangi layar laptop, kini terasa refresh kembali setelah melihat Ayuna.
"Ayuna, ada hal mendesak. Aku meminta timmu untuk membantuku," ujar Pak Robert.
"Pak, ini,"
Aku dapat melihat, Ayuna menyodorkan sebuah amplop putih kepada Pak Robert.
"Apa ini?"
Pak Robert segera membuka amplop putih itu, dan membaca sebuah surat tertulis yang aku tidak tahu apa isinya.
Mataku tak bisa lagi berkedip. Aku semakin berani menatap mata Ayuna yang kali ini terlihat lebih sembab dan lesu dari hari sebelumnya. Entah apa masalah wanita ini, aku sungguh penasaran.
"Danu, kamu setuju jika seniormu ini mengundurkan diri???"
Pak Robert rasanya tak terima jika Yuna mengundurkan diri. Tetapi mengapa dia harus menanyakan hal ini kepadaku? Jelas saja aku tak menyetujuinya. Untuk alasannya, entahlah. Aku pun belum bisa memahami diriku sendiri. Dengan tegas mulutku ini menjawab.
"Tidak, Pak!"
"Nah, seorang junior seperti Danu yang baru bergabung pun nggak setuju kalo kamu mengundurkan diri, apalagi aku, Ayuna!!"
Hingga pada akhirnya, Pak Robert *******-***** kertas itu menjadi bulat seperti bola dan membuangnya ke dalam kotak sampah.
Banyak alasan yang Ayuna katakan, ia tetap bersikeras untuk mengundurkan diri dari perusahaan yang di pimpin oleh Robert Davidson. Namun, sepertinya Pak Robert tak membiarkan Ayuna pergi begitu saja. Ia malah mengiming-imingi Yuna dengan cuti atau liburan. Bahkan ia juga menjanjikan menaikkan gaji Ayuna bulan depan.
Iming-iming itu mungkin dirasa percuma, karena Ayuna masih saja keras kepala dan tidak tergiur atas tawaran yang pak Robert berikan.
__ADS_1
Aku hanya bisa mendengarkan pembicaraan mereka berdua. Tanpa bisa ikut campur, padahal aku ingin sekali menanyakan alasan apa yang membuat Ayuna mengundurkan diri? Aku merasa ada guratan kecewa di hati ini, seakan tidak bisa menerima jika Ayuna benar-benar pergi.
Hingga perdebatan itu pun selesai, setelah Pak Robert meminta Ayuna duduk di sebelahku. Mungkin Pak Robert sudah lelah berdebat dengan wanita keras kepala ini. Karena suara pak Robert sudah terdengar melemah.
"Yuna, aku nggak ngelarang kamu buat berhenti kerja kalo itu memang sudah keputusan kamu, tapi ..."
"Tapi apa, Pak?"
"Bantu aku kali ini, setelah semuanya selesai kamu boleh pertimbangin lagi keputusanmu dan aku nggak akan larang,"
Pembicaraan Yuna dan Pak Robert pun sudah terdengar santai. Seperti seorang teman. Karena memang pembicaraan santai ini adalah permintaan Pak Robert sendiri.
Aku tidak tahu ada motif apa Pak Robert melarang Ayuna mengundurkan diri. Mungkin saja dia sangat menyukai kinerja Ayuna selama ini. Atau ada motif lain, aku belum bisa menebaknya.
Aku dan Ayuna di tugaskan oleh Pak Robert untuk menyelesaikan laporan yang terkesan berantakan dari manager baru yang ada di perusahaan cabang, tepatnya di Bogor.
"Kamu lihat 'kan, Ayuna, betapa nggak becusnya mereka!"
Ayuna hanya diam, dengan wajahnya yang terus menunduk mendengarkan Pak Robert. Tetapi menurutku, Ayuna kali ini tengah berfikir dan mempertimbangkan permintaan Pak Robert
"Tolong bantu aku, Yuna. Aku sangat membutuhkanmu," ucap Pak Robert penuh permohonan.
Boss yang terkenal menyebalkan, penuh penekanan dan tegas itu kini terlihat berubah menjadi sosok pangeran yang lemah lembut. Namun di satu sisi, aku bisa menebak jika permohonan yang Pak Robert buat kali ini bukanlah permohonan biasa. Aku yakin ada hal lain yang tengah Pak Robert rencanakan untuk Ayuna.
Hal apakah itu? Mengapa aku berprasangka buruk terhadap atasanku ini?
"Setelah ini selesai, apa saya bisa berhenti bekerja?"
Ayuna kembali membahas keinginannya. Sepertinya ia benar-benar sudah berfikir bulat untuk berhenti bekerja.
"Sepakat!" Pak Robert mengulurkan tangannya ke arah Ayuna.
"Oke," Ayuna membalas jabatan tangan Pak Robert.
Dapat terlihat guratan senyuman di wajah Pak Robert. Mungkin dia senang karena bisa menahan Ayuna. Tetapi tidak dengan Ayuna, wajahnya masih saja terlihat murung bahkan pucat.
"Oke, selesaikan laporan ini. Besok kita akan meninjau langsung kantor cabang di Bogor!"
__ADS_1
"Apaaa???"